
๐น๐น๐น
Seperti terhipnotis mentari mau untuk menemani Dafa.
Kini mereka tengah duduk di sofa, menikmati Drakor pilihan Mentari. Setelah pemeriksaan terakhir dari dokter yang menangani luka-luka Dafa, dan suster yang sudah memberikan jatah makan malamnya. Dafa terus memandangi Sang kekasihnya itu.
"Kayak yang nggak nyaman deh sama bajunya!" ujar Dafa melihat mentari yang mengenakan kemeja dan rok bervolume.
"Ya udah gimana? aku kan emang nggak ada niatan nginep mas!" ujarnya yang masih setia duduk di sofa mencari siaran tv yang sekiranya enak untuk mereka tonton.
"Pake kaos aku aja mau?"tawarnya.
"Hah.. ogah." jawab Mentari malu.
"CK... dari pada kamu tidur pake baju kayak gitu ntar rok kamu tersingkap ke atas kan bahaya!" gumam Dafa pelan namun masih jelas terdengar oleh Mentari.
"Mas... kamu ishhh mesum pastii!" Mentari menggebuk lengan Dafa.
"lagian aku pake celana legging kok!" terangnya
sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kamu kenapa ih... aku cuma nawarin kok!" Dafa masih terkekeh.
"Tuh kan udah pake celana, enak tuh pake kaos aku, biar tidur kamu nyaman!" Dafa membujuk lagi.
Mentari terdiam, batinnya juga membayangkan tidur dengan baju seperti ini pasti tidak nyaman. Tapi masa dia harus memakai baju Dafa. "Eh tapi kan aku pake legging se lutut kayaknya bakal ke tutup juga sama kaos milik Dafa." gumamnya
"Ya udah.. dimana baju nya? aku mau pilih." ucap Mentari.
"Tuh.." Dafa menunjuk sebuah lemari kecil di sudut ruangan.
Mentari menuju ke arah lemari kecil itu. Membukanya, meraih sebuah tas ransel dan memilih satu baju yang sekiranya cocok untuknya.
sebuah kaos putih berlogokan merk ternama dia ambil, lalu berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Mau juga kan..." Dafa tertawa kecil melihat Mentari yang berlalu membawa kaos miliknya.
๐น๐น
Keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kaos milik Dafa dan legging di atas lutut membuat Dafa menahan nafas nya.
"cakep banget!" gumamnya dalam hati.
Mentari kembali mendudukkan tubuhnya di sofa. Tak lama mereka menonton tv ,dia pun menguap.
"Ngantuk? tidur gih!" tunjuk Dafa ke arah kasurnya.
"Hah.. terus kamu tidur di mana?" tanya Mentari kaget.
"Aku juga di situ lah, kamu tega emang yg sakit malah tidur di sofa?" Ucapnya kesal.
"Nggak mau, aku tidur di sini aja!" Mentari malah mendorong tubuh Dafa yang masih duduk di sampingnya.
Tanpa bicara lagi , Dafa menarik lengan Mentari mengarah kek kasur.
"Mas...ishh ngapain?" Mentari merengek kesal, mencoba melepaskan pegangan tangan Dafa.
"Naik!" perintahnya
"Nggak mau, aku di sofa aja!" Mentari hendak berbalik namun Dafa segera menarik tangannya.
Mentari terhuyung ke belakang, lalu jatuh tepat di atas lahunan Dafa yang sudah duduk di pinggir kasur.
"Mas... ishh kamu maksa banget, aku mau tidur di sofa!" Mentari merengek kembali mencoba menolak perintah Dafa.
"Nurut deh, emang kita mau ngapain sih? sampai kamu takut banget!" Tanyanya menatap wajah Mentari yang tubuhnya masih terduduk di pangkuannya.
"Ya, nggak mau aja. Nanti ada orang masuk mikir nya gimana coba?" Mentari mencoba melepaskan tubuhnya dari pangkuan Dafa.
"Siapa yang masuk? dokter Ama suster kan udah barusan, temen aku? nggak mungkin , tiap malem aku sendiri!" terangnya.
