Kisah Mentari

Kisah Mentari
Membandingkan ukuran


__ADS_3

...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Hari itu bukan menjadi hari kerja yang tenang untuk Mentari, Helen yang di titipkan tak membuat kerjanya tenang. Dafa meneror nya dengan pesan-pesan berisikan rasa penasaran atas gaya apa yang dia idamkan nya semasa hamil. Bersyukur nya suaminya itu menghadapi beberapa meeting dan bertemu beberapa orang untuk konsultasi hukum padanya. Terbayang jika suaminya itu senggang sudah pasti dia akan menyatroninya dan terus akan mendesak nya.


"Ampun, bisa gilaaaa ini." Gumamnya setelah membaca pesan suaminya yang sudah mencapai puluhan.


Dia mematikan ponselnya, lalu fokus berkerja. Tak terasa jam makan siang pun tiba, Iki si pegawai gemulai nya, masuk membawa sebuah bungkusan.


"Kiriman teh, dari si kasep (si tampan) " ucapnya sambil menyimpan bungkusan itu.


Mentari yang baru duduk setelah mondar-mandir di depan manekin bersama salah satu penjahit unggulannya.


Menarik bungkusan itu, ada nasi goreng ayam dan semangkuk salad buah. Tak lupa note nya " Gaya, apa sih? aku nggak bisa fokus kerja."


"Ampunnnnn ... nyeselll, ini aku harus ngomong nya gimana, nggak ngomong di teror, ngomong pasti di ledek." Dia menggaruk-garuk kepalanya frustasi.


Mentari merampas bungkusan nasi goreng itu, dan lahap memakannya. Perutnya terasa perih dan kosong, karena baru saja dia memeras asi nya dua kantong berisi 90 ml dan 110 ml asi, untuk di kirim ke rumah Bundanya, karena persediaan asi Helen habis. Dan anaknya itu merengek ingin tidur sambil menghisap susunya pasti.


Setelah menyelesaikan makannya, dia kembali mengerjakan design untuk gaun bulan depan, yang pengerjaannya sudah mulai di kerjakan.


Tak terasa waktu sudah hampir jam dua siang, Mentari terburu-buru membereskan mejanya. Lalu berlari pamit pulang karena orang tuanya pasti sudah bersiap pergi.


"Teh ... " Panggil Iki.


"Besok, aku kerjain lagi ki. Sekarang aku ditunggu Helen. Nggak ada yang jaga." Lalu dia keluar dari butik nya dan segera berlalu dengan mobil sedan hitamnya.


*


*


Mentari baru sampai di depan rumah orang tuanya, suara Helen yang melengking terdengar sampai ke halaman rumah. Dia berlari masuk ke dalam, ingin segera menemui Helen.


"Kenapa, Bun?"


"Nggak tau, dari tadi rewel terus. Nangis yang nggak ada air matanya, nangis manja." Bunda memberikan bayi montok itu pada Ibu nya.


Helen masih terus merengek walaupun sudah di gendong Ibu nya.


Mentari sambil berjalan ke arah kamar mandi, mengusap dadanya dengan lap basah agar bersih sebelum di berikan pada Helen.


Helen hanya menggeliat saat Mentari menyodorkan puncak dadanya yang biasa langsung di lahap rakus, kini mati-matian di tolak bayi itu.


Bintang yang baru saja datang, menghampiri ponakannya yang sedang merengek dengan meronta-ronta.


"Kenapa, anak papi?" tanyanya sambil mencoba menggendong bayi itu.


"Nggak tau, nangis terus tapi di kasih susu nggak mau!" Jawabnya pada sang kakak.


"Ini, dot banyak banget." Tunjuk nya pada jajaran dot kosong bekas Helen.


"Iya, mau. Tapi aku kasih asi langsung nggak mau," Mentari ikut bangun melihat anaknya yang tengah di gendong kakaknya itu.


