
❤
❤
❤
Mentari terbangun saat mendengar bell apartemen berbunyi berulang kali, Dia masuk ke kamar mandi membasuh wajahnya yang baru bangun dari tidur.
"Jam sembilan!" gumamnya saat melihat jam yang berada di atas TV dia melap wajah nya lalu berlari ke arah pintu.
"Ya... " Ucapnya menyambut seorang pria yang memakai jas putih khas seorang dokter. Dan dia meyakini dokter muda itu yang di bicarakan Rijal tadi.
"Saya dokter Lukman, mau memeriksa keadaan sodara Dafa." katanya ramah.
"Silahkan masuk dok, tapi suami saya masih tidur!" terang Mentari.
Dokter muda yang sedari tadi menatapnya berhenti melangkah.
"Suami?" dia mengulang kata suami merasa heran. Karena dua bulan yang lalu saat Dafa mengikuti pertandingan boxing dan dia yang merawatnya, lelaki itu masih tinggal sendiri di apartemen ini.
"Iya, saya Istrinya Mas Dafa!" Mentari meyakinkan.
"Oo-hh!" Jawabnya canggung.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar yang masih dalam keadaan gelap.
"Belum bangun dari tadi sore?" tanya dokter Lukman.
"Iya, dok posisinya pun masih tetap seperti ini!" Mentari duduk di sisi dekat Kepala Dafa.
Dokter muda itu memeriksa beberapa luka, denyut nadi dan tekanan darah Dafa. "Nyenyak sekali, sepertinya obat tidurnya masih bereaksi." duga nya.
"Tapi, nggak akan apa-apa kan dok?" Mentari masih dengan raut wajah khawatir.
"Nggak apa-apa, dia termasuk badan yang bandel. kalo bahasa kuat nya Samson dia mah!" kekehnya menghibur.
"Dia menang lagi!" ujarnya melihat sebuah piala di atas meja nakas.
Mentari melihat ke arah pandangan sang dokter. Sebuah Piala kejuaraan bertengger gagah di atas Meja nakas itu. Sesuai doa nya agar suaminya bisa memenangkan pertandingan. Namun saat dia melihat luka yang di hasilkan dari pertandingan itu hatinya terenyuh, suaminya benar-benar berjuang untuk mendapatkan piala dan iming-iming hadiahnya.
"Dia selalu keras dalam mencapai apa yang di inginkannya." ujarnya lagi.
Mentari hanya mengamini ucapan dokter itu, yang memang benar, Dafa punya keteguhan dan sifat keras dan tak terbantahkan di setiap kemauannya.
"Saya bawakan beberapa obat, jika nanti dia terbangun dan merasakan sakit. Tolong beri dulu dia makan terus kasih obat ini, untuk demam, dan penahan rasa sakit, dan ini salep untuk luka luarnya!" Dokter itu menjelaskan beberapa jenis obat yang harus di konsumsi Dafa.
Mentari menerima obat itu dan mengangguk mengerti.
"Kalau begitu saya permisi, besok pagi saya cek lagi ke sini!"
"Permisi... " Pamit nya.
"Baik, Terima kasih dokter! Saya antarkan ke depan!"
Wanita cantik itu mengangguk dan berjalan bersisian dengan dokter itu.
Mentari mengantarkan dokter itu sampai ambang pintu. Dan mereka pun saling melemparkan senyum, sebelum Mentari menutup pintu apartemen.
Dokter Lukman menoleh lagi ke belakang pintu, setelah mendengar suara pintu ya g sudah tertutup.
"Cantik, ramah, sopan, penuh kasih! Beruntung si anak badung itu, dapet dari mana istri kayak gitu?" gumamnya dengan senyum sinis.
Lalu dia kembali berbalik dan melanjutkan kembali langkahnya menuju lift.
__ADS_1
*
*
Mentari berjalan ke arah dapur, membuka kulkas dia akan memasak sesuatu takutnya ketika bangun suaminya akan minta makan.
Dia mengeluarkan dua buah wortel, brokoli , satu buah kentang dan beberapa potong ayam. Ya dia akan membuat sup ayam, "Semoga Mas dafa suka!" batinnya.
Setelah hampir satu jam memasak sup ayam dan dia juga menggoreng kerupuk udang. Mentari tersenyum melihat hasil masakkannya.
Dia pun masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Saat keluar dari kamar mandi dia melihat suaminya sedang mengerang kesakitan.
"Mas...
Dia berlari ke arah suaminya yang mengerang dalam tidurnya.
Di sentuhnya kening dafa yang mengeluarkan keringat, " Ya ampun, Mas. Kamu demam!" ujarnya panik.
"Mas... "
Panggilnya lagi.
"Hemmm... Sun..." Gumamnya.
"Iya, Mas... aku di sini!"
Mentari kembali mengusap kepala suami mesumnya itu, dadanya sakit melihat keadaan Dafa. Tadi pagi lelaki itu masih bersikap slengean dan mesum padanya. Tapi malam ini dia tergolek lemah tak berdaya dengan wajah babak belur.
Dafa membuka matanya perlahan, mata mereka beradu pandang di bawah lampu tidur yang redup, namun cahaya mata keduanya seolah memancar terang. Dafa tersenyum menggenggam tangan lembut milk istrinya yang sedang mengusap Kepalanya lembut.
"Mas.. ka-kamu bikin aku takut, aku kira nggak akan seperti ini!" Akhirnya tangisnya pun pecah.
"Hei... sayang, its ok. kamu lihat aku nggak apa-apa kan? paling besok udah enakkan. Apalagi perawatnya cantik kayak kamu!" Godanya dengan tawa yang sedikit di paksakan.
"Kamu tau kan, aku tukang berantem. Di hajar kakak kamu doang yang aku diem, kalo ini ada bayarannya aku semangat biar kita segera punya rumah." Tanyanya mengusap pipi sang istri yang basah oleh air mata.
"A-aku nggak mau kamu nyari uang dengan cara nyakitin diri kamu sendiri. Seperti aku yang bahagia dia atas penderitaan kamu, Mas!" permpuan itu kembali menangis.
"Sun, ini tanggung jawab aku. Lagian ini olah raga jadi masuknya halal Sun." terangnya.
"Tapi aku berdiri di atas kesakitan kamu, cepetan beresin kuliah kamu biar secepatnya kamu jadi advokat. Aku ngga mau kamu nyari uang dengan cara -cara ekstrim. Balapan, boxing ,nge dj lah. nggak ada yang normal gitu kerjaannya?" Mentari sedikit meninggikan suaranya, dirinya di lingkupi ketakutan membayangkan suaminya itu bergelung di kegiatan yang berbahaya bahkan mengancam nyawanya.
"Kalau ada apa-apa sama kamu? aku sama siapa Mas?" dia semakin histeris.
"Sun...
Dafa sedikit menarik wanita itu masuk dalam Pelukannya.
" Shhhttt... kamu hanya perlu do'a in aku, semoga semua lancar. jangan bayangin hal-hal aneh. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu. malah mungkin kamu yang bakal ninggalin aku!" Ucapnya di sela-sela tangan nya memeluk sang istri.
Mentari menggelengkan kepala nya yang berada di atas dada Dafa. Dia takut dan tidak bisa membayangkan jika mereka terpisah.
"Udah, aku sesak kamu berat Sun... " Dafa mengaduh kecil.
Mentari bangun dari posisinya di atas dada Dafa.
"Biasanya juga nggak!" Cibir nya.
"Itu lain lagi!" jawab Dafa tertawa.
Mentari memukul pelan dasar sang suami.
__ADS_1
"Makan obat dulu ya, tadi dokter Lukman ke sini ngasihin obat. Aku udah bikinin sup ayam." Mentari beranjak mengambil makan untuk Dafa.
...~...
Dafa telah menyelesaikan makannya, dan juga memakan beberapa obat yang di rekomendasi kan untuknya.
"Sun... ayo tidur!" Dafa mengulurkan tangannya saat mentari masuk kamar setelah menyimpan peralatan makan bekas mereka makan.
Mentari merangkak naik ke atas tempat tidur dan merangsek memeluk Dafa.
"Aku sayang kamu Sun!" Dafa mengecupi Kepala wanita cantik itu.
"Cepet sembuh Mas... " Mentari memegang kening Dafa saat memastikan suhu tubuh suaminya berangsur turun, setelah makan dan minum obat.
"Pasti, ini otw sembuh kelamaan sakit aku nggak bisa unyeng-unyeng kamu. Baru juga nyobain udah libur." Gerutunya.
"Kesitu mulu... " mentari memukul pelan perut Dafa.
"Sakit yang, Ulu hati ku agak ngilu." keluh nya.
"Aduh, maaf Mas. Aku nggak tau, besok katanya dokter Lukman mau kesini lagi pagi-pagi." terangnya.
"Kamu ngobrol apa aja sama dia tadi?" Dafa kini menunduk menatap wajah istrinya dengan pandangannya yang hanya setengah di karenakan sebelah matanya yang bengkak.
"Ngomongin kamu aja, katanya kamu Samson bandel banget, kuat gitu." Mentari membalas kontak matanya kepada Dafa.
"Apalagi kalau dia tau, adegan uhuyy kita ya?" Dafa memeluk gemas tubuh Mentari.
"Ishhhh... si mesum dasar." Mentari memutar bola matanya sebal.
Mereka pun tertidur dalam keadaan saling berpelukan saling mengungkapkan rasa cinta dan kasih satu sama lain.
🌻
🌻
Pagi hari yang cerah...
Mentari sedang menyiapkan sarapan special untuk sang suami segenggam roti lapis telor kesukaan Dafa. Dirinya bari saja selesai mandi rambutnya masih setengah basah. Ia ingin menyambut suaminya yang baru bangun dengan pemandangan dirinya yang sudah rapi dan wangi juga sarapan yang akan membuatnya cepat pulih.
suara bell membuyarkan kegiatannya yang sedang memasak.
"Iya.. sebentar!" teriaknya sambil membuka pintu.
Seorang pria yang baru dia kenal kemarin telang menjulang berdiri di hadapannya.
"Dokter, silahkan masuk!" dia membuka pintu lebar mempersilahkan dokter Lukman yang akan memeriksa suaminya agar segera masuk.
"Terimakasih... " jawab dokter muda itu.
"Sebentar dok, saya sedang membuat sarapan untuk Mas Dafa." Mentari berpamitan kembali ke dapur.
Dokter Lukman tak melepaskan pandangannya pada gadis yang mengenakan dress tunik berwarna tosca dengan corak bordir bunga.
"Cantik... " Gumamnya.
"Dok, Silahkan di minum tehnya. Apa sudah sarapan? saya sedang membuat roti lapis telur kesukaan Mas Dafa, bila dokter mau saya ambilkan. " tawarnya.
"Ehmm... bo... " belum selesai suara Dafa berteriak dari dalam kamar menggema di telinga mereka.
"Sunn... " Dafa berteriak.
Bersambung❤❤❤
__ADS_1
terimakasih yang sudah mampir baca🙏🙏 jangan lupa like komen nya ya😘😘, saran nya juga biar bisa buat cerita ini lebih baik🥰🥰
Sehat dan bahagia selalu untuk kita semua❤❤