
...❤❤❤...
Satu persatu keluarga pamit pulang. Menyisakan Bintang dan istrinya yang sedang berdebat soal bau pete.
"Gosok gigi dulu, aku ngga kuat nyium bau pete dari nafas kamu." Gerutu sang istri.
"Lah, sayang. Aku nggak usah nafas gitu?"
"Pokoknya aku nggak kuat nyium nya, bau banget."
"Ya, udah. Cha... gue ikut ke kamar mandi, numpang gosok gigi. Takut bini gue nggak mau di cium. Bisa galau gue nggak dapet kiss dari dia." Keluhnya.
"Bukan cium itu, tapi nyium bau kamu. Aku nggak kuat pengen muntah, astaga... " Istrinya langsung bersungut kesal sambil menggeser duduknya tak mau berdekatan.
Mentari hanya mampu meremat lengan Dafa.
"Mau ke kamar sekarang?" Dafa terlihat cemas melihat kening istrinya itu sudah berkeringat dan matanya memejam menahan sakit.
Mentari menatap suaminya, "bentar nunggu mereka pulang, bakalan berisik dan heboh. Males aku." Keluhnya.
****
Pasangan suami istri itu berjalan ke arah teras di ikuti Dafa dan Mentari yang mencoba kuat menahan rasa sakit yang dia yakini kontraksi.
Dafa terlihat siaga, walaupun ini anak ke tiga tapi entah kenapa rasa cemas dan deg2an masih kuat dia rasakan.
Apalagi ini tidak sesuai dengan prediksi lahir yang seharusnya dua minggu an lagi.
Saat Bintang dan istrinya yang masih ogah-ogahan dia dekati menuruni anak tangga teras, dan Mentari masih mengekori mereka.
Istri kakaknya itu pamit dan bercium pipi dengan adik iparnya. Saat Bintang hendak pamit dia melihat gelagat aneh dari adiknya.
"Kenapa lu Cha?" tanyanya heran.
Mentari tidak menjawabnya hanya menggelengkan kepalanya lemah.
"Mau lahiran?" Bintang menebaknya dengan benar.
Melihat wajah adiknya yang biasa tenang kini terlihat berkeringat dan terlihat pucat.
"Udah lu pulang sana," Dafa sudah ingin cepat-cepat membawa istrinya masuk, dia tinggal menunggu Dokter Mila datang.
"Bini lu mau lahiran, dan gue di usir gitu?"
"Sayang, kita di sini duluu!" Bintang menatap pada si istri dan mendapat anggukan cepat sebagai jawaban.
"Argggghhhh... " Mentari menjerit, tangan nya menyambar tangan Bintang dan merematnya kuat.
Dafa panik dan langsung mencoba menenangkan istrinya.
"Eh... ketuban nya!" perempuan cantik yang tak lain istri Bintang menunjuk kaki Mentari yang basah teraliri cairan bening.
Semua orang ikut menunduk melihat ke arah yang di tunjuk.
"Mas... " Mentari histeris memanggil suaminya.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit aja, feeling ku nggak enak... " Dafa langsung meminta kunci mobil Bintang.
Tangannya yang di cengkram sang adik nyatanya sangat sulit terlepas.
Dafa membuka pintu mobil kakak iparnya itu memapah tubuh istrinya dengan perlahan.
Mentari berjalan perlahan masuk dengan langkah tertatih. Dafa langsung memutar langkah nya akan masuk ke sebelah istrinya namun ternyata sudah di tempati oleh kakak ipar dan istrinya.
"Loh... yang nyetir siapa?" tanyanya dengan wajah panik.
Bintang hanya mengacungkan tangannya yang di genggam sang adik.
"Massss.... cepet, nggak kuat." Mentari kembali histeris.
Dafa langsung memutari mobil, duduk di balik kemudi. Saat akan melajukan mobilnya, dia melihat anak-anak nya yang berlari ke arah teras..
"Bi, titip anak-anak. Ibunya mau lahiran." Dafa sedikit berteriak di jendela mobil yang kacanya dia buka lebar.
"Mbak Helen jagain adik nya ya, nanti Ayah pulang bawak dedek bayi. Do'a in ibu ya!" ucapnya lembut pada anak pertama nya.
*
*
Mobil pun melaju keluar dari pagar rumah berwarna hitam itu.
"Sabar, Sun... sayang." Dafa terus menyemangati istrinya dari balik kemudi.
Demi apapun dia ingin loncat ke belakang bertukar posisi dengan Bintang, namun dia tau itu malah akan memakan waktu.
"Mas... Argggghhhh... ini udah ada yang neken, aduh... nggak mau lahir di sini, nggak mau... " Mentari meremat, menjambak dan mencakar kakaknya.
"Cha... aww... sakit, duh gusti... enaknya sama siapa giliran lahir nya gue yang di unyeng-unyeng... "
"Argggghhhh... Mas, ini sakit. Nggak kuat, aduh." Mentari tak menghiraukan kakaknya yang kesakitan dia siksa.
