Kisah Mentari

Kisah Mentari
Kehangatan sebenarnya


__ADS_3

❤❤❤


Mentari terbangun saat Helen di sebelah nya merengek kecil, Dia terbangun bersamaan dengan Dafa yang juga ikut bangun.


"Kenapa?" tanyanya dengan wajah bantal dan suara khas bangun tidur.


"Mungkin haus," Mentari bangun dan segera menggendong tubuh Helen ke pangkuannya.


Dia coba memberikan asi, namun Helen tetap merengek.


"Ada yang bisa aku bantu nggak?" Dafa yang juga terduduk di sebelah nya.


Mentari menoleh ke arah suaminya itu, lalu mengelus pipi suaminya itu.


"Kenapa?" Dafa menatapnya aneh.


"Aku, ingin membayar semua malam-malam yang kalian lewati." Dafa mengecup pundak polos sang istri.


Mentari terharu dengan ucapan suaminya itu, "Yang penting malam-malam selanjutnya. Kamu tetap memeluk kami seperti ini." Dia menyandarkan tubuhnya yang tengah memeluk Helen ke dada bidang Dafa.


Dengan sekali pelukan dia bisa langsung memeluk tubuh Mentari dan Helen dalam pelukannya itu.


"Maaf, untuk semua perjuangan kamu, yang nggak bisa aku temani." Dafa kembali berbisik.


Dini hari yang sangat syahdu, untuk keluarga yang baru kembali bersama itu.


***


Helen masih merengek kecil, "Mau apa sih nak?" Mentari masih mengayun-ayunkan tubuh montok Helen.


"Coba, sama Ayah." Dafa merentangkan tangannya meminta Helen dari tangan istrinya.


Dan benar saja Helen terdiam dengan menatap wajah Dafa.


"Mau, sama Ayah? iya? " Dafa bertanya seolah putrinya itu mengerti apa yang dia bicarakan.


Mentari tersenyum menatap ke intiman Ayah dan anak itu.


"Aku, kayak mimpi. Melihat kalian seperti ini. Aku kira suatu hal yang mustahil." Mentari mengusap air mata yang akhirnya jatuh juga menetes di pipinya.


Dafa memajukan wajah nya melu*mat bibir itu , dengan tangan yang masih mendekap tubuh putrinya.


Sungguh kegiatan romantis di bawah selimut, di waktu dini hari hampir subuh itu.


Helen kembali merengek, Mentari memegang Popoknya namun masih ringan tandanya dia belum terlalu banyak mengompol.


Lalu, Dafa mencoba bangkit dan mulai menimang-nimangnya. Dan benar saja, Helen mulai memejamkan matanya. Dafa dengan tubuh polos nya berdiri menimang-nimang Helen. Malah membuat Mentari malu sendiri.


"Astaga ... " Dia membatin.


Suaminya berdiri di depannya, dengan dada bidang, paha yang berisi dan berotot, dan anu ... (kalian nggak usah bayangin, ntar mau).


Mentari terkikik pelan, namun saat Dafa melihat ke arahnya, dia langsung pura-pura tidur.


Agak lama Dafa menimang Helen hingga benar-benar tertidur dan menidurkan nya di box bayi. Menyelimuti tubuh anaknya yang meringkuk lucu.




Dafa berjalan menghampiri sofa dimana istrinya itu meringkuk.



Kemudian ikut bergabung dalam sehelai selimut itu.



Mentari yang memang sedang pura-pura tidur, seketika jantung nya berdebar. Merasa asing kembali dan terasa masih malu-malu.



"Sun?"



"Hemm ... Apa Mas?" Mentari membuka matanya perlahan seolah dia memang sudah tertidur.



"Aku, nggak enak badan nih. Agak meriang!" Ucapnya sambil menelusup masuk ke ceruk leher sang istri.



Mentari yang merasakan hembusan nafas suaminya itu terasa panas menyapu kulit lehernya.



"Kamu, demam. Mas!" Dia memegang dahi itu.



Dafa memejamkan matanya. "Kepalaku, berat banget." Ucapnya lagi.



Mentari langsung beringsut akan bangun mencari obat yang bisa menjadi penolong awal.



"Ngga usah, peluk aku aja." Pinta Dafa dengan kembali menarik lengan istrinya.



Mentari menuruti, dia memeluk Dafa dan mengusap punggung suaminya yang sedang tidak enak badan itu.



Bagaimana tidak sakit, setelah kemarin sore dia kehujanan, terus di hajar kakaknya, dan terakhir tidur tidak menggunakan pakaiannya. Di saat udara Bandung sedang dingin sekali.



