
💔💔💔
Sepasang Suami-istri itu tengah duduk di balkon, Mereka selesai Mandi dan sarapan di jam 10 pagi. Setelah pergulatan double mereka yang melelahkan namun membuat tubuh segar.
"Jadi... "
Dafa berkata setelah menyeruput kopi buatan Mentari.
Mentari sebenarnya tidak pandai merangkai kata, namun ini harus di ungkapkan pada suaminya itu.
"Kemarin, aku... aku ketemu Abang." Jelasnya dengan suara terdengar ragu.
Dafa sudah menebak sebelumnya, mengapa istrinya tiba-tiba berada di Bandara.
"Terus? mereka Sehat?" Dafa masih memberikan perhatian pada keluarga Mentari yang jelas-jelas menolaknya Mentah-mentah.
Mentari menatap wajah Dafa, dia melihat wajah suaminya itu tenang seperti biasanya.
"Kenapa? kenapa kamu liatin aku kayak gitu? salah emang aku nanyain kabar keluarga istri ku sendiri?" Wajahnya kini menghadap Mentari, yang masih memegang cangkir kopi di tangannya.
Mentari menggelengkan kepalanya dengan cepat, "nggak, bukan gitu. Makasih malah, Mas mau perhatian sama keluarga aku. walaupun mereka... "
"Nggak nerima aku? " Dia meneruskan kalimat yang belum selesai Mentari ucapkan.
Mentari menunduk, ada rasa bersalah pada suaminya itu, dia tidak bisa membelanya di mata keluarga nya. Bukan tidak bisa, nyatanya keluarga nya memang menutup telinga dan mata untuk alasan Mentari memilih dan membela Dafa.
"Aku, udah biasa dapet penolakan, Sun. Kamu tau sendiri kan bagaimana aku tak di anggap oleh Papa ku sendiri. Tapi aku bersyukur, kalo seandainya aku dapat perhatian sesempurna dan se normal orang lain. Mungkin aku nggak akan berakhir di kamu." Ucapnya mantap dan bangga.
Mentari terdiam dengan kalimat panjang yang suaminya lontarkan.
"Aku kangen mereka... " Ucapnya lirih, dadanya seketika sesak dan air mata jatuh menetes di bantal kecil yang ada di pelukannya.
Dafa menatap wajah yang akhir-akhir ini terlihat sendu dan sering melamun.
Dia sudah menyadari, belakangan ini istrinya memang terlihat murung.
"Kamu, ingin menjenguk mereka?" Dafa bertanya.
Mentari hanya mengangguk kecil di balik isak tangisnya.
"Boleh, kalau kamu mau bertemu mereka." Dafa merangkul tubuh yang sedang terisak itu.
"Masalahnya...
Mentari menatap sekilas wajah Dafa yang tengah menatapnya.
"Masalahnya, aku boleh bertemu mereka tanpa Mas. Dan me... mereka mengharapkan kita berpisah." Ucapnya sambil menceritakan tangannya di cangkir yang dia pegang bahkan buku jemarinya memutih saking kerasnya dia menggenggam cangkir itu.
Dafa terdiam, hati nya sakit. Bukan soal penolakan yang biasa dia Terima, namun dia berpikir seolah istrinya itu memang dalam keadaan galau antara memilih nya atau memilih keluarganya.
"Terus... Maksud kamu? kamu mau menuruti apa kata mereka?" Dafa sudah menaikan nada bicaranya dan melepaskan rangkulan di pundak Mentari.
Dafa bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Mentari yang masih terisak, serba salah dia bingung dengan kondisi ini.
*
*
Mentari masuk ke dalam , menutup pintu ke arah balkon sepertinya Bandung akan kembali turun hujan. Langit mendung seolah menyamai suasana hatinya yang masih abu-abu belum ada titik terang di kisahnya saat ini.
"Mas... "
Mentari ikut mendudukan tubuhnya di sebelah Dafa yang tengah duduk dan menyandarkan Kepalanya di sandaran sofa dengan mata terpejam.
"Mas... denger dulu! aku akan berusaha meyakinkan mereka agar bisa nerima kamu, kamu terbaik buat aku." Ucapnya mengusap lengan suaminya itu.
Dafa membuka matanya, dan menoleh pada Mentari.
