
...❤❤❤...
Waktu berlalu dengan cepat, sekarang usia kandungan Mentari memasuki usia sembilan bulan.
"Nanti langsung ketemu di dokter atau gimana?" Mentari bertanya di teras saat Dafa membuka pagar rumahnya hendak mengeluarkan mobilnya.
"Aku, jemput. Kamu siap-siap aja jam 4 aku udha keluar kantor, Helen ajak kita sekalian makan di luar." Katanya sambil menyingkirkan ember di dekat pagar yang akan menghalangi mobilnya.
Mentari yang merasa kegirangan langsung berlari sedikit melompat ke arah suaminya.
"Asik, bener ya." Ucapnya sedikit histeris.
"Iya, duh jangan kayak gitu perut kamu udah di bawah gitu, aku ngilu kayak yang mau jatoh." Dafa meringis sambil mendekati istrinya.
"Dih, biasa aja kali." Mentari bermanja-manja pada suaminya.
"Mas, mau ayam bakar sentul." Bisiknya dalam dekapan Dafa.
"Kejauhan sayang, nanti kamu capek." Tolak nya.
"Ahhhh... tapi pengen, udah lama banget." Rengeknya.
"Ok, sekalian bawa bekel baju aja. Takutnya kamu capek nanti kita cari penginapan atau ke Vila papa.
Mentari tersenyum lebar mendengar kata-kata Dafa.
" Asyik, akhirnya liburan." Jawabnya.
Dafa memeluknya lalu berbisik, "Kita sambil baby moon ya. Aku udah bilang belum sih, perut kamu makin gede makin bikin aku gemes." Dia menangkup wajah mentari agar melihat ke arahnya.
"Ini di luar, Mas." Dia sedikit menjauhkan wajahnya menghindari apa yang akan suaminya lakukan padanya.
"Iya, kalo gitu siap2 ntar malem, aku nggak tahan kalo cuma seminggu dua kali." Kekehnya.
"Ish, itu kamu kan yang bikin batasan sendiri." Mentari menahan tawanya.
"Abis, tiap aku nengokin baby, dia gerak-gerak jelas banget di perut kamu. Aku takut, ngilu sendiri juga." Katanya dengan meringis.
Mentari terbahak, "dia seneng di tengok ini Ayahnya."
"Ibu nya kali yang seneng." Dafa mengusak kepala Mentari lalu menariknya dan mengecupi nya.
"Aku pergi ya, biar cepet pulang." Pamitnya.
Mobil hitam itu melenggang keluar dan berlalu.
Mentari tersenyum dan masuk ke dalam rumah.
*
*
"Teh, Siap-siap ya nanti sore kita ke Bogor. Abis periksa kandungan kita ke Bogor." Dia memberi tahu Intan yang sedang memakaikan baju pada Helen.
"Iya, siap teh." Jawabnya.
Mentari berjalan ke arah lemari pakaiannya, memilah milih pakaian yang akan dia kenakan nanti.
"Bagus yang mana teh?" Tanyanya pada Intan sambil memegangi dua gantungan baju berisikan satu dress berwarna putih berhiaskan gambar bunga kecil dan berpita di dadanya, dan satu lagi tunik berwarna mustard.
__ADS_1
"Yang putih lucu teh, keliatan hamil nya." Kata Intan.
Lah pake kaos aja semua orang tau saya lagi hamil, orang badan mekar kayak gini." ucapnya sambil terkikik-kikik.
"Iya, ya. Waktu hamil Helen gini juga?" tanya Intan.
Mentari terdiam, seperti mengingat-ingat.
Lalu helaan nafas dia hembuskan menetralisir rasa sesak di dadanya jika mengingat dulu dia hamil dalam keadaan serba sendiri.
"Nggak teh, dulu saya cuma naik 9 kg. Tapi sekarang saya udah ampir 20 kg." Jawabnya
"Wah, kok bisa teh?" Intan sedikit ternganga.
"Padahal hamil yang ke dua ini di awal kan saya mabok parah sama sekali nggak bisa masuk makan sampe hampir 4 bulan lebih, tapi setelah itu kayak yang bales dendam laper terus." Ucapnya dengan tawa.
"Tapi, kata Ayahnya Helen. Saya makin gemesin." Dia terkekeh sendiri dengan ucapannya.
"Dasar gombal ya, " Katanya menatap Intan.
"Saya, belum pernah hamil. Tapi kata saya orang hamil itu aura cantiknya beda. Gimana ya cantik aja keliatannya." Menatap Majikannya.
"Iya, gitu? saya malah ngerasa minder. Apalagi kalo di depan Ayahnya Helen. Suka malu sendiri, tapi dia suka marah kalo saya ngerasa insecure." terangnya.
Intan mengangguk mengerti, "kayaknya Helen mau tidur." Intan langsung menggendongnya dan menimang-nimang Helen.
"Sini, teh kangen pengen gendong dia." Mentari menengadah kan tangannya meminta Helen.
"Berat teh,"
"Sebentar aja, teteh tolong buatin susu nya ya." titahnya.
Intan pun mengangguk dan meninggalkan kamar majikannya itu.
Sore hari nya, Mentari sudah siap dengan sebuah dress putih yang di pilihnya tadi dengan sebuah tas hitam kecil brand dunia. Lalu sebuah koper kecil berisi bajunya, baju Dafa dan Helen. Juga satu buah tas berisi peralatan makan, susu, dan dot Helen.
