Kisah Mentari

Kisah Mentari
Janji dengan Naya


__ADS_3

❤❤❤


Bintang berlarian menuju ke arah parkiran, namun tanpa sengaja dia menabrak seorang wanita muda. Dan membuat beberapa kertas yang dia dekap jatuh dan berserakan.


"Maaf, saya nggak sengaja." Bintang ikut memunguti kertas yang berantakan akibat ulahnya yang menabrak si pemilik kertas itu.


"Nggak apa-apa, Mas." Jawabnya dengan suara lembut namun menggetarkan hatinya yang mudah terbuai oleh suara-suara se tipe itu.


Pandangan matanya menatap wajah wanita muda di depannya, wajah perempuan itu terlihat sembab seperti menangis dalam waktu cukup lama, pikirnya.


Bintang mengambil salah satu surat yang berada di dekat kaki nya.


"Surat kematian" Gumamnya.


"Maaf ... " Perempuan berwajah sendu itu menjulurkan tangannya meminta secarik kertas yang masih Bintang pegang.


"Oh, ini." Dia pun memberikannya.


"Maaf, ya!" Bintang kembali meminta maaf.


Hanya anggukan dan dia pun berlalu ke arah sebuah motor matic tak jauh dari tempat mereka bertabrakan tadi.


Melewati nya ynag masih setia memperhatikan perempuan cantik namun terlihat jelas kesedihannya itu.


"Siapa ya, yang meninggal nya?" Gumamnya penasaran.


Sebuah tepukan di bahu membuyarkan lamunannya.


"Mas, maaf nunggu lama ya?" Naya berkata tepat di sebelah nya.


Bintang terlihat melongo saat melihat tampilan Naya yang sangat berbeda saat tak memakai seragam putihnya.


Naya mengenakan kaos hitam yang di lapisi cardigan coklat, ke bawahannya menggunakan rok berbahan tile selutut berwarna coklat yang lebih muda dari cardigan nya.


"Cantik dan segar." Batinnya memandang kagum gadis di depannya itu.


"Yuk, mau kemana kita?" Bintang bertanya sambil berjalan ke arah mobilnya.


"Maksudnya?" Naya mengernyit tak mengerti.


"Eh ... itu, maksudnya alamatnya rumah kamu di mana, Naya." Bintang meralat apa yang dia ucapkan sebelumnya.


Naya tersenyum sambil masuk ke dalam sedan hitam milik pria yang baru di kenalnya itu.


Bintang pun menjalankan mobilnya setelah Naya memberi kan alamat rumahnya.


*


*


Hening di dalam mobil itu, mereka larut dalam kecanggungan.


Bintang dan Naya sepertinya sama-sama sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.


Lalu keduanya menoleh secara bersamaan.


"Apa ... ?" Bintang seperti tau wanita di sebelah nya itu sedang bingung mencari kata untuk berbasa-basi.


"Mas, yang tadi itu Papa nya?" Tanyanya mengawali percakapan.


"Iya, kita lagi gantian nungguin adik saya yang baru lahiran." Jawabnya.


"Uhm, adiknya udah menikah? usia berapa?" tanyanya masih terlihat berbasa-basi.


"Udah lah, makanya udah punya baby juga. Baru mau 22, kamu nggak nanya tentang aku gitu?" godanya.


"Mas, usia berapa?" Naya menahan senyumnya saat bertanya.

__ADS_1


"Aku mau 27, jomblo kesepian, kurang belaian juga. Duh ... menyedihkan!" katanya mendramatisir.


Naya pun akhirnya tertawa mendengar perkataan Bintang.


"Kamu? single kan?" kini dia balik bertanya.


Naya terdiam lalu menatapnya sambil mengangguk.


"Aku turun di depan aja, Mas. Mau beli bakso dulu."


tunjuknya pada sebuah warung bakso di depan, yang plang nya sudah terlihat di kejauhan.


"Boleh, aku ikut?" Bintang menatapnya meminta ijin


"Boleh, kalo mau." Naya mengiyakan.


Mereka turun dari mobil masuk ke dalam warung bakso itu, mata mereka berkeliling melihat tempat kosong. Namun di waktu yang baru pukul sepuluh tempat itu sudah ramai pengunjung.


