Kisah Mentari

Kisah Mentari
Perdebatan


__ADS_3

...โคโคโค...


Dafa membuka pintu perlahan, pandangan matanya bertemu dengan sang istri. "Belum tidur?" Tanyanya sambil berjalan menghampiri. Mentari hanya menggeleng kecil, tangannya merentang ke arah Dafa.


Di genggamnya tangan kiri istrinya yang bebas dari selang infus, di kecup lalu dafa menempelkan keningnya pada kedua tangan nya yang bertaut dengan sang istri.


"Mas,"


"Ya?"


"Papa gimana?"


"Masih lemas, tapi udah sadar. Aku capek!" Dafa kembali menundukan kepalanya di atas genggaman tangannya di atas kasur.


Mentari mengusap kepala suaminya yang memang dengan jelasnya sangat terlihat kelelahan." Sini, Mas. Naik ke atas aku peluk." Ucapnya.


"Aku, bersih-bersih dulu." Dafa bangun dari duduknya.


Tangannya langsung Mentari tahan, "nggak usah, cepet sini. Aku pengen peluk!" rengeknya.


Lelaki itu menuruti kemauan istrinya, setelah melepaskan sepatunya dia menaiki kasur itu, saat sang istri sudah menggeser pelan posisi tidurnya memberikan sedikit ruang kosong untuk tubuh suaminya itu.


Dafa memejamkan matanya saat rasa nyaman dia rasakan,ketika dia berbaring di ranjang dengan memeluk istrinya, walaupun istrinya itu dalam keadaan sakit. Tak mengurangi rasa nyaman dan aroma tubuh yang menenangkan untuk nya.


Dia bingung bagaimana menyampaikan kondisi istrinya saat ini, pasti sulit dan istrinya itu pasti akan menolak nya mentah-mentah. Biar besok saja dia utarakan, perlahan dia akan menjelaskan. Malam ini dia ingin mengistirahatkan tubuhnya.


Terdengar suara nafas yang teratur, dia sedikit menundukkan kepalanya. Di lihatnya sang istri sudah terlelap. Dafa semakin erat memeluknya dan mengecup lembut puncak kepala istrinya, sambil berbisik "Sehat-sehat ya kalian!" lalu tangannya mengusap punggung istrinya dan dia pun ikut terlelap.


...~...


Pagi hari


"Mas ... "


"Ya?" sahut Dafa saat keluar dari kamar mandi, dia baru saja mandi setelah sebelumnya mengambil pakaiannya di dalam mobilnya. Dia terbiasa membawa beberapa pakaian cadangan di dalam mobil.


"Nggak kerja kan?" tanyanya meyakinkan lagi ucapan suaminya tadi subuh.


"Nggak, tapi nanti agak siangan liat dulu Helen ya, kasian." katanya sambil mendekat ke arah istrinya.


Mentari mengangguk sambil tersenyum.


Dafa memandangi wajah istrinya yang masih terlihat pucat, "gimana udah enakan?" dia mengelus pipi Mentari.


"Masih pusing, terus perut masih sedikit nyelekit. Cuma segini." dia mengatupkan ibu jari dan telunjuknya menandakan sebuah ukuran kecil.


Dia tau istrinya sedang berbohong, saat subuh pun terdengar rintihan tertahan dari istrinya.


"Ada yang mau aku omongin, sama kamu!" Dafa menarik kursi semakin mendekat ke arah ranjang.


"Apa?" Mentari sedikit membenarkan posisi tubuhnya lebih tegak.


Dafa menghembuskan nafasnya yang terasa berat dan sesak. Otaknya masih berpikir bagaimana caranya dia menyampaikan dengan kata-kata yang pas dan tidak membuat Mentari panik atau marah.

__ADS_1


"Kata dokter, kandungan kamu lemah." Dia berhenti berkata menunggu reaksi dari istrinya. Dan ternyata istrinya hanya memandang nya dengan tatapan penuh rasa penasaran.


