
💔
💔
Mentari meringis menahan perutnya yang semakin sakit, saat dia menutup pagar rasa sakit itu semakin menjadi. Dia meremat bagian perutnya, lalu sesuatu yang hangat mengalir deras di sela kakinya.
Dia yang menggunakan dress berwarna baby pink dengan jelas melihat darah itu melewati betisnya menetes di sekitar sandal yang dia pijak.
Tak menunggu lagi, dia berteriak histeris meminta pertolongan, seorang ibu penghuni rumah sebelah dengan sigap langsung membawa nya ke klinik depan komplek.
Mentari langsung di tangani sesampainya di klinik,
"Mba, ada nomor yang bisa saya hubungi?" Tanya si ibu yang mengantarkan nya itu.
"Nggak usah bu, biar saya yang yang menghubungi suami saya." Tolak nya.
"Ibu, terimakasih banyak sudah menolong saya. Maaf mungkin saya mengotori mobil Ibu!" Mentari berkata masih dengan wajah yang meringis.
"Nggak apa-apa, itu gunanya tetangga."
Perkataan itu menohok untuk Mentari, memang beberapa bulan menempati rumah itu dia jarang bersosialisasi. Hanya menyapa dengan senyuman saja.
"Kalau begitu, saya pamit pulang. Mau jemput anak saya di sekolahnya." Pamit wanita yang kira-kira berumur 40 thn itu.
"Sekali lagi, Terimakasih bu... " Mentari mengulurkan tangannya sebelum si ibu itu benar-benar meninggalkan nya.
***
Seorang dokter wanita masuk ke dalam ruangan itu, memeriksa Mentari sesuai dengan keluhannya dan keadaan wanita muda itu.
"Saya, tidak bisa menangani ibu di klinik ini. Saya akan kasih rujukan ke rumah sakit besar ya?" Terangnya.
"Apapun dok, asal bayi saya bisa di selamatkan." Mentari kembali terisak, dia takut akan terjadi sesuatu pada calon buah hatinya.
"Maaf, kalo boleh tau suami ibu? Dokter itu bertanya sembari menuliskan surat rujukan.
" Sedang kerja di luar kota bu!" Jawabnya asal.
"Baik, kalau begitu ambulance nya sudah siap kita langsung menuju rumah sakit."Dokter itu berucap ramah.
*
*
Mentari sudah di dalam ruang rawat, Syukurnya bayi yang dia kandung bisa terselamatkan hanya saja dia perlu istirahat total.
Mentari berbaring di ranjang nya, selang infus menancap di tangannya. Dia mengusap perutnya.
Anaknya, buah hatinya masih bisa terselamatkan. Dia tidak ingin sampai kehilangan hartanya yang paling berharga.
" Kuat ya nak, tetap berjuang bersama Ibu." Lelehan air mata kembali berjatuhan di tengah rasa sakit hati yang menderanya.
Dia merasa sakit hati, Dafa semakin hari semakin menggila dan dia tidak tahan. Suaminya itu seolah tak menghargai perjuangan nya sampai di titik itu, dia harus kehilangan Ayah dan kedua kakaknya, menyebabkan sang ayah sampai sakit, sampai di jauhi ke dua kakaknya. Tapi apa ini? apa balasan yang dia dapat? mungkin suaminya sedang khilaf tapi sampai kapan? dia sudah tidak kuat. Apalagi ada sesosok malaikat kecil yang harus dia lindungi.
Tiba-tiba sebuah ide terbesit di kepalanya.
Dia mengambil ponsel yang berada di tas di atas meja.
Dia menghubungi seseorang, dan mengungkapkan semua maksudnya, hingga panggilan berakhir dengan isak tangisnya yang semakin kencang di ruang rawat itu.
"Aku harus berani, ini semua yang terbaik." Gumamnya.
*
*
__ADS_1
Di lain tempat...
Setelah menyelesaikan tugasnya mendampingi kliennya di sebuah persidangan, kepalanya masih terasa sakit sisa-sisa mabuknya semalam masih dia rasakan efeknya.
Dia merebahkan tubuhnya di cafe milik Rijal.
"Gue, ngelakuin hal bodoh malem!" Dafa berucap.
"Apa? lu berantem lagi?" Rijal menoleh padanya.
"Lebih... " Saut Dafa.
"Lebih? Maksudnya apaan sih kagak jelas, cerita di potong-potong kayak buah." Rijal gemas menanti cerita Dafa.
Helaan nafas Dafa hembuskan sebelum memulai cerita.
"Kemarin bini gue pulang di anter lagi si laki-laki brengsek itu. Gue ngamuk lah...
" Ya, lu mah apa-apa emosi di gedein, denger dulu penjelasan bini lu." Rijal menyela
"Diem dulu, kampret... belum beres ceritanya." Dafa menendang Sofa yg di duduki sahabatnya itu.
"Lanjut...
" Gue berantem, dan pergi...
"Mabok? pasti lu mah ada emosi selalu lari ke minuman. Kayak yg nyelesein masalah aja."
"Udah lah, anji** emang lu. Belum selesai juga gue ngomong, main nyela mulu." Sungut nya.
Rijal tertawa terbahak-bahak, dan mengangguk meminta Dafa melanjutkan ceritanya.
"Di club, gue kayak yg liat bini gue, dia gerayangin gue, ngerayu, cakep banget pokoknya, eh taunya dia bukan bini gue. Dia per*k yg suka ada di club."
"Mana gue ama dia udah sedot-sedotan ampe banyak tanda di leher gue sama leher dia. Gue sadar pas Sun nyiram pala gue." katanya dengan lesu.
"Terus, ya gue bingung lebih ke malu tepatnya, tapi tau kenapa tadi pagi nih mulut malah ngejawab ngelantur, seolah gue maling teriak maling. Gue yg brengsek malah nuduh dia yg gitu."
"Pulang lu, minta maaf sama dia. Inget perjuangan bini lu nggak mudah, dia udah sabar banget sama keadaan kalian, mana dia kayak yg sebatang kara lagi, anak bungsu yang di sayang malah di tinggal tiba-tiba. Apa mental nya cukup hancur tuh? lu malah nambahin luka di hati dia. Belajar mengolah emosi, mana yg pantas lu keluarin mana yg sebaiknya lu pendam. Nggak semua emosi akan menyelesaikan masalah. Mana lagi gue liat di sini mah, lu yang salah." Rijal menceramahi sahabatnya itu.
"Gue jaga jarak ama tiap cewek, dan gue mau bini gue juga lakuin hal yang sama. tapi dia malah sering terlihat akrab sama cowok."
"Halah... jaga jarak buktinya lu malem main sedot aja! lagian bini lu emang baik ke semua orang. Masa lu kagak tau sifat bini sendiri." cibir nya kesal.
" Udah gue bilang, di penglihatan gue itu Mentari bini gue. Ngarti nggak sih?" sungut nya.
"Tetep aja lu yg salah, make nyalahin minuman lagi. Suruh siapa lu mabok? napa nggak cerita ke sini?"
"Iya... salah gue. Dah lah gue balik, semoga dia mau maafin gue." Dafa beringsut bangun dengan terpincang-pincang.
"Kaki lu bukannya sembuh, malah makin parah kayaknya." Rijal memperhatikan sahabatnya itu.
"Nggak lah, udah mulai biasa gue. Lagian mau berobat mending buat tabungan Lahiran anak gue." Dafa sambil berlalu ke arah pintu keluar.
💔💔💔
Sesampainya di depan rumah, Dafa turun dari mobilnya namun keadaan lampu masih gelap, dia menatap jam yang melingkar di tangannya.
"Jam 9,harusnya dia udah di rumah." Gumamnya sambil mendorong pagar untuk memasukkan mobilnya.
"Mas... gimana, istrinya? Selamat kan?" Tanya seorang ibu di balik pagar rumah di sebelah.
"Maaf, gimana bu? saya nggak ngerti?" Dafa mendekati si ibu itu, Perasaannya seketika tidak enak.
"Istrinya tadi siang pendarahan di situ, di depan pagar darahnya berceceran, sampai di jok mobil saya juga banyak banget." Tunjuk nya pada tempat di mana Mentari mendapatkan musibah tadi.
__ADS_1
"Saya, yang nganterin ke klinik depan komplek, katanya mau dia sendiri yang hubungi suaminya." tambahnya lagi.
Dafa masih terpaku mendengar kalimat yang seolah menghantam dada dan kepalanya secara bersamaan.
