Kisah Mentari

Kisah Mentari
Melawan restu


__ADS_3

❤️❤️❤️


Pagi itu Mentari memilih tak turun untuk sarapan bersama, dia beralaskan tidak enak badan. Tentu para lelaki itu tau alasan sebenarnya , Mentari masih marah. Ya, itu Yang ada di pikiran mereka.


Mentari diam di balkon sambil memakan sarapannya yang mbok Tini antarkan ke kamarnya.


Dia menyaksikan satu persatu anggota keluarga nya meninggalkan rumah.


Lalu ponselnya berbunyi.


"Ya mas?" Mentari menjawab panggilan Dafa.


"Aku sudah di sebrang dua rumah sebelah kiri!" ucap Dafa.


Mentari menoleh ke arah yang di maksud, terlihat mobil hitam milik sang kekasih.


"Terus?" tanyanya.


"Kamu nggak kuliah?" tanya Dafa.


"Nggak, aku udah alasan nggak enak badan!" jawab Mentari menyesal.


"Nggak apa-apa, ada ide lain buat bisa keluar dari rumah?" selidik lelaki itu sambil keluar dari mobil dan menyalakan sebuah rokok di pinggir jalan.


"Kamu nggak pulang?" tanya Mentari saat melihat Dafa masih mengenakan baju kemarin yang dia kenakan.


"Enggak, aku nggak bisa ninggalin kamu sendiri!" jawabnya lirih.


"Mas... " setetes air mata lolos dari mata indahnya.


"Ck... udah aku bilang jangan nangis!" lelaki itu menenangkan.


"Makasih ya kamu mau usahain hubungan ini! walaupun kisah kita Melawan restu." Ucap Mentari sambil terisak.


"Hei... Sun, harusnya aku yang bilang Makasih karena kamu mau sama lelaki mesum ini!" Dafa terkekeh namun hatinya mengharu.


"Kamu lelaki baik Mas... aku nggak akan nyesel!" Jawabnya pasti.


"Aku tanya sekali lagi, kamu serius mau hidup sama aku? mau menikah sama aku?" tanyanya meyakinkan Mentari.


"Me... menikah?" tanya Mentari gugup.


"Iya, menikah. Agar aku bisa bawa kamu keluar dari rumah itu. Dan kita akan bersama , kamu nggak mau menikah sama aku?" tanyanya lagi.


"Kuliah aku Mas?" tanyanya ragu.


"Aku yang akan biayain semua, aku yakin sanggup!" jawab Dafa tegas.


"Gimana? kamu mau kan jadi istri aku? hidup sama aku! mungkin aku nggak bisa kasih kamu kemewahan tapi aku janji akan bahagiain kamu dan membawa warna-warna indah di hidup kamu, aku akan buat hidup kita seru!" Dafa terkekeh di sana.


Mentari mengangguk, "aku mau Mas... tapi keluarga aku? kita melawan restu !" Kembali lelehan air mata membasahi pipi Mentari.


"Bisa sayang, aku punya rencana. Dan yakin ini akan berhasil, asal kamu sudah yakin mau hidup sama aku!" ucapnya.


"Apa?" Mentari semakin penasaran.


"Kamu bisa keluar rumah nggak? kemana gitu?"


Pinta Dafa.


Mentari sedikit berpikir harus dengan alasan apa dia keluar rumah. Saat sebuah ide muncul di kepalanya.


"Ke rumah Kak Iqbal aja, sepupu aku anaknya Tante Ina, dia lagi sakit kita nengok aja kesana." ucapnya semangat.


"Ok, boleh. Lebih enak kalo dia sepupu kamu. Jadi kamu bisa suruh supir kamu pulang." usulnya.


*


*


Mentari pun berhasil meyakinkan mbok Tini, kini dia sudah berada di mobilnya menuju rumah Iqbal. Tak jauh di belakangnya mobil Dafa mengikuti.


"Makasih ya Mang! pulang aja, saya mau main sama anak-anak nya kak Iqbal takutnya lupa waktu, nanti kalo saya mau pulang saya hubungi mamang." titahnya.


"Tapi neng..." Mang Ujang terlihat ragu meninggalkan anak majikannya itu.


"Nggak apa-apa mang, saya mau lama di sini!" Mentari kembali meyakinkan.


Akhirnya Mang Unang pun pulang, setelah perdebatan panjang dengan Mentari.


