
💔💔💔
"Kak...?"
Mentari kembali bersuara.
"I... iya?" lelaki itu terlihat gugup.
"Kita, mau kemana kak? terus... Mas Dafa di mana? tadi dia janji mau jemput aku di kampus. Aku juga ada kejutan buat dia." Deretan pertanyaan untuk lelaki di sebelah nya.
Rijal terdiam, hanya helaan nafas berat yang terdengar.
"Kak?" Mentari semakin tak tenang melihat raut wajah Rijal yang tak seperti biasanya.
Rijal membelokkan mobilnya masuk ke pelataran parkir sebuah rumah sakit yang terletak tak jauh dari pintu keluar Tol.
"Ayo... " ajaknya setelah mematikan mesin mobil.
Mentari menurut namun hatinya semakin tak karuan, rentetan pertanyaan semakin mendesak ingin keluar dari mulutnya.
Rijal sedikit tergesa-gesa masuk ke dalam rumah sakit, Mentari terus mengikutinya dengan debaran jantung semakin cepat.
"Ada apa ini? Siapa yang sakit?" gumamnya sambil meremat saku cardigan nya yang terdapat dua testpack yang akan dia berikan sebagai kejutan untuk sang suami.
Rijal berhenti di depan sebuah pintu, bertepatan dengan seorang dokter dan perawat yang keluar dari kamar itu.
"Dok? bagaimana keadaan teman saya?" Rijal terlihat cemas.
"Sudah melewati masa kritis namun masih belum sadar. Kita pantau terus setiap dua jam sekali." jawab Dokter pria paruh baya itu.
Tak lama seorang dokter juga keluar dari ruangan itu, Dokter yang sudah Mentari kenal. Yaitu dokter Lukman.
"Dokter Lukman? ini siapa yang sakit? jangan bilang Mas Dafa?" Mentari sudah mulai histeris.
Dia menyadari keadaan yang semakin membuka teka-teki yang sedari tadi berkutat di kepalanya.
Mentari menerobos masuk ke dalam ruangan itu.
Matanya membola, hatinya sakit, seketika tubuhnya memantung melihat Dafa terbaring dengan bebarapa luka di tubuhnya.
Kepala yang di perban bagian pelipis nya, penyangga leher, tangan kanan di gips dari siku sampai pergelangan tangan, dan gips juga membalut kaki kanannya.
"Mas... " Mentari histeris dan menghampiri di mana suaminya itu terbujur.
*flashback*
"Yes... gue mau ngasih trofi ini, sambil ngasih foto rumah yang mau gue kasih ke bini gue." ujarnya bangga sambil membawa sebuah trofi dan matanya memandang sebuah rumah yang sudah dia beli menggunakan uang apartemen yang sudah berhasil terjual.
"Inget lu, waktu buat ngosongin apartemen cuma seminggu." kata Rijal.
"Kayaknya secepatnya deh, bini gue bakal pengen cepet pindah, apalagi ini sesuai keinginan dia ada taman belakang nya."
"Thanks ya, lu emang bro gue paling best." Ujarnya mengacungkan jempol yang lengannya sedang memeluk trofi yang dia juarai.
Rijal hanya mencebik jijik melihat tingkah Dafa yang menurutnya seperti anak SMA yg baru jatuh cinta.
"Lu mah bucin... Najis gue liat tingkah lu, kek abg ngerasain cinta monyet." Rutuknya.
"Anjirrr... lu belum ngerasain aja, nikmat nya gimana!" dengusnya tak Terima.
Mereka pun berpisah masuk ke dalam mobil masing-masing
*
*
Tak berselang lama, Rijal terheran karena di berhenti kan oleh polisi, jalan tol itu seketika macet.
"Maaf, Pak ada apa?" tanyanya pada seorang polisi.
"Ada kecelakaan beruntun pak, tapi yang parah yang pajero hitam yang berada di tengah-tengah." Jelas seorang polisi itu dengan ramah.
Rijal diam membisu sebelum dia memberanikan diri keluar melihat ke TKP.
