
❤❤❤
Di dalam taksi...
Mentari termenung menatap kosong ke luar jendela.
"Heuum... "
Dia menghela nafas beratnya, beban yang dia pikul semakin berat dan menyesakkan dada.
Apakah dia akan kuat menghadapi sikap Dafa yang semakin hari dia rasakan semakin acuh, keras kepala dan kasar.
Mentari sendiri tak yakin, tapi dia bisa apa? harus mengadu ke mana? kalo harus pergi pun dia malu dengan keluarga nya.
"Ayah... " Dia menggumam.
Sungguh akhir-akhir ini dia merindukan sosok keluarganya, seakan dia malu jika bertemu dan menceritakan keadaannya sekarang. Tapi dia tidak tahu harus berpegangan dan bersandar pada siapa? sedangkan sosok Dafa yang selalu bisa di andalkan, kini seakan hilang arah dan berbelok ke arah yang salah.
Ponsel di dalam tas nya bergetar membuyarkan lamunannya, Mentari segera merogoh tas nya.
"Ya...
"...
" Mau, aku mau ke kampus, ini lagi di jalan hampir sampai." Jawabnya.
"...
panggilan pun berakhir, tepat taksi online itu berhenti di depan gerbang masuk kampus.
Mentari turun dengan langkah lunglai, malas sekali.
Cindy telah menunggu di depan pos satpam.
" Lamaa... " Dia mendengus kesal.
"Aku titip ini ya!" Mentari memberikan beberapa kertas tugasnya.
"Mau kemana? lu nggak kaan masuk kelas?" Cindy bertanya sembari tangannya menerima kertas-kertas yang sahabatnya itu sodorkan.
"Aku... Mau ketemu sama orang, aku keterima kerja di cafe kemarin." Ucapnya berbisik.
"Apa? lu lagi hamil. Tari." Cindy berteriak tak setuju dengan keputusan sahabat nya itu.
"Nggak apa-apa, minggu lalu aku konsul ke dokter dia sehat, dan aku harus kerja nggak mungkin diem aja kan?" Mentari tersenyum berusaha ceria.
"Kenapa nggak di market? gue yakin, pasti lu bisa kerja. nggak usah susah-susah, bagaimanapun itu masih sebagian besar punya Ayah lu." Cindy masih tetap tak setuju apa yang menjadi keputusan Mentari.
Mentari menggeleng, dan tertunduk.
"Aku malu, kalo sampai keluarga aku tau, bagaimana sekarang kehidupan ku yang dulu aku yakini akan lebih baik di banding berada di tengah mereka, tapi nyatanya semua perkiraan mereka benar. Aku nggak mau mas Dafa semakin tersudut kan. Bagaimanapun dia sedang berada di titik rendahnya. Dan aku harus kuat untuk menopang nya bukan?" Ujarnya pada Cindy yang masih setia menyimak.
"Udah ya! aku ditunggu manager cafe jam 10, dari owner nya aku udah di Terima, cuma tinggal ketemu asisten nya untuk membuat jadwal kerja. Aku di kasih keringanan untuk menyesuaikan dengan jadwal ngampus." Mentari memeluk sahabatnya itu.
"Bos lu... tau kan kalo lu? Cindy menggerakan tangannya membentuk bulatan di perut nya.
" Tau, dia tau aku lagi hamil. Makanya aku harus ambil kerjaan ini, ini udah fleksibel banget sama keadaan aku."
"Aku pergi, titip tugas ya!" Mentari berjalan kembali ke arah taksi online yang masih setia menunggu.
Cindy menatapnya iba, Sabar ya... gue yakin ini hanya sementara, lu pasti kuat Tar... " Cindy pun berlalu menuju kelasnya.
🌸
🌸
Di depan pintu cafe, Mentari mengambil nafas sedalam-dalamnya lalu menghembuskan nya cepat, mengatur degup jantungnya agar tidak gugup.
Langkah kakinya membawanya masuk, keadaan cafe masih sepi hanya ada beberapa karyawan sedang membereskan meja dan menyapu beberapa sudut cafe.
