
...๐ธ๐ธ๐ธ...
Tak membutuhkan waktu lama, Dafa memberhentikan mobil yang dia kendarai. Keringat nya semakin membasahi tubuhnya, bahkan wajah nya memerah dan badannya terasa menggigil.
"Rijal, bangsat ... " Geramnya.
"Udah, ayo turun. Kamu perlu mandi, Mas! ngedumel aja nggak bikin jamur kamu layu." Mentari membuka pintu mobil dan langsung diikuti suaminya.
Mereka di sambut oleh seorang sepasang penjaga villa itu.
"Papa, Di mana. Mang?" Dafa bertanya saat mereka tengah menurunkan barang bawaan.
"Udah tidur, Den. Tadi ada dokter yang biasa meriksa, bapak kerasa lagi. Darah naik lagi, jadi bapak sakit kepala dari pagi." Terang penjaga villa itu.
"Oh, iya. Saya ke kamar langsung kalo gitu," Katanya sambil merangkul Mentari yang masih setia menunggunya di teras sambil matanya menyapu ke segala penjuru villa milik mertuanya itu.
Dafa menenteng tas Helen, sedangkan kopernya di bawa oleh mamang penjaga villa kepercayaan Papa nya.
"Makasih, Mang." Ucapnya saat telah sampai di kamar yang biasa dia tempati.
"Mau, di siapin makan? biar istri saya nanti siapin!" Tawarnya.
"Sun, mau makan?" dia bertanya pada Mentari yang tengah menggantikan pakaian Helen.
"Mau, mie rebus pake telor enak kayaknya." Pintanya sambil tersenyum ke arah sang suami.
"Bikinin, mie rebus aja dua. Mang, sama es teh manis." Pintanya.
"Es? malem gini den Dafa pengen es?" tanya si mamang heran.
"Iya, mang cepet ya!"
Lalu si mamang pun berlalu ke arah dapur, di mana istrinya tengah menunggu.
*
*
Mentari berjalan ke arah kamar mandi, setelah selesai menggantikan popok dan pakaian Helen, membubuhkan minyak telon ke seluruh tubuh anaknya, agar membuatnya hangat di udara puncak yang dingin menusuk tulang.
"Sun ... kapan mau di lanjut?" Dafa berkata seperti menggumam, rasanya sudah lelah sekali, namun miliknya membutuhkan penyelesaian segera.
"Bentar, mandi dulu. Biar seger." Mentari berucap sambil menutup pintu kamar mandi.
Dafa berjalan lunglai ke arah kamar mandi.
"Ngapain ke sini? itu Helen sendiri." Mentari yang baru membuka pakaiannya terlonjak saat melihat suaminya ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Sekarang aja, Sun. Sakit ini ... " Dia menunjukkan jamur kuncup nya yang seakan tidak akan layu.
"Nanti, ada mamang nganterin mie. Sabar, aku udah janji kan tadi. Atau kamu coba guyur deh pake air dingin."
__ADS_1
Dengan lemas Dafa menuruti perintah istrinya, dia keluar dari kamar mandi. Badannya semakin terasa panas dan menggigil.
Lalu dia mengambil ponsel nya, dan menghubungi Rijal.
"Heh ... bangsat, jamu apa yang lu kasih sama gue?" bentaknya.
"Kenapa? enak ya? nanti kalo udah abis gue minta mak gue bikinin lagi," Ucapnya bangga di seberang sana.
"Enak, ko*t*l lu! masa udah berjam-jam dan udah muncrat berkali-kali masih tegang aja. Ampe bini gue ngomel-ngomel, karena ini nggak beres2. Sial lu," Makinya pada Rijal.
"Masa? wah gue kan belum coba, itu buat mp gue sama bini gue entar. Wah kayaknya gue mau nyoba setengah sendok aja dulu. Takut kek lu!" Rijal berkata di sertai kekehan kecil.
"Setengah sendok? emang harusnya segimana?" Dafa bertanya penasaran.
"Kan ada petunjuknya, di botolnya. Mak gue nulisin satu sendok setengah jam sebelum perang. Ada gede bener tuh tulisan di tempel di botol."
"Lu, minum segimana?"
Dafa terdiam sambil sedikit menganga, tangannya masih menggenggam ponsel di telinganya.
"Daf ... lu minum segimana?" Rijal kembali bertanya.
Helaan nafas terdengar sebelum Dafa berucap, "gue minum sebotol." Jawabnya lirih.
Terdengar suara tawa terbahak-bahak di sebrang sana, Rijal tak henti tertawa. Membayangkan kebodohan dari sabang nya itu.
"Wkwkwk seorang Advokat muda dan pewaris perusaan properti, over dosis jamu kuat." Ledek Rijal
"Coba, Mandi lu. Guyur pake air dingin." Usul Rijal masih dengan tawa meledek nya.
