Kisah Mentari

Kisah Mentari
Tak ingin kehilangan.


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


"Kenapa? Chaaa?" Bintang menggoyangkan tubuh adiknya yang terduduk di lantai sambil menangis meraung-raung.


Dia melihat ponsel adiknya yang masih tersambung dengan si penelepon.


"Haloo... Siapa ini?"


".... "


"Baik, di mana?"


"... "


"Baik, kami segera ke sana... Terimakasih Pak, atas pemberitahuan nya."


Panggilan pun terputus.


"Salah aku... ini salah aku, seandainya aku ngga nyuruh, Mas Dafa buat benerin mobil. Semuanya nggak akan seperti ini... "Mentari masih meraung-raung tubuh nya lemas, tak bertenaga saat menerima kabar bahwa suaminya mengalami kecelakaan tunggal di jalan daerah Bogor.


Helen ikut menangis melihat ibu nya menangis, memang ikatan batin anak dan ibu begitu kuat. Saat seorang Ibu sedih anak pun akan merasakan, begitu pun sebaliknya jika anak sedih Ibu akan jauh lebih sakit.


" Cha... Ayo kita ke Bogor sekarang, kita liat keadaan Dafa." Untuk pertama kalinya Bintang melafalkan nama Dafa dengan benar.


"Ini salah aku, kak... Salah akuu... Aku udah mencelakai suamiku. Gara-gara aku!" Mentari terus terisak pilu wajahnya penuh penyesalan.


Terlintas bayangan saat suaminya berpamitan tadi pagi, berbicara dengan romantis nya pada Helen, menciumi dirinya begitu lama dengan sangat meresapi, jangan lupakan dirinya yang tiba-tiba ingin memakai pakaian hitam. Juga Helen yang membawa jam tangan kesayangan Dafa yang pecah, mungkin semua itu adalah pertanda.


Mentari memeluk erat kakaknya.


Bintang hanya mampu mengusap punggung adiknya yang pasti sangat terpukul. Helen berada di pelukan Mentari.


"Ayo, kita berangkat sekarang. Tadi polisi udah ngasih alamat rumah sakit di mana Dafa di tangani."


"Kita titipin dulu anak-anak di rumah Ayah."


"Jangan... jangan Kak, anak-anak harus ikut. Biar menjadi semangat untuk Ayah nya." Mentari langsung bangun dengan tergesa-gesa, masuk ke dalam kamar menyiapkan pakaian dan segala perlengkapan anak-anak nya.


Keluar dari kamar, dengan menggendong Shera yang masih terlelap, dan menjinjing satu koper kecil.


"Jangan kasih tau Ayah sama Bunda kak... aku nggak mau semua khawatir. Kita pastiin dulu keadaan Mas Dafa." Mentari berjalan menghampiri kakaknya yang menggendong Helen.


*


*


Lagi-lagi Mentari menangis saat memasuki mobil suaminya, SUV hitam itu menyimpan banyak barang suaminya, mulai dari kacamata, topi, bahkan minuman sisa suaminya terselip di pinggir jok.


"Kuat, Cha... seenggaknya buat anak-anak." Bintang mulai melajukan mobil itu keluar dari area komplek.


Mentari hanya menyandarkan tubuh lemas dan syok nya di sandaran jok mobil milik suaminya.


Helen duduk di carseat yang berada di jok belakang.


Perjalanan terasa lama sekali, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sakit sesuai dari keterangan polisi tadi.


Mentari dan Bintang mendatangi meja resepsionis dan bertanya perihal ruang rawat Dafa, setelah mendapatkan informasi mereka bergegas menaiki lift menuju lantai tiga, dimana ruangan ICU tempat Dafa di rawat.

__ADS_1


Mendengar kata ICU saja sudah membuat benteng pertahanan mentari runtuh, dia semakin tersedu-sedu di dalam lift.


Bintang memeluk pundaknya menguatkan, banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Mungkin sebagian akan mengira bahwa mereka adalah pasangan suami istri. Karena Bintang terus mengecupi kepala sang adik yang menangis.


Lift terbuka dan mereka langsung mencari ruangan yang di tuju. Seorang polisi terlihat menunggu di depan ruangan itu. Seorang dokter keluar dari kamar itu.


Mentari dan Bintang yang masih berjalan di kejauhan sedikit berlari menghampiri.


Bintang berbincang dengan dokter dan polisi yang menangani kecelakaan adik iparnya itu. Sedangkan Mentari semakin tergugu di balik kaca saat melihat suaminya terbaring dengan berbagai alat menempeli tubuhnya.


"Dok, boleh saya masuk untuk melihat suami saya?" Mentari menjeda perbincangan dokter dengan kakaknya itu, yang dia inginkan hanya melihat suaminya dari dekat.


"Baik Bu, silahkan tapi sebaiknya bayi ibu tidak ikut ke dalam." Ucapnya.


Bintang yang masih menggendong Helen langsung mendudukkan keponakannya itu di bangku besi dengan memberikan ponselnya yang memutar kartun.


Mentari memberikan Shera pada Bintang dengan perlahan, bayi cantik itu menggeliat dalam gendongan Papi nya.


"Do'ain Ayah ya sayang." di kecupnya kening Shera dan Helen bergantian. Mentari masuk ke dalam setelah menggunakan baju steril sebagai baju pelapis sebelum masuk ke dalam ruang ICU.