Dia berjalan dengan ragu, melihat kerumunan tak jauh di depan nya. Nafasnya seketika sesak saat melihat plat mobil Dafa yang dia hapal betul.
__ADS_1
"Argghhh... Daf... Dafa..." Dia berteriak histeris dan para polisi langsung mencoba menenangkannya.
"Dia, sahabat saya. Pak!" Dia meronta ingin mendekat ke arah Dafa yang sedang di evakuasi.
"Tenang pak, korban sedang di tangani para medis." Polisi itu menenangkan.
Rijal pun mengikuti kemana ambulance yang membawa tubuh Dafa yang di penuhi luka.
Rijal masih memejamkan mata merasa ngeri melihat keadaan mobil SUV gahar sang sahabat yang ringsek bagian depan dan belakang nya.
*flashback off*
Mentari terisak di sisi ranjang dimana tubuh suaminya itu tergolek lemah.
"Mas... kamu janji mau jemput aku, aku udah pake baju sesuai yang kamu minta." Ucapnya dengan isak tangis.
Rijal dan lukman ada di samping lain tempat tidur Dafa.
"Dia menepati janji, akan kerumah sakit. Tapi dengan keadaan seperti ini." Lukman berkata mengingat janji sahabatnya kemarin lusa.
Rijal menghampiri Mentari dan mengusap-usap pundak istri sahabatnya itu.
"Sabar, tenang dulu. Kata dokter tadi, Dafa sudah melewati masa kritisnya setelah operasi patah tulang kaki. Tangan nya hanya sedikit retak."
"Percaya dia kuat, kamu tau sendiri dia gimana kan? badannya bandel, bebel banget tubuhnya." Rijal terus memberikan kalimat penyemangat.
Mentari masih terisak memegangi jemari Dafa.
*
*
Rijal dan Mentari tengah duduk di sofa, masih di ruang rawat Dafa.
"Mentari, Maaf... sebelumnya. Apartemen yang kalian tempati itu... sudah Dafa jual, dan langsung laku. Dafa sudah menyediakan gantinya membelikan rumah sesuai keinginan kamu." Rijal menerangkan apa yang memang harus segera Mentari tahu.
"Maksud kakak?" Mentari masih terlihat bingung.
"Dafa, menjual apartemen nya. Apartemen yang menjadi saksi perjuangan dia merintis karir balap dan boxing nya sedari SMA. Semua dia lakukan demi kamu."
Mentari menitikan air matanya, Dafa benar-benar membuktikan padanya. Mengutamakan dirinya, dan berusaha mengabulkan segala yang dia impikan, walaupun terkadang sifat keras dan egoisnya masih sering meledak.
"Terus kak?" Tanyanya, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan kedepannya.
"Pemilik barunya meminta kalian mengosongkan apartemen dalam minggu ini, kamu siap? Langsung pindah ke rumah baru kalian?" tanya Rijal.
Mentari mengangguk cepat.
"Maaf, soal... biaya rumah sakit? Tabungan Dafa sudah terkuras untuk rumah, hadiah balap yang tadi belum cair." ucapnya ragu-ragu.
"Aku.. aku ada kak, nggak usah khawatir. Buat rumah sakit pakai uang aku. Itu, Mas Dafa awalnya memang titip untuk tabungan rumah. Berhubung ini sudah dapat. Gunakan untuk berobat saja." Jelasnya.
Rijal pun mengangguk lega, Sebenarnya dia malu berbicara seperti itu pada Mentari. Jika saja dia masih memegang uang mungkin dia akan membayar kan nya terlebih dahulu, apalagi perlakuan Dafa kepadanya yang luar biasa. Tapi mau bagaimana lagi? Dia baru melebarkan sayap usahanya yang lumayan menguras isi dompetnya.
Rijal berlalu setelah menerima kartu debit yang Mentari berikan.
*
*
Mentari memandang bingung pada dua alat test kehamilan yang menandakan dia sedang mengandung buah cintanya bersama Dafa.
"Kebahagiaan dan musibah datang bersamaan." Gumamnya lirih, tak terasa air mata jatuh begitu saja. Mentari bingung harus mengahadapi ini semua, dia tidak terbiasa menangani masalah. Sewaktu dulu pasti Ayah atau kakak-kakaknya yang selalu menyelesaikan masalah, lalu di ganti Dafa suaminya.