__ADS_1
"Aku nggak butuh itu semua, mau semua orang menolak dan memusuhi aku sekalipun, aku nggak peduli. Asal kamu, asal kamu ada di samping aku teguh dan yakin sama aku aja udah bersyukur. Aku nggak peduli sama orang lain." Katanya masih dengan nada marah.
Untuk pertama kalinya Mentari melihat amarah dafa, lelaki yang biasanya selalu ceria dan menjurus ke arah sengklek kini tengah berkata serius dan penuh emosi.
"Yang kamu sebut orang lain itu, keluarga aku. Mas."
"Aku, Nggak bisa mengacuhkan mereka." Ujarnya
Dafa menatapnya dengan rahang mengeras.
"Terus, kamu mau melakukan apa yang mereka minta? Demi rasa kangen kamu agar terobati bertemu mereka, dan meninggalkan aku dengan luka yang kamu buat?" Dafa bangkit matanya sudah menyalang penuh amarah.
Mentari memejamkan matanya, bingung apa yang harus dia katakan agar dapat meluruskan masalah ini.
"Bukan, maksud aku. Aku hanya ingin semua Damai. Aku sayang kamu, Mas. Dan tak memungkiri aku juga sayang mereka, aku ingin kamu dan mereka Damai.
" Sudah aku bilang, aku nggak peduli sama semua itu." Dafa berteriak, terlihat dadanya naik turun menahan amarah.
Mentari bangun berdiri di depan suaminya itu.
"Ijinkan aku, membela kamu Mas... Aku ingin mereka menerima kamu."
"Dengan cara kamu ninggalin aku? aku nggak mau."
Dengan tegas dafa menolak nya.
"Seenggaknya mereka harus tau, kamu bukan lelaki brengsek seperti pemikiran mereka. Mas." Mentari masih keukeuh dengan idenya.
Dafa tertawa, lalu menatap tajam sang istri.
"Biarin mereka berpikiran seperti itu. Dan untuk kamu, Maaf Kamu sudah terjebak selamanya hidup dengan lagi-lagi brengsek ini." Dafa berjalan meraih kunci mobilnya dan keluar dari apartemen dengan membanting pintu.
Mentari menjengit mendengar suara bantingan pintu itu. Lalu dia duduk dengan lelehan air mata di pipinya.
*
*
Dia berhenti di sebuah tanah lapang. Dan berteriak-teriak di dalam mobilnya. Kesal, dia kesal terhadap sang Istri. menyatukan dua kepala dalam satu pemikiran ternyata tak semudah yang dia bayangkan.
Jika dirinya berpikir sederhana dan berjalan lurus akan hidupnya, maka itu semua bertolak belakang dengan sang istri yang berpikir dengan selalu memikirkan perasaan orang lain dan berjalan selalu menoleh kebelakang.
Dafa kecewa, istrinya tetap bersikukuh untuk meyakinkan keluarga nya agar menerima diri nya, namun yang dafa yakini malah Mentari seperti akan meninggalkan nya.
"Aku... nggak butuh yang lainnya, Sun. Aku cuma butuh kamu.. kamu selalu ada di sisi aku, mengisi kekosongan hati aku. Segampang itu, kenapa kamu malah bikin ribet semuanya." Dafa masih menggerutu kesal.
"Aku nggak butuh nama baik di hadapan orang-orang, aku cuma mau hidup tenang sama kamu. Arrrrgghhh.... Sun... " Dia berteriak dari dalam mobil.
Ting... ting...
Sebuah notif pesan masuk ke ponselnya.
Pesan dari Rijal agar dia datang ke cafenya.
Dafa pun mengatur nafas emosinya, dan kembali melajukan mobil SUV hitamnya itu.
*
"
Sesampainya di cafe Rijal
Dafa masuk dengan wajah memberengut dan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.
Rijal yang sedang duduk di meja kasir, melihat ada yang tak beres dari Dafa, dia pun menghampiri.
"Kenapa lu? "
__ADS_1
"Eh, duit yang kemarin. Udah gue transfer ya, sesuai permintaan lu. Ke rekening bini lu kan?" Ujarnya.
Dafa diam tak menanggapi, " jualin Apartemen gue jal... gue mau beli rumah." Dafa memijit pangkal hidungnya.
"Hah.. tapi itu kan hasil jeri payah lu selama merintis karir, lu kata nggak akan pernah ngejual tuh apartemen." Rijal berucap kaget.
