Kisah Mentari

Kisah Mentari
bukan malam pertama


__ADS_3

๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”


"Ayah...


Mentari mendekati Ayah dan langsung Ayahnya itu tolak. "Ayah nggak apa-apa!"


Mentari kembali menitikan air mata melihat ayahnya yang berlalu di bopong Langit.


"Abang..." Mentari mengiba pada sang kakak.


Langit menatapnya sambil mengangguk.


"Nanti Abang hubungi kamu, nanti nyusul ya!" ucapnya.


Mentari mengangguk sambil terus menatap kepergian ke dua lelaki kesayangannya.


"Maafin Chaca, ayah... Abang..." gumamnya.


Dafa mendekat dan merangkul pundak wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya itu.


"Awas..." Mentari menghempaskan tangan Dafa yang melingkar di bahunya.


"Loh... kok nge gas..." ledeknya.


Mentari hanya menatapnya kesal. Lalu masuk ke dalam rumah itu. Dafa? ya pasti mengekor kemana istrinya pergi.


"Bu, boleh pinjem kamar untuk ganti baju?" tanyanya pada istri pemilik rumah.


"Silahkan neng, di pake selain ganti baju juga boleh!" senyumnya tertahan.


"Dih... emak-emak mesum, pasti!" gumamnya dalam hati.


*


*


Di kamar yang hanya berukuran 3x3 itu , Mentari hendak membuka bajunya saat dia memegang baju kemeja yang sebelumnya dia pakai terasa basah, dia cium bau asem.


"Mas..." panggil nya.


"Ya...?" Dafa yang tengah memegang ponselnya langsung mendekat.


"Apa?" tanya nya.


"Bawa kaos bersih nggak? punya aku bau keringet gara-gara tegang tadi." gadis itu tertunduk menahan malu. Gadis? tentu saja dia kan memang masih gadis.


"Bentar aku ambil di mobil." Dafa berlalu keluar kamar itu.


Tak lama dia kembali alangkah kagetnya karena istrinya itu tidak ada di tempat.


Dafa keluar lagi dari kamar itu mencari keberadaan Mentari.


"Bu, maaf . Istri saya kemana?" tanyanya tanpa rasa malu.


"Ilihhhh... manggilnya udah istri sekarang si Aden, mukanya juga udah berseri-seri, nggak kayak kemarin malem meni suram!" goda si ibu pemilik rumah.


Dafa tersenyum menggaruk tengkuknya menahan malu, memang kemarin malam saat dia di hubungi Mentari saat gadis itu mengadu akan di nikahkan dengan lelaki pilihan ayahnya.


Membuat lelaki itu stress sekali, bingung dan galau. Hingga akhirnya sebuah rencana gila terbesit di kepalanya. Menikah karena di gerebek. gila bukan? tapi nyatanya itu semua berhasil . Dan dia tidak menghiraukan apa yang akan terjadi ke depannya, yang terpenting Mentari sudah menjadi miliknya, dia sudah punya hak sepenuhnya atas kekasih yang sekarang sudah menjadi istrinya itu.


"Senyum-senyum lagi, bayangin yang asik-asik pasti!" goda lagi si pemilik rumah.


"Ah.. ibu, kalo ngomong suka bener!" tawa mereka pun pecah, tepat saat Mentari keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk.

__ADS_1


"Bu, nggak ada orang kan? Saya cuma pakai handuk!" ucapnya dari pintu kamar mandi.


"Sok... cepetan masuk, mumpung bapak-bapak masih di teras!" si ibu menggiring Mentari masuk ke dalam kamar.


Dafa hanya mematung melihat itu semua.


"kenapa nggak ikut masuk?" Tanya si ibu menahan seringai tawanya.


Dafa tersadar dan segera berlari masuk ke dalam kamar, di mana istrinya baru saja masuk hanya mengenakan handuk, Ingat hanya handuk tok.


Mentari tengah menggosokkan handuk pada tubuhnya saat berbalik Dafa menutup pintu.


"Argggghhh... mau ngapain kamu Mas?" tangannya merentangkan handuk itu menutupi kembali tubuhnya.


"CK, aku kan suami kamu sekarang, lupa? dasar masih muda dah kek nenek-nenek." gerutunya


"Keluar ah... nggak mau di liatin!" Mentari kembali mengusir Dafa.


Lelaki itu tak menggubris dia melucuti setiap kain yang menempel di tubuhnya.


"Mas... nggak sekarang ya, pokoknya aku nggak mau sekarang!" mentari mundur beberapa langkah dari Dafa.


Dafa sengaja menggodanya dengan hanya kain segitiga yang menempel di tubuhnya.


"Mas... dasar manusia mesum, aku nggak mau sekarang!" Mentari terjatuh di atas kasur dan handuk hanya sebatas paha itu tersingkap memperlihatkan bagian inti nya yang mengintip.


"Idih... ada yang ngintip! gua kamu mau ketemu si adik kayaknya!" Dafa sekarang sudah merangkak naik ke atas kasur.


"Asik... bentar lagi adik mau traveling nih ke gua, bawa obor jangan ya biar terang?" ucapnya mengerjai istri polosnya itu.


Mentari langsung menyingkap kan handuknya yang terbuka, lalu mencubit perut Dafa yang ada di atasnya.


"Awwww..."Dafa menggulingkan badannya di sebelah Mentari mengusap perutnya yang panas terkena cubitan tangan lentik istrinya.


"Kamu mah, bikin malu. Harusnya yang menjerit malam pertama istrinya bukan sebaliknya." geramnya kesal


Dia buru-buru memakai kain bagian dalam dan segera memakai celana yang tadi. Lalu meminta kaos milik suaminya.