Mentari terdiam, namun jangan tanyakan detak jantung yang seperti habis maraton dan pikiran dalam otaknya yang berlarian tak karuan.
__ADS_1
"Ayo... kita tidur!" ajak Dafa.
"Ayo?" Mentari mengerutkan dahinya.
Dafa tak berkata lagi dia langsung berbaring dan menarik tangan Mentari agar ikut berbari ng juga.
Demi apapun Mentari merasa gugup, tubuhnya gelisah, dan juga merasa ada getaran yang aneh, yang baru kali ini dia rasakan.
"Sun.. kamu kenapa? tegang banget, emang di sini mikirin yang aneh pasti!" ucapnya sambil mengetukkan tangannya pada kepala Mentari.
"Ish... apa?emang aku mikirin apa?" ucapnya gugup.
"Mana aku tau! yang pasti pikiran aneh, atau mungkin pikiran mesum!" kekehnya.
"Aku cuma pengen punya Temen tidur." ucapnya masih dengan tawa ledeknya.
Mentari memiringkan posisinya hingga memunggungi Dafa, wajahnya kini memanas dia yakin pasti akan terlihat memerah.
"Hei...dih ngambek!" Dafa menggodanya sambil melingkarkan tangannya pada perut Mentari.
Mentari yang kaget sontak membalikkan badannya ke arah Dafa. "Mas... nggak usah aneh-aneh deh, aku tidur di sofa aja d.."
Belum selesai dengan ucapannya Dafa sudah membungkam bibirnya.
Mata mentari melotot kaget dengan apa yang Dafa lakukan padanya. Namun perlahan dia terbawa juga dengan permainan Dafa yang memang sudah ahli.
Mentari terbuai oleh segala aktivitas yang Dafa lakukan terhadapnya. Ini juga memang pengalaman yang baru untuknya. Dan juga malah Mentari sangat menikmati getaran-getaran yang dia rasakan.
Dafa melepas pautan bibir itu turun ke leher bersih milik kekasihnya itu, tanpa sadar dia menyesap keras hingga meninggalkan noda merah. Sedangkan tangannya sudah bermain mengusap perut rata Mentari.
Mentari memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya menahan ******* yang akan keluar dari mulutnya itu. menikmati setiap sentuhan yang Dafa berikan.
"Gila... rasa apa ini? kenapa badanku nggak menolak?"Gerutunya dalam hati.
Dafa kini memasukan sebelah tangannya ke dalam kaos Mentari, menyentuh permukaan lembut itu. Kembali meraup bibir Mentari.
Nafas keduanya sudah semakin memburu.
Ketika tangan Dafa sampai di puncak dada sang kekasih bermaksud mer*ma* Mentari tersadar dan spontan menyikut tangan Dafa yang terbungkus gips.
"Ma..maaf mas, mana yang sakit?" Mentari refleks bangun dari posisi tidurnya dan mencoba menenangkan Dafa yang kesakitan.
"Kenapa coba pake jail tangannya, aku kan jadi refleks perlindungan diri." Mentari menahan tawanya.
"Argh... kamu, ishh udah mengacaukan acara mesra kita, udah bikin sesuatu bangun malah dia ngedadak pingsan karena kalah Ama rasa sakit tangan aku!" Dafa berucap kesal.
"Apa yang bangun?" Mentari terkekeh melihat kekonyolan pria dua puluh enam tahun di depannya.
"Tau ah.. dah tidur aja!" Dafa memejamkan matanya.
Mentari yang masih tertawa kembali membaringkan tubuhnya di sebelah sang kekasih.
"Selamat malam mas..." Di kecupnya pipi Dafa.
Lalu dia pun memejamkan matanya.
Dafa yang memang belum tertidur hanya tersenyum kecil sambil mengintip dari celah matanya yang dia buka sedikit.
"Selamat tidur juga gadis cantik menyebalkan!" batinnya.
*
*
Pagi hari..
Mentari terperanjat saat tersadar matahari sudah mengintip dari kaca jendela.
"Mas.. lepasin, ini udah pagi." ucapnya panik seraya melepaskan tangan Dafa yang semalaman memeluk tubuhnya.
