
β€β€β€
Dafa mengemudikan mobilnya dengan perlahan, namun sebenarnya cepat. Dia sudah sampai di perbukitan teh di puncak, hamparan luas kebun teh sudah membentang sepanjang mata memandang.
Walaupun gelap karena jam sudah menunjukkan hampir jam delapan malam, namun jalanan yang berkelok di penuhi kios-kios penjual si sekitar jalan yang di terangi lampu-lampu indah nan menarik.
Dia meminum sebuah jamu, yang sudah dia persiapkan sejak pulang dari kantor, itu resep olahan dari orang tua Rijal yang mempersiapkan stamina anaknya menuju malam pertama yang tinggal beberapa hari lagi. Dan dengan asalnya Rijal memberikan satu botol kecil pada sahabat nya itu.
Rasa pahit, manis, pedas dan amis menjadi satu. Entah ramuan apa yang di buat ibu nya Rijal, yang terpenting sekarang sesuatu terasa berdenyut, suhu di dalam tubuhnya pun meningkat, ada sensasi gemas dan merinding. Dia tidak tahan, dia membutuhkan istrinya sekarang.
Dafa memberhentikan mobilnya di sebuah tempat yang terlihat agak sepi, lalu dia pindah ke belakang setelah sebelumnya membuka sedikit jendela agar masuk udara, karena mesin mobil di matikan.
Menatap Helen yang tertidur pulas dengan kepala yang menggunakan sebuah kupluk pink bergambar kelinci dan selimut yang menutupi tubuhnya. Sungguh menggemaskan, lalu pandangan nya beralih ke Mentari yang tidur ternganga dengan tuniknya yang tersingkap hingga memperlihatkan paha putihnya.
Di tutupnya oleh selimut tubuh istrinya itu, lalu dia ikut masuk ke dalam selimut, memeluk tubuh Mentari dari belakang, mengendus-endus ceruk leher sang istri yang beraroma manis memabukkan.
Sebuah erangan terdengar dari Mentari, Dafa semakin gelisah bahkan sesuatu di tubuhnya yang sudah bersiap untuk kerja keras karena sudah mengeras sempurna semakin berdenyut menginginkan pelepasannya segera. Hanya dengan sebuah erangan kecil dari Mentari semakin membuat tubuhnya tidak sabar.
"Sun ... " Dafa mengelus bulatan empuk yang keluar dari wadahnya, bekas sesapan Helen yang belum sempat di benahi.
Dafa mengusapnya dengan ibu jari tangannya, bibirnya tak lepas menciumi leher dan pundak istrinya itu.
"Arghhh ... " Dafa terdengar mend*sah gemas sendiri terhadap istrinya, Mentari yang mulai terbangun, kini berbalik ke arah sang suami.
"Mas ... " Dia meracau.
Dafa mengecup bibir itu dengan perlahan penuh kelembutan, menjelajahi isi mulut sang istri dengan sapuan lidahnya. "Sun, aku mau." Bisiknya saat pautan bibir itu terlepas.
"Di sini?" Mentari pura-pura kaget, padahal dia ingat jelas dia yang mengusulkan tempat ini tadi.
"Iya, kita nyari sensasi yang beda. Cepet aku nggak akan lama ini, udah dari tadi kerasnya." Bisiknya gelisah sambil membuka celana training nya sambil bibir itu kembali menyesap kasar. Dafa menarik si segitiga milik istrinya hingga terlepas begitu saja.
Tunik full kancing itu juga sudah terlepas dengan cepat.
"Mas, aku takut." Mentari menahan wajah Dafa yang akan membenamkan mulutnya di bulatan coklat muda sisa Helen itu.
"Arghhh .. . Sun, aku nggak tahan." Dafa mengerang frustasi.
"Kok, kamu grasak-grusuk gini sih?" Mentari menatap wajah Dafa yang sudah memerah, keadaan mobil yang gelap namun masih sedikit terang dari cahaya langit di puncak bukit itu.
"Nggak kuat, di kasih jamu sama Rijal. Cepet nggak tahan, udah sakit banget dari tadi pegel. Mumpung Helen nyenyak." Dafa menenggelamkan bibirnya menghisap apa saja yang dia temui.
Mentari mele*nguh, membusungkan tubuhnya, tangannya meremat rambut Dafa. Dia sangat menikmati perlakuan Dafa padanya malam itu.
"Aku, masuk sekarang ya?"
Mentari mengangguk pasrah, sebelum nya menoleh ke arah Helen yang pulas tertidur, bayi nya itu sangat kooperatif sekali. Pikirnya.
"Ehhhmmm....
__ADS_1
" Arghhh ....
Pasangan itu saling mengerang menikmati penyatuan mereka yang luar biasa nikmat nya.
Mentari membusungkan dadanya minta perhatian dari suaminya itu, Dafa sedang mendongakkan kepalanya menahan gelenyar rasa yang memabukkan, matanya terpejam dengan bibir sedikit terbuka. Kedua tangannya yang berada di kedua sisi tubuh istrinya perlahan bekerja mencari dan mengelus apa yang menjadi tempat kesukaan nya.
Tubuhnya masih terbenam belum dia gerakan, Dia masih sibuk dengan kecupan dan rematan tangannya. Hingga Istrinya itu menggerakan pinggulnya mengharapkan Dafa segera memulai aktivitas nya.
"Mas, ... sekarang."
