Kisah Mentari

Kisah Mentari
bertubi-tubi


__ADS_3

...---oOo---...


Dafa menghentikan mobilnya di area rumah sakit, dia turun dengan terburu-buru. Jantung nya berdebar kencang, lututnya terasa lemas di bawa lari pun rasanya dia ingin segera duduk. Kepalanya di penuhi tumpukan masalah yang sedang dia hadapi berjejal dengan padatnya minta untuk di pikirkan solusi terbaik.


Dia kembali membuka ponselnya, melihat letak ruangan yang harus dia kunjungi.


Keringat mengalir deras di tubuhnya yang masih terbalut kemeja panjang berwarna hitam dengan bagian tangan yang sudah tergulung asal.


Berhenti di sebuah lorong, saat dia bertanya letak ruangan tersebut dari seorang suster. Terlihat di sana seorang pria yang dia kenali.


"Gimana?" tanyanya saat sampai di depan ruangan yang di tuju.


"Masih lemas Den, cuma sudah sadar." Jawabnya dengan raut cemas.


Dafa langsung masuk ke dalam ruangan itu.


Di lihat nya, tubuh renta itu terbaring lemas dengan beberapa alat menempel di tubuhnya, tak lupa masker oksigen yang menutupi sebagian wajahnya.


"Pa ... " Panggilnya lirih.


Pak Harun membuka matanya yang terlihat sayu, dan mengernyit menahan sakit.


Lelaki tua itu menoleh ke arah anak semata wayangnya, anaknya yang kurang mendapatkan kasih sayang. Maka ketika dia sakit dan membutuhkan kehadirannya dia merasa sungkan meminta kewajiban anaknya itu, karena dia menyadari membiarkan anaknya tumbuh besar sendiri, tanpa dia pedulikan. Hanya karena dia terlalu mencintai istrinya yang meninggal setelah melahirkan putranya itu.


"Pa, gimana sekarang? udah enakan?" Dafa kembali bertanya sambil mengusap lengan Papanya.


Pak Harun hanya mengangguk pelan dan tangannya yang terlihat masih lemas mengacungkan jari jempolnya.


Dafa sedikit lega, Papanya dapat merespon walaupun hanya sedikit mengacungkan jarinya.


"Papa mikirin apa? kenapa tiba-tiba darah tinggi?" tanyanya.


"Papa kangen mama kamu!" Jawabnya lemah namun masih bisa Dafa dengar.


Nafas yang terasa sedikit lega, kini terasa kembali sesak, sudah puluhan tahun tapi Papa nya begitu masih mencintai Mamanya. Bahkan setiap seminggu sekali pasti mengunjungi makan istrinya, bahkan setelah pindah ke Bogor hampir setiap hari lelaki itu menghabiskan waktu tak kurang dari sejam di makam istrinya yang berjarak tak kurang dari 10 menit perjalanan, hanya untuk berdiam diri kadang bercerita apa yang terjadi, itu yang dia dengar dari orang-orang yang bekerja dengan Papa nya.


"Doa in, Pa. Mama pasti sedih kalo Papa terus kayak gini!"


Pak Harun terlihat mengeluarkan air mata di sudut bibir nya.


"Jangan gini, Pa. Papa mau punya cucu lagi, aku lupa ngabarin Papa Istriku hamil lagi, tapi kali ini keadaannya memprihatinkan Pa, dia kepayahan sekali dengan hamil yang sekarang, keluar masuk rumah sakit." ceritanya, curhat seorang anak yang mengadu pada Papanya.


Terlihat wajah berbinar sekaligus kaget terpancar dari mata pria tua yang kesepian itu.


"Papa, kalo udah sembuh. Pindah lagi ke Bandung ya!" Ajaknya.


Hanya gelengan yang dia dapatkan dari Papanya itu.


"Biar, aku bisa terus jaga Papa. Dan Helen kalo mau ketemu kakeknya nggak kejauhan." rayunya lagi.


"Nanti jauh sama Mama kamu, kasian dia juga sendiri."


Dafa mengusap wajahnya, bingung , merasa bersalah, dan putus asa menjadi satu.

__ADS_1


Obrolan mereka terjeda, saat Pak Harun seperti mengantuk dan tak lama tertidur.


Dia sedikit berbincang dengan mamang penjaga tentang kronologis Papanya terjatuh dari kursi roda. Kejadiannya terjadi sesaat setelah Papanya pulang dari makam seperti biasa, namun sepertinya Papa memang sudah kurang baik kondisinya, karena saat sarapan wajahnya sedikit pucat. Dan dia mengeluh kepalanya sakit dan dadanya sedikit sesak.


Dafa kembali masuk ke kamar rawat Papa nya, saat si mamang pamit untuk membawa baju ganti dan perlengkapan Papanya. Rasa lelah di tubuhnya membuat Dafa tergiur untuk merebahkan tubuhnya di atas sofa. Dia pun langsung memejamkan matanya dan nafasnya pun teratur tandanya dia sudah terlelap.


Janjinya dengan sang istri seketika hilang dalam memorinya. Dia pun lupa untuk membuka ponselnya yang dia simpan di saku jas yang teronggok di jok mobilnya.


...~...


"Teh, makan dulu. Saya masak ayam rica-rica sama sayur bayem. Kan kemaren teteh bilang pengen makan ayam yang agak pedes, tapi nggak terlalu pedes kok. " Ajak Intan, saat masuk ke kamar majikannya itu.


Ya Intan adalah salah satu pelamar di market yang di kepalai Langit, saat itu sedang tidak ada lowongan tapi dia merasa iba saat mendengar gadis itu sangat membutuhkan pekerjaan dan dia rela di jadikan apa saja, bahkan dia mau jadi petugas parkir sekalipun. Intan bercerita jika dirinya sedang di kejar-kejar hutang bekas biaya pengobatan almarhum ibunya. Dan langit teringat akan ucapan Dafa yang meminta orang untuk mengasuh Helen dan menemani istrinya jika dia sedang bekerja. Jadinya Langit menawarkan pekerjaan itu, dan Intan langsung antusias menyetujui tawaran Langit.


"Teh, ayo makan dulu udah siang teteh cuma makan roti itu juga keluar lagi." Ajaknya saat mendekati tempat tidur majikannya yang masih setia bergelung di bawah selimut tebal.


"Nggak pengen makan, Tan. Kalo bikinin susu hamil aja tapi pake es boleh nggak? biar Helen sama saya dulu." Helen pun di turunkan dari gendongan Intan dan bayi cantik itu merangkak semangat ke arah ibunya. Lagi-lagi dia mengusap dada tempat dia meminum asi nya.


"Apa nak?" Mentari tersenyum saat Helen menepuk-nepuk dadanya.


"Mau?" tanyanya lagi.


Helen menatapnya seperti memohon. Hati ibu mana yang tega mendapatkan tatapan mengiba dari bayi yang ingin menyusu.


Helen langsung menyambar dan mengecap dengan tekun saat Mentari menidurkan nya menyamping dan langsung menarik keluar makanan anaknya itu.


"Teh, ini susunya." Intan datang dengan segelas tinggi susu coklat dingin di tangannya.


Mentari yang sedang meringis saat Helen menyesapnya kuat mengangguk menjawab ucapan Intan.


"Iya, kayaknya udah mulai sedikit air susu nya, jadinya perih kalo di isep." Mentari mengusap Kepala Helen yang sudah mulai terlihat mengantuk.


Intan duduk di tepi ranjang tangannya ikut menepuk-nepuk paha Helen agar semakin lelap.


"Jangan manggil teteh lah, saya di bawah umurnya teh Intan." Mentari menatap wajah perempuan di depannya, cantik , lugu, dan terlihat gesit juga mudah akrab dengan anak kecil.


