Kisah Mentari

Kisah Mentari
adik aku


__ADS_3

🌹🌹🌹


Mentari turun dari mobil milik ayahnya, Pagi ini sang ayah yang mengantarnya ke kampus. Dan seperti biasa sore supir nya yang akan menjemput.


"Hati-hati sayang!" ucapnya sambil mengecup kening putri kesayangannya.


"Iya , ayah!" Mentari tersenyum manja dan segera turun dari mobil.


Mentari berjalan masuk ke kampus nya. Berjalan melewati parkiran menuju gedung kelasnya.


Matanya melihat mobil Dafa telah terparkir tak jauh dari dia berdiri. Mentari memundurkan langkah kakinya.


"Awww..." teriak seseorang di belakangnya yang dia tabrak.


"Cin.. Cindy maaf, aku nggak sengaja!" Mentari memenangkan Cindy yang terduduk karena mengusap kakinya yang Ter injak sahabat nya itu.


"Ishh... kamu kenapa sih? Ampe jalan pake gaya mundur segala!" tanyanya ketus.


Mentari menengok ke arah belakang, lalu kembali melihat ke arah Cindy.


"Aku ngehindar dari Dafa, dia udah stay di parkiran tuh!" tunjuknya pada mobil SUV hitam, yang terparkir tak jauh dari mereka.


"Ya udah kita jalan dari sayap kanan," Cindy menarik tangan Mentari.


"kamu lagi marahan sama dia?" Cindy menyelidik


Mentari pun menceritakan semua kejadian yang dia alami di mobil Dafa.


"Gilaaaa.... seberani itu dia sama kamu?"


"Atau setiap pacaran dia emang gitu?"


Cindy memberondong pertanyaan, namun hanya di jawab dengan kedikkan bahu Mentari.


Mereka pun sampai di kelas setelah memutar jalan menghindari Dafa.


 


Di mobil...


Dafa terus menatapi setiap orang yang berlalu lalang melintas di depan mobilnya, dia yakin Mentari akan melintas di jalan itu, karena gedung kelasnya berada tak jauh dari dia memarkirkan mobilnya.


"Sial... apa dia nggak ngampus?" gerutunya kesal.


Dafa memegangi perutnya yang keroncongan belum terisi apa pun, karena bangun tidur dia tergesa-gesa ke kampus Mentari. Untuk mencegat pacarnya itu, dan membicarakan banyak hal.


Tapi dia tidak mungkin meninggalkan tempat itu, takutnya dia pergi dan mentari datang. akhirnya dia memesan makanan dari aplikasi ojol.


Sudah hampir empat jam Dafa menunggu di dalam mobil, rokoknya pun sudah habis sebungkus.


"Sial... dia kemana sih?" Dia mengusak kasar rambutnya.


Dafa mengirimkan beberapa pesan dari ponselnya, namun jangankan membalas membacanya pun tidak, bahkan panggilan yang dia lakukan di reject terus.


Akhirnya dia memberanikan turun dari mobilnya, setelah menghabiskan makan pagi merangkap makan siangnya yang baru tiba setengah jam lalu.


Dia mendekati kelas yang ia ketahui sebagai kelas Mentari. Setelah bertanya ke beberapa orang.


Dia mengintip ke arah jendela dan tampak lah Mentari yang sedang membereskan tas nya.


Dafa mencegat seseorang yang melintas di depannya. "Kelasnya udah selesai?" tanyanya.


"Sudah, dosennya nggak masuk!" Jawab lelaki berkacamata yang keluar dari kelas Mentari.


Dafa pun mengangguk paham.


Dia menyandarkan tubuhnya tak jauh dari kelas. Mentari keluar bersama Cindy. Dafa terus mengikuti dari jarak yang agak renggang.


Namun masih bisa mendengar percakapan antara Mentari dan Cindy.


"Aku mau langsung ke tempat kerja, mau lembur ah. Biar dapet bonus dari Abang kamu!" Kekekhnya lucu.


"Aku kemana ya? masih dua jam lagi nih nunggu jemputan!" Mentari terlihat lesu sambil berjalan.


"Aku duluan ya! hati-hati loh Ama pacar kamu, kek nya dia beneran penasaran sama kamu!" Cindy kembali menggoda mentari.


Mentari memukul pundak sahabat nya itu, sebelum mereka saling memeluk dan berpisah.


*


*

__ADS_1


"Ah.. Dafa masih nunggu, aku males ketemu dia dulu, dia bisa banget bikin aku oleng!" Mentari mengintip ke arah parkiran.


