Kisah Mentari

Kisah Mentari
Pilihan sulit


__ADS_3

💔💔💔


"Nih... " Dafa mengeluarkan sekaleng kopi kesukaan kekasihnya itu, dari tas yang dia bawa.


"Makasih, Mas." Mentari menerimanya lalu mulai meminum nya.


Sambil berjalan beriringan ke arah mobil Dafa terparkir.


"Aku senang banget hari ini." Ujar Dafa sambil kembali merangkul pundak Mentari.


"Karena juara turnamen?" Tanya Mentari dengan polos.


"Bukan cuma itu, karena ada kamu, karena aku menang, karena ..." seringai mesum muncul di bibirnya.


"Hilih... selalu," Mentari memutar matanya jengah.


Saat mereka tiba di parkiran hendak masuk mobil, sebuah suara yang sangat Mentari kenal terdengar memanggilnya.


"Dek..." kembali suara itu memanggil


Mentari menoleh ke arah suara.


"Deg..."


"A... ayah.." ucapnya gugup


Di sana, Ayah, Abang dan kakaknya berdiri menatapnya.


"Pulang..." Ucap sang Ayah dan membalikan badan memasuki kembali mobilnya.


Mentari meremas tangan Dafa.


"Mas... aku takut, aku harus gimana?"Dia merengek ketakutan meminta pertolongan pada Dafa.


Bintang dan langit berjalan mendekat.


"Pulang..." Langit menyeret Mentari ke arah mobil mewah milik ayah mereka.


"Mas... Mas tolongin aku," Mentari meronta-ronta meminta pertolongan dari kekasihnya itu.


"Bang ... please, jangan kasarin Mentari. Ini semua salah gue!" Dia memohon pada Langit agar melepaskan cengkeramannya pada tangan mentari yang terus dia seret.


Mentari menangis juga mengiba pada kedua kakaknya.


Dafa mencoba menjelaskan semua, tiba-tiba sebuah Bogeman mentah mendarat di wajahnya, Dafa tersungkur oleh tonjokan Bintang.


"Bang*sat berani-beraninya lu bawa kabur adek gue." Bintang akan menghajarnya lagi namun Dafa dapat mengelak dari pukulan tangan yang Bintang kembali layangkan.


"Denger gue, gue cuma mau buat Mentari bahagia!" Cicitnya seraya bangkit


Langit kembali menarik Mentari


masuk ke dalam mobil.


Lalu langit datang menghampiri kembali Dafa dan Bintang yang tengah saling terdiam dengan raut wajah menyalang.


"Jangan pernah lu barani deketin adik gue!" Bentak Langit berlalu sambil di ikuti Bintang untuk segera pergi dari tempat itu.


"Arggghhh.... sial, kalian mengekang Mentari, dia tersiksa dengan perlakuan kalian!" Dafa menjerit kesal. Namun tak di respon Langit dan Bintang


Rijal menghampiri nya, "kenapa lu?" tanya nya saat mendapati Dafa tengah terduduk di pinggir mobilnya sambil menjambak rambutnya.


"Anj*ing..." Dafa bangun dari duduknya tanpa berkata apapun pada sang sahabat. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi seperti orang kesetanan.


"Tunggu aku Sun, sabar sayang... aku akan lakuin apapun untuk kita!" Ucapnya sambil menjalankan mobil mencoba menyusul mobil yang di tumpangi Kekasihnya itu.


*flashback*


"Chaca ada di daerah Sentul yah!" Ucap langit setelah berhasil melacak GPS yang dia pasang di ponsel sang adik saat mengetahui kejadian di rumah sakit dulu.

__ADS_1


Pemasangan GPS tanpa sepengetahuan Gadis manja kesayangannya mereka itu. Mereka lakukan untuk lebih protektif pada sang adik.


Karena sampai pukul sepuluh Mentari tidak juga memberi kabar, dan tidak menjawab dan membalas panggilan dan pesan dari anggota keluarga nya itu.


"Si bang*sat pasti yang bawa, dia kan pembalap juga!" Geram Bintang.


"Kita susul ke sana ..." titah ayah Gunawan.


Mereka pun bergegas pergi menuju titik GPS.