"Ah, nggak berani saya!"


"Kenapa? "


"Teteh yang gaji saya, masa manggil nama?"


Mentari tertawa kecil, "kata siapa? yang gaji teteh suami saya, Mas Dafa." katanya, sambil melepaskan dadanya saat Helen sudah lelap.


"Teh, tolong simpenin Helen di box nya."


Lalu dengan perlahan Intan mengangkat Helen dan langsung membawanya ke ujung ruangan di mana box Helen berada.


Mentari beringsut bangun dengan menarik selimut ke atas dadanya.


"Teh, biarin ya aku gini!" Ucapnya saat Intan kembali mendekat.


"Biarin teh, sama-sama perempuan." Jawab nya dengan cuek.

__ADS_1


Mentari dengan cueknya keluar dari kamar setelah meminum susu hamilnya, dan bermaksud untuk duduk di depan kolam ikan. Masih dengan tubuh hanya menggunakan kacamata dada dan kain segitiga.


"Perut saya aga keras, sedikit sakit." Keluhnya.


"Makan, teh. Biar ada yang masuk, masa cuma susu aja." Intan sedikit membujuk majikan perempuan nya itu.


Tak ada jawaban, Mentari merasa malas sekali untuk makan. Dia melihat ke punggung tangannya yang sekarang banyak terdapat luka bekas jarum infus. Dirinya harus kuat, melawan semua nya demi kesehatan bayi yang tengah dia kandung.


"Teh, mana ayamnya? Aku mau coba, nasinya dua sendok aja. Eh maaf, sama obat yang botol pink yang di kamar bawain teh." Titahnya.


Mentari masih duduk menghadap kolam ikan sambil mengelus perutnya yang masih datar.


"Ini, teh." Intan menyodorkan sepiring berisi secuil nasi dan sepotong ayam rica-rica dan kerupuk udang.


Mentari mengambil piring itu, " makasih teh!" Lalu menyuapkan potongan ayam itu. Matanya membola "enak banget , teh!" Dia bersemangat memakan ayam itu.


Selesai makan, Mentari kembali berjalan menuju kamarnya, "aduhhh, " dia memekik.


"Teh ... aduh, perut saya sakit." Dia merintih sedikit membungkuk memegangi perut.


Intan yang tengah membersihkan peralatan makan bekas mentari langsung menghampiri.


"Kenapa teh?" tanyanya.


"Perut saya sakit, aduh ... " Dia bertumpu pada gawang pintu kamar nya.


"Telepon suami saya teh, terus bantuin saya pake baju." Pintanya, langsung di tuntun masuk ke dalam kamar.


Mentari meremat perutnya di pinggiran kasur, Intan memegangi ponsel yang menempel di telinganya sambil mengambil sebuah terusan untuk di pakai majikannya.


"Aduhh ... sakit, " Mentari menjerit.


Bersamaan dengan Helen yang terbangun karena jeritan Ibu nya.


"Teh, ampun ... ini sakit banget."


"Ngga aktif teh, telepon nya!" Ucapnya panik.


"Helen dulu teh, bawa sini." Mentari menatap ke arah box dimana Helen menangis menjerit.


Intan menggendong Helen sambil kembali mencoba menelpon majikan lelakinya.


"Coba, cari nama kontak Kak Bintang. Dia kakak saya, suruh kesini." Mentari kembali meremat perutnya. "Kuat sayang, anak ibu kuat." Ucapnya pada calon anaknya itu.


Wajahnya pucat dengan keringat bercucuran, dress terusan itu pun sudah basah oleh keringat.


"Masssss .... " Pekiknya tertahan.


Bersambung ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


Terimakasih yang sudah mampir๐Ÿ™๐Ÿ™, semoga suka๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ๐Ÿ™๐Ÿ™, cuma buat rame2 aja๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaโค

__ADS_1


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ๐Ÿ™๐Ÿ™, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn ๐Ÿคฒ๐Ÿคฒ.


__ADS_2