Intan juga sudah siap dengan sebuah ransel kecil berisikan dua stel baju dan peralatan mandi miliknya.
Helen yang sedang belajar jalan masih setia dalam pegangan Intan.
Mentari sudah mondar-mandir tak sabar, antara teras dan pagar rumah.
"Udah jam 4 lebih, bentar saya telpon dulu Ayahnya Helen." Baru mengambil ponsel nya sebuah pesan dari sang suami yang berisikan akan sedikit telat karena ada klien yang datang ke kantor nya.
Mentari menghela nafasnya, merasa sedikit kecewa. Tapi mau bagaimana ini sudah tanggung jawab kerja suaminya.
"Teh, kita naik taksi online aja yuk." Ajaknya pada Intan.
"Nggak nunggu Ayah nya Helen aja?" Intan sedikit cemas dengan sikap Mentari yang sering tak sabaran.
"Nggak lah, lama. Kita susul ke kantornya aja." Mentari mengetik sesuatu di layar ponsel nya.
Tak lama sebuah mobil berhenti di depan rumah, seorang bapak keluar dan membenarkan alamat yang dia tuju.
Mentari mengangguk membenarkan bahwa itu adalah orderan dirinya, lalu Tas mereka di bawa masuk ke dalam bagasi . Mentari masuk duluan bersama Helen sementara Intan mengunci pagar.
Mobil pun berlalu menuju kantor Dafa di bilangan pusat kota Bandung.
...-----ooo-----...
__ADS_1
Mentari berjalan memasuki kantor suaminya yang berlantai Lima, Intan memutuskan menunggu di lobby dengan tas bawaan mereka.
Beberapa pegawai menganggukan kepala dengan hormat kepada istri atasan mereka.
Ibu hamil itu pun membalas semua sapaan para pegawai sambil tangannya menuntun Helen yang berjalan tertatih-tatih.
Lift melesat ke lantai paling atas di mana ruangan Dafa berada.
Terlihat meja Bu'Dini di ujung lorong sebelum pintu ruang kerja suaminya.
"Sore, Bu'Dini. Suami saya masih ada klien?" Tanya Mentari dengan sopan.
Bu Dini langsung berdiri dari duduknya, tersenyum dan mengangguk menjawab istri bos nya itu.
"Aduh, Helen cantik banget." Wanita berusia hampir kepala empat itu berjongkok menyamakan tubuh nya dengan Helen.
Mentari tengah duduk di bangku tunggu tak jauh dari meja sekertaris senior itu.
Pintu yang sedikit terbuka membuat jiwa kepo Mentari meronta-ronta, apalagi saat suara perempuan terdengar cekikikan di dalam ruangan suaminya.
"Bu, tamu suami saya siapa?" Tanyanya.
"Kurang tau Bu, kalo nggak salah namanya Ibu Riska, dia udah beberapa kali kok konsultasi ke bapak." Jawabnya jujur.
Mentari memberanikan diri mengintip ke dalam ruangan suaminya itu, Betapa terkejutnya dia saat melihat suasana di dalam ruangan Dafa suaminya.
Saat dirinya hendak berbalik memutar tubuhnya hendak segera pergi, Helen malah berjalan ke pintu dan membuat pintu itu terbuka lebar.
"Sayang ..."
" Kok kamu nyusul nggak nunggu aku?" Dafa berjalan ke arah pintu dan langsung berjongkok menggendong Helen.
Wajah Mentari sedikit terasa panas menahan kesal, nafasnya pendek-pendek juga terdengar cepat.
"Ayo, masuk dulu. Sebentar lagi selesai kok."
Dafa seperti mengerti situasi hati istri nya.
Dafa merangkul Mentari ke kursi nya, Mendudukkan wanita yang di cintai nya itu, lalu mengelus punggung dan mengecup kepalanya seolah menetralkan amarah yang memang terpancar dari tatapannya.
Wanita yang duduk di sofa memperhatikan apa yang Dafa lakukan, pada istrinya itu.
Entah apa yang akan terjadi kedepannya yang terpenting dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar tamunya itu cepat pulang dan dia bisa menjelaskan semua agar istrinya tidak berprasangka buruk.
Dafa kembali duduk namun dengan Helen yang dia pangku, Lalu dia kembali membacakan berkas yang dia pegang.
"Anaknya itu, Mas?" Tanya perempuan bernama Riska itu.
"Iya, anak pertama saya. Yang kedua sebentar lagi lahir." Jelasnya dengan bangga.
"Masih kecil sudah mau punya adik, Mas Dafa produktif sekali." Ucapnya dengan suara yang terdengar di buat manja.
"Iya, rejeki. Nggak boleh di tolak kan!" Dafa berkata datar dan kembali ke berkas di tangannya.
Mentari mengulir layar ponsel nya asal, padahal matanya terus curi-curi pandang dan menajamkan pendengaran nya. "Mas ... Mas, seakrab apa sih kalian?" Gerutunya dalam hati.
"Lah, Anak-anak gue. Ngapain lu repot mikirin hamil gue, dasar ulet bulu bikin gatelll." Dengusnya kesal.
Bersambung ❤❤❤
__ADS_1
Terimakasih🙏🙏, jangan lupa komen, like, sama Favoritnya ya yang belum di klik.
Sehat dan bahagia buat semua😘😘😘