Kisah Mentari

Kisah Mentari
Buka puasa


__ADS_3

...❤❤❤❤...


Hari ke empat Dafa di rumah sakit. Sekaligus hari terakhir, Mentari tidak di ijinkan menunggui suaminya itu. Dafa tidak ingin Anak-anaknya di tinggal.


Mentari tersenyum saat mendapatkan sebuah pesan dari suaminya yang menyuruhnya mempersiapkan diri dan memberi anaknya makan dan susu yang banyak agar mereka tidur nyenyak dan tidak mengganggu kegiatan mereka yang sudah sangat di nanti-nanti Dafa.


Sore itu Mentari telah berlama-lama di kamar mandi, juga telah mengenakan dress rumah yang terlihat seksi. Tak ketinggalan memoles sedikit wajahnya agar terlihat lebih segar.


Dia sudah bulak-balik antara teras dan pagar garasi yang sengaja di buka.


Suaminya berkata jika dia akan pulang menggunakan taksi online.


Miris sebenarnya membayangkan di rawat di rumah sakit tanpa pendamping dan harus mengurus segala sesuatu nya sendiri. Tapi itu sudah jadi keputusan suaminya, jika saja Anita istri Rijal belum hamil pasti sahabatnya itu yang akan menemani. Berhubung Anita hamil dengan tingkat kepayahan mabuk yang intens seperti dirinya dulu. Jadi dia tidak berani meminta menunggui suaminya.


Sedangkan kakak laki-laki nya yak ni Bintang sedang sibuk mengurus market karena Abang mereka masih cuti mendampingi Cindy yang baru lahiran.


Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan rumah. Mentari yang sedang di toilet malah tidak menyadari kedatangan suaminya itu.


Dafa nyelonong masuk rumah mereka dengan telunjuk di letakan di bibirnya saat melihat Intan di dapur rumah mereka. Intan yang memang sedang menggendong Shera langsung mengangguk mengerti dan menyerahkan Shera saat lelaki tampan itu meminta Shera dari gendongan nya.


"Helen nya mana?" Tanya Dafa.


"Tidur, pak dari sejam lalu."


Dafa mengangguk, "sama ibunya?"


"Nggak, ibu ke kamar mandi. Dari tadi bulak balik ke teras nunggu bapak." Intan menjelaskan.


Lelaki itu tersenyum saat mendengar istrinya telah gelisah menunggu nya pulang, sepertinya rasa rindu nya pun akan berbalas.


Dia masuk ke kamar dengan menggendong Shera, tas baju kotornya di simpan di kursi meja makan.


Dafa menimang dan mengecupi Shera sambil memandangi Helen yang tertidur di box nya. Tak lama putri keduanya pun tertidur dalam gendongan nya. Langsung di letakkan di dalam box tidur satu lagi yang berada tepat di samping tempat tidur kakaknya.


Saat Mentari keluar dari kamar mandi dia terkejut dan langsung menghambur ke pelukan Dafa yang berdiri tersenyum ke arahnya.


"Duh, kangen banget kayaknya?" Dafa yang tengah mengelus punggung istrinya berbisik tepat di telinga Mentari.


Tidak ada suara hanya anggukan keras namun tubuh istrinya itu sedikit bergetar.


Di lepaskan nya pelukan itu, dan menunduk menatap wajah cantik pujaan hatinya itu.


"Kenapa nangis?" tanyanya heran.


"Mas, kasian. Di rumah sakit sendiri, aku nggak bisa jagain, mas." Katanya dengan suara yang tercekat menahan tangis.


"Nggak apa-apa, lebih kasian anak-anak. Mereka jauh lebih membutuhkan kamu ketimbang aku." Jawab Dafa dengan bijak.


"Nggak kangen gitu?" Dafa kembali memeluk istrinya.


Mentari menggeleng menggoda.


"Kamu... " Dafa mengecupi wajah istrinya gemas.


Lalu tak lama bibir meraka sudah menempel dan saling melahap dengan rakus.


"Mas... " Rengeknya saat di rasa Dafa semakin liar dan pasti akan menuntut kegiatan lainnya.

__ADS_1


"Aduh... nggak tahan ini, sekarang yuk. Mumpung anak-anak tidur, nggak akan lama pasti. Soalnya udah lama banget nggak, pasti nggak akan lama sesi pertamanya." Jelasnya.


"Makan dulu, aku udah bikin ayam goreng mentega." Mentari mengelus wajah suaminya yang masih terlihat sedikit pucat.


"Ntar lagi nanggung, kamu pingsan karena kehabisan tenaga!" dia terkikik membayangkan apa yang barusan dia ucapkan.


Dafa mendengus kesal tapi ikut tertawa, dan mengecup singkat bibir istrinya itu.


"Nanti, aku servis Mas... "


"Aku juga mau servis kamu, biar kita sama-sama puas pas buka puasanya." Dafa merangkul bahu istrinya keluar kamar.


*


*


Mentari terlihat senang melihat suaminya lahap memakan menu yang dia masak penuh cinta itu.


"Enak banget, akhirnya mulut ku nggak pait." Dafa berkata setelah menghabiskan satu piring nasi dengan dua potong besar ayam dan capcay bakso.


"Kenapa?"


"Di rumah sakit nggak enak makanannya, nggak ada rasa di mulut." Keluhnya.


Mereka kini berbincang di meja makan, setelah sebelum magrib tadi Intan ijin pulang ke rumahnya karena ini hari jumat. Karena Dafa sudah pulang jadi Mentari mengijinkan nya untuk libur.


