Kisah Mentari

Kisah Mentari
Sama-sama mau


__ADS_3

❤❤❤


"Udah ngomel nya?" Mentari diam menghentikan langkahnya berjarak dari Dafa.


Malam itu udara dingin sekali, sisa hujan masih terasa dan Dafa sangat ingin memeluk wanita cantik di depannya.


Dafa merentangkan tangannya berharap mendapatkan pelukan dari wanita yang dia rindukan beberapa bulan ini.


Mentari berlari menghambur ke arahnya. Dia pun sangat ingin memeluk suaminya itu, dia pun sama rindunya dengan Lelaki di depannya.


Mereka saling berpelukan, Bahkan Dafa mencium singkat bibir Mentari.


"Eh ... apa ini? dia memegang sesuatu yang terasa menyembul di bawah sana."


Mentari tertawa melihat wajah Dafa.


"Apa ya?" Dia balik bertanya.


Mentari membuka resleting jaketnya.


Dafa mendekatkan kepalanya mengintip ke dalam jaket yang sedikit terbuka.


"Astaga ... Ada anak Ayah." Wajahnya berbinar melihat kepala Helen yang menyembul tengah mendongak ke atas menatap wajah kedua orang tuanya.


Helen di gendong menggunakan gendongan kaos yang membelit tubuhnya dan ibunya, sehingga dia hangat karena menempel di tubuh Ibu nya.


Mata bening bercahaya itu semakin indah di bawah cahaya bulan, Dafa menunduk menciumnya gemas, kedua tangannya melingkari pinggang Mentari.


Helen tersenyum saat mendapatkan ciuman bertubi-tubi dari Dafa. Seolah dia tau bahwa lelaki yang menciumnya itu adalah Ayah nya yang telah lama dia nanti-nantikan.


"Ishhh, senyum kamu nak. Ayah meleleh, maaf ya terlambat nemuin kalian." Dafa berucap dengan mata yang berkaca-kaca.


"Jarang loh dia senyum ke orang, cuma ke orang rumah sama ke Sri doang. Biasanya orang baru nyapa dia langsung nangis." Kata Mentari yang ikut tersenyum melihat interaksi Ayah dan anak itu.


Dafa tersenyum memandang Mentari, "aku, kan Ayah nya. Dia pasti tau lah." Ucap nya bangga.


Mentari mengusap pipi Dafa, "maaf ya, aku terlalu lama menghindar dari kamu,Mas." Lirihnya menyesal.


Cup...


Dafa kaget mendapatkan sebuah ciuman singkat dari Mentari. Namun hanya sesaat, dia langsung tersenyum "Iya, nggak apa-apa, yang penting sekarang dan kedepannya."


"Masuk mobil, dingin." Ajaknya.


Lalu dia menggiring Mentari memasuki mobil.


"Kita, pulang ke rumah kita!" Dafa menatap ke arah Mentari meminta persetujuan.


"Iya, mau kemana lagi!" Kekehnya.


"Eh, tapi ke butik dulu ya. Aku nggak ada bawa baju Helen. Di butik bajunya lumayan banyak." Ujarnya.


"Siap, Bun." Dafa menyalakan mobilnya.


"Kok, Bun? aku pengen Ibu." Mentari merengek pada Dafa.


Dafa menoleh ke arah istrinya itu, lalu tersenyum. "Ok, Bu." Jawabnya dengan senyum lebar.


*


*


Di jalan hening, hanya senyuman yang sesekali berbalas.


Helen dengan tenang nya mengecap dada ibunya, kakinya seperti biasa dia gerak-gerakan dengan lucunya.


Dafa sesekali menggelitik kaki mungil itu.


"Bahagia nya luar biasa, kayak aku punya apa gitu!" Kata Dafa yang tangannya memegang kemudi dan sebelah lagi mengusap puncak Kepala Mentari.


"Seneng punya boneka hidup ya?"


Mereka saling pandang dan tertawa bersama.


Dafa masih mengelus perutnya.


"Masih sakit, Mas?" Mentari bertanya khawatir.


"Iya, sedikit. Aku laper, tadi keluar semua makanan dari kamu!" Dafa menyengir.


"Maaf, kak Bintang udah keterlaluan banget." Mentari merasa malu akan sikap kakaknya itu.


"Maaf, terus. Kayak Lebaran aja." Dafa mencairkan suasana.


"Beli, bahan masakan sama keperluan Helen di supermarket depan. Baru jam delapan masih buka kayaknya," usul dafa.


Mentari mengangguk, "beli apa aja?" tanyanya.


"Bahan makanan kita, Terus keperluan Helen."


"Baju nya kan mau di ambil di butik, pokoknya paling sama alat-alat mandi." Mentari menerawang apa saja yang Helen butuhkan


"Yang lain bisa beli, tapi ini nggak." Dafa berkata sambil tangannya mengelus dan mencubit gemas bulatan padat milik istrinya yang tengah di hisap anak mereka.

__ADS_1


"Ck, modus." Menteri menepis tangan Dafa yang menjahili dirinya.


"Duh, Sun. Aku kangen pake banget, udah lama banget ya ampunn .... takut jadi pasta nih kelamaan ntar mampet kamu yang rugi." Ucapnya mendramatisir.


Mentari tertawa, dan menggelengkan kepalanya.


Otak mesum suaminya sudah mulai menggoda.


"Apa, sih!"


"Iya, itu aku kangen banget. Duh ... tuh pegang deh dia menggeliat bangun," Dafa mengambil tangan Mentari dan menggenggam kan nya ke celah paha nya.


"Egghh ... " Dafa mengerang. "Kangen Sun, aku pengen." wajah nya memelas menatap Mentari seolah memohon.


"Nanti, sekarang ke supermarket dulu. Tuh udah keliatan." Dia menarik tangannya dari sesuatu milik suaminya yang memang sudah mengeras.


Dafa menggerutu kesal, dia menggaruk kepalanya frustasi.


" Minta kiss buat pemanasan aja,Sun."


Dafa menarik tengkuk Mentari dan melu*mat bibirnya sedikit rakus dan memburu.


Rengekan Helen di bawah mereka membuyarkan pautan itu.


"Nak, Ayah kangen Ibu kamu. Ishhh Helen, ganggu aja." Dafa menciumi pipi Helen, bayi itu tertidur tapi bibirnya merengek manja.


"Nanti, tidur yang nyenyak ya. Ibu sama Ayah mau pacaran." Bisik Dafa.


"Ucapan yang baik dong kalo ngomong sama anak!" Mentari menepuk punggungnya.


Dafa menyeringai mendengar omelan istrinya.




Mereka pun turun dari mobil dan berjalan memasuki supermarket cukup komplit dan besar di daerah itu.



"Kok, bisa keluar dari rumah?" Dafa bertanya sambil mendorong sebuah troli belanja.



"Kak Bintang pergi nggak tau kemana, Abang di kamarnya. Kesempatan aku bisa kabur." Dia terkikik



Dafa sedikit melamun, seperti nya dia akan kembali mendapatkan masalah. "Besok gimana besok yang penting sekarang dia bahagia dengan anak istrinya. Dia akan memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin." cicitnya dalam hati.




Mereka keluar dari supermarket dengan beberapa keresek yang Dafa tenteng.



Memasuki mobil dan melaju menuju butik untuk mengambil baju-baju Helen.



\*


\*



Pak Aep terlihat kaget saat mendapati bos nya itu datang malam-malam.



"Ada yang ketinggalan, Teh?" tanyanya.



"Iya, Pak." Jawabnya singkat.



Mentari masuk ke dalam dengan Dafa yang mengekori sambil menggendong Helen.



"Sun ... " Dafa memanggilnya.



"Heumm ... ' Mentari menjawab sambil memilah pakaian Helen ke dalam sebuah tas bayi yang tadi dia beli di supermarket ternama tadi.



Mentari yang tengah serius memasukan baju Helen dan posisinya yang sedikit menungging malah membuat Dafa tak karuan, Dia semakin gelisah saat sesuatu nya terus mendesak sesak di bawah sana.

__ADS_1



" Sun, Helen. Berat nih, aku taro di box ya!" Alasannya.



"Iya," Mentari mengiyakan tanpa melihat ke arah suaminya.



Dafa langsung menidurkan Helen di box nya, menyelimuti tubuh mungil itu yang meringkuk lucu.


Dia berlari ke arah pintu dan langsung menguncinya.



Pergerakannya yang pelan dan cepat, hingga istrinya itu tidak menyadari akal bulus nya.



Mentari masih sibuk menata Pakaian Helen masih dengan posisi menungging nya.



Dafa mendekati memegang pinggangnya dan menggesekkan sesuatu di belakang tubuhnya.



Mentari tersentak akan pergerakan Dafa. "Mas ... kamu ihhh. " Dia membalikan tubuhnya hendak protes.



Dafa yang sudah tidak kuat lagi menahan, malah menyeringai dengan mata yang sudah sayu, "sekarang ya, aku pengen banget kamu. Nggak tahan." Bisiknya.



Lalu dafa memulai dengan menempelkan bibirnya mulai memagut dan menghisap nya dengan keras dan terburu-buru, lidahnya sudah berkelana di dalam sana.



Nafas yang semakin memburu dia antara mereka, menandakan keduanya telah siap melakukan sesuatu yang lebih dari ini, keduanya sama-sama menginginkan.



Dafa menggiring tubuh istrinya ke arah sofa bed yang telah dia atur senyaman mungkin.



Mendudukkan tubuh mereka, dan kembali saling menautkan bibir, dengan tangan yang sudah berkeliaran kemana-mana.



Bahkan dafa telah melepaskan kemejanya dengan mudah. Lalu mulai melucuti kaos berkancing milik Mentari.



Lenguhan dan suara desa\*an saling bersautan di ruangan itu, di luar kembali terdengar suara rintik hujan yang kembali membasahi bumi. Malah menambah syahdu nya acara temu kangen mereka.



Mentari mengusap dada Dafa yang sudah polos, bibir mereka masih saling menghisap dengan lidah yang membelit di dalam nya, delapan saking bersahutan. Dafa semakin gila akan keinginan nya yang sudah sangat mendesak nya.



"Sekarang ya!" pintanya pada sangat istri.



Mentari hanya mengangguk malu, saat melihat ke tubuhnya tinggal pakaian dalamnya saja. "kapan ini pada lepas?" tanyanya heran pada Dafa.



"Lah, nggak sadar? pasti saking enaknya ya? baru start itu, kamu udah amnesia. " Dafa terkikik melihat raut malu Mentari.



Lalu mereka kembali saling memagut, dan lembaran kain penutup terakhir sudah lepas dari tubuh mereka.



**Bersambung ❤❤❤**



**Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰**



**Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘**



**Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤**

__ADS_1



**Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir 🙏🙏, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain🥰🥰**


__ADS_2