"Seenggaknya, pake baju. Mas." Tangannya masih setia mengelus punggung lebar milik suaminya itu



"Nggak usah, nanti di buka lagi. Percuma. Aku cuma mau istirahat sebentar." Jawabnya masih dengan mata tertutup.



Mentari menggeleng sembari tersenyum, dengan apa yang dia dengar dari mulut lelaki yang tengah manja dalam pelukannya.



\*


\*


\*



Pagi hari ...



Keadaan ruangan itu sedikit riuh.



Mentari yang baru saja selesai mandi setelah kembali melakukan aktivitas bersama Dafa, masih dengan tema *temu kangen merajut asa*.



"Mas ... buruan dong, mandi. Sebelum para karyawan dateng. Masih gitu aja!" gerutunya kesal melihat Dafa yang masih bergelung di bawah selimut dengan tubuh polosnya itu.



"Aku, sakit loh ini. Kamu nggak ngertiin aku banget." Gumamnya.

__ADS_1



"Hilih, masa minta dua kali. Yang gitu sakit?" Mentari mencebik sebal.



Dafa tertawa di balik selimut, "wajar, Sun. aku kangen berat sama kamu, sekarang jadi kangen ringan." jawabnya asal.



"Cepet, katanya mau ke rumah dulu, sebelum ke rumah Ayah."Mentari telah menyelesaikan mendandani Helen dengan cantik.



" Di tungguin dulu nih anaknya, aku mau bikin kopi dulu ke dapur." Titahnya sambil menggoyangkan kembali pundak Dafa yang masih polos tertutup selimut.



"Kamu, ngomel mulu, sih!" Dafa menggenggam tangan Mentari yang berdiri di sebelah nya.



"Kesell, dada aku sakit perih banyak tato lagi. Nanti aku nggak bisa ngasih Asi Helen leluasa." Mentari cemberut, dia kesal saat tadi mandi menatap pantulan dadanya yang banyak terdapat banyak bercak merah ke unguan hasil karya suaminya itu.



Dafa terbahak, saat ingat tadi subuh dirinya dan Helen sama-sama menghisap dada Mentari, namun dia tak menghisap chococips nya, karena sedang banyak-banyaknya asi keluar.



Walaupun sebenarnya di bolehkan asal niat tujuannya untuk kepuasaan istri, namun melihat Helen yang menghisap dengan menatapnya sinis, Dafa seolah mengerti bahwa putrinya itu tengah mengultimatum dirinya yang tak boleh merebut hak miliknya.



"Iya, maaf. Aku kelepasan, Sun." Ucapnya tersenyum sambil jemarinya mengelus punggung tangan istrinya itu.



"Ck ... buruan bangun, mandi. Kita langsung pergi ke rumah. Sebelum karyawan pada dateng, malu rambutku basah." Ucapnya ketus sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.



"Malu, tadi mata ampe tinggal putihnya doang, saking ke enakan." Gumamnya sambil tertawa, tentu saja Mentari tak mendengar nya.



\*


\*



Mentari kembali, dengan Dafa yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuh bagian bawahnya.



Mentari menyimpan dua cangkir kopi itu di atas meja, dia melihat ke arah box tempat Helen dia tinggalkan tadi.



![](contribute/fiction/2759267/markdown/6992415/1638387302897.jpg)



"Dia tidur lagi, padahal dada aku udah penuh lagi." Mentari berucap sambil mengelus dadanya.



Dafa yang telah selesai mengenakan pakaiannya, menghampiri, " Cantik ... "



"Huum, lucu banget. Kadang aku nggak nyangka dia yang gerak-gerak di perut aku, yang bikin aku selalu mual." Mentari mengelus lembut pipi bayi cantik mereka.



Dafa melingkar kan tangannya dan mencium pipi Mentari.




Mentari memejamkan matanya, sungguh ucapan Dafa sangat hangat menyelimuti hatinya. Dia tidak menyangka akan kembali pada Dafa secepat ini.



\*\*\*\*



Mentari turun dari mobil, menatap haru rumah yang ditinggalkan nya berbulan-bulan itu. Masih sama tidak ada yang berubah, bahkan jajaran pot bunga mawar nya pun masih terawat.



"Kamu, Mas. Yang urus bunga-bunga aku?" Mentari menghampiri taman kecil mereka.