"Yuk, sekarang!" Dafa menyeringai mesum pada istrinya.


"Biarin ayam sama capcay di cerna dulu, Mas... " Mentari mencibir sambil membereskan piring bekas mereka makan.


"Ayo, nanti keburu anak-anak ada yang bangun. Ambyar udah. Kita bisa main di mana aja nih, Intan nggak ada." Dafa mendekat ke arah Mentari yang sedang mencuci piring.


Dafa tertawa tapi tetap seperti seorang yang tengah berpikir.


"Yang belum di teras sama garasi!"


"Kita nggak punya garasi, yang ada carport." timpal istrinya itu.


"Di teras, nanti erangan kamu kedengeran kemana-mana, kalo di carport ntar kita nyelip di bawah mobil? terus kamu grasak-grusuk nendang rak perkakas terus ketiban kunci Inggris malah geger otak bukannya enak."


Mereka terbahak dengan guyonan tidak masuk akal yang terlontar begitu saja.


Saat tengah tertawa Dafa menarik pinggang istrinya itu, dia mengecupi tengkuk dan bahu istrinya yang terbuka karena dress rumahnya yang memang sedikit seksi.


"Mas... " Mentari mele*nguh dengan tangan masih berselimut busa sabun cuci piring.


Dafa menekankan sesuatu yang mulai bangkit.


"Ayo... "


"Iya, bentar. Beresin ini dulu, dikit lagi." geramnya kesal.


Dafa pun melepaskan kungkungan nya, dan setia menunggu istrinya itu. Sambil memeriksa email dan laporan pekerjaan yang menumpuk.


"Mas... " Panggil Mentari.


"Udah 40 hari kan? aku boleh nyetir lagi ya?"

__ADS_1


"Mau kemana sih?"


"Ya, aku kalo mau ke rumah Bunda, atau ngecek butik sesekali, mungkin mau me time di cafe mejeng." Katanya menggoda.


Dafa yang sedari tadi menunduk menatap layar ponselnya langsung mendongak.


"Me time di cafe nanti banyak mata cowok jelalatan. Nggak... nggak boleh, kalo mau ke tempat kayak gitu sama aku. Me time itu di salon, klinik kecantikan. Bukan mejeng di cafe." omel nya


Mentari yang sedang menyusun piring-piring cuciannya terkikik mendengar omelan suaminya yang berhasil dia goda.


"Atau kalo aku butuh peralatan anak-anak yang mungkin abis, atau mau ngajak mereka ke mall."


"Bisa nitip aku kalo pulang kerja, atau belanja di minimarket depan nyuruh Intan, alesan aja kamu." Dafa masih ngomel.


Mentari menoleh, "jadi aku nggak boleh keluar?"


"Boleh, tapi harus bawa anak-anak. Atau sama aku, nggak boleh sendiri."


"Mas... liat aku perempuan beranak dua badan kayak gini pula."


"Kamu makin semok tau, ini gede, ini gede semua mengembang di tempat-tempat yang bikin mata lelaki melotot penuh gai*rah." Dafa menggeram kesal karena istrinya yang dia bayangkan akan menjadi santapan empuk mata para lelaki.


Mentari berjalan mendekat, "aku bagai terpenjara."


"Nggak, nggak gitu aku bebasin kok semua, asal tujuan kamu jelas." Dafa mengekori istrinya menuju sofa ruang TV.


Mentari terlihat cemberut.


Dafa gelisah takut kegiatan syahdu mereka akan gagal karena istrinya merajuk.


"Iya, ok boleh deh tapi harus selalu ijin sama aku kamu mau kemana."


Mentari menoleh dengan seringai bahagia.


"Asik... makasih Mas, aku selalu ijin deh kalo pergi." katanya.


Dafa tak menjawab dia langsung menarik tubuh istrinya itu, dia sudah tidak tahan ingin segera buka puasa.


"Mas... mobil aku servis dulu, udah lama banget nggak di pake."


Dafa yang sedang menelusuri leher istrinya itu, menjeda kegiatannya. "Besok aku ke kantor advokat dulu ada dua kasus yang harus aku urus. Sekalian aku bawa mobil kamu, ada bengkel bagus deket kantor. Jadi aku ngantor mobil kamu di servis, pulangnya bisa aku bawa lagi."


Mentari mengangguk, lalu dafa kembali dengan kegiatannya mulut dan tangan nya sudah menjelajah ke mana-mana.


"Mau di sini?" Mentari menarik kepala Dafa yang tengah menekuni bagian lehernya.


"Iya, pembuka di sini kayaknya, terus di ruang tamu, terus penutupnya di kamar. Pasti nyenyak tidur kita."


Mentari menggelengkan kepalanya, "Schedule nya padat sekali ya pakkk?"


"Iya lah buka puasa harus special... "


Bibir mereka pun kembali saling bertaut...


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih🙏🙏, jangan lupa komen, like, sama Favoritnya ya yang belum di klik.

__ADS_1


Cuma mau mengingatkan yang udah nge favorit in cerita ini jangan di un fav lagi dong, Tiba-tiba naik ntar tiba-tiba berkurang lagi. Aku kayak yang di kasih jajan terus di pinta lagi 🤭🤭 Tapi bebas sih gimana kalian aja lah, susah nggak bisa maksa☺☺ Terimakasih yang masih setia mendukung, semoga berkah dan tidak mengecewakan🥰🥰🥰


Sehat dan bahagia buat semua😘😘😘


__ADS_2