Kisah Mentari

Kisah Mentari
Dua Ayah hebat


__ADS_3

...❤❤❤❤...


Dokter meletakkan transducer atau alat yang di tempelkan di atas perut saat menjalani pemeriksaan USG.


"Di bantu Sus, " katanya pada seorang suster yang berdiri di sebelah Mentari.


Suster itu langsung mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan gel yang membasahi area perut Mentari.


Mentari di bantu bangun oleh Dafa, lalu di tuntun berjalan ke arah kursi yang berhadapan dengan dokter, Anak-anak bermain di sudut ruangan dokter itu yang terdapat beberapa mainan.


"Semua baik ya Bu, ada keluhan? mual muntah, atau pusing?" tanyanya.


Mentari menggeleng kecil, "nggak ada dok, semua di alami suami saya, saya cuma lebih gampang mengantuk,"jawabnya.


Dokter tersebut tertawa kecil, "memang anak Ibu ini, sayang banget sama Ibu nya sampai nggak mau ngerepotin."


Pasangan suami istri itu tersenyum, dengan tangan saking bertaut di bawah meja. Bahkan sesekali Dafa mengusap kan Ibu jarinya pada punggung tangan istrinya itu.


"Semuanya baik, sehat, dan tumbuh sesuai usia janin. Perkiraan usia janin 15 mingu ya, saya tetap akan memberikan vitamin, darah Ibu sedikit rendah."


Terangnya.


Mentari mengangguk.


"Mas, keluar duluan aja. Ada yang mau aku tanyain ke dokter Mila." Mentari menoleh pada suaminya.


Dafa mengerutkan kening, namun tak ayal dia mengangguk dan keluar dari ruangan dokter, meninggalkan istrinya. Keluar dengan wajah penasaran sambil menuntun ke dua putri nya.


"Begini, dok." Mentari ragu karena merasa malu, namun dia sedikit khawatir.


Dokter Mila mencondongkan tubuhnya sedikit mendekat , menunggu pasien nya itu mengatakan apa yang ingin di tanyakan nya.


"Ehmmm.... soal hubungan, akhir-akhir ini dia lebih sering minta berhubungan, apa tidak apa-apa?" Mentari setengah berbisik.


Dokter Mila tertawa kecil dan mengangguk seolah paham akan ke khawatiran Ibu hamil di depannya.


"Nggak apa-apa, kalo Ibu merasa sehat dan dedek bayi di perut tidak merespon berlebihan seperti keram atau amit-amit nya ada flek setelah hubungan. Dan Ibu saya lihat sehat tidak seperti kehamilan Shera yang sangat lemah." ujar nya.


"Nggak ada dok, nggak ada keluhan apa-apa. Biasa aja enak.. eh.. iya gitu." Mentari kelepasan mengatakan kata enak, dia langsung menutup mulutnya malu.


Dokter Mila kembali tertawa, "nggak apa-apa Bu, kalo merasa enak, nggak usah sungkan saya sudah menemani dua kehamilan Ibu. Yang ini Ibu dan bayi sehat semua, nggak ada masalah. Jadi bapak minta ya di kasih aja, asal dengan gaya yang masih normal. Jangan sampe terlalu heboh, nanti dedek bayinya salto di dalam." Dokter itu kembali tertawa.


"Ah, dokter bisa aja." Mentari tersipu malu.


Lalu dokter Mila memberikan satu bungkusan berisi beberapa macam vitamin dan penambah darah.


Mentari pun pamit, dan berjalan keluar ruangan itu.

__ADS_1


*


*


Dafa menatapnya kesal, dia duduk di kursi besi panjang bersama dengan beberapa pasangan suami istri lainnya.


Mentari melambaikan tangannya agar suaminya itu bangun dan mendekat ke arahnya.


"Ibu nanya apa sih? kenapa Ayah nggak boleh tau," dengusnya kesal.


Mentari menggendong Shera namun Dafa langsung mengambil alih, "udah di bilang berapa kali jangan gendong anak-anak, kasian adik di perut." nadanya terdengar ketus.


"Ayah, ih... marah-marah, Ibu punya berita buruk!" ucapnya dengan nada sendu.


Dafa yang sedang menggendong Shera dengan sebelah tangannya di genggam istrinya yang juga menuntun Helen, langsung menghentikan langkahnya di dekat mobil hitam miliknya.


"Berita buruk apa? tadi kan kata dokter semua baik. Ibu jangan bikin Ayah panik." Dafa menatap mata istrinya langsung.


"Kata dokter, kita... kita nggak boleh begitu.. " Mentari menundukkan wajahnya seakan sedih, padahal dia menahan tawa.


"Hah... kenapa? kamu tadi nyuruh aku keluar buat nanya itu?" Dafa dengan wajah cemas menyentuh dagu istrinya agar melihat ke arahnya.


