Kisah Mentari

Kisah Mentari
Indahnya cinta


__ADS_3

...❤❤❤...


Mentari baru terbangun, saat mendengar suara tak asing di kamar mandi. Suara suaminya tengah muntah hampir dua bulan ini menjadi suara alarm bangun tidurnya.


Perempuan hamil itu memakai bajunya yang berserakan sisa pergumulan semalam.


Lalu keluar kamar menuju dapur, membuat teh manis panas untuk suaminya yang mengalami morning sickness.


Saat masuk kembali ke dalam kamar, bertepatan dengan Dafa yang keluar dari kamar mandi.


"Bu... " rengeknya.


"Iya, nih teh panasnya. Mau apa lagi?" tanyanya saat Dafa menyodorkan kembali gelas itu yang isinya tinggal setengah nya saja.


Dafa menggeleng lalu merebahkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur.


"Dek, udah dong kasian Ayah." Mentari berbicara pada anaknya yang masih di dalam perut, merasa kasian melihat suaminya yang sudah mual muntah hampir 2bulan.


Memang ini ucapan suaminya waktu itu, ingin berbagi sengsaranya ibu hamil. Tapi nyatanya dia merasa kasian, di tambah pekerjaan suaminya sedang banyak-banyaknya.


"Nggak... nggak apa-apa, biar Ayah yang wakilin Ibu, kasian kalo Ibu yang repot kayak gini. Kasian mbak Helen sama mbak Shera nanti nggak ke urus sama Ibu. Biarin Ayah aja yang ngalamin ini, Ibu harus sehat, lagian cuma beberapa jam aja sehari selebihnya Ayah cuma laper terus." Dafa bergelung di atas paha istrinya.


Mentari mengusap lembut kepala sang suami, lelaki yang benar-benar memberikan curahan kasih sayang dan cinta yang berlimpah untuk keluarga nya.


"Mau apa? aku bikinin," katanya menawari suaminya yang bergelung manja di sebelah nya.


"Mau susu anget Bu," Dafa mendongak menatap istrinya.


Mentari mengangguk, "awas dong. Kan mau bikin susu anget," di gerakan kepala suaminya itu agar bergeser dari paha nya.


"Mau susu anget punya kamu Bu." Dafa tersenyum mesum ke arahnya.


"Ck... malem kan udah, kemarin siang juga kan udah. Ngomong nya pulang cuma mau makan siang taunya makan siang yang gimana." Mentari mencebik


Mengingat akhir-akhir ini suaminya gai*rah nya meningkat dan tak bisa terbantahkan.


"Nggak tau, Bu. Kamu kalo lagi hamil dengan bagian-bagian tertentu membesar bikin aku gemes," Dafa membela diri sambil memberi pujian yang memang kenyataannya begitu.


Mentari memutar matanya malas, selalu pembicaraan seperti itu yang menjadi bahan obrolan dari suaminya itu.


Dafa tertawa matanya melihat ke jam dinding yang terdapat di depan nya.


"Yuk, mumpung masih jam 4. Anak-anak masih tidur jadi suara kita nggak terlalu di tahan," kekehnya, sambil bangun dan langsