
❤❤❤
Pagi hari di suatu rumah sakit, Kini keluarga Gunawan tengah di lengkapi kerepotan dan kecemasan mengahadapi persalinan Mentari.
Pembukaan yang terjadi sangat lama, membuat Mentari yang sejak semalam terus meringis dan menangis, pagi ini terlihat sedikit pasrah dan banyak diam, tidak se histeris kemarin.
Namun keadaan nya yang seperti itu, di tambah wajahnya yang semakin pucat malah membuat keluarga nya semakin kalut dan cemas.
"Bun... " Mentari mendesis kala kontraksi itu dia rasakan kembali.
"Lagi sarapan sama ayah di bawah." Jawab Bintang yang kebagian jaga.
"Abang... " Nggak ada lagi pulang ke rumah tadi subuh kan kamu muntahin bajunya."
"Nyari gue napa sih? nyari yang nggak ada!" Bintang menarik sebuah kursi duduk di samping adiknya itu.
"Ishhhh... sakit, auw... Kak." Mentari kembali meringis tangannya otomatis memegang tangan Bintang.
Bintang hanya memejamkan matanya saat tangan sang adik mencengkram tangannya dengan kuku-kuku menancap.
"Sakit... " Mentari kembali meringis.
"Sama... " Bintang pun ikut meringis.
"Duh, bikinnya lu diem bae, sakitnya lu bagi-bagi kita." Bintang berucap asal.
"Hua... Bundaaa... Bundaaa." tangisnya mengeras mendengar apa yang kakaknya ucapkan.
Bunda Rima yang baru masuk ke ruangan berjalan cepat ke arah sang putri yang tengah menangis.
"Kenapa sayang?" Bunda mengusap puncak kepala Mentari yang di penuhi keringat.
"Nggak mau di tungguin Kak Bintang, nyebelin." rengeknya.
"Apa sih, Bin?" Bunda menatap putranya yang sedang mengusap-usap tangannya yang luka akibat kuku sang adik.
"Nggak ada apa-apa, Bun." Dia melengos menahan tawanya.
Seorang dokter wanita masuk ke dalam ruangan itu, tersenyum ramah.
"Bagaimana? sudah sering gelombang cintanya(kontraksi)?" tanyanya ramah.
Mentari mengangguk lemah.
"Kita periksa pembukaan dulu ya!" Ucapnya
Ayah dan Bintang segera keluar tinggal Bunda yang setia di samping nya.
"Wah udah pembukaan tujuh, siang InsyaAllah udah ketemu dedek cantik." Dokter itu memberi semangat.
"Saya tinggal lagi ya, setengah jam lagi saya periksa kembali. Kalo memungkinkan bisa sambil jalan-jalan biar mempercepat pembukaan." Usulnya.
Mentari hanya mengangguk sambil meringis.
Ayah dan Bunda bergantian menuntun Mentari untuk ber jalan-jalan di lorong sekitar kamarnya.
"Gantian sama gue,mau? kasian Bunda!" Bintang meraih tangan adiknya yang sedang menggenggam tangan Bunda nya.
*
*
Sudah hampir satu jam dia berjalan di sekitar kamarnya, sesekali dia berhenti saat gelombang cinta dia rasakan kuat. Diam mematung itu menjadi caranya menetralkan rasa sakit.
"Sakit... " Gumamnya.
"Waktu bikinnya, berisik gini nggak?" Kembali Bintang menggoda adiknya itu.
Mentari mendelik kan matanya, "Stop ngomongin gitu, aku sumpah nanti kalo kakak punya istri terus hamil, kakak bisa ngerasain seujung kuku sakitnya melahirkan." Serapah nya.
"Ishh... omongan kamu." Bintang menyentil kan ujung jari jempol dan telunjuknya pada kening Mentari.
Saat kembali akan berjalan, segerombolan dokter-dokter muda berjalan ke arahnya. Namun matanya menangkap sesosok wajah yang dia kenal.
Seseorang itu pan sama kagetnya dengan Mentari, dirinya yang akan berkumpul di salah stau aula di rumah sakit besar itu, untuk menghadiri sebuah seminar para dokter muda. Akhirnya mereka semakin dekat.
Lelaki berjas putih khas seorang dokter berhenti tepat di depannya. "Tari?" tanyanya kaget.
Mentari hanya mengangguk kecil, bingung dia bertemu dengan Lukman dokter sekaligus sahabat suaminya itu.
__ADS_1
Lukman menatap heran perut Mentari yang sudah sangat besar itu. "Kamu? bukannya keguguran?" tanyanya meyakinkan.
"Heh... mulut lu, mau di iket sama kabel stetoskop?" Bintang seperti biasa mudah tersulut emosi.
"Eh, bu-bukan. Waktu itu Bintang bilangnya kalo istrinya," tunjuknya pada Mentari. "Katanya keguguran."
"Emang, aku yang minta suster di sana untuk mengatakan bahwa aku pendarahan. itu tok, dan sepertinya. Mas Dafa belum menginginkan bayi ini." Mentari kembali meringis.
"Arrrggghhh... " Mentari menjerit histeris.
"Bun.. Bunda... Ini ada yang mau keluar."Teriak kan nya membuat Bunda dan Ayah berlari menghampiri.
Bintang masih memejamkan matanya saat Mentari meremat lengan atasnya sambil kepalanya menyandar di dadanya.
"Gotong langsung aja!" Bintang berusaha mengangkat Tubuh sang adik namun nihil adiknya sungguh berat dan tak mampu dia gendong.
Lalu tanpa di minta Lukman ikut meraih tubuh Mentari. Bintang melihat ke arahnya, namun Langit hanya mengangguk dan merekapun membawa Mentari kembali ke ruangan bersalin yang tadi Mentari tempati.
Bunda hanya menggosok tangannya merasa cemas. Lalu rangkulan pun Ayah berikan menenangkan istrinya itu, walaupun dirinya pun merasakan hal yang sama.
Setelah sampai kamar dan Mentari di baringkan ke atas ranjang. Seorang dokter perempuan dan dua suster masuk setengah berlari saat tombol emergency di tekan Bintang.
"Ah... dok udah ada yang neken di bawah sana, udah ada yang keras."Mentari berucap ketakutan.
" Silahkan yang mau nunggu di sini?" tanyanya pada beberapa orang yang mengitari ranjang Mentari.
Mereka yang tengah menyaksikan perjuangan Mentari seketika tersadar.
"Hanya saya dok." Bunda mengajukan diri.
"Baik, silahkan yang lainnya tunggu di luar." Usirnya ramah.
*
*
Saat Bintang, Ayah, dan Lukman keluar dari ruang rawat Mentari. Suara langkah kaki terdengar mendekat.
Terlihat pria berwajah manis dan berperawakan tinggi menghampiri mereka. "Gimana?" tanya Langit. Ya orang itu adalah Langit
Langit adalah Abang yang sangat sayang pada sang adik perempuan nya itu. Dan juga paling sabar.
Langit menatap seorang dokter pria yang ikut termenung di sebelah sang Ayah.
"Bin.. " Langit menunjuk Lukman dengan dagunya.
"Oh iya, ampir lupa. Kita bicara sebentar." Bintang mengajak Lukman dan Langit ke arah ujung lorong.
"Sebentar yah." Pamitnya pada Ayah Gunawan.
*
*
Saat di rasa sudah agak jauh dari sang Ayah.
Bintang memberikan beberapa pertanyaan pada Lukman. Dan Lukman sedikit bercerita tentang keadaan Dafa setelah di tinggal Mentari.
"Bodo amat, gue kagak ngurus tuh anak." Bintang menyela cerita Lukman.
"Tapi, dia juga tersiksa. Terakhir malem aku sendiri yang mengobatinya. Dia sakit perut tanpa sebab." Terangnya.
"Dan sekarang saya tau, soalnya Sakit perut nya aneh.Mungkin ini salah satu siksaan yang Dafa dapatkan karena sikapnya selama ini pada Mentari." Ucapnya lagi.
"Pokoknya, lu jangan pernah kasih tau lu pernah ada di situasi ini." Bintang membuat gerakan seperti menyeleting mulutnya menggunakan jari.
"Ya, gue jaga nama baik lu. Dan lu pegang rahasia Yang lu lihat hari ini." Langit menambahkan kata-kata pengancaman.
Lukman sebenarnya tidak setuju, melihat keadaan Dafa yang sangat kehilangan dan tak terurus membuatnya iba, tapi permintaan Keluarga Mentari sebagai pasien, harus di jaga benar-benar olehnya sesuai permintaan.
"Tapi, Dafa udah bener-bener menyesal dan sangat kehilangan." belanya.
"Halah... gue tau, sifat manusia itu." Bintang mencebik bibirnya.
"Serius, dia banyak mendapatkan pelajaran hidup setelah di tinggal Tari." Lagi-lagi Lukman berusaha meyakinkan.
"Ini, sebenarnya rencana Mentari. Dia ingin membuat Dafa merasakan kehilangan dan mengerti apa itu arti Adik gue di hidup dia." Langit berkata sembari dia memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa pening. Dia lelah setelah pulang dari luar kota, baru sampai di rumah Bandung dia di telpon oleh Bintang bahwa Mentari akan segera melahirkan. Dan dia langsung berangkat ke Jakarta.
"Dafa terpuruk sekali di awal-awal Mengetahui bahwa Mentari keguguran. Dan menyesali semua perbuatannya." Lukman terkekeh sesaat, "Baru gue ngerti sekarang!" Ucapnya.
__ADS_1
Bintang yang asalnya berdiri menyandarkan tubuhnya di depan Langit, menoleh dengan mengerutkan keningnya.
"Apa? ngerti soal apa?" tanya nya penasaran.
"Di awal-awal Mentari pergi, Dafa sakit sering muntah-muntah nggak jelas, nggak enak makan. Mungkin dia mengalami mual muntah yang Mentari rasakan. Dan semalem... pfttt." Lukman kembali menghentikan ucapan nya sambil menahan tawa.
"Kenapa?" kini Langit yang bertanya memandangnya serius.
"Dari kemarin sore dia sakit perut, sampai tadi malem gue periksa nggak ada yang aneh. Tapi dia guling-guling kesakitan. Mungkin itu kontak batin sama Tari."
Bintang yang kemarin mendengar sumpah serapah yang di lontarkan Tari untuk suaminya, hanya tertawa terbahak-bahak.
Langit dan Lukman hanya melihatnya dengan raut bingung. "Kenapa sih lu?" tanya Langit.
"Bukan kontak batin, tapi di sumpahin Tari. Kemarin dari rumah dia nangis-nangis nge doa agar lakinya ngerasain apa yang dia rasain." terangnya sambil terus tertawa.
Tawa itu seketika terhenti saat melihat Bunda nya keluar ruangan dengan menangis, dan Ayah mereka memeluknya lalu berlari masuk ke ruangan adiknya itu.
Langit, Bintang langsung berlari menghampiri Bunda nya yang sedang menangis.
"Bun.. Chaca gimana?" Langit berjongkok di hadapan sang Bunda.
"Ketuban nya udah kering tapi bayinya belum keluar adik kamu udah ke abisan tenaga, dia manggil Ayah sama kalian. Cepet masuk, kasih semangat dia." Bunda berkata sambil terisak.
Langit dan Bintang saling pandang dan segera memasuki ruangan di mana sang adik tengah berjuang antara hidup dan mati.
Dada mereka seketika terasa sesak, miris melihat keadaan Mentari yang sudah sangat lemah. Sungguh berbeda dari apa yang biasa mereka lihat.
Wajah pucat dengan kulit bibir mengering sedikit terkelupas, selang infus dan juga selang oksigen yang tadi belum di pasang sekarang telah menghiasi tubuh adiknya itu. Tak lupa mata yang sudah bengkak karena tak henti menangis.
Mentari sedang menangis dalam pelukan Ayah mereka. " Maafin aku Ayah, Aku takut... " Ucapnya dalam tangis.
Pandangan paling mengharukan yang terjadi dalam keluarga mereka.
Ayah pun ikut menangis, melihat perjuangan putri kecilnya yang manja kini sedang bertaruh nyawa.
Di kecupi nya kening Tari yang tengah dia dekap.
"Kamu kuat sayang, ayo sedikit lagi kita ketemu dedek cantik." Ayah menyemangati sang putri untuk kesekian kalinya.
Mentari melihat ke dua kakaknya yang tengah berdiri mematung melihat keadaan nya, hanya mengulurkan tangannya lemah.
"Abang.... kak..."
"Ya Dek...
" Ya, sayang...
Jawab mereka bersamaan.
"Maafin aku ya, suka bikin kalian repot dan kesal." Mentari kembali menangis, sungguh dia takut ini adalah detik-detik terakhirnya melihat orang-orang yang di cintainya.
"Hei... kamu kuat sayang," Langit ikut menghampiri mengelus perut besar adiknya yang terasa keras luar biasa. "Pasti bisa dek... " Bintang menimpali bersembunyi di balik tubuh Abang nya, dia takut melihat keadaan Mentari ketika dia menunduk malah semakin ngeri saat melihat kedua tangan dokter di penuhi darah sang adik.
"Nggak kuat sakit... " Mentari kembali meringis
Saat rasa sakit itu semakin kuat Mentari mengejan dengan memejamkan matanya.
"Nggak boleh di tutup matanya, sayang. Di buka ya..
" Agggrrrr... Bundaaaa... bun.... " teriaknya memanggil wanita yang telah melahirkannya. Lalu tak lama Bunda berlari ke arahnya dengan pipinya nggak basah karena air mata.
"Iya sayang... "
"Bun... " rengeknya.
"Silahkan yang lain boleh di luar." Dokter pun kembali mengusir.
"Nggak boleh, aku mau semua ada di sini." Mentari yang sedang menggeliat merasakan sakit dengan kedua tangan nya memegangi tangan Ayah dan Bunda nya. Memohon agar keluarga nya tetap mendampinginya.
"Arghhh.... Mas Dafaaaaa sakit... "
Dia berteriak menyebutkan nama suaminya yang berada jauh dan tak mengetahui keadaan nya saat ini.
Bersambung ❤❤❤
terimakasih yang sudah mampir 🙏🙏, semoga suka🥰🥰, like komen nya aku tunggu😘😘
Sehat dan bahagia untuk kita semua❤❤❤
__ADS_1