__ADS_1
"Ekhm... Permisi... " katanya pada seseorang yang berada di balik meja kasir.
"Ya? mau pesan apa? " Tanya pria itu ramah.
Mentari hanya tersenyum lalu matanya menatap nama yang tercetak di balik seragam itu "Beni" Gumamnya pelan.
"Mba? ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya lagi dengan suara seraknya.
"Eh... Maaf, Mas saat kemarin saya di suruh bu Nina untuk bertemu dengan Mas Beni." Ujarnya menjelaskan.
Lelaki itu tersenyum sambil menunjuk nama di kemejanya.
"Saya... kamu pekerja baru, yang di rekomendasi bu Nina kemarin? tanyanya lembut sangat ramah.
" Iya, Mas. Saya di suruh ketemu sama Mas, buat ngatur jadwal kerja katanya." Mentari meremat tas yang di pegangnya.
"Ikut saya, ke ruangan. Kita ngobrol di sana."
"Ron... titip meja kasir!" panggilnya pada seorang pria yang sedang merapikan meja.
"Siap, Mas." Jawab lelaki itu.
Beni pun berjalan keluar dari meja kasir dan Mentari pun mengikutinya di belakang.
"Ayo, silahkan duduk" perintahnya.
Mentari pun duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan pria bernama Beni itu, hanya terhalang meja yang sedikit berantakan oleh kertas-kertas dokumen.
"Maaf ya, berantakan. Saya belum ada waktu beresin ini." tangannya lincah merapikan kertas di atas mejanya.
Setelah beberapa saat dia membereskan mejanya, yang tak lepas dari perhatian Mentari.
"Kenalan dulu dong? Saya Beni." Sambil merentangkan tangannya
"Aku Mentari ,Mas."
"Saya selaku asisten bu Nina, keponakan, kasir, kadang nyupir dan masih banyak lagi." Terangnya sambil terkekeh.
Mentari yang mendengar nya pun ikut tertawa, lelaki di depan nya itu dewasa, ramah, dan humoris. persis... Dafa nya yang dulu.
Demi apapun dia rindu Dafa yang mesum, konyol dan tidak terbantah. Bukan Dafa yang hanya diam dan marah-marah saja seperti sekarang.
"Hei... malah ngelamun?" Beni menjentikkan jarinya di depan wajah Mentari
"Ma... maaf Mas!" paniknya.
"Nggak apa-apa nyantai aja, jadi siap kerja di sini?" tanyanya mengatupkan tangannya di atas meja menunggu Jawaban perempuan di hadapan nya.
Sebenarnya dia merasa iba melihat Mentari, gadis muda namun nasibnya seakan tak beruntung. Membuatnya ada si posisi sekarang. Semalam dia dan bu Nina yang tak lain adalah tante nya sendiri, telah membicarakan keadaan wanita yang tengah hamil muda namun memutuskan untuk kerja itu.
"Saya... siap Mas." Jawab Mentari.
Mereka pun saling tanya jawab dan Mentari menerangkan semua keadaannya, jam kuliah dan keinginannya berada di rumah jam berapa.
"Ok, setelah di telaah jam kuliah kamu yang seringnya pagi, dan keadaan kamu yang seorang wanita hamil. Bagaimana kalo kamu mulai kerja dari jam 1 siang sampai jam 7 malam saja, bisa?" tanyanya.
"Bisa Mas." angguknya setuju.
"Pokoknya jam kerja kamu jangan lebih dari 6 jam, sesuai perintah bu Nina." tegasnya.
"Kenapa? memangnya normal nya berapa jam? saya nggak enak sama yang lain." Mentari memberondong Beni dengan pertanyaan.
"Yang lain 8 jam, sift pagi dari jam 8 sampai jam 3 sore, kalau yang jam 3 sore sampai jam 11 malam." terang Beni.
"Oh, kalau gitu saya samakan aja dengan yang lain! saya nggak enak kalo di spesial kan." usulnya.
"Nggak apa-apa, soalnya gaji kamu di bedakan dari mereka, beda sedikit sih nggak apa-apa kan? Biar mereka nggak pada iri." Beni menerangkan sambil tersenyum ramah. Bibirnya tak lepas menyunggingkan senyum dan suara tawa serak dari mulutnya.