"Katanya kalau dalam seminggu ini kamu masih gini, dengan terpaksa kita harus mengikhlaskannya."


"Maksudnya?"


"Kita harus menggugurkan nya, bisa bahaya buat kamu."


Mentari menatapnya nyalang, dia marah dan kecewa pada suaminya itu. "Bisa-bisanya kamu ngomong gitu, Mas! Ini kan anak kamu, semudah itu kamu bilang gugurkan." Ucapnya histeris dengan air mata yang sudah mulai mengalir.


"Sayang, ini semua demi kebaikan kamu. Hanya 30% kesempatan dia untuk bisa bertahan!" Dafa menggenggam tangan Mentari namun istrinya itu langsung menepis nya kasar.


"Dan kamu, mau ngambil 30% kesempatan dia. Nggak ada yang bisa memperkirakan usia manusia. Semua Tuhan yang atur. Dan aku percaya anak ku akan kuat, kita pasti kuat." Ucapnya sambil terisak.


Mentari histeris, bahkan dia memberontak saat Dafa akan memeluknya untuk menenangkan tangisan nya.


"Iya, aku hanya hawatir sama keadaan kamu. Akan sangat bahaya kalau kamu meneruskan kehamilan ini." Ucapnya dengan wajah pilu.


"Aku, nggak apa-apa. Waktu Helen juga aku kuat, kita kuat. Yang ini juga pasti gitu, dari pada aku harus menggugurkan kandungan ku, lebih baik kita pisah."


"Sun, kamu ngomong apa sih?" Dafa mulai terpancing.


"Pokoknya, aku nggak akan pernah menggugurkan kandungan ku ini. Dengan atau tanpa dukungan kamu. Aku pasti bisa, anak ku kuat."


"Aku cuma takut, kamu kenapa-kenapa. Nggak kebayang Helen gimana? Kamu nggak mikirin dia?"


"Jangan pernah tanya perasaan ibu terhadap anaknya, dan dia juga memiliki hak yang sama dengan kakaknya." Dia mengusap perutnya yang masih datar di usia kehamilan memasuki 3bulan.


"Sun ... " Dafa mencoba kembali memegangi tangan Mentari yang tengah memeluk perutnya, seolah dia melindungi anaknya yang terancam.


Mentari menatap langsung ke arah suaminya itu, Matanya melotot sempurna, dia tertawa sambil air mata tak henti mengalir.


"Jahat, kamu egois. Aku nggak percaya kamu bisa bicara semenyakitkan itu. Ini anak kamu, Mas." Mentari memukuli tubuh suaminya.


"Iya, aku juga tau! tapi ini membahayakan nyawa kamu." Dafa mencoba menepis pukulan Mentari.


Mentari terdiam, otaknya berpikir. Terlalu menyakitkan rasanya membayangkan harus kehilangan calon buah hati.


"Dia ada karena Tuhan percaya, aku bisa. Biarkan semua berjalan sesuai rencana Tuhan. Aku akan menjaga baik-baik bayi aku, jika aku merasa sudah tidak sanggup, atau dia yang menyerah. Aku pasrah." Ucapnya lirih, lalu kembali berbaring membelakangi suaminya, dia tarik selimut hingga menutupi wajahnya dan memejamkan matanya. Walaupun dalam hatinya dia sedang menjerit-jerit karena rasa sakit di hatinya, mendengar semua ucapan suaminya.


Dafa tau istrinya itu, pasti akan bereaksi seperti ini, dia juga sebenarnya tidak ingin seperti ini. Tapi dia lebih takut jika terjadi hal yang buruk pada istrinya.


Lelaki itu berjalan lunglai ke luar kamar, dia merosot di kursi besi depan kamar, bahunya berguncang dia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menangis dalam diamnya.


...****...