"ehmm..." hanya gumaman yang keluar dari mulut Dafa.
Suara ponselnya tiba-tiba berdering. Mentari segera turun dari ranjang dan berlari ke arah sofa di mana dia menyimpan tas yang berisikan ponselnya itu.
__ADS_1
"Kakak.." Paniknya melihat nama si penelepon,
Dengan hati yang dag-dig-dug dia mengangkatnya.
"Halo kak?"
"...
"i..ini, lagi di kafetaria bawah." dia berbohong kembali.
"...
"Iya.." panggilan pun berakhir
Mentari menatap penuh ketakutan, ada banyak panggilan tak terjawab dari nomor Abang dan kakaknya sejak semalam.
"Mati... aku, ini gimana? alasan apa yang mau aku jawab? Abang sama kakak nelponin dari malem!" tanya nya pada Dafa.
"Tenang, jangan liatin ke gugupan kamu, bilang aja kamu nungguin temen kamu yang di rawat di sini, gitu aja!" usul Dafa dengan wajah tanpa dosa nya.
tok..tok..
Seorang suster masuk ke dalam kamar dan tersenyum ramah. membuyarkan lamunan penuh kepanikan pada Mentari.
Mentari berlari ke kamar mandi mencuci mukanya dan sedikit memoles lipstik pada bibirnya.
Dia keluar dari kamar mandi, sudah mengganti bajunya dengan bajunya kemarin dan terlihat sudah segar dan tentu saja cantik.
"Mas.. aku ke kamar Abang dulu ya!" Mentari menghampiri Dafa yang sudah terduduk di ranjang, setelah mendapatkan pemeriksaan dari suster.
Dafa mengangguk namun mulutnya mengerucut seperti tidak rela di tinggal sang kekasih.
"Kamu ke kampus Sun?" tanyanya pada Mentari yang sedang memasukan beberapa barang yang berserakan ke dalam tas nya.
"Iya, aku ada kelas jam 11." jawabnya tanpa melihat ke arah Dafa.
Dafa mendekati Mentari dan langsung memeluk tubuh kekasihnya itu, menyesap ceruk lehernya yang semakin wangi karena Mentari sudah menyemprotkan parfum kesayangannya.
"Mas... ish, ini aku udah di telponin kak Bintang, udah ngamuk-ngamuk dia!" mentari mencoba melepaskan tangan Dafa.
"Morning kiss dulu, baru aku lepasin!" Dafa memutar tubuh kekasihnya itu sehingga menghadap ke arahnya.
Tanpa menunggu jawaban Mentari dia langsung mendaratkan bibirnya, menyatukan belahan kenyal itu, menyesap dan memberikan gigitan-gigitan kecil.
"Mas..." Mentari mendorong dada Dafa, yang dia rasakan cumbuannya semakin liar.
"CK.." Dafa mencebik kesal, kesenangannya terhenti.
"Aku pergi," Mentari mengecup pipi Dafa lalu berlari keluar dari ruangan itu.
Dafa menatap punggung Mentari sebelum hilang di balik pintu. Lalu sebuah seringai kecil terlihat di bibirnya.
*
*
*
Mentari tergopoh-gopoh berlari ke kamar rawat abangnya, setelah sebelumnya ke kafetaria untuk membelikan pesanan sang kakak.
"Nih.." Mentari menaruh bungkusan di meja tepat di depan Bintang.
"Kamu nggak pulang?" Bintang menatap tajam pada Mentari.
Mentari terpaku mendapat pertanyaan dari Bintang.
"Jawab? kamu dari mana?" Bintang manaikkan nada suaranya.
Langit yang terbaring menatap interaksi kedua adiknya itu.
"A..aku.....
**bersambungโค๏ธโค๏ธโค๏ธ
__ADS_1
makasih yang sudah mampir ๐๐, tinggalkan jejak kalian ya buat Mentari yang mulai nakal ๐คญ๐.
Sekali lagi terimakasih sehat dan bahagia selalu buat kita semua๐๐๐๐๐๐**