
🌹🌹🌹
keesokan harinya
"Pagi.... pria-pria tampan ku!" Mentari berujar sembari ikut bergabung di meja makan.
Ayah, langit, dan bintang melihatnya aneh.
"Seneng banget anak ayah!"
"Kesambet dia yah!" ucap Bintang.
Langit hanya tersenyum namun dirinya menatap Mentari yang berdandan feminim, tak seperti biasa selalu dengan celana jins.
Mentari menggunakan rok tutu berwarna hitam dengan kaos Sabrina berwarna baby pink.
"Mau kemana dek?" tanya Langit.
Mentari yang sedang mengoles selai strawberry pada rotinya seketika terdiam.
Bingung, ya tentu dia bingung, dirinya tak terbiasa merangkai kata-kata untuk berbohong.
"Mau ngampus lah bang!" ucapnya sedikit tercekat takut kebohongannya akan terbongkar.
Tapi mata Langit terus memandangi adik perempuannya itu. Ada signal ke anehan yang dia rasakan.
"Semoga hanya perasaanku aja!" batinnya lalu melanjutkan sarapannya.
Mereka pun berpencar ayah dan langit pergi duluan, di susul Bintang yang akan menjemput pacarnya, dan terakhir Mentari di antar Mang Unang.
*
*
Di parkiran kampus.
Dafa sudah memarkirkan mobilnya sejak sejam yang lalu. Dia menunggu sambil berkirim pesan bersama managernya bahwa malam nanti akan ada job DJ nya di salah satu club' terkenal di kota Bandung.
tok ... tok ...
Dafa menoleh ke arah samping mobilnya ketika mendengar suara ketukan pada kaca mobilnya. Senyum nya pun mengembang, tatkala gadis cantik yang sudah dia tunggu sejak tadi telah datang.
"Hai... My sunshine." Ucapnya saat Mentari telah duduk di sampingnya.
"Pagi Mas, udah sarapan?" Mentari sedikit berbasa-basi.
Dafa menggelengkan kepala sedikit memelas.
"Aku bawa roti mau?" Mentari mengeluarkan kotak makan dan membukanya.
"Suapin?" merengek manja.
"Ck... nggak malu Ama umur?" Mentari mendelik sebal, tapi tak ayal dirinya tetap menyuapkan roti pada kekasihnya itu.
*
"Siap... ngebolang kita?" Dafa bertanya sembari menjalankan mobilnya keluar dari area kampus.
"Let's go... "Mentari mengepalkan tangannya dengan semangat.
Dafa pun tersenyum dan menjalankan mobilnya membelah jalanan yang masih padat dengan aktivitas di pagi hari itu.
"Sampai jam berapa waktu kita?" tanyanya.
Mentari menatap jam yang melingkar di tangannya, "jam 2 kita harus udah balik ke kampus!" ucapnya menatap lelaki yang tengah fokus menyetir.
"Asik, kita punya waktu lima jam berarti ya? aku bakal bawa kamu ke suatu tempat yang seruu!" ucapnya semangat.
"Beli cemilan dulu yuk!" Dafa menghentikan mobilnya di depan minimarket.
keduanya turun berjalan bersisian. Mentari menatap tangannya yang Dafa genggam erat.
Seulas senyum tersungging di bibir tipisnya, pipinya seketika merona, hatinya membuncah bahagia. Tentu ini kali pertama dia menjalin hubungan dengan seorang pria, dan dia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan pria yang menggenggam tangannya itu.
"Mau apa? ambil beberapa cemilan sama minuman!" Dafa berkata sembari tangannya membuka lemari pendingin mengambil minuman bersoda.
Mentari mengambil teh kemasan dan kopi kalengan. Juga beberapa cemilan keripik kentang dan teman-temannya.
"Aku mau es krim!" Pintanya bernada manja.
"Of course... my sunshine." Jawab Dafa membelai rambut panjang Mentari dengan lembut.
Mentari berlari kecil ke arah freezer es, mengambil es rasa coklat.
"Mas, mau?" tanyanya ketika Dafa sudah berada di sampingnya.
"Nggak ah, aku mau kamu!" bisiknya
Mentari hanya memutar bola matanya jengah, mendengar ucapan mesum pacarnya itu.
"Kenapa nggak yg tobeli?" Tanya Dafa.
"Nggak, takut nanti muka aku asem!" Mentari terkikik berjalan mendahului.
__ADS_1
Mereka pun berjalan ke arah kasir setelah mendapatkan apa yang mereka mau.
*
*
"Kok... kita masuk tol Mas? mau keluar kota?"
Dafa tersenyum mendengar kepolosan dari gadis cantik itu.
"Emang kalo masuk ke tol pasti ke luar kota ya?" tanyanya menahan tawa.
"Heum."jawabnya imut dengan menganggukan kepala pelan.
Tawa Dafa pun pecah mendengar jawaban Mentari.
"Kamu polos banget sih! nggak semua arah tol menuju luar kota!" kekehnya masih merasa lucu dengan pemikiran Mentari.
Mentari menutup wajahnya malu.
"Aku nggak tau, kalo pergi kan selalu di supirin dan nggak pernah fokus kalo nggak nonton ya aku tidur." Dia kembali tersipu malu.
Dafa semakin terbahak-bahak dan mengusak rambut kekasihnya itu.
"Di Bandung juga masih banyak tempat yang menyimpan keindahan. Dan kita akan mengunjungi salah satunya." Ujarnya menjelaskan.
Mentari hanya mengangguk dan memakan keripik kentang yang dia beli tadi.
*
*
"Wah... indah banget!" mentari mengedarkan pandangannya menatap hamparan kebun teh yang indah itu.
"Kamu suka?"
Mentari mengangguk kencang.
"Suka banget, ini indah benar-benar indah!" ucapnya takjub.
"Aku bakal betah di sini!" ucapnya lagi.
"Untung kita tadi udah makan dulu, kalo nggak laper!"
Ya mereka singgah di sebuah tempat makan lesehan yang menyajikan makanan khas Sunda.
Lalu melanjutkan perjalanannya ke arah kebun teh, karena sudah siang hari dan pemetik pucuk teh sudah pada pulang jadi kebun itu terasa sepi.
Dafa tersenyum, "Let's go.." Teriaknya sambil menggenggam tangan Mentari sambil sedikit berlari.
Mereka layaknya sepasang anak muda yang di mabuk asmara, berlarian penuh tawa dan canda. Perasaan yang begitu hangat menunjukkan rasa bahagianya dan wajah yang selalu bersemu merah merona. Menandakan gadis yang selalu dapat kekangan dalam keluarga nya ini sedang jatuh cinta.
Sesampainya di puncak bukit yang tidak terlalu tinggi itu, mereka terengah karena jalan yang menanjak itu.
"Wah... di atas ini makin indah!" Mentari memfoto pemandangan yang langka dia temui ini.
Dafa menyodorkan sebotol air mineral yang dia bawa tadi. "Minum dulu, kamu pasti capek Sun!"
"Makasih Mas, kamu bikin aku happy banget hari ini!" Mentari mengambil botol minum yang sudah Dafa buka segel nya.
Langit tiba-tiba mendung, angin bertiup kencang. Mentari bangkit menikmati udara yang benar-benar sejuk, dan menenangkan.
"Yuk... udah dingin banget!" dia menggosokkan tangannya agar mendapatkan kehangatan.
grep...
"Kalo gini masih dingin?" Dafa memeluknya dari belakang.
Mentari kaget mendapatkan perlakuan Dafa, namun tak ayal bibirnya tersenyum.
"Jadi anget!" ucapnya malu.
"Ughhh... My Sunshine, My girl, My lovely!" Dafa memeluk nya erat sambil mengendus-endus leher Mentari.
"Mas, ayok ... udah gelap banget takut hujan, lumayan kan jarak ke mobil." ujarnya hendak melepaskan pelukan Dafa.
"Sebentar, sebentar lagi sayang sebelum kita pulang!" Ujarnya semakin mengencangkan pelukannya.
Mentari menikmati itu semua, jujur dia bahagia ini pengalaman indah untuk nya. Dia bahkan tak memikirkan bagaimana jika apa yang dia perbuat ini akan di ketahui ayah dan kedua kakaknya.
"Arrgghhh... hujan kan!" Mentari berteriak saat hujan tiba-tiba turun deras.
Dafa melepaskan Hoodie nya, Menutupi kepala Mentari dan menggenggam tangannya berjalan menuruni bukit itu.
"Hati-hati, pegangan tangan Mas jangan di lepas." titahnya.
*
*
Mereka pun sampai ke mobil, dan segera masuk.
"Kamu nggak basah kan?" Tanya Dafa
__ADS_1
"Sedikit, Mas yang basah kuyup." Ujarnya melihat kaos putih itu basah .
glek..
Dafa menelan ludahnya susah payah melihat kaos Mentari yang basah di bagian depan, memperlihatkan sesuatu yang berada di dalamnya. Sebuah kain berenda warna hitam sangat jelas sekali.