"Baik, Mas. Saya mau dan siap untuk bekerja." Mentari bersemangat.
__ADS_1
"Selamat bergabung di cafe ini, Tari."
Beni kembali mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Mentari pun menyambutnya dan mereka saling melempar senyum.
"Sekarang saya mulai kerjanya, Mas? " Mentari bertanya .
" Kalo kamu siap boleh... mumpung saya ada di sini sekalian ngajarin kamu dikit-dikit. Soalnya saya megang dua tempat usaha Bu Nina yang ada di kota ini." Ujarnya.
"Usaha apa Mas? cafe juga?" Mentari mencoba mengakrabkan diri saat dia mengenal lebih Beni yang memang asik di ajak bicara.
"Bukan, ada butik di daerah kota." Ucapnya lagi.
"Jadi saya bulak balik antara butik dan Cafe ini."
"Hebat ya bu Nina." Puji nya.
"Iya, dia lebih memfokuskan ke butik, kalau cafe saya yang minta. Dan cafe hanya ada di Bandung. Sedangkan butik ada dua di Bandung sama Jakarta." Lelaki berdua serak itu kembali menjelaskan.
"yuk... kita mulai training nya. Kita mulai pengenalan." Ajaknya seraya bangun dari duduknya berjalan beriringan keluar Ruangan.
*
*
Mentari belajar dengan cepat, apa-apa saja tugas yang harus dia kerjakan, juga hal-hal apa saja yang perlu dia perhatikan.
"Udah sore, malah udah lebih dari 6 jam kamu kerja, nanti uang lemburnya aku yang harus bayar." Beni yang baru datang ke meja kasir meneror Mentari yang masih asik dengan kerjaan barunya.
"Eh, nggak apa-apa kok, Mas. Saya suka sama kerjaan ini, jadi waktu terasa cepet banget." Mentari menutup laci uang saat dia selesai menghitung semua pemasukan.
"Syukur kalau kamu suka, tapi tetep kamu harus pulang. Nanti saya di tegor bu Nina." kemudian mereka tertawa bersama.
"Baik, saya pulang ya Mas. Berarti besok saya mulai dari jam 1 ya? selesai kuliah?" tanyanya meyakinkan.
"Yup... benar sekali, jangan telat ya! nanti potong gaji." Godanya.
Mentari tertawa sambil keluar dari tempatnya duduk sebagai kasir.
"Belum juga nerima gaji, Mas. Udah di ancam potong gaji, ngerii tau." Mentari pun menimpali godaan Beni.
"Nih, seragam kamu. Aku kasih yang jumbo, biar nyaman sampai perut kamu besar." Beni memberikan sebuah totebag berisikan dua buah seragam berlogo cafe itu.
"Makasih, Mas." Ucap Mentari dengan senyuman.
Beni terpaku Menatapnya, "Cantik..." Batinnya.
"Saya, duluan pulang ya, Mas." pamitnya.
Beni yang sedang terpaku pada wajah cantik Mentari terhenyak kaget, "I.. iya, silahkan. Hati-hati atau mau saya antar?" tawarnya.
"Nggak usah, masih sore. Lagian nanti kasir siapa yang nunggu?" Mentari mengetuk meja kasir yang terbuat dari batu Marmer hitam.
Sebuah tepukan Beni daratkan pada keningnya sendiri. "iya, lupa." kekehnya.
"Aku, pamit ya Mas!" Mentari pun tersenyum melambaikan tangannya juga pada beberapa karyawan lainnya yang berada di dekat mereka.
Beni tersenyum pandangan nya tak lepas sampai punggung Mentari hilang di balik pintu.
"Bos... woy...
panggil salah seorang karyawan yang memperhatikan bos nya tak lepas memandang pegawai baru it
Bersambung ❤❤❤
terimakasih yang sudah mampir 🙏🙏, semoga suka🥰🥰, like komen nya jangan lupa 😘😘.
Sehat dan bahagia selalu untuk kita semua ❤❤
__ADS_1