Dafa tersenyum mendengar gumaman gadis di depannya itu.


Mentari terus mengintip ke arah mobil Dafa terparkir.


"Nggak usah ngintip, orangnya ada di sini!" Bisik Dafa tepat di belakang telinga Mentari.


Mentari terlonjak kaget, berbalik dan langsung memukul dada Dafa.


"Aw..." Dafa segera menahan pukulan dari kepalan tangan Mentari.


"Mas.. bisa nggak sih nggak bikin aku kaget!" Mentari menarik tangannya dari pegangan Dafa.


Hanya suara tawa, yang Dafa keluarkan.


"Kita harus bicara, aku mau kita sedikit ngobrol!"


"Kamu ada waktu dua jam kan? lumayan buat kita ngobrol!" ucapnya lagi.


"Sok tahu!" Mentari memutar bola matanya.


"Tahu lah, tadi kan kamu yang bilang!" data tertawa melihat raut wajah Mentari yang keheranan.


"Aku dengar kamu tadi ngobrol sama , siapa temen kamu yang tadi?" tanyanya.


"Dari kapan Mas ngikutin aku? serem ih kek Intel!" suaranya terlihat kesal.


"Habisnya, kamu nggak mau bales pesan aku, lagian tadi pagi kamu lewat mana? kenapa aku nggak liat kamu lewat Sun?" tanyanya menginterupsi.


"Kepo..." Mentari berbalik arah.


Dafa hanya tersenyum sambil tetep mengekor.


"Mau kemana kita?"


"Kita? aku aja kali. Aku mau ke perpus!" Mentari tak menghiraukan Dafa.


"Dih... pinter nyari tempat sepi!" Dafa terus menggodanya.


Mentari berhenti melangkah mendadak. Membuat Dafa yang ada di belakangnya menabrak tubuhnya.


"CK... bilang kalo mau ngerem, jadi nggak aku seruduk!" Dafa menahan bahu Mentari yang hampir limbung karena tertabrak tubuh jangkungnya.


"Udah aku bilang kita harus ngobrol." Dafa sedikit memohon.


"Ya , ngomong di sini aja!" Tantang Mentari.


"Nggak enak, di mobil aja kalo gitu!" Dafa menarik tangan Mentari.


"Mas... kamu tetep jadi cowok pemaksa, aku teriak nih!" ancamnya.


"Terserah, aku bilang aja pacar aku minta di kawinin!"


"Jangan gila kamu Mas!"


"Iya, aku gila tepatnya tergila-gila sama kamu!" Masih dengan menarik tangan Mentari.


*


*


Mereka kini sudah berada di mobil, Dafa masih menatap lekat kekasih nya itu


"Maaf , soal kemarin!"


"Aku bener-bener nggak kuat lagi buat nahan!" Terangnya.


"Dan aku takut, kamu berbuat lebih."


"Iya, maaf janji nggak ngulang maksa kmau lagi, kecuali kamu minta sendiri!" Godanya


"Apa? nggak salah aku yang minta? aku yakin Mas pasti gini kan sama pacar-pacar mas dulu?" Dia mencoba mengorek kejujuran Dafa.


"Hiisss... kalo ngomong suka bener!"


Mata Mentari membola sempurna, mulutnya sedikit terbuka.


"Eh... becanda, reaksinya gitu banget!" Dafa terkekeh berhasil menggodanya.


Mentari memutar matanya jengah. Dia kesal atas lelucon yang Dafa berikan. Entah kenapa dia merasa kesal membayangkan lelaki itu melakukan hal semacam itu dengan wanita lain.

__ADS_1


"Cie... cemburu ya?" Dafa kembali menggodanya.


"Ngapain? nggak ada kerjaan!" ucapnya judes.


"Serius, aku cuma ngerasain getaran ini sama kamu, terus adik aku cuma ngerespon ketika sama kamu!" Dafa berujar dengan serius.


"Adik? emang aku kenal sama adik mas Dafa?


Tanyanya bingung.


"Yang kemarin, yang cakep gagah. Itu kan adik aku!" Jawab Dada dengan tertawa.


"Nggak ngerti sumpah, yang mana sih?" masih dengan wajah bingung.


"Yang kemarin hampir kenalan sama kamu!" mata Dafa memberi kode dengan mengarahkan ke bagian bawah nya.


Mentari mengikuti arah mata Dafa, lalu seketika matanya melotot dan wajahnya bersemu merah karena malu.