"Itu dulu, bini gue pengen rumah. lagian gue mau mengalihkan pikirannya. Biar nggak mikirin terus cara , biar gue akur sama keluarga nya, yang udah jelas-jelas nolak Mentah-mentah gue." terangnya.
Rijal terperangah, poros hidup cowok urakan yang dia kenal keras dan teguh pendirian lama-lama mencair, oleh tangan seorang gadis polos. Batinnya
"Jual berapa?"
"Sesuai pasaran, lu turunin dikit boleh lah biar cepet laku. Terus lu cariin rumah seharga itu. Gue kesel ama bini gue, tapi sumpah gue sayang setengah mati sama dia." Dafa masih mendengus kesal.
Rijal terdiam sambil mengotak-ngatik ponselnya.
Mulai membuat iklan penjualan apartemen sesuai permintaan sahabatnya itu.
"Nggak sayang lu?" tanyanya lagi.
"Nggak lah, demi bini gue. Kalau dia suruh jual ginjal juga gue turutin. Asal dia nurut dan sesuaikan pikirannya sama gue. Dia mikirnya di pake ribet." Ujarnya masih kesal.
"Gaya lu... pake mau jual ginjal segala." Rijal mencibir nya.
"Lah kalo gue jual jantung, modar dong? kagak bisa adegan hot ama bini gue yang lagi masanya guruh sedep." Ketusnya sedikit sombong.
"Anjir, lu. Pake bikin gue kebita aja." Rijal melempar tisu yang dia gulung tadi.
Dafa pun tertawa, dia mengalihkan kegelisahan dan Kepala nya yang aut-autan mengahadapi semua masalah yang tengah dia hadapi.
"Eh, lu udah bilang ke anak Teknisi kan, itu motor terakhir gue coba nggak enak, ada yang kurang pas, aja." tanyanya.
Rijal mengangguk, "Udah, waktu itu gue udah ngomong, katanya mau langsung di benahi. besok agak pagian datenganya, biar lu bisa test lagi. Acaranya jam tiga sore." jelasnya.
"Anjin* lu kagak kasih gue minum gitu? apa kek." Gerutunya
Rijal tertawa, "Sorry, gue kan sambil kasarin apartemen lu!" seraya bangkit ke arah Meja bar memesankan sesuatu pada anak buahnya.
...------...
Tengah malam...
Mentari masih mondar-mandir di depan pintu apartemen, dia sudah dua kali balikan turun ke lobby berharap suaminya itu datang.
Dia cemas, tidak bisa menghubungi suaminya itu, ponselnya tertinggal di kamar. Dafa pergi dengan keadaan marah dan sudah pasti dia akan berkendara dengan kecepatan tinggi.
"Mas... kamu di mana?" Ucapnya resah dia kembali merasakan sakit kepala, dan sore tadi juga dia sempat muntah.
Mentari duduk di sofa dan tanpa sadar dia tertidur dengan ponselnya dalam dekapan.
*
*
Tepat pukul dua Dafa tiba di apartemen nya, pandangan pertamanya adalah Mentari yang tertidur di sofa, mengenakan celana tidur panjang dengan sebuah tanktop hitam yang di balut cardigan coklat.
Dafa duduk di sebelahnya menatap lekat wajah cantik itu. Dia mengepalkan tangannya dan menekankan ke arah kening Mentari. "Pikiran kamu.. ribet bikin, aku pusing." ucapnya pelan. Emosi yang masih tersisa tadi tiba-tiba meluap begitu saja.
Kemudian Dafa menggendongnya memindahkan nya ke kamar. Dia mengecupi dada Mentari yang sedikit menyembul ke luar. "Kenapa ini makin besar dan padat." Batinnya sambil tersenyum mesum.
Setelah menidurkan Mentari, dia langsung membersihkan tubuhnya berganti kaos dan boxer ketatnya seperti biasa.
Lalu merangkak naik ke atas tempat tidur dan memeluk Mentari dengan erat.
"Good night... princess kebo ku... " Bisiknya sambil memeluk dan menghisap aroma parfum manis yang menempel di tubuh Mentari.
Bersambung ❤❤❤
__ADS_1
Terimakasih yang sudah mampir 🙏🙏, semoga suka🥰🥰, like komen jangan lupa😘😘
sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤❤