
...❤❤❤...
Seminggu berlalu...
Dafa tengah duduk di teras rumahnya dengan laptop di pangkuannya, menikmati hari minggu dengan tumpukan kerja sebelum dirinya libur menyambut kelahiran anak ke duanya.
Mentari datang dengan dua cangkir kopi di tangannya.
"Makasih, Sayang..." ucapnya yang langsung menyeruput kopi yang masih mengepulkan uap panas itu.
"Aku liat, kamu makin nyandu sama kopi." Dia melirik Mentari yang juga sedang memegangi cangkir kopi miliknya.
"Eh, kan dokter juga dah bilang nggak apa-apa asalkan nggak lebih dari tiga gelas sehari terus yang nggak ber ampas." Mentari berkata seolah membela diri.
Dafa hanya tersenyum sambil kembali pada laptopnya.
"Duh, Helen lama." Mentari melongokkan kepalanya ke arah jalan depan rumahnya.
"Kenapa? kan biasa dia makan sambil jalan-jalan."
"Bukan, Helen nya tapi lontong kari nya kali." Tambah lagi Dafa berucap.
Mentari terkekeh saat tebakan suaminya itu benar.
"Tau aja, aku laper." Dia mengusap perutnya yang sudah terlihat turun itu.
"Makan yang lain dulu, aja."
"Udah, roti tiga lembar untuk ngeganjel. yang satu pake pasta coklat, yang satu pake selai strawberry, yang satu pake keju." Terangnya sambil terkikik-kikik siap mendapatkan bullyan sari Dafa.
"Bener-bener laper kayaknya!" Dafa tertawa mendengar makanan yang istrinya sebut sebagai pengganjal perut.
"Abis ngapain kamu semalem, ampe paginya kelaparan kayak gitu?" Dafa menutup laptopnya bangun dan mengecup sesaat kening Mentari sambil berlalu masuk ke dalam menyimpan laptopnya.
"Abis di anuin cowok cakep, yang modus minta nambah beralaskan sebelum cuti lama. Padahal aku yakin ntar pasti minta di aneh2in juga nggak mungkin polos selama 40 hari." Cicitnya.
Dafa yang berjalan dari ruang tamu masih dengan jelas mendengar omelan menjurus sindiran istrinya itu. Dia hanya tertawa mengakui itu semua.
"Masih banyak cara menuju puncak, Sun. Bantuin aku napa." Dafa berjongkok di depan kursi yang di duduki istrinya.
"Tapi kalo sebelah pihak gitu, yang enaknya cuma kamu doang. Lah aku?"
"Kamu nanti aku rapel abis 40 hari, ampe kamu ampun-ampunan. Kalo perlu aku minta lagi jamu dari Rijal."
"Nggak, ah. Aku nggak mau pake begituan. Nggak natural, kurang meresapi. Sesuatu yang berlebihan itu nggak baik." Dia menolak usulan suaminya itu.
"Ok, natural. Semalem 4 kali ya? bertahap tapi. Aku bukan cowok di novel yang kuat semalem suntuk. Kalo main game kuat kayaknya, tapi kalo buat nyoblos terus menerus kalo nggak pake jamu atau obat agak mustahil." Katanya menerawang.
Dan suaminya itu menunduk menciumi perutnya.
"Udah ada tanda-tanda?" Dia mendongak menatap wajah Mentari.
"Nggak, tapi udah beberapa hari pinggang akut kayak yang di cubit-cubit." Mentari sedikit meringis saat pinggang nya kembali merasa sakit.
Dafa melingkarkan tangannya dan mengusap sedikit memijat pinggang istrinya itu.
*
*
Intan datang dengan wajah cemberut matanya sedikit memerah, dia bertemu dengan Bintang saat Helen yang berada di sebelah kakinya jatuh dan Papi nya itu langsung memberhentikan motornya, dan tanpa aba-aba langsung memarahinya di depan banyak orang, yang sedang mengantri lontong kari di pinggir jalan tepat di gerbang masuk komplek Perumahan.
Dan langsung menyuruhnya menaiki motor itu untuk di antarkan pulang.
Perempuan yang seumur dengan Bintang itu langsung turun dari motor besar itu, saat tiba di depan rumah majikannya sambil menggendong Helen yang Bintang letakkan di bagian tangki di depannya.
"Makasih, Pa." Ucapnya ketus lalu segera masuk ke dalem rumah. Sebuah ucapan tak enak lagi-lagi terdengar.
"Bapak2, emang gue bapak loe!"