Sebelum masuk Mentari tersenyum pada Dafa yang berada di mobil terparkir tak jauh dari rumah Iqbal.


"Assalamualaikum ..." Mentari memberikan salam pada art yang membukakannya pintu.


"Waalaikumsalam, eh si neng."


"Pada ada di rumah kan bi?" tanya nya


"Ibu, lagi ada kerjaan ke luar kota sama pak Nizar, kalo bapak biasa ada di kamar. Tadi tidur coba bibi lihat dulu." pamitnya beranjak ke kamar sang majikan.

__ADS_1


Mentari duduk di sofa keluarga melihat rumah kakak sepupu nya yang nyaman, di ujung taman terdapat mainan anak-anak yang menambah kehangatan suasana rumah.


Dia tersenyum, apakah dia juga akan seperti ini nanti saat berumah tangga dengan Dafa, lelaki yang menjanjikan sebuah kebahagiaan untuknya.


Dia terkekeh sendiri membayangkan lelaki mesum itu jika sudah menjadi suaminya.


"Neng, bapaknya tidur nyenyak sekali, bibi nggak tega banguninnya, kasian bapak susah tidur kan sekalinya tidur bakal pules banget." ucapnya menjelaskan keadaan Iqbal.


"Biarin bi, nggak usah di bangunin aku cuma pingin main aja, kirain kak Tika ada di rumah!" ujarnya.


"Kak Tika masih kerja lagi hamil gitu?" tanyanya


"Biasanya nggak neng, cuma katanya ada kerjaan yang harus bapak hadirin, tapi bapak kan keadaan nya nggak kuat, jadi ibu yang pergi!" terangnya.


"Kasian ya kak Iqbal!"ucapnya lirih.


"Ya udah aku pulang lagi deh!"


" loh kenapa neng? palingan bentar lagi ibu pulang katanya nggak akan lama!" ujarnya


"Nggak apa-apa bi, saya juga lagi kurang enak badan cuma pengen main jenuh, jadi kesini deh!" ucapnya serasa bangun lalu pamit.


"Salam buat semuanya, cepet sehat juga buat kak Iqbal!" ucapnya pamit.


"Neng di jemput?" tanya bi Entin.


"Mang Asep lagi ke sekolah anak-anak belum pulang, mungkin sebentar lagi!"


"Nggak apa-apa bi, sebentar lagi kayaknya di jemput."


"Bibi tinggal ya, masih harus beresin dapur belum selesai!" pamit art bertubuh gemuk itu.


Mentari pun mengangguk tersenyum.


🌹🌹🌹


Sedikit demi sedikit dia berjalan keluar dari halaman rumah kakak sepupunya itu.


Saat tiba di luar pagar, mobil Dafa berhenti di depannya, Mentari melihat ke sekelilingnya sebelum dia membuka pintu mobil itu.


Kedua insan itu tersenyum, lalu Dafa kembali menjalankan mobilnya.


"Apa kabar sayang?" senyum indah terpancar dari Dafa.


"Baik, kamu nggak apa-apa kan? kemarin yang kak Bintang pukul?" Mentari meraba wajah Dafa.


"Nggak apa-apa, aku biasa bertarung boxing, tapi kalo harus bales kakak kamu rasanya nggak fair aja!" jelasnya. up


Dafa hanya tersenyum dan mengangguk


"kita mau kemana?" tanya Mentari.


"Ke tempat yang kamu suka!" jawab lelaki itu sambil mengusap pipi Mentari


"love you... my sunshine." ucapnya sungguh-sungguh.


Mentari mengambil tangan Dafa dan mengecupnya.


"Duh... nggak kuat, argggghhh kita ke KUA langsung aja lah, kelamaan!" gerutunya gemas.


Mentari tertawa terbahak melihat kelakuan Dafa.


"Hahahaha.... kamu mah ngaco, Mas." ucapnya menutup mulut seraya tertawa.


*


*


Mereka turun dari mobil.


"I...ini bukit yang dulu kita kesini?" tanya Mentari semangat.


"Kamu suka kan?" tanya Dafa merangkul Mentari menaiki bukit tempat mereka dulu saling mengungkapkan rasa.


"Suka banget, aku pengen deh punya rumah di daerah sejuk kayak gini. Adem gitu, bikin hati tenang!" dia tersenyum membayangkan cita-cita yang sederhana.