Langit keluar dari sebuah ruangan pemeriksaan tangannya merangkul Cindy yang terlihat lesu. Raut wajahnya terlihat berseri dan bibirnya terus melengkungkan sebuah senyuman.


Mereka berjalan menuju lorong di mana adiknya di rawat. "Masih lemes?" tanyanya pada sang Istri.


Cindy mendongak sesaat lalu mengangguk, Tangannya memegangi botol kayu putih yang di tempelkan di dekat hidungnya.


"Uh, sayangnya Abang." Dia mengecup puncak kepala istrinya yang menyandar di dadanya.

__ADS_1


Dari kejauhan mereka melihat Dafa yang tengah duduk menunduk dengan kedua tangannya menutupi wajah.


"Daf ... " Panggil Langit.


Dafa segera mengusap air matanya sebelum mengangkat wajahnya .


Dan tatapan mereka pun bertemu, Langit dan Cindy mencurigai ada sesuatu hal pada adik sekaligus juga sahabat nya. "Tari, kenapa?" Cindy tak tahan untuk bertanya.


Dafa pun menceritakan semua keadaan yang tengah mereka hadapi, terus apa yang membuat mereka baru saja bertengkar.


Cindy ikut menitikan air mata, tak dapat membayangkan apa yang kembali di rasakan oleh sahabatnya itu. Langit hanya diam mendengar semua cerita Dafa.


"Nggak salah sih, kalian berdua punya pemikiran berbeda namun keduanya benar dari sudut pemikiran kalian masing-masing. Susah juga sih keadaan kayak gini, aku juga kalau di posisi lu bingung, " Katanya, yang langsung mendapatkan sebuah pukulan di paha dari Cindy.


"Abang, ih kalo ngomong." Perempuan itu mengomelinya dengan wajah kesal.


"Eh, iya. Amit-amit, sayang. Jangan sampe." Timpalnya merasa salah ucap.


Dafa masih terdiam, pandangan nya seperti hampa, dia bingung dan merasa kacau.


"Kita, boleh ke dalem?" Tanya Cindy.


"Daf ... " Langit memanggilnya sambil menepuk pundak Dafa, saat pertanyaan istrinya itu tidak mendapatkan respon dari adik iparnya itu.


Dafa sedikit terlonjak kaget, "eh, iya ... Apa?"


"Kita, boleh masuk kan?" Cindy mengulangi pertanyaannya.


"Boleh, boleh banget. Hibur bini gue ya Ndy! Kalau boleh titip sebentar, mau liat Helen dulu. Kasian." Pintanya.


Langit memandang ke arah istrinya seperti meminta jawaban, Cindy langsung mengangguk menyetujui.


"Sok, aja. Nanti kita tungguin." katanya.


"Bilang, kalo Bini gue nanya, gue liat Helen dulu. Makasih ya!" Dafa bangkit dari duduknya dan segera melangkah kan kakinya ke arah lift.


Langit dan Cindy menatap lelaki yang terlihat lelah itu, hilang di balik pintu lift yang menutup.


"Yang, nggak akan capek? kamu kan lemes?" Langit mengusap punggung istrinya.


"Biarin, kasian. Kita di sini dulu aja."


"Ish, aku ingin kamu istirahat. Kan mau bayar utang yang seminggu ini gagal terus." Langit berkata dengan wajah memelas.


"Utang tetep aku bayar kok, sabar ya Abang ku sayang. Sekarang kita hibur dulu adiknya." Lalu Cindy membuka pintu kamar rawat sahabatnya.


Langit pun mengekor sang istri masuk ke dalam.


Bersambung ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


Terimakasih yang sudah mampir๐Ÿ™๐Ÿ™, semoga suka๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ๐Ÿ™๐Ÿ™, cuma buat rame2 aja๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaโค

__ADS_1


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ๐Ÿ™๐Ÿ™, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn ๐Ÿคฒ๐Ÿคฒ.


__ADS_2