Air mata nya mengalir deras saat dirinya tiba di depan brangkar yang di tiduri suaminya.


"Mas... katanya mau pulang cepet, aku tunggu... malah aku yang nyamperin kamu." Mentari duduk menunduk menangkup wajahnya tak kuat melihat keadaan suaminya itu.


Pelipisnya di plester besar, ada perban memanjang di kepala bagian sisi sebelah kanan, lingkaran matanya memar ke unguan. Lehernya di lingkari penyangga. Selang oksigen menempel di hidungnya. Dua labu berisi cairan bening dan satu lagi cairan darah mengaliri selang menuju jarum yang menancap di punggung tangan suaminya itu.


"Maasss... bangun, maafin aku. Kalo bukan aku yang nyuruh Mas bawa mobil itu, semua nggak akan kayak gini... maaf... " Mentari meletakkan tangan suaminya di pipinya yang basah oleh air mata.


Melihat suaminya tak sedikit pun merespon, bahkan di ruangan itu hanya terdengar suara mesin EKG. Semakin membuat penyesalan kuat rasa khawatir kehilangan melingkupi dirinya.


Semua pikiran negatif dia coba tepis, di ganti dengan pemikiran suaminya hanya tidur sesaat karena lelah.


*


*


Mentari berjalan di lorong , melihat di ujung lorong itu sebuah taman indah.


Helen yang dia tuntun, melepas pegangan nya. Berlari ke arah taman itu.


"Awas jangan lari sayang... " Mentari sedikit mengejar sambil menggendong Shera.


"Yayahhhh... " Putri sulungnya itu berlari sambil memanggil Ayah nya.


Ada kelegaan di hati Mentari, melihat sosok suaminya tengah duduk di bangku dengan seorang pria. Setelah semakin dekat dan jelas itu adalah Papa mertuanya.


"Mas, kamu nggak apa-apa?"


"Nggak apa-apa lah, aku kuat." Jawab Dafa dengan suara yang terdengar ceria seperti biasa.


Kini tatapannya tertuju pada Papa mertuanya.


"Pa... sudah sembuh?" Pria paruh baya itu hanya tersenyum lalu mengangguk.


Mentari melihat Helen yang berlari di taman itu, saat mendekati Helen, dan berhasil memegang tangannya. Mentari melihat Suaminya sudah berdiri dengan Papa mertuanya.


"Mas... mau kemana?ini anak-anak... " Katanya berteriak.

__ADS_1


Dafa hanya tersenyum sedangkan Papa mertuanya malah melambaikan tangannya.


Lalu merangkul Dafa berjalan semakin menjauh.


"Mas.... Mas.... aku sama anak-anak gimana?"


Mentari merasa kesal karena suaminya itu malah terlihat cuek ,dengan terus berbincang bersama papa nya yang semakin terlihat menjauh.


"Mas.... "


*


*


"Cha.... Hei... " Bintang menepuk pipi adiknya itu.


Mentari gelisah dalam tidur nya, tubuhnya bergetar dengan keringat yang bercucuran.


"Mas... "Mentari terhenyak bangun dari posisi tidur nya.


" Suamiku kak?" Mentari kembali menangis.


"Belum ada perubahan, tapi barusan ada panggilan di ponsel Dafa, maaf kakak lancang buat jawab. Ternyata dari Dokter yang merawat Papa mertua kamu. Beliau meninggal... "


Mentari menangkup wajahnya, tangisan nya kembali pecah.


"Dan dengan terpaksa, Kakak telpon Bunda dan Ayah untuk bantu mengurus pemakaman Papa mertua kamu." Tambahnya lagi Bintang menjelaskan.


Mentari langsung mengingat kejadian mimpi yang seperti nyata, di mana suaminya di rangkul oleh Papa nya.


"Aku harus liat Mas Dafa, kak.... "


Dia terlihat menuruni brangkar dan berlari menuju ruangan suaminya.


Menerobos masuk tanpa baju steril.


"Mas... Bangun, Papa udah nggak ada... Papa udah ketemu cinta sejatinya... Kamu gimana? masih mau tidur? nggak mau ketemu aku?" Mentari mengelus pipi suaminya yang terasa dingin.


Dan mesin EKG bersuara melengking dengan garis yang asalnya bergerigi seperti rumput sekarang datar lurus...


Bintang yang baru saja tiba di ruangan itu setelah menitipkan kedua keponakannya pada seorang suster.


Dua orang dokter dan dua suster berlari masuk ke dalam ruangan itu. Mentari yang histeris langsung Bintang tarik mundur ke belakang dan memeluknya.


Mentari meraung-raung, tubuhnya lemas saat menyaksikan suaminya mendapatkan pertolongan. Dokter terlihat sibuk dengan segala cara menyelamatkan pasien nya. Saat salah satu dokter melihat jam dan mengangguk pada suster di depannya yang mengerti dan menuliskan sesuatu di kertas yang dia peluk.


"Mas.... nggak....Maaasss.... jangan tinggalin kami"


"Kamu jahat... aku sama anak-anak gimana?"


"Mas.... " Mentari histeris...


"Shhttt... cha, sabar ikhlas, kasian anak-anak. " Bintang memeluk tubuh lemas adiknya.


"Mas... "Mentari kembali lemas tak sadarkan diri.


BersambungπŸ’”πŸ’”πŸ’”

__ADS_1


Like dan komen nya ya.... πŸ™πŸ™πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­


__ADS_2