Dafa sesekali melihat ke belakang, "sabar sayang. Atur nafas. Rileks."
"Bibir lu rileks, nih tangan Bini lu kesetanan maung." Bintang mengaduh saat tubuhnya terus di guncang dan menerima kuku-kuku adiknya yang menancap.
Dafa tidak menanggapi perkataan Bintang, dia fokus membimbing istrinya untuk mengatur nafas agar rileks dan menetralisir rasa sakit.
"Ayo, tarik nafas...
" Iya, gitu...
"Hembuskan...
" Ugh, Ibu hebat... ayo ulang terus." Dafa menuntun istrinya sambil matanya menatap sang istri dari spion di atas kepalanya.
Tanpa di sadari Bintang mengikuti Mentari yang sedang di tuntun mengatur pernafasan nya.
Si mulut rombeng bau pete itu, sukses membuat oksigen di dalam mobil sedan itu berubah dari bau pewangi mobil berperasa jeruk menjadi perasaan pete.
Istrinya yang sedari tadi panik di sebelah nya, menyaksikan perjuangan Intan malah menutup hidungnya.
__ADS_1
"Ampun, gusti bauu... " keluh wanita cantik itu.
"Huwekk... huwekk... "
"Kenapa yank?"
"Bau, nggak kuat nafas kamu bauuu. Huwekk... huwekk" Dia merasa akan memuntahkan isi perutnya.
"Daf... berenti dulu, bini gue mau muntah."
"Nggak bisa, ntar bini gue brojol di mobil. Lagian tuh rumah sakitnya udah deket." Dafa yang panik langsung membentak kakak iparnya.
Bintang teringat ada plastik di dalam dasbor mobilnya, lalu saat dia akan memajukan tubuhnya ke arah depan. Mengambil kantung kresek di dalam dasbor.
Mentari meremat baju bagian belakang nya. "Argghhh... ini ada yang nonjol, ini mau Ke-keluar, Mas... " Mentari histeris saat merasakan sesuatu menekan inti tubuhnya.
"A-apa yang nonjol cha?" Bintang menatap panik adiknya, tubuhnya bergetar takut, dia trauma saat melihat kelahiran Helen dulu yang terjun payung turun dari tubuh sang Ibu.
"Bayi... bayinya udah mau keluar."
Bintang bergetar, kepalanya pusing, perut nya mual. Mungkin lebih mual dari perut istrinya yang mencium bau nafas pete dari mulutnya.
"Sabar, tahan... ini udah sampe sayang... " Dafa langsung setengah loncat keluar dari mobil, saat mobil itu berhenti di depan lobby emergency salah satu rumah sakit daerah Bandung.
Dafa langsung berteriak, dan dua orang perawat membawa brangkar mendekat ke mobil yang di parkir hampir menyentuh teras.
Dengan sigap dia menyelipkan tangannya di lipatan ketiak dan lipatan paha sang istri, dengan sekali tarik istrinya sudah keluar dari mobil dan dia tidurkan di atas brangkar yang langsung di dorong ke ruang bersalin.
*
*
Bintang malah terdiam dengan kresek di tangannya yang belum sempat dia berikan pada sang istri.
Tubuhnya semakin lemas, perut nya bergejolak.
"Ayokkk... malah diem," istrinya memanggil dari luar mobil dan saat menggeser duduknya akan turun. Dia melihat darah di dekat kakinya.
"Huwekk.... huwekk... " Bintang pun muntah, memuntahkan pete yang dia makan lahap tadi.
Bau pekat pete langsung menguar di indra penciuman sang istri. Langsung mundur menjauh. Menutupi hidungnya.
"Yank... " Bintang memanggil, tubuhnya lemas setelah memuntahkan semua isi perutnya di dalam mobil.
"Nggak... aku nggak bisa, nggak kuat bauuu." Wanita itu menjauh perutnya semakin mual.
Bintang menatap nya penuh iba, namun mitis dia di tinggal kan di dalam mobil dengan kaki yang penuh muntah bercampur darah sang adik.
"Tega... kamu Yank, aku di tinggal." Dia merebahkan tubuhnya, perutnya belum selesai masih terasa mual dan dia merasa kepalanya pusing.
Mau keluar pun dia merasa tak mungkin, lalu dia pindah ke depan dan mengemudikan mobilnya pulang ke rumah.
❤❤❤
Sedikit lagi ini end kok aku nggak mau ya🤭🤣🤣
__ADS_1
tapi harus di akhiri udah kepanjangan, dan aku nggak bisa fokus ngerjain dua judul nama karakter nya suka belibet ketuker sana sini🤭🤣🤣, maafkan🙏🙏🤭🤭. Like komennya jangan lupa ya di detik-detik terakhir kisah mereka🤭🤭.
Salam cium dari Bandung 💋💋💋💋