"Iya,"


"Aduh... mati, lagi enak-enaknya ini Bu. Ah... kasian jamur Ayah di paksa layu padahal lagi sering mengembang sempurna. Biarin lah demi Ibu sama adik. Ayah coba tahan, eh banyak cara menuju itu loh Bu," cecar nya.


"Ya, dari pada ada apa-apa."


Mereka masuk ke dalam mobil, menuju rumah orang tua mereka.


Mentari melirik ke arah suaminya yang terlihat lesu, mendengar kabar bagaimana kegiatan favoritnya harus di hentikan.


"Iya, Ayah nggak boleh gitu. Kalau Ibu sama adik bereaksi keram perut atau ada flek. Kalo nggak ada efek apapun ya boleh... " Mentari menutup mulutnya yang akan meledakan tawanya.


Dafa yang baru menjalankan mobilnya seketika menginjak rem.


"Kamu, nge prank aku Bu? dasar awas ya, Ayah hajar Ibu entar malem. Hukuman bikin Ayah nge down." Dafa menarik tubuh istrinya dan membanjiri kecupan di seluruh wajah istrinya.


Mentari hanya tertawa melihat wajah lesu suaminya yang di larang melakukan hubungan suami istri, yang selalu menjadi kegiatan paling di sukai olehnya.


"Aduh... udah nyesek aja ngedenger nya, jahil kamu Bu." Dafa melepas pelukannya dan kembali menjalankan mobilnya.


*


*


Mereka tiba di rumah Ayah .

__ADS_1


Semua orang berkumpul di kamar Ayah. Bahkan abang dan Cindy juga sudah tiba padahal posisi rumah mereka paling jauh jaraknya.


Mentari merasa ada pembicaraan serius kali ini, melihat Ayah berbaring dengan Bunda di sebelah nya. Membuat hatinya seketika berdebar, takut sesuatu hal terjadi.


Setelah menyalami kedua orang tuanya lalu menyapa kedua kakak dan pasangan mereka.


Mentari duduk di sebelah Ayah nya. Menjadi anak yang paling dekat dan paling di manja oleh Ayah Gunawan membuat wanita hamil itu tergugu, menangis menciumi Ayah nya.


"Ayah kenapa? chaca kira Ayah nggak enak badan biasa. Ini pasti parah," Tangisnya semakin pecah.


Ayah yang biasa begitu cerewet dengan nya, kini hanya diam tersenyum tipis. Wajahnya tidak segar seperti biasa terlihat lemas.


"Cha... Ayah sama Bunda udah mutusin , kita bakal ke Australia di sana ada dokter jantung bagus dan udah tersohor, ayah kayaknya mau pengobatan di sana, sekalian nyari suasana baru. Bunda ada apartemen di sana juga, lumayan nggak akan susah nyari tempat tinggal selama pengobatan Ayah di sana.


Mentari mengangguk, namun tangisnya semakin keras. Dia membaringkan tubuhnya di sebelah sangat Ayah.


" Ayah, sehat ya. Aku nggak mau kehilangan cinta pertama. Ayah harus sehat, panjang umur. Jangan tinggalin chaca." si bungsu itu terus menangis sambil memeluk Ayah nya.


Semua di sana merasakan apa yang di rasa Mentari, Bunda dan kedua iparnya pun ikut menitikkan air mata.


Ayah hanya mengusap lengan putrinya yang melingkari perutnya.


"Nggak usah cengeng, anak udah mau tiga. Ayah nggak mau kamu jadi kepikiran, ini pengobatan biasa. Supaya Ayah semakin sehat menyambut cucu yang akan terus bertambah," katanya menenangkan.


"Pengen tidur sama Ayah,"


Ayah pun mengangguk.


"Ya, udah malam ini kita jadi jajaran ikan cue dalam keranjang. Berdempetan tidur di kamar ini." ujar Bintang memberikan usul, "Para pemuda ayo, ngambil kasur lipat tambahan buat kemping kita." Ajaknya pada beberapa kakak dan adik iparnya.


Mentari terisak dengan senyum yang dia paksakan.


"Aku kangen, tidur bareng Ayah,"


"Iya, kasian suami sama anak-anak."


"Nggak apa-apa Yah, takutnya ini salah satu ngidamnya Tari." Dafa yang baru masuk dengan kasur busa yang dia gotong dari gudang, persediaan jika keluarga besar berkumpul dan dua kamar tidur tamu tidak cukup menampung.


Ayah mengecupi puncak kepala anak bungsu nya. Yang akan selalu menjadi gadis kecilnya sampai kapanpun.


❤❤❤


Sedikit lagi ini end kok aku nggak mau ya🤭🤣🤣


tapi harus di akhiri udah kepanjangan, dan aku nggak bisa fokus ngerjain dua judul nama karakter nya suka belibet ketuker sana sini🤭🤣🤣, maafkan🙏🙏🤭🤭. Like komennya jangan lupa ya di detik-detik terakhir kisah mereka🤭🤭.


Salam cium dari Bandung 💋💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2