"Duh , itu kacamata kamu keliatan jelas!" Dafa seolah membuang wajahnya yang sudah memerah setelah membayangkan sesuatu.
Mentari sedikit berfikir dan langsung menyadari apa yang dafa maksud. Dia segera menutup bagian dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Nggak usah di tutup juga, aku dah tau isinya!" Dafa menggoda.
"Ish... Mas, kamu mesum!" Mentari mencebik kesal.
Dafa mengambil cemilan yang mereka beli tadi, Memberikan ke lahunan Kekasihnya itu.
"Isi terus perut kamu Sun, biar nggak masuk angin sebelum AC mobil nyala." Tegasnya.
Mentari mengambil wafer coklat dan kopi kaleng lalu memakannya sesekali dia menyuapi Dafa.
"Mas...
"Iya, apa?" Dafa yang sedang berbalas pesan dengan salah satu temannya yang memberinya job DJ untuk nanti malam.
"Apa?" Masih belum melihat ke arah Kekasih nya itu.
"Itu, jok belakang kenapa kamu bikin kayak kasur?" Tanya Mentari yang ingin bertanya sedari tadi namun tertahan.
Dafa memandang ke arah belakang yg memang dia rancang agar terlihat lega, di beri kasur angin khusus mobil jadi terlihat nyaman untuk di tiduri.
"Oh... asalnya mau ala2 piknik gitu, tapi berubah haluan, karena kamu pingin naik ke bukit." terangnya.
"Maaf, aku nggak tau Mas udah punya rencana itu!" Mentari merasa bersalah.
"Iya, nggak apa-apa. Nanti buat rencana kedepannya aja." Dafa menyimpan ponselnya.
"Kamu kalo mau tidur di belakang boleh kok, kita lumayan jauh kan perjalanan nya." tawarnya.
"Serius Mas?"
"Iya lah, gih pindah kebelakang!" titahnya.
Mentari melangkahkan kakinya melewati celah antara jok yg dia duduki dan jok Dafa.
Saat melewati Dafa, rok tutu yang menutupi paha putihnya tersingkap.
Dafa memandangi nya dengan jakun nya yang naik turun. Mencoba menahan sesuatu yang segera bangkit.
"Mas... enak banget, nyaman!" Dia berteriak seperti anak kecil.
Dafa hanya melihatnya sembari tersenyum.
"Kita jalan sekarang?" Ujarnya.
"Kalo piknik di sini pasti sambil ngobrol ya Mas?" Mentari malah berbalik bertanya.
"Iya, sambil ngemil kita saling ngobrol ngalor ngidul ngungkapin apa yang ada di hati, apa yang kita rasakan, berbagi keluh kesah." katanya panjang lebar.
"Sun...?"
Lalu Dafa tersenyum melihat gadis cantik itu sudah pulas tertidur meringkuk seperti anak kecil.
"Dasar, ***** udah nempel langsung molor!" kekehnya lucu.
pandangan nya terus menatap Mentari dari kaca spion nya, gadisnya itu seperti menggigil.
Dia teringat menyimpan sebuah jaket di jok paling belakang. Seketika itu dia menepikan mobilnya, keluar memutari mobilnya membuka pintu bagian belakang, mencari keberadaan jaketnya.
Setelah menemukannya , dia berlari kecil karena hujan masih setia mengguyur Bandung di siang itu.
Dafa masuk ke bangku yang di jadikan kasur itu, yang sekarang tengah di tiduri gadis cantiknya itu.
Di selimutkannya jaket itu pada tubuh bagian atas. Bersamaan dengan Mentari yang membalikkan tubuhnya, membuat rok itu tersingkap ke atas. Pemandangan antara kaki jenjang nya dan bagian dada yang menerawang kini tengah Dafa nikmati.
"Set.. dah.. on langsung nih!" Gerutunya memegang sesuatu yang dengan cepatnya tegak.
Mentari memeringkan posisi tubuhnya kembali membelakangi Dafa.
Dafa malah menutup pintu mobilnya dan ikut merebahkan tubuhnya di belakang tubuh Mentari, memeluknya erat berbagi kehangatan.
"Sun... " bisiknya.
"Ehhmm" hanya gumaman yang keluar dari bibir gadis cantik itu.
"Dingin... Mas mu ini kedinginan!" Ucapnya parau.
Tak ada pergerakan dari Mentari, dia betul-betul sudah tertidur dengan nyenyak.
Bersambung ❤️❤️❤️
makasih yang sudah mau mampir dan baca cerita ini🙏🙏 tinggalkan jejak like komen kalian ya😘😘
Terimakasih banyak ❤️❤️❤️
__ADS_1