"Sekarang aku harus apa?" Lirihnya lagi.
Kondisi ini memaksakan dirinya harus berdiri di kaki sendiri, dan ini hal yang cukup sulit untuk nya.
"Aku butuh kamu, Mas... " Dia menangkup wajahnya agar meredam suara tangisnya, yang cukup menyesakkan dada.
Mentari menyandarkan tubuhnya yang lemas, entah karena kehamilannya atau rasa lelah di batinnya atas segala sesuatu yang menimpa sang suami.
Wanita yang tengah hamil bahkan belum sempat memeriksakan kandungan nya itu, tertidur dengan posisi menyandar di sofa.
*
__ADS_1
*
Dafa tersadar dari pingsannya, dia merasakan tubuhnya sakit luar biasa, juga tidak dapat menggerakan tangan dan kaki.
Ingatannya terakhir dia menabrak bagian belakang truk yang tiba-tiba berhenti, dirinya sedang menuju kampus Mentari untuk menjemputnya, dan memberikan kejutan rumah untuk mereka tinggali.
"Euuughhhh..." Erangan keras keluar dari mulutnya.
Mentari yang baru saja tertidur terlonjak kaget dan bergegas menghampiri Dafa.
"Mas... ?" Mentari mengusap bahu suaminya itu.
"Sun... Argghh... Sakitt.. " Rintihnya.
Mentari langsung menekan tombol emergency di sebelah ranjang. Tak lama para dokter datang memeriksa.
Mentari berdiri tak jauh dari suaminya dan Rijal yang baru datang setelah dia mengurus kepindahan Mentari dan Dafa dari Apartemen.
"Semuanya sudah normal, hanya tinggal menunggu pulihnya kaki yang mungkin akan memakan waktu cukup lama." Terang salah satu dokter.
Mentari menghampiri Dafa dengan sebuah senyuman.
"Maaf... nggak jemput kamu!" bisiknya.
Mentari mengangguk dengan iringan air mata yang berbaris menuruni pipinya.
"No... jangan nangis, Sun." pintanya.
"Aku, haus!" rengeknya.
Mentari langsung mengambil sebuah botol dan menyodorkan sedotannya pada Dafa.
"Mau, bangun Sun." rengeknya lagi.
"Bandel banget kamu, Daf!" ucap Rijal yang baru masuk ke dalam kamar itu.
"Pegel... gue nggak bisa gerakin badan." Ketusnya marah.
Ketika dua sahabat itu beradu mulut, tiba-tiba Mentari Limbung dan hampir jatuh.
"Sun... "
Dafa panik.
Rijal langsung menangkap tubuh Mentari yang hampir terjengkang ke belakang.
"Kenapa?" Rijal ikut cemas.
"Cuma, pusing." Mentari menyandar di ranjang Dafa.
"Mas... Ada yang mau aku omongin!" ucapnya.
Rijal merasa bahwa itu pembicaraan intens memilih pamit meninggalkan pasangan suami istri itu.
"Apa, Sun?" Tanya Dafa setelah Rijal keluar.
"Aku, bingung. Tapi kamu harus tau." Ucapnya sambil merogoh saku Cardigan nya mengambil alat yang sedari siang ingin dia tunjukkan pada sang suami.
"Ini... " Dia memberikan alat itu.
Dafa menerima nya dengan tangan kiri yang tidak di gips hanya tertusuk jarum infus.
Dafa menatap nanar...
"Aku, hamil. Mas!" Ucap Mentari pelan
Dafa tak memberikan reaksi apapun.
Mentari pun bingung, apa yang ada di pikiran suaminya itu, apa dia senang atau malah sebaliknya di lihat dari reaksi yang dafa tunjukkan.
"Mas...
Bersambung ❤❤
terimakasih yang sudah mampir baca🙏, semoga suka 🥰, like komen nya aku tunggu😘😘.
__ADS_1
Sehat dan bahagia selalu ❤❤