"Bukan lah, ada orang dua hari sekali dateng buat rawat bunga kamu, karena aku yakin kamu bakal kembali." Dafa merangkul pundak istrinya sambil tangan sebelah nya menenteng bungkusan dua porsi nasi kuning yang mereka beli di depan jalan sebelum memasuki gerbang perumahan.



"Yuk, masuk. Biar Helen kenalan sama rumahnya." Dafa menggiring Mentari dan Helen yang matanya tak lepas memandang tempat baru untuknya.



Dafa bolak-balik memasukan barang Helen dari mobil ke kamar mereka. Sementara Mentari tengah berbaring sambil memberi asi Helen.



"Sun, udah? yuk, kita makan dulu." Ajaknya.



"Bentar, kayaknya anaknya udah tidur, tapi nggak mau lepasin enen nya." Mentari berusaha menarik dadanya yang masih di tempeli Helen.



Suaminya telah duduk di meja makan, dengan dua piring sebagai alas kertas nasi berisikan nasi kuning mereka.



"Udah?" tanyanya saat Mentari berjalan mendekat.



"Ya, aku udah di sini berarti udah." Lagi-lagi istrinya itu menjawab dengan ketus.



Dafa hanya tersenyum, mendengar kata-kata sinis dari istrinya itu.



Mereka pun makan dengan tenang, di temani gombalan Dafa dan TV yang menyiarkan kartun anak kembar yang selalu di ulang-ulang sampai dialog nya kita sudah hapal.



"Mau berangkat kapan?" Tanya Mentari.



"Sebentar lagi, jam 10 mungkin. Pengen tidur sebentar." Jawab Dafa



Mentari hanya mengangguk kecil lalu berjalan ke arah bak cuci piring dengan peralatan makan bekas mereka pakai.


__ADS_1


\*


\*



Dafa dan Mentari duduk di sofa sambil memainkan ponselnya masing-masing, sesekali pandangan Mentari tertuju pada TV.



"Udah ngomong sama Bunda?" Dafa menoleh ke arah istrinya itu.



"Belum, paling kak Bintang udah bilang." Jawabnya yakin.



Dafa merebahkan kepalanya di pangkuan Mentari.



"Tidur di kamar gih!" Mentari mengusap kepala suaminya itu.



"Yuk,"



Mentari menunduk dan menatap suaminya heran, "kemana?" tanyanya.



"Tidur ... "



"Tidur doang kok!" Tambah nya lagi.



Mentari tak menjawab, feeling nya mengatakan lain soal ajakan *tidur* dari suaminya itu.



Dafa bangun dan menarik tangan istrinya untuk mengikuti nya.



"Kok, ke kamar tamu." Mentari terheran saat dafa menariknya bukan ke kamar di mana Helen berada, tapi ke kamar belakang yang menghadap ke kolam ikan dan taman mawar miliknya.



Dafa tak menjawab, tangannya terus menuntun Mentari.



"Helen ... " Mentari mencoba mengalihkan konsentrasi Dafa.



"Aman kan, kamu udah bikin benteng dari guling sama bantal." Dafa kembali mencumbui dirinya.



Mentari pasrah saat lagi-lagi Dafa meloloskan pakaiannya, "Dih, yang sakit." Mentari mendelik sebal.



Dafa terkekeh sambil menurunkan celana jins nya.



Mereka saling membalas pautan itu, hanya dengan pakaian pembungkus terakhir yang tersisa di tubuh mereka.



Suara lengu\*an dan desa\*an saling bersautan di ruangan itu.



\*



\*



Sedangkan di rumah keluarga Gunawan.



Bunda sedang hilir mudik mencari keberadaan putri dan cucu nya.



"Nggak ada yah ... "



"Jalan-jalan pagi kayaknya!" jawab Ayah sambil membaca surat kabar yang baru saja dia ambil di sela pagar rumah.



"Masa, baru jam tujuh. Pasti Bunda liat mereka turun, telpon nya juga nggak di jawab." Bunda masih panik.



"Ayah ... " rengeknya.



"Ya, udah nunggu ampe agak siangan. Baru kita cari keluar." Usulnya.



Bunda malah ikut duduk di kursi sebelah suaminya yang tengah membaca surat kabar.



"Teh nya dong bunda, sama pisang goreng. Bawa sini." Pintar Ayah.



"Tenang gitu, anak cucu nya nggak ada." Gerutu Rima pada suaminya, namun sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.



**Bersambung ❤❤❤**



**Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰**



**Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘**



**Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤**



**Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir 🙏🙏, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain🥰🥰**


__ADS_1


**semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong segera meledak dan banyak yang tersesat baca Aminnnn 🤲🤲**


__ADS_2