"Heh ... sini dulu, gue belum cium Helen." bentaknya lagi.
Intan yang sudah di depan pagar, mendengus dan memejamkan mata menahan kesal yang sudah memuncak pada lelaki berhodie hitam itu.
__ADS_1
Dia berbalik dan menyodorkan Helen yang berada di pelukan nya.
"Papi, pergi dulu ya. Mau ketemu Mami Naya. Nanti siang Papi ajak ke sini." Katanya pada anak yang baru berusia satu tahun itu.
Helen hanya tertawa geli saat Bintang mengecupi pipi nya bertubi-tubi.
"Dah, bawa masuk sana." Titahnya.
Intan masuk ke dalam tanpa bicara, rasanya dia ingin mengacak-acak muka lelaki sok ganteng di depannya itu.
*
*
Intan masuk ke dalam rumah dengan wajah di tekuk, dia tidak terkejut saat mendapati majikannya tengah beradu bibir di dapur. Sudah menjadi makanan sehari-hari, majikannya itu tak pernah malu mengungkapkan rasa cinta mereka. Bahkan kadang erangan dan desa*han di kamar itu sering terdengar sampai ke luar kamar. Bahkan dia merasa malu sendiri, tapi majikannya itu seperti biasa saja.
Pasangan itu tersentak kaget, namun tak bisa menahan tawa mereka yang tercyduk wanita dewasa yang jomblo itu.
"Eh, udah pulang teh?" Mentari mendekati Intan yang menggendong anaknya sembari menjinjing plastik putih berisi 3 bungkus lontong kari sapi di tangannya.
"Iya, teh." Lalu memberikan Helen yang di pintar Dafa dengan gerakan tangannya yang mengulur ke arah putri nya.
"Pipih ... toton pipih." (papi ... motor Papi) ucap Helen.
Mentari mendekati putrinya, "mana Papi? Helen kangen Papi?" Tanyanya menciumi Helen yang menempel kan wajahnya di bahu Ayahnya.
"Toton ... Pipih!" (motor Papi) ucapnya lagi.
"itu, tadi ketemu di jalan teh. Barusan di anterin sampai depan rumah." Intan menjelaskan.
"Tumben, nggak masuk dulu." Mentari membuka bungkusan lontong kari itu dan menuangkan ke mangkuk satu persatu.
"Katanya, mau ketemu Mami Naya." Intan kembali menimpali.
Dafa tertawa mendengar nya, "Mami, kayak iya aja bakal berjodoh." Dia terkekeh geli.
"Biarin lah, dia udah ngebet. Liat dong kalo kita lagi kumpul2 di rumah Ayah. Dia suka uring-uringan karena kita semua berpasangan." Mentari sedikit membela Kakaknya itu.
"Ya, nyatanya kan dia bilang Naya selalu mengulur waktu kalo di ajak nikah. Keburu karatan punya si Bintang. Sayang kalo aset nya nggak di manfaatin." Lagi-lagi Dafa terbahak-bahak.
"Teh, ayok makan bareng." Ajaknya pada Intan yang sedang menyodorkan satu teko kaca berisi air putih ke meja makan.
"Nanti aja, mau mandiin Helen dulu. Kayaknya udah mulai ngantuk." Ijinnya.
Helen seperti mengerti saat di ajak mandi, langsung mengulurkan tangannya ke arah Intan.l
Mentari dan Dafa pun melihat wajah Intan yang berbeda, matanya juga merah seperti menangis.
"Kenapa ya? apa Kak Bintang bikin ulah lagi? Nyinyir pasti nih dia." Mentari menerka-nerka.
"Nanti, kamu coba tanyain. Sekarang kita makan dulu aja. Katanya laper!" Dafa mulai memakan lontong di depannya itu.
Mentari mengangguk dan memulainya makannya dengan lahap.
...🌸🌸🌸...
Siang harinya.
Mentari tengah membaca novel di salah satu apk gratis di ponselnya, di sebelah nya Dafa dengan setumpukkan berkas dan laptop yang menyala di pangkuannya.
"Sun ... "
"Hmm ... "
"Kamu serius sama obrolan kita semalem?"
"Yang mana?"
Dafa menoleh ke arah nya.
"Yang mana?" Lelaki itu membeo.
"Kita kan ngobrol banyak, yang mana?"Mentari juga menatap ke suaminya.
__ADS_1
" Yang enak banget? atau yang udahan aku lemes?" Mentari tertawa saat Dafa mencubit pipinya.
"Ketularan siapa ini?" Dafa mencium gemas istrinya.
