
π₯π₯π₯
"Sun..."
Tidak ada pergerakan dari Mentari.
otak Dafa sudah bingung bagaimana caranya dia menidurkan kembali adiknya itu, namun semakin di sangkal semakin tak kuasa dia menahan.
Di saat dia akan kembali bangkit dan hendak pindah ke depan, Mentari berbalik ke arahnya dan tangannya mengenai sesuatu yang sudah bangkit dengan sempurna.
Dafa memejamkan matanya menahan gejolak yang sudah di ubun-ubun.
"Sun... kamu ngegoda banget sih!" bisiknya.
lalu matanya menjurus pada bibir tipis milik Kekasihnya yang tepat berada di sebelah nya.
Dia mendekati dan langsung melahapnya lembut.
Mentari menyadari pergerakan itu, matanya membola saat dia menemukan wajah dafa tengah menempel dan sedang menyesap bibirnya.
"Mas... " mentari mendorong tubuh Dafa yang setengah menindih tubuhnya.
"Kamu, ngapain?" Mentari beringsut membenahi tubuhnya, bahkan kaosnya sudah menyingkap memperlihatkan perutnya.
"Aku nggak kuat sayang, bantu aku lagi!" Dafa menarik mentari mendekat ke arahnya.
"Ta... tapi Mas." Mentari mencoba menolak namun naf*su lelaki itu kuat sekali.
Bahkan kini dafa melepaskan kaos basahnya. Lalu menarik paksa kaos yang di kenakan Mentari.
"Mas... jangan mas, aku takut ada orang!" Mentari menahan kaosnya.
"Ayo... Sun, cuma sebatas atas aja aku nggak akan meminta lebih!" pintanya memohon.
"Tapi Mas... ini di pinggir jalan!" dia melihat ke sekelilingnya. Memang terlihat gelap dengan hujan deras bahkan kendaraan yang lewat pun tidak terlihat.
"Biarin, aku yakin aman!" Dafa kembali menarik kaos Mentari yang akhirnya lolos juga.
Tangannya mengusap gunung kembar itu kembali mengecup bibir Mentari. Dia semakin liar dan menuntut hingga tangannya yg meraba area punggung itu berhasil melepas pengait kain berenda hitam itu, Dafa menariknya hingga terlepas.
Matanya berbinar melihat gumpalan lembut nan indah itu. Mengusap memainkan hingga mencubit-cubit gemas.
"Aghhh... Mas!" Mentari mele*nguh tangannya mencengkram punggung polos Dafa.
"Dafa yang tengah mengecup ceruk leher Mentari seketika bangkit dan mengungkung Mentari yang berada di bawah nya. Tersenyum dengan mata yang sudah berkabut gak*rah.
"Mas... "
Mentari Mende*sah ketika Dafa menenggelamkan wajahnya di gundukan miliknya. Lidah nya terasa menyapu dan menyesapnya kencang.
"Ehmm..." Dafa menggerang saat puncaknya akan segera datang.
Dia menekan dan menggesek adiknya di atas tubuh Mentari. Hingga akhirnya ledakan terjadi denyutan itu terasah jelas oleh Mentari.
"Akhhh...." Dafa masih menikmati pelepasan nya. Menjatuhkan tubuhnya di pinggir Mentari.
Mereka saling mengatur nafas. Dan saat Mentari akan memakai kembali apa yang sudah terlepas. Dafa menahannya, "sebentar, aku masih belum selesai!" bisiknya sambil kembali menyesap gundukan itu.
"A.. apa? Mas.... agh..." Mentari tak meneruskan ucapannya saat mendapati Dafa kembali bermain dengan benda empuk miliknya.
"Kenapa enak banget sih? aku nggak kuat pengen terus!" Dafa kembali menggerak-gerakan si adiknya pada Mentari.
Mentari tak dapat bertindak lebih, dia takut namun dia menikmati itu semua.
"Bagaimana ini? aku takut tapi sumpah ini nikmat!" batinnya berkata sambil terus merasakan pergerakan yang Dafa lakukan.
Hingga tak lama, Dafa kembali mencapai pelepasan.
Dafa terlihat kelelahan, dirinya bahkan belum membersihkan cairan kental miliknya.
"Sun, mau bantu bersihin adiknya Mas nggak? Mas lemes banget!" ucapnya lemah.
"Ogah, salah sendiri!" Mentari menjawab dengan nada Kesal.
"Buruan ganti ishh, bau nya kok gini ya? kayak pemutih baju!" Mentari menutup mulutnya yang hampir memecahkan tawanya.
"Kamu, ini normal tau emang gini bau muntah adik!" Dafa mendengus kesal mendapatkan ledekan dari Mentari dia mengambil tissue dan mengelap dan membersihkannya.