"Sesuai permintaan tuan putri." Ucapnya bangkit sedikit meregangkan lututnya membuka lebar kaki sang istri.
Lalu dia mulai bergerak dengan menghujam perlahan dan penuh kelembutan, tangannya kembali meremat gundukan indah nan lembut itu yang bergerak dengan indahnya akibat gerakan yang dia lakukan. Sebelahnya lagi dia gunakan untuk mengusap bulatan kecil di inti tubuh Mentari, melakukan pijatan dengan ibu jarinya.
Mentari mengejan, tangannya mencengkram lengan Dafa yang tengah memuaskan dirinya.
"Aaaahhh , Mas ...
" Tunggu aku, Sayang ... aku juga datang... "
Dan tubuh mereka berdenyut hebat saat sesuatu meledak secara bersamaan di bawah sana.
Mentari masih memejamkan matanya menikmati pelepasan yang baru saja dia dapatkan. Sedangkan Dafa masih mengatur nafasnya. Dan merasakan ada yang aneh, saat dia mencabut jamur kuncup yang di tanam, sesuatu yang janggal dia lihat.
"Sun ...
Mentari membuka matanya dan menatap suaminya.
"A ... aku, mau lagi. Masih keras banget." Lalu dengan sekali gerakan dia kembali menghujami inti sang istri yang masih mencoba mengatur nafas nya.
Erangan dan desa*han bersautan di dalam mobil SUV itu. Angin malam tak membuat suhu tubuh mereka sejuk, namun sebaliknya mereka terbakar dengan gai*rah mereka sendiri.
"Mas, ehhhmmm ... " Mentari lagi-lagi mende*sah, tanda dia hampir kembali mencapai puncaknya.
Dafa malah menarik keluar jamur kuncup nya yang sedari dia tanamkan.
Mentari menatapnya heran, "Kenapa?" tanyanya.
Tanpa menjawab Dafa melepaskan sweater nya.
Dan Saat kembali akan mengungkung istrinya.
Sebuah ketukan di kaca jendela mengagetkan mereka.
"Bagiii kopii woyyyy.... " Suara teriakan dari arah kaca.
"Astaga.... " Pasangan itu segera menyambar selimut menutupi tubuh mereka, Dafa dengan tergesa nya mencabut sesuatu yang masih terbenam sempurna.
"Woyyy ... bagi kopiii." Lelaki di luar itu kembali berteriak.
__ADS_1
"Mas, aku takut." Mentari beringsut memegangi selimut.
"Kaca jendela nya gelap nggak akan keliatan." Dafa kembali memakai sweater nya. Dan memakai celananya asal, sambil menyelidiki lelaki yang tengah teriak-teriak di luar mobilnya.
"Sun, nu gelo kayaknya(orang gila)."
"Terus, gimana? takut." mentari semakin beringsut tangannya sambil menatap ke arah Helen yang sedikit menggeliat.
Dafa mendengus kesal, sesuatu yang belum selesai malah membuatnya gelisah dan sakit kepala. Jamu itu benar-benar membuat staminanya kuat.
"Duh, Sun. Terusin aja yuk. Aku nggak kuat, sakit banget. Lagi tanggung." Rengek nya memegangi jamur kuncup miliknya yang sudah tertutup kembali oleh celana training nya tanpa si kain segitiga.
Mentari mencebik kesal, sambil matanya melihat ke arah orang gila tadi yang sedang mondar-mandir di depan mobil mereka.
"Cari, tempat aman dulu. Nanti aku servis, Mas sekalian gaya yang aku pengen." Tawarnya.
Dengan wajah berbinar Dafa segera, beralih ke bangku depan menjalankan mobilnya. Mencari tempat lebih aman dan nyaman tanpa ganguan tentunya. "Nggak akan di hotel gitu, Mas?" tanya Mentari yang sedang membenahi pakaiannya.
"Kita cari yang anti mainstream, hotel udah biasa." jawabnya.
Mentari hanya terkekeh, mendengar jawaban suaminya itu.
"Sun, pindah depan. Ini nggak Layu-layu, pegel banget kerasnya udah maksimal banget." Dafa mengiba pada istrinya, pandangan matanya sudah sangat sayu, keadaan ini sangat menyiksanya.
Mentari pindah duduk ke depan setelah membenarkan letak tidur Helen.
"Sok pake jamu sih, jadi gini!" omel nya.
"Ntar aja ngomel-ngomel nya, ini dulu usap-usap." Dafa menarik tangan istrinya itu menuju jamur kuncup kesayangan nya.
"Arghhh ... iya, gitu Sun. Enak banget. Cium aku Sun." Pintanya sambil memajukan bibirnya.
"Lagi, nyetir kan." Mentari yang masih mengusap kan tangannya naik turun di jamur kuncup itu, sedikit geram dengan kelakuan suaminya.
"Sebentar doang, ini mau keluar." Pintanya lagi dengan sedikit merengek.
Dafa menarik tengkuk istrinya itu, dan menyesap sebentar bibir itu.
"Ini kemana sih? kayak nggak ada rumah?" Mentari melihat ke sekeliling setelah pautan itu terlepas.
...πππ...
Bersambung πππ
Terimakasih yang sudah mampirππ, semoga sukaππ, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ππ, cuma buat rame2 ajaπ₯°π₯°
Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaβ€
Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ππ, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lainπ₯°π₯°
__ADS_1
semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn π€²π€²