Dafa tersenyum bangga, rasanya jarang di temui wanita jaman sekarang yang biasanya sukanya hanya kemewahan.


"Itu cita-cita kamu?" tanya nya


"Huumm... kata Abang dulu ayah punya Vila daerah puncak cuma di jual karena banyak kenangan bunda di sana." wajah senang itu seketika sendu.


"Aku, pengen nyari Bunda. Tapi nggak tau harus nyari kemana!" lirihnya.


Dafa yang tak ingin melihat kekasihnya itu bersedih, lalu menyalakan aplikasi musik di ponselnya. Dia memutar lagu yang sekiranya dapat menjabarkan perasaannya kini.


Hari ini sayang


Sangat penting bagiku

__ADS_1


Kau jawaban yang aku cari


Kisah hari ini kan kubagi denganmu


Dengarlah sayang kali ini


Permintaanku padamu


Dan dengarlah sayangku


Aku mohon kau menikah denganku


Ya hiduplah denganku


Berbagi kisah hidup berdua


Huu hu u


Cincin ini sayang


Terukirkan namamu


Begitu juga di hatiku.


Hujan warna-warni


Kata orang tak mungkin


Namun itu mungkin bagiku


Sebuah tanda cintaku.


Dan dengarlah sayangku


Aku mohon kau menikah denganku


Ya hiduplah denganku


Berbagi kisah hidup berdua


"Ahh... sweet nya!" Ucap mentari ikut menyanyikan salah satu lagu romantis milik Glenn Fredly.


"Kamu suka?" Dafa memeluk tubuh Mentari yang kembali menitikan air mata.


"Suka... terlalu indah!" bisiknya dalam tangis.


"Belum, belum indah tanpa ini." Dafa mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya.


"Mas... apa ini?" Mentari kaget .


"Aku lamar kamu di sini, di tempat favorit kamu!" ucapnya mantap sambil memasangkan cincin emas putih bertahtakan satu titik berlian cantik berwarna biru kelam.


"Cincin bermata biru ini, melambangkan lautan, sedalam lautan cinta aku sama kamu!" ucapnya lalu mengecup bibir Mentari.


Mentari bukannya terlihat bahagia, dia malah menangis sesenggukan.


"Heyy... Sun? kenapa?" Dafa meraup wajah cantik itu.


"Apakah bisa semudah itu, Mendapatkan restu keluarga aku!"


"Kita, melawan Restu." lagi-lagi itu yang Mentari bicarakan.


"Nggak ada yang mungkin, asal kamu percaya dan yakin sama aku! kita lancarkan rencana aku, kamu hanya cukup menurut." ucap Dafa kembali menyesap bibir ranum yang sudah dia cap sebagai miliknya itu.


"Rencana apa sih? kenapa aku jadi deg-degan." Mentari melepaskan pautan itu.


"Ishh... kamu suka asal main lepas aja!" Dafa menggerutu kesal karena kegiatan kesukaannya di hentikan sebelah pihak.


Saat akan kembali mencium Mentari, terdengar suara keributan tak asing...


"Kamu..." tanyanya pada Mentari.


Mentari tersenyum lebar memperlihatkan lesung pipinya dan deretan giginya yang rapi.


"Iya... aku laper!" dia menahan tawanya dengan menangkup kedua tangannya di bibir.


"Cuma sarapan selembar roti tadi pagi!" rengeknya mengelus perutnya.


"CK... kenapa nggak bang dari tadi sih, ayo kita makan dulu!" ajaknya Dafa menggenggam tangan itu menuruni bukit.


"Emang, Mas udah makan?" tanyanya di sela-sela mereka menuruni bukit.


"Aku mah udah biasa, telat makan! Kamu jangan di biasain, perempuan beda sama laki-laki."jawabnya perhatian namun dengan nada kesal.


"Mau makan di tempat makan yang waktu itu!" pinta Mentari.


"Ok, siap My sunshine!" Dafa membukakan pintu mobilnya untuk Kekasih hatinya yang sudah dia lamar di puncak bukit tadi.


Bersambung ❤️❤️❤️

__ADS_1


Terimakasih yang sudah mampir untuk baca, semoga suka, jangan lupa tinggalin jejak ya like komen kalian tentang cerita ini, apa yg kurang atau apa yang salah, biar aku bisa perbaiki sedikit-sedikit. Semoga kalian suka 😘😘


Sehat dan bahagia selalu untuk kita semua ❤️


__ADS_2