"Enak banget ya?" Bintang bertanya saat melihat ramai nya warung bakso itu.


"Iya, ini dari dulu rame terus. Rasa nya nggak berubah."


"Kalo makan di mobil aja, biarin?" Bintang mengusulkan.


Setelah memesan mereka pun kembali ke mobil, menunggu pesanan di antarkan.


*


*


"Kamu belum ngasih tau tentang kamu!" Bintang kembali memulai percakapan.


"Apa?"


"Terserah, biar kita saling mengenal."


"Usia, ukuran sepatu, ukuran kacamata." Bintang terkikik lucu.


"Kacamata ini." Bintang berkata sambil tangannya menangkup di atas dada.


"Ngaco, aku malu." Naya mengulum senyumnya.


Ada yang aneh yang Bintang rasakan dan lihat, Naya terus memijat-mijat dadanya. Sekilas namun terlihat sering. "Dia kenapa? apa mungkin sa*ge liat aura ketampanan ku yang luar binasa." Batinnya menggumam.


"Kamu kenapa?" Bintang bertanya.


Tak ada jawaban hanya celengan Kepala sambil tersenyum manis, manis sekali.


Tak lama pesanan mereka datang, Mereka pun sama-sama menikmati bakso itu.


"Kamu nggak pake pedes? biasanya cewek suka gila kalo nggak makan pedes."


"Lagi nggak mau." Jawabnya singkat.


"Aku juga, sama kalo gitu." Bintang terus menyuapkan bakso itu ke dalam mulutnya.


"Enak, pantes rame banget." Dia menyimpan mangkuknya di atas dasbor.


"Aku beli minum dulu." Ucapnya keluar dari mobil dan berlari ke arah alfajuni di sebrang jalan.


Dia kembali dengan satu keresek berisikan air mineral, teh dan kopi kemasan tak lupa tisu."


"Aku belum tau kesukaan kamu, teh atau kopi?" Dia menyodorkan satu botol teh dan satu botol kopi siap minum.


"Aku teh aja, Mas." Naya mengambil satu teh kemasan dari tangan Bintang.


Terlihat Naya kesusahan membuka botol teh di tangannya, Bintang langsung menyambar nya dan memutar tutup botol itu hingga terbuka.

__ADS_1


Saat akan memberikan nya, tangannya dengan tangan Naya saling beradu dan mengakibatkan isi botol teh itu tumpah membasahi bagian dadanya.


"Eh, sorry. " Bintang langsung menyambar tisu dan mengusap kan ke daerah dada Naya yang basah ketumpahan teh.


"Ehm... " Naya menahan tangan Bintang yang terus mengusap-usap bagian dadanya.


"Eh ... " Sorry nggak sengaja Bintang terlihat canggung.


Gila lembut dan padet banget isinya. Bintang bergumam sesuatu miliknya di bawah sana seketika sedikit terpancing dan mulai menggeliat.


"Anter aku pulang sekarang ya, Mas." Pintanya.


Bintang pun kembali menjalankan mobilnya kembali ke arah yang tadi sudah di sebutkan oleh Naya.




"Di sini?" Bintang bertanya.



"Iya, maaf nggak bisa ngajak masuk." Naya sedikit menunduk.



Bintang dengan berani nya memegang telapak tangan Naya yang saling meremat.



"Iya, aku ngerti. Kita baru kenal," Bintang mencoba bijak, "Eh, besok masuk bagian apa?" tanyanya, tapi dengan tangan yang masih mengelus tangan Naya.



"Aku libur,"



"Wah, pas banget. Ada urusan ke Bandung, mau ikut?" ajaknya.



Naya menatapnya lekat-lekat, "serius?" tanyanya meyakinkan.



"Iya, Aku jemput jam delapan ya." Bintang terlihat antusias.



Saat mereka telah saling bertukar nomor handphone masing-masing. Bintang pun pamit



Naya mengangguk kecil tanda setuju, lalu turun dari mobil dan melambaikan tangan pada Bintang yang berlalu meninggalkan dirinya yang masih termenung di depan pagar. Lagi dia mengusap-usap dadanya, tepatnya buah dadanya sambil sesekali memejamkan mata.



**Bersambung ❤❤❤**



**Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰**



**Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘**

__ADS_1



**Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤❤**


__ADS_2