Dafa pun kesal dan memutuskan sambungan telepon itu, dan menonaktifkan ponsel nya.
...***...
Mentari keluar dari kamar mandi sudah dengan keadaan segar, rambut dan tubuhnya masih terlilit handuk.
Dafa tengah menelungkupkan tubuhnya di sebelah Helen, Ayah dan anak itu dengan posisi yang sama. Mentari tersenyum gemas sendiri.
Saat selesai memakai baju tidurnya, sebuah ketukan di pintu terdengar.
Mentari bejalan ke arah pintu dan segera membukanya. Terlihat wanita bertubuh gemuk yang dia ketahui istri dari mamang penjaga villa membawa sebuah nampan berisikan dua mangkuk mie rebus lengkap dengan sawi, telor dan bakso. Ada beberapa irisan rawit dan saos botolan. Juga air putih dan es teh manis pesanan Dafa tadi.
"Makasih ya, Bi." Ucapnya sambil menerima nampan itu. Di jawab dengan anggukan dan senyuman ramah.
Mentari membawa nampan itu ke arah meja di ujung kamar dekat dengan sofa dan jendela kamar yang memberikan pemandangan malam yang begitu indah.
"Mas, ayo makan dulu." Dia menggoyangkan tubuh Dafa yang masih tengkurap. Dafa menggumam kecil sambil bangun dari posisi nya.
Mentari tengah meracik rawit dan saos ke dalam mie nya. Dafa masuk ke dalam kamar mandi, karena sumpah jamurnya masih tetap tegak menyiksanya.
Hanya butuh waktu lima menit Dafa keluar hanya dengan lilitan handuk yang melingkari pinggangnya.
__ADS_1
Duduk di sebelah Mentari yang sedang mengocek mie di dalam mangkuk nya.
"Pake, baju dulu. Astaga ... mau makan, masa pake handuk doang." Matanya melotot sempurna melihat Dafa mengambil mangkuknya dengan santainya.
"Mas,... "
Dafa menatapnya, "apa? ntar juga di buka lagi.iat udah di guyur air dingin dia masih tegak." Jawabnya datar.
"Jamu, apa sih Mas, yang kamu minum? serem." tanyanya sambil mulai menyuapkan mie nya.
"Aku, over dosis, Sun. Harusnya satu sendok. Aku minum satu botol." Ucapnya setengah berbisik.
Kepala Mentari langsung menoleh menatapnya dengan mata melotot sempurna, "Kok bisa? nggak di kasih tau?"
"Aku nggak tau, ternyata ada bacaannya di botol!" jelasnya lirih.
Mentari hanya mampu menggelengkan kepala, tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Grasak-grusuk, ya itu hasilnya. Nggak sabaran ." Omel nya.
Dafa dengan cepat menghabiskan mie nya, meminum es teh. Dan merebahkan punggungnya di sandaran sofa, Kedua tangannya dia rencanakan sepanjang kepala sofa. Memejamkan matanya.
Menunggu istrinya selesai makan.
Mentari menatap selintas ke arah suaminya yang tengah memejamkan mata.
"Nggak usah liatin muka aku, liat yang bawah dah ngintip. Buruan makannya, kamu bantu aku beresin obat ini. Aduhh .... kesiksa banget, ini Sun." rengeknya mengiba.
Mentari selesai makan dan meminum air putih nya, dia berjalan ke arah kamar mandi.
"Ck, kemana lagi sih?" Dafa menghentakkan kakinya gemas.
Mentari tak menggubris nya dia menggosok giginya dengan tenang. Lalu kembali ke arah sofa di mana suaminya itu sedang merengek seperti anak kecil yang menginginkan sebuah mainan.
Mentari berjongkok di depan suaminya itu yang tengah terpejam dan menggerutu tak jelas. Di bukanya handuk yang sebenarnya tak menutup jamur itu dengan benar.
Dafa membuka matanya dan menunduk melihat ke arah istrinya. Lalu sebuah seringai mesum terbit dari bibirnya.
"Good Girl ... " Matanya memejam dan suaranya mengerang tertahan, saat sapuan hangat lidah yang sedang mencoba memuaskan nya, memberikan rasa nikmat yang menguar di setiap inci tubuhnya.
Tangannya, menggenggam rambut setengah basah milik istrinya itu. "Iya, oh Sun. Betapa cintanya aku sama kamu." racauan dan erangan keluar begitu saja dari mulut Dafa.
Mentari berusaha untuk membantu suaminya agar segera pulih, dan berharap efek jamu itu segera hilang.
Bersambung ๐๐๐
Terimakasih yang sudah mampir๐๐, semoga suka๐๐, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ๐๐, cuma buat rame2 aja๐ฅฐ๐ฅฐ
Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaโค
Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ๐๐, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain๐ฅฐ๐ฅฐ
__ADS_1
semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn ๐คฒ๐คฒ