Lalu mengambil celana yang berada di jok belakang. Dengan cueknya dia mengganti di depan Mentari.
"Liat sini dong!" Dafa berucap.
__ADS_1
"Nggak mau, buruan Mas!" Rengeknya kesal
"Udah!" Dafa berkata namun sebenarnya dia belum selesai.
Mentari menoleh dan seketika menjerit saat melihat ke arah adik milik dafa itu.
"Mas.... kamu iseng banget, ampun deh!" Teriaknya kesal.
Lalu dia turun dari mobil pindah ke jok depan.
Dafa hanya tersenyum, setelah selesai memakai celananya dia pun pindah ke depan dan segera melajukan mobilnya.
"Mas ... ini udah mau jam 2, Mang Unang jemput aku bentar lagi." Mentari terlihat cemas.
"Tenang, aku usahain cepet, tapi lebih baik kamu kasih alasan deh, cari buku atau apa gitu!" Dafa memberikan ide.
Mentari pun langsung mengirimkan pesan pada supir rumahnya itu.
*
*
Di sebuah supermarket, Seorang gadis tengah membereskan barang di salah satu rak.
"Loh.. Cindy, kamu nggak ngampus?" Tanya Langit heran, melihat sahabat adiknya yang juga satu kelas ada di depan matanya.
"Nggak Bang, di liburkan kelasnya soalnya istri dosennya melahirkan kemarin jadi beliau ijin 3 hari." jelasnya.
Langit seketika memucat mendengar pernyataan di depannya, "Apa ini? kemana adiknya pergi?" Tak membalas ucapan Cindy dia langsung bergegas meraih ponselnya dan menelpon Bintang.
"Ya udah, aku cegat dia di kampus bang!" ucap Bintang mengiyakan perintah Langit.
Langit kemudian menelpon Mang Unang, namun sesuatu kembali memacu jantung nya semakin cepat. Adiknya itu berpesan akan pulang terlambat mau mencari buku dulu di perpustakaan sekolah.
"Bin... coba liat di perpustakaan, ada nggak Chaca, tadi bilang ke Mang Unang dia cari buku dulu di perpustakaan jadi pulang nya agak telat." perintahnya.
Bintang berlari ke arah Perpustakaan, namun nihil adiknya tidak ada di sana.
"Halo bang, Chaca nggak ada di perpustakaan, bahkan aku keliling kampus sampai kantin dia nggak ada." Bintang melapor pada abangnya itu.
Langit yang tengah terduduk di bangku dalam ruangannya memijit batang hidungnya, membayangkan apa yang sedang adiknya lakukan sekarang.
*
*
Mentari keluar dari mobil Pajero hitam itu, dan melenggang mendekati mobil jemputan nya yang terparkir di tempat biasa.
Tanpa mereka sadari ,Bintang sudah mencengkeram kemudiannya menahan emosi yang siap dia ledakkan.
"Si breng*sek, beraninya dia mendekati Chaca!" ujarnya berteriak di dalam mobil.
Bintang tentu tau siapa pemilik mobil itu, musuh sekaligus rival bebuyutannya.
Dia kemudian mengikuti mobil Dafa kemana perginya. Bintang terus membuntuti hingga masuk ke salah satu rumah besar, yang dia tau jelas rumah milik siapa itu.
Dia menunggu Dafa keluar kembali, sambil berbalas chat dengan Abangnya. Setelah hampir dua jam dan langit semakin gelap tidak nampak pergerakan dari Dafa.
Namun saat dirinya akan pergi, pagar tinggi berwarna hitam itu terbuka lebar, dan mobil hitam itu melaju keluar. Bintang kembali mengikuti kemana perginya musuh bebuyutannya itu.
Hingga mobil hitam itu berhenti di sebuah club' malam terkenal di Bandung.
"Masih brengsek lu, dan lebih sial lagi lu deketin adek gue!" Bintang menggerutu kesal rahangnya sudah mengeras.
Bintang ingin segera melabrak lelaki itu tapi dia menahannya, dia pun masuk ke club' malam itu mencari keberadaan musuhnya itu.
Dia sudah mengabarkan semua pada Langit, dan menunggu hasil interogasi nya pada Mentari.
*
*
Mentari selesai mandi dia sedang menatap pantulan dirinya di depan cermin besar di kamar nya, banyak tanda-tanda kecupan yang Dafa tinggalkan dia hitung sampai ada 7 noda merah di sekitar dadanya.
"Ampun, dia liar banget." ucapnya menyentuh noda merah ke unguan di sekitar dadanya.
tok... tok...
"Dek... boleh Abang masuk?" Langit mengetuk pintu kamar sang adik.
"Sebentar bang, aku lagi pake baju!" Jawabnya sedikit teriak dan langsung buru-buru memakai baju tidurnya.
__ADS_1
Setelah ia rasa selesai Mentari membuka pintu kamarnya. Terlihat Langit tengah menyandarkan punggungnya di dinding sebelah pintu.
"Ada apa bang?" tanyanya heran.
"Boleh Abang masuk?" meminta persetujuan.
Mentari pun mengangguk dan mempersilakan Abang nya itu masuk ke dalam kamarnya.
"Dek... kamu lagi berhubungan sama seseorang?" tanyannya to the points.
"A... apa? maksud Abang gimana?" dia balik bertanya.
"Kamu punya pacar?" tanya Langit sudah menaikan nada bicaranya.
"I...iya bang!" dia menunduk takut.
"Siapa?" Kembali Langit bertanya.
"Siapa?" Langit tak bisa menahan emosinya lagi setelah mendapatkan laporan dari Bintang siapa pria yang sedang dekat dengan Mentari saat ini.
Mentari tidak menjawab nya. Dia malah menangis ketakutan melihat amarah Abang nya.
"Jangan buat ayah mendengar semuanya, cepat jujur siapa cowok yang dekat sama kamu?" Langit mencengkeram pundak adiknya itu yang tertunduk di pinggiran Tempat tidur.
"Di...dia
belum selesai menjawab sebuah suara terdengar di ambang pintu.
"Si breng*sek Dafa kak, cowok dia!" Bintang menutup pintu kamar itu takut ayahnya akan mendengar pembicaraan mereka.
"Kak, dia orang baik nggak breng*sek . Dia memberi warna di hidup Chaca, memberi pengalaman2 indah. Membuat hari-hari Chaca yang biasanya jenuh kini penuh semangat dan hati Chaca bahagia."
plak...
sebuah tamparan dari tangan Bintang mendarat di pipi mulusnya.
"Kamu nggak tau, se keji apa lelaki itu!" Bintang masih berapi-api lalu keluar dari kamar itu dengan emosi yang memuncak.
"Dia udah gue abisin, jadi jangan pernah temuin dia." Ucap Bintang sebelum meninggalkan kamar adik itu.
"Kakak apain Mas Dafa?" mentari meronta namun Langit menahannya.
"Nurut sama kita, dia bukan orang baik, tinggalin dia!" ucap langit dan ikut berlalu meninggalkan kamar itu.
Tubuh mentari seketika melorot , dia terduduk di lantai menangkap wajah nya menangis histeris.
"Mas Dafa... " dia menangis dalam diam.
Lalu dia teringat untuk menelpon pacarnya itu.
"Mas.. mas Dafa!" panggilnya saat sambungan telepon itu sudah terhubung.
"Bukan, saya temannya Dafa, kamu Mentari pacarnya Dafa kan?" tanya orang di sebrang sana.
"Iya, Mas Dafa dimana?" tanyanya cemas.
"Dafa di rawat di rumah sakit, dia di hajar sampai babak belur, dan pinggang nya sobek terkena sabetan botol kaca!" ucap lelaki di seberang sana.
Lelehan air mata lolos mengalir di pipi Mentari, tangannya menutup mulutnya yang akan Menjerit histeris.
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Masih belum sadar, baru selesai operasi luka di pinggangnya." terang seorang pria di seberang sana.
"Jangan dulu ke sini, nanti orang yang sok melindungi kamu akan mencelakai Dafa lagi!" ujarnya memberi interupsi.
"Maksudnya?" Mentari bertanya dia ingin meyakinkan bahwa bukan kakaknya yang melakukan ini semua.
"Dari rekaman cctv, Bintang yang ngelakuin semua.Dia kakak kamu kan? dan dengan bodohnya dia tidak mau melaporkan Bintang, karena memikirkan perasaan kamu!"
lalu sambungan terputus sebelum Mentari bertanya dimana Dafa di rawat.
"Mas... Mas Dafa, maafin aku. Semua salah aku!" Mentari meraung-raung hatinya sakit sekali mengetahui pria yang dia cintai harus terluka , apalagi ini perbuatan sang kakak.
"kakak jahat, apa salah Mas bintang? sampai benci banget kalian sama orang yang telah memberi setitik kebahagian untuk adik kalian ini." mentari semakin terisak-isak, rasanya ia ingin pergi dari rumah itu, semakin sesak dia tinggal di rumah itu.
bersambung β€οΈβ€οΈβ€οΈ
terimakasih banyak yang sudah mampir membaca cerita iniππ, jangan lupa tinggalkan jejak kalian like dan komen nyaππππ.
terimakasih sehat dan bahagia selalu β€οΈβ€οΈ
__ADS_1