Bintang menatap adiknya, "Liat bapaknya kali, jadi ogah bekas bapaknya." Lalu dia tergelak kencang dengan ucapannya sendiri.


Seketika wajah Helen memanas menahan malu, mendengar ucapan gila dan frontal dari kakaknya. Helen pun malah semakin kencang mendengar suara tawa Papi nya.


Dengan menahan malu, mentari mengambil Helen dan membawanya ke atas, masuk ke kamar nya.


Bintang yang masih tertawa terbahak-bahak, mendapat sebuah pukulan dari Ayah yang baru keluar dari kamar nya.


"Ishh ... sakit, Ayah." Dia mengusap pundaknya yang terkena pukul.


"Mau, kemana Yah? udah rapih!" Bintang mengikuti Ayah nya yang berjalan menuju teras.

__ADS_1


"Mau, Checkup sama Bunda." Jawab lelaki paruh baya itu sambil duduk di bangku teras rumah besar itu.


Bintang celingukan melihat keadaan sekitar, lalu mencondongkan tubuhnya.


"Yah, mau nanya!"


Ayah menoleh ke arahnya, "Apa?" jawabnya ketus.


Lalu, Bintang kembali melongokan tubuhnya ke arah dalam rumah. Merasa aman dia kembali mendekati Ayah nya.


"Ayah, size punya ayah berapa?"


Ayah Gunawan menatapnya dengan kening mengerut, bingung sendiri dengan apa yang di tanyakan anak ke dua nya.


"Size apa?"


"Ukuran, itu!" tunjuk Bintang dengan matanya tertuju pada bagian senjata air milik Ayah nya.


Lelaki paruh baya itu langsung memelototkan matanya pada sang anak. "Budak edyannnn. Buat apa kamu nanyain ukuran Ayah?" Dia mengejar anaknya dengan sebuah gulungan koran di tangannya.


"Ampun Yah, aku pengen tau aja punya aku normal nggak?" Dafa berlari masuk ke dalam rumah, hingga Bunda nya keluar dari kamar dan dia bersembunyi berlindung di balik tubuh Bunda nya.


"Apa, sih? kalian berantem terus." Bunda berteriak karena kesal dengan kelakuan manusia beda generasi itu.


"Ayah, marah-marah Bunda. Aku cuma nanya doang." rengek nya masih di belakang tubuh bunda nya.


"Bunda, Apa yang dia tanyain? Bunda tau nggak?" Ayah berucap dengan suara yang manis mendayu.


Bintang memperagakan bakal seseorang yang sedang muntah.


"Nanya apa emang?" Bunda balik bertanya.


"Masa bocah semprul itu nanya ukuran panjang senjata Ayah!" ucap ayah setengah berbisik.


Hanya cengiran khas yang anaknya keluarkan.


"Kasih tau, aja Yah!" Bunda mengedikkan matanya pada suaminya yang tengah menatapnya tak percaya.


Seketika ayah membaca drama yang akan di permainkan istrinya itu. Lalu terlintas ide gila untuk membungkam mulut nyinyir anaknya itu.


"Liat, lantai di bawah kamu." Tunjuknya pada lantai yang mereka pijak. Dan Bintang menuruti menunduk menatap lekat lantai yang ada di bawah kakinya.


"Ukuran berapa centi itu?"


"Ayah setengah nya dari itu." tambahnya lagi.


Bintang berjongkok lalu sedikit mengira, ukuran berapa kotak lantai keramik itu.


"40cm kayaknya, Yah. Berarti Ayah ... " Dia yang berjongkok mendongak menatap ayahnya yang menjulang tinggi di atasnya.


"Gimana? keren kan?" bangganya lalu terkekeh merangkul Bunda keluar dari untuk segera pergi ke rumah sakit.


Bintang tertunduk menatap lantai.


"Nggak mungkin ... " Lirihnya.