"Mana kaosnya?" Dia melirik ke arah sang suami yang ternyata masih setia memperhatikan nya.


"Nih... kesini dong ambil!" Pinta lelaki itu.


Mentari mencebik kesal namun tak ayal dia mendekat karena memang butuh.


Saat akan menyambar kaos yang Dafa pegang.


Dia malah tersandung kakinya sendiri sampai tubuh nya menimpa Dafa.


mereka sama-sama kaget, tapi seringai mesum penuh kemenangan Dafa sunggingkan.


"Tadi, nggak mau! ternyata mau kamu yang mimpin gitu? oke aku pasrah aja!" Dafa terkikik geli melihat ekspresi istrinya itu.


"Aku kesandung kaki sendiri, lepasin!" Mentari menggerakkan badannya agar terlepas dari pelukan Dafa.


"Nggak nyangka di kejar-kejar nggak mau malah nyamperin sendiri!" lelaki itu masih belum puas menggoda istrinya yang merona malu.


"Ishhhh... awas, lepasin aku. Mas..." rengeknya dengan menggerakkan tubuhnya menciptakan gesekan antara tubuh itu terasa nyata.


"Ahhhh... kamu mancing-mancing si adik, biar bangun gitu?" Dafa meraih tangan mentari menggenggam kan nya pada benda yang sudah mengeras di bawah.


"Aww... apa itu?" tanyanya polos


"Pake pura-pura nggak kenal?" dengusnya

__ADS_1


"Salah siapa gampang bangun!" Mentari menarik tubuhnya yang masih menimpa Dafa sambil tertawa.


"Sun... sekali yuk!" Ajaknya dengan wajah memelas.


Mentari yang sudah memakai kaos milik Dafa yang kebesaran di tubuh kecilnya.


"Mas, kamu mau ya aku berdosa?" tanyanya sambil menyisir rambutnya.


"Ya nggak lah!" Dafa duduk di pinggir ranjang.


"Makannya jangan minta sekarang, aku mau fokus dulu ke ayah!" ucapnya memasang jepit mutiara di pinggir rambutnya.


"Pake bajunya buruan! takutnya Abang nelpon kita di suruh ke sana!" Mentari ikut duduk di pinggir kasur.


"Sun... gaya biasa aja lah asal keluar, pegel nih paha!" rengeknya.


Dafa mendekat ke arah istrinya wajah mereka semakin dekat dan persekian detik bibir itu menyatu, pagutan lembut itu berlangsung lembut.


Mentari mendorong dada Dafa. "Aku nggak bisa nafas!" gerutunya.


"Kenapa ya enak banget yang halal? beda dari sebelumnya!" Dafa memagut kembali bibir itu.


Di tariknya tubuh sang istri sampai berada di pangkuannya. Tangannya sudah bergerilya ke sana ke mari entah mencari apa.


Saat gai*rah nya sudah di puncak ubun-ubun.


Ponsel mentari berbunyi nyaring.


"Astaga... bahkan udah halal juga susah, ada aja gangguan!" gerutunya kesal saat Mentari bangun dari pangkuannya berjalan ke arah tas yang menggantung untuk mengambil ponselnya.


"Halo... iya bang, iya... sekarang Chaca kesana!"


Panggilan terputus dia berbalik mendapati sang suami tengah memakai bajunya dengan kasar.


"Nggak usah marah-marah, ini juga gara-gara Mas, bikin acara nikah kok ngedadak! Aneh!" ledeknya.


"Ck... dari pada kamu di nikahin ke orang lain? aku lakuin ini semua kan buat kita!" dengusnya kasar.


"Jadi ... bener ini semua akal-akalan Mas Dafa?" Mentari mendekat.


"Iya lah... Eh!" Dafa langsung menutup mulutnya.


"Dasar... jahat... otak mesum, kalo ada apa-apa sama ayah, aku marah sampai kapanpun sama kamu!" Mentari memukuli tubuh Dafa dengan kesal.


"Aww... iya, iya Sun maafin aku!" Dafa meringis menahan pukulan dari kepalan tangan istrinya itu.


Mentari berlalu keluar membawa tasnya. Dafa mengekor dan mereka pun berpamitan pada pemilik rumah.


Tak lupa Dafa membisikkan sesuatu pada si pemilik rumah. saat mentari berjalan menuju mobilnya.


"Besok saya transfer ya Bu, ada sedikit uang buat jajan makasih udah ngedukung rencana saya?" bisiknya lalu bersalaman dengan pasangan suami istri itu.


"SaMaWa ya den, si nengnya kasian kalo di sakitin, inget perjuangan ini kalo kalian bertengkar!" ucap si bapak-bapak botak tadi.


"Siap pak, pasti..." Dafa pun bersalaman saat Mentari sampai di mobil miliknya dan berteriak memanggilnya.


"Iya...istriku aku datang!" dia kembali menggoda sang istri.


Pasangan suami istri itu hanya tertawa melihat tingkah laku muda-mudi di depan mereka.


"Anak muda jaman sekarang ya pak, ampun akalnya pada pinter-pinter!" ucap si ibu dan di angguki oleh si bapak.


Bersambung โค๏ธโค๏ธโค๏ธ

__ADS_1


terimakasih semua yang sudah mau mampir dan baca๐Ÿ™, semoga suka ya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜, aku masih belajar ๐Ÿค—๐Ÿค—, tinggalin jejak like dan komen kalian biar aku kenal siapa aja yang mengiringi langkah ku berkarya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Sehat dan bahagia selalu โค๏ธโค๏ธโค๏ธ


__ADS_2