Sesampainya di lokasi Ketiga lelaki itu memilih menunggu di mobil, sampai saatnya Mentari keluar dengan sendirinya.


Hingga mata mereka menangkap Mentari sedang di rangkul lelaki seperti dugaan mereka.


"flashback off"


💔💔💔


Di mobil yang Langit kendarai tidak ada seorang pun yang mengeluarkan suara. Hening dengan pemikiran masing-masing.


"Ayah kecewa sama kamu dek!" akhirnya kata-kata itu lolos dari bibir ayah Gunawan.


Mentari tak menjawab ucapan ayahnya itu, dia diam.


"Dek jawab kalo orang tua bicara, nggak sopan kamu tuh, pasti karena bergaul sama si breng*sek itu." Kembali Bintang menyudutkan Dafa.


"Cukup... cukup kalian menyudutkan Mas Dafa. Malah yang sebenarnya orang baik itu dia, bukan kalian, yang seenaknya sama aku, ngelakuin yang kata kalian baik belum tentu baik buat aku." akhirnya Mentari melupakan segalanya yang menyesakkan dadanya. Tangisnya pun pecah walaupun wajah nya dia tutup namun raungan dan Isak tangis tetap jelas terdengar di telinga ketiga lelaki itu.


Semua terdiam mendengar luapan emosi Mentari.


Namun sesaat kemudian Ayah Gunawan mengucapkan kalimat yang membuat dunia Mentari seakan runtuh seketika.


"Ayah akan pindahin kuliah kamu ke solo." Ucap lelaki paruh baya itu.


Mentari menatap tak percaya pada sang ayah, lelaki yang selalu menjadi tempatnya mengadu, pacar pertama nya ini malah membuatnya patah hati.


"Ayah... nggak bisa gitu sama aku, kenapa harus sampai kayak gini? kita dengar dulu semua penjelasan Mas Dafa tentang masalahnya sama kak Bintang dulu!" Mentari merengek dengan Isak tangis.


"Kamu tinggal pilih, menikah dengan lelaki pilihan ayah yang jelas bibit, bebet, bobot nya, atau kamu pindah kuliah?" Tegasnya.


Mentari tak menjawab dia malah terus menangis, ini pilihan gila dalam hidupnya, sudah tidak ada harapan lagi kisah cintanya dengan Dafa. Akan sulit walaupun dia bersikukuh sekalipun.


"Salah Mas Dafa apa sih sama keluarga ini? kenapa kalian begitu membenci dia?" Mentari memegang dadanya yang sesak meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan.


"Dek...kamu nggak tau siapa dia dan anak dari siapa dia!" Ujar Langit.


"Aku nggak peduli, yang aku tau dia baik dan cinta sama aku, kita saling cinta." Timpalnya pada sang kakak.


"Cha... " Bintang membentak


"Kenapa kamu jadi kurang ajar kayak gini? ini yang aku takutkan kalo kamu berhubungan sama berandal itu!" Bintang selalu memojokkan Dafa.


Mentari tak menggubris ucapan ke tiga lelaki itu, dia memilih menatap keluar jendela.


"Mas... aku harus gimana?" batinnya menjerit.


Mentari memejamkan matanya namun tak dapat di tahan lelehan air mata itu terus membasahi kedua pipinya. Sakit... dadanya begitu sakit harus menerima semua ini.


Hingga akhirnya mereka sampai di rumah best itu, Mentari berlari masuk ke dalam rumah, menaiki tangga sambil meraung menangis.


"Neng... kenapa sayang?" Mbok Tini panik melihat anak majikan kesayangannya menangis berlari melewatinya.


"Den Bintang, neng Chaca kenapa?" tanyanya saat Bintang dan Ayah Gunawan masuk ke dalam rumah.


"Biasalah mbok!" Bintang menjawab singkat


"Buatkan saya teh panas!" titah Ayah Gunawan.


Mbok Tini datang dengan secangkir teh di nampan yang dia bawa.

__ADS_1


"Monggo pa. Mbok cuma mau bilang jangan terlalu keras sama neng Chaca, kasian!" bujuknya pada sang majikan.