*


*


Mentari yang baru berhasil menidurkan Helen, menuruni tangga menatap aneh pada kakaknya yang terduduk di lantai.


"Apa yang nggak mungkin kak?" tanyanya, ikut berjongkok di dekat kakaknya.

__ADS_1


Bintang menatap dengan wajah memelas, merasa insecure.


"Kenapa?" tanyanya lagi.


"Cha, laki lu. Ukuran anunya berapa? maksud gue panjangnya berapa? pernah lu ukur nggak?" Tanyanya dengan wajah biasa tak tau malu.


Mentari bangkit lalu melengos duduk di sofa, dan bersungut-sungut mendengar pertanyannya sinting kakaknya.


"Cha? please bantuin gue. Gue penasaran, masa iya ayah ukurannya 20 cm. Lah gue jauh kagak nyampe." Dia menguncang tubuh adiknya.


"Aku, nggak pernah kepikiran buat tau ukuran. Yang penting ... enak." lalu dia terbahak-bahak melihat reaksi kakaknya yang melongo mendengar jawaban spotan nya.


"Kamu, gila udah mahir banget kek nya!" Bintang menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, dengan hati yang mencelos.


"Ngapain sih, kakak pengen tau ukuran orang lain?"


"Karena, Naya janda. Gue takut di bawah standar lakinya, jadi gue harus punya pegangan apa yang bisa di banggain gitu. Biar nggak insecure, entah itu ukuran, durasi gue belum tau yang mana yang bisa gue banggain di depan Naya.


Mentari kembali tertawa saat mendengar curhatan, dari kakaknya. " Dan, Kak Bintang percaya ukuran Ayah?"


Bintang mengangguk kecil, masa iya gue harus ngukur sendiri. Yang ada gue di gaplok pake panci, nanya doang gue di kejar-kejar pake koran." Dia meringis mengingat kelakuannya tadi.


"Iya, pasti lah. Lagian nggak ada kerjaan banget sih ke orang tua nanya gitu." Dia memukul paha kakaknya.


"Udah lah, aku mau beres-beres. Mau pulang udah sore." Lalu bangkit berjalan menuju tangga.


"Cha, please. Kalo lu main, inget gue. Biar Kakak lu yang sholeh ini nggak penasaran." Teriaknya.


Mentari hanya menggeleng mendengar perkataan kakaknya, "Sholeh ... soek(sobek) kali." Kekehnya.


*


*


Mentari masuk ke kamar, melihat Helen yang masih nyenyak tertidur. Dia tidak tega membangunkan jadinya dia malah merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil menyalakan kembali ponselnya.


"Deretan pesan langsung masuk saat ponsel itu aktif kembali , tak lama ponsel pun berdering.


" Ya, Mas!"


"Aku, mau ke Bogor sore ini. Mau sekalian ikut?"


"Oh, kok. Ngedadak?"


"Iya, ada jadwal ketemu investor di jakarta, sekalian aja kita ke vila Papa. Kamu aku tinggal di sana, mau ikut nggak?" tanyanya.


"Mau, mau... Aku masih di rumah Ayah, aku pulang sekarang!" Dia langsung bergegas membereskan perlengkapannya dan langsung menggendong Helen yang masih nyenyak.


Mentari menuruni tangga, "Kak. Aku pulang. Mau ke Bogor. Mau ketemu Kakeknya Helen." Pamitnya sambil tergesa-gesa berjalan ke arah kakaknya.


"Pasti mau indehoy di sana, jangan lupa ukur. Penasaran banget nih gue."


"Dasar, gilaaa!" Mentari menggerutu sambil keluar dari rumah.


Bersambung ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


Terimakasih yang sudah mampir๐Ÿ™๐Ÿ™, semoga suka๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ๐Ÿ™๐Ÿ™, cuma buat rame2 aja๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaโค


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ๐Ÿ™๐Ÿ™, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn ๐Ÿคฒ๐Ÿคฒ

__ADS_1


__ADS_2