"Istrinya pendarahan, Sunny nya mengalami itu semua tapi tidak menghubunginya." hatinya bermonolog rasa bersalah dan amarah kembali saling berdesakan di kepalanya.
"Mas... gimana kabar mbak nya? saya takut ada apa-apa, soalnya darahnya banyak banget.
Mas... mas?" Si ibu mencondongkan badannya ke depan Dafa.
Seketika Dafa tersadar kembali menutup pagar dan memasuki mobilnya kembali, tanpa mengucapkan sepatah katapun hanya sebuah klakson dari mobilnya dan anggukan kepala sebagai tanda ucapan terimakasih nya atas info yang di sampaikan tetangga nya itu.
"Ya Tuhan... selamat kan mereka, aku takut untuk kehilangan mereka, jangan sampai sesuatu yang menakutkan terjadi. Aku benar-benar takut kehilangan mereka." katanya sambil mengusap air mata yang hampir menetes di ujung matanya.
...~...
Dafa berhenti di sebuah klinik di depan komplek nya, dia masuk tergesa dan menghampiri meja resepsionis.
"Maaf, mau tanya ruangan rawat pasien hamil yg pendarahan?" tanyanya dengan nafas terengah-engah.
"Sebentar pak, saya chek dahulu." Perawat itu mengetikkan sesuatu di keyboard sambil matanya tertuju di layar monitor di depannya.
"Yang tadi siang Pak? maaf beliau meninggal dunia, sudah di bawa oleh pihak keluarga nya." Jawab si perawat itu dengan wajah serius.
"Apa...? nggak mungkin, itu pasti bukan istri saya." Dafa sedikit meninggikan suaranya sampai pihak keamanan menghampiri nya.
"Lepas...
Dafa memberontak saat dia di tenangkan oleh beberapa orang.
" Periksa lagi! Yang bener, itu pasti bukan istri saya."
Dirinya kembali membentak.
Si perawat itu kembali menggerakan jarinya mengetik sesuatu di papan keyboard nya.
"Benar pak, pasien hamil yang tiba tadi siang memang meninggal, usia kehamilan nya tiga bulan kan?" Tanyanya dengan waktu takut menatap wajah Dafa yang seakan ingin mencekiknya.
"Bukan... bukan, istri saya sudah mau lima bulan kandungan nya." Seolah merasa ada setitik harapan saat mendengar pernyataan suster itu.
"Sebentar pak, oh iya kalau pasien pendarahan yang usia kehamilan lima bulan datangnya tadi pagi pak, tapi di rujuk ke rumah sakit xxx. karena kendala alat pak." Terangnya.
"Bapak tadi saya tanya siang tapi bapak diam saja. makanya saya mencari data masuk di kolom daftar pasien yang masuk siang hari." Tambah nya lagi, ucapnya sedikit kesal setelah mendapat bentakkan ternyata lelaki itu yang salah.
"Maaf, Sus. terimakasih infonya." Dafa langsung berlari keluar langsung masuk ke dalam mobilnya.
mobil melaju kencang membelah jalanan , di malam yang merangkak semakin larut.
"Jal... ada kenalan di rumah sakit xxxx nggak? Bini gue pendarahan tadi pagi. Gue denger beritanya dari tetangga gue yg nganterin ke klinik."
"...
" Kagak, kagak ada dia ngehubungin gue. Mungkin masih marah, tapi itu membuat gue makin nggak ada harga dirinya jadi suami." Dafa memukul-mukul kemudi, saat kemacetan menghentikan laju mobilnya.
"...
" Ya udah, gue lagi di jalan kejebak macet, kalo lu duluan yang dateng tolong bantu chek buat gue."
"...
Panggilan pun berakhir. Dafa masih dengan otaknya yang tak menentu, bagaimana keadaan anak istrinya, bagaimana jika dia mendapatkan penolakan dari Mentari. Karena sadar ini semua gara-gara ulahnya. Membuat istrinya itu stress dan kelelahan bekerja tentunya.
" Semoga kalian baik-baik aja, maafin aku Sun!" Dafa terus berdo'a meminta keselamatan untuk istri dan anaknya.
Bersambung ❤❤❤
__ADS_1
terimakasih yang sudah mampir baca🙏🙏 semoga suka🥰🥰 like komen nya jangan lupa ya, biar aku bisa ngobrol sama kalian🤭😘😘
Sehat dan bahagia selalu untuk kita semua❤❤