Lelaki itu menghela nafasnya kasar.


"Mbok tau? anak siapa lelaki yang di cintai Chaca, dia anak lelaki yang merebut bundanya!


Bagaimana reaksi dia kalo tau semuanya." ujarnya frustasi.


"Sabar pak... neng Chaca terlalu lembut hatinya." Ucap art yang telah mengikuti perjalanan rumah tangga Ayah Gunawan sejak Langit masih bayi.


"Saya bingung, gimana caranya menyampaikan pada Chaca kalo lelaki itu anak dari pria yang merebut bundanya. Agar dia mengerti bagaimana kekacauan yang pihak sana lakukan, baik itu bapak atau anaknya sama-sama memberi luka di keluarga ini." terangnya lagi sambil memijit pangkal hidungnya.


"Mbok yakin , bapak pasti bijaksana mengahadapi masalah ini!" lalu wanita paruh baya itu berlalu meninggalkan Ayah Gunawan termenung di kursi taman


*


*


"Mas... " Mentari kembali menangis saat melakukan panggilan pada Dafa.


"Iya, jangan nangis sayang!" bujuknya.


"Aku ada di depan rumah kamu Sun!" Dafa kembali berucap


"Aku nggak bisa Mas... hubungan kita bakal sulit!" lirih Mentari.


"Sabar sayang, kita berjuang untuk hubungan ini!" Dafa meyakinkan.


Kini mereka saling melambaikan tangan, Mentari di balkon dan Dafa di pinggir mobilnya.


Sungguh sakit hati kedua insan itu.


"Mas..." Panggil Mentari.


"Iya, sun..?" Dafa menjawab sambil menghisap rokoknya dia memang merokok dan mabuk jika si keadaan tertentu saja, saat otaknya benar-benar mumet.


"Ayah ngasih aku dua pilihan!"


"Pilihan Apa?" tanya Dafa


"Aku pindah kuliah ke Solo atau menikah dengan anak sahabat Ayah!" kembali di terisak setelah mengucapkan kalimat yang membuat hatinya hancur.


Dafa terpaku akan kalimat yang mentari ucapkan barusan.


"Terus kamu pilih apa?" tanyanya mencoba legowo, walaupun terasa sesuatu mencengkeram hatinya.


"Aku belum jawab, Mas. Aku bingung, aku nggak mau pisah dari kamu kali harus pindah ke Solo, tapi aku lebih nggak mau lagi menikah dengan anak Sahabat ayah?" gumamnya.


"Kamu mau berjuang untuk hubungan kita?" tanya Dafa.


Mentari mengangguk seolah Dafa bisa melihatnya.


"Aku mau, Mas!" jawabnya semangat.


"Kamu yakin? nggak akan nyesel kan? kamu beneran cinta kan sama Mas mesum mu ini?" dia mencecar pertanyaan untuk meyakinkan gadis itu.


"Aku pikirin malam ini jalan keluarnya, kamu istirahat biar aku yang urus semuanya. Besok pagi aku hubungi kamu apa yang akan kita lakukan. Beri aku waktu semalam, sabar ya sayang!" Jelas pria tampan itu meyakinkan sang kekasih.


"Tidur, jangan pikirin apa-apa. Jangan nangis juga, mata kamu makin bengkak aja!" Dia mencoba menghibur.


Panggilan pun berakhir, Mentari melambaikan tangan nya pamit sebelum menutup pintu balkon yang terhubung dengan kamarnya.


Dafa membuang puntung rokoknya yang entah keberapa saking sudah banyak nya puntung itu berserakan di bawah kakinya.


Dia tersenyum... Akan sebuah rencana gila yang tiba-tiba melintas di otaknya.


"Semoga ini berhasi, Sun kita harus berjuang bersama."batinnya.


Bersambung ❤️❤️❤️

__ADS_1


terimakasih banyak yang sudah Mampir dan mau baca🙏🙏, semoga suka di tunggu like dan komennya ya teman-teman, jangan sungkan utarain aja semua yang ada di kepala biar aku bisa memperbaiki tulisan ini menjadi lebih baik😘😘😘


sehat dan bahagia selalu untuk semua❤️❤️


__ADS_2