"Kamu, lah. Aku kan polos." Mentari masih terkikik-kikik.
"Iya, tapi sekarang sukanya di polosin. Anak nya juga udah mau 2." Dafa merenggangkan pelukannya.
Mereka tertawa tertahan karena takut membangunkan Helen yang baru tertidur di box nya.
"Yang kamu mau ngelahirin dengan metode Gentle birth mana di dalem air lagi. Aku kok takut ya! Nggak tega ngebayanginnya." Ujar Dafa.
Mentari menyimpan ponselnya dan dia memutar posisinya menghadap Dafa dengan susah payah terkendala postur tubuhnya yang wow.
"Aku udah banyak belajar dari video utube, dari baca artikel, sampai konsul ke dokter juga. Aku beneran pengen merasa sakit dengan keadaan nyaman di rumah, intim sama kamu. Serius dalam keadaan sakit terus banyak orang yang ngerubungin kita, seolah gimana ya? kayak orang purba yang mau punah di kelilingi sama orang yang mau neliti kita. "
Terangnya panjang lebar.
"Waktu pengalaman kemarin, aku bener-bener di kelilingin orang, Ayah Bunda, Abang-kakak, Dokter nila, dokter anak siapa y aku lupa namanya, terus dia orang suster di kedua lutut aku. Kayak jadi tontonan aku nggak mau nggak fokus." Terangnya menjelaskan keadaan nya waktu itu.
"Maaf, ya cuma aku yang nggak ada." Dafa kembali mengelus pundak Mentari yang di lingkari Tangannya.
"Makanya, sekarang aku mau intim sama kamu, ngelewatin semua sama kamu, Mas." Mata mereka saling menatap.
Dafa diam menyimak apa yang menjadi keinginan istrinya itu.
"Kamu, yakin?"
"Ya, aku butuh kamu sebagai penyemangat aku. Jadi aku semangat dan yakin. Rasanya ngelahirin nggak di temenin sama yang bikinnya sakitnya dobel. Dan aku nggak mau itu ke ulang lagi."
"Maaf ... Maafin aku, yang terlambat nemuin kamu." Dafa memeluk istrinya itu.
"Bukan salah kamu juga, aku kan yang kabur. Lagian kamu ngerasain juga kan sakit itu, mungkin Tuhan mau ngasih tau kamu bahwa anak kamu lahir waktu itu." Mentari berbisik di telinganya.
"Jadi semua udah bulat, dan matang?" Dafa kembali bertanya dan meyakinkan.
"Iya, dokter nya udah siap aku hubungi kapan aja. Kamu tinggal mompa kolam balon itu terus isi air anget buat water birth nya dan dampingi aku." Mentari mengangguk meyakinkan suaminya yang terlihat kecemasan dalam wajahnya.
"Siap, kalo buat sekarang mompa kamu dulu bisa nggak?" Tanyanya dengan seringai jail.
Mentari hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
"Boleh, sebelum aku gembok selama 40 hari." jawabnya sambil mengecup pinggiran bibir suaminya.
Dafa segera menyingkirkan kertas-kertas dan laptopnya dengan semangat.
Saat mereka sedang bercumbu, suara motor besar dan gedoran pagar terdengar.
Mentari menarik lepas bibirnya yang tengah di sesap kuat Dafa.
"Kak Bintang! " Mentari beringsut bergeser turun dari tempat tidur.
Dafa mendengus kesal saat rencana nya bermain di siang bolong gagal.
"Jangan gitu mulutnya, ntar malem aku kasih." Hibur sang Istri.
"Janji ya! aku minta nambah boleh?"
"Boleh,"
"Aku, minta ganti-ganti gaya?"
"Boleh."
Dafa tertawa puas, Mentari hanya menggeleng lalu membuka pintu kamarnya saat lengkingan suara kakaknya terdengar di teras rumah.
Bersambung ❤❤❤
Terimakasih🙏🙏, jangan lupa komen, like, sama Favoritnya ya yang belum di klik.
Sehat dan bahagia buat semua😘😘😘
__ADS_1
Barangkali ada yang mau mampir, boleh bangetttt tapi bukan cerita Bintang ya, ini karya pertama aku tapi aku revisi agak rapih dikit, dikit doang tapi. Aku mah apa atuh 🤭🤭. Coba dulu mampir tinggalin jejak komen ya, biar aku tau mana yang harus di benahi nya🤭. Syukur2 suka sama ceritanya 🥰🥰Ditunggu buat yang mau mampir 🥰🥰. Ci*ok dari Bandung 💋💋💋