"Serius Sun, dia biasanya nggak ngerespon kalo aku Deket cewek. Tapi sama kamu dia terus berontak , aku juga bingung." Dafa memelas.


Mentari memalingkan wajahnya menahan tawa. "Gila, cowok ini terus aja mesum!" batinnya.


"Kapan siap kenalan sama dia? jabat tangan aja. Nggak usah kamu ajak masuk. dia pasti udah seneng banget!" Ucapnya lagi sedikit memohon.


"Mas... apa sih? kamu gila." Mentari tak kuat lagi menahan tawanya.


Kenapa obrolan mesum bisa se kocak ini. pikirnya.


"Serius, semalem aja dia jadi minta ketemu sama Tante bio." terangnya lagi.


Mentari kembali menatap wajah Dafa, matanya menyipit mencari penjelasan.


"Siapa Tante bio? kamu mainnya sama tante-tante Mas?" tanyanya penuh rasa penasaran. Lagi-lagi dia memperlihatkan rasa cemburunya.


Dafa tersenyum puas bisa membuat Mentari memperlihatkan rasa cemburunya.


"Iya, aku selama ini berteman dengan Tante bio. Apalagi setelah kenal sama kamu, kita makin akrab." godanya sambil menahan tawa yang akan meledak.


"Ya udah ketemuan sana sama Tante bio!" Mentari melipat tangannya di dada dan menatap ke luar jendela.


"Mau kenalan nggak?"


"Dia cantik deh, bodynya bagus , wangi lagi!" Dafa terus saja menggoda wanita yang kini tengah merajuk.


"Males banget, udah deh sana temuin Tante bio kamu, aku turun." Mentari hendak membuka pintu mobil namun Dafa segera menahannya.


"Nih Tante bio!" dia menunjukkan foto botol sabun salah satu brand yang dia ambil dari aplikasi pencarian.


"Ini Tante bio*re, dia temen adik kecil aku. kalo mau boboin dia harus sama Tante bio. Semoga bisa cepet kenalan sama kamu, biar kamu bisa boboin dia!" terang dafa dengan tawanya.


Mentari ikut tertawa mendengar penjelasan nyeleneh bin gila dari pacarnya itu.


"Mas... aslii kamu bikin perut aku sakit!" Mentari terus tertawa terpingkal-pingkal memegangi perutnya.


Pandangan mereka bertemu dengan tepat nya saling mengunci.


Dafa mendekatkan wajahnya pada Mentari, tangannya yang kanan menelusuk masuk ke dalam ceruk leher Mentari, Mentari seperti terhipnotis dirinya hanya terdiam dan ketika wajah mereka semakin dekat, dengan tak tau malunya Mentari malah memejamkan matanya bukan menolak.


Seringai tipis keluar dari Dafa sebelum dia mendaratkan bibirnya pada milik Mentari.


Hembusan nafas mereka saling menyapu hangat pada wajah masing-masing.


Dafa menautkan dengan sempurna, dengan lembut dan sedikit menggila.


Suara desa*han saing bersautan, Dafa semakin menekan tengkuk Mentari. Dengan refleks Mentari remat kemeja Flanel milik Dafa.


Dafa melepaskan sesaat setelah menyadari oksigen mulai habis di antara mereka, lalu memulainya lagi setelah di rasa cukup menghirup udara.


Kening mereka saling menempel, mata yang masih sama-sama terpejam, mengatur deru nafas yang memburu dan degupan jantung yang menggila.


"Aku cinta kamu!" Dafa berucap dengan suara parau nya, lagi-lagi adik nya terbangun.


Mentari hanya mengangguk kecil, lalu mereka pun kembali saling memagut dan berbagi saliva, Dafa menggigit kecil belahan milik Mentari itu agar sedikit terbuka dia pun berhasil dan langsung mengabsen semua yang ada di dalamnya.


Walau dengan sebelah tangan yang masih terbungkus gips, namun sebelahnya lagi lincah, dengan meraba dan mengelus apa yang ada di tubuh Mentari.


"Gila... aku nggak bisa menolak!" Mentari berdebat dengan dirinya sendiri. Menolak namun tak memungkiri dirinya menikmati semua sentuhan yang Dafa berikan.


bersambung ❤️❤️❤️


terimakasih yang sudah mau mampir untuk baca, semoga suka dan jangan lupa tinggalin jejak kalian🙏🙏😘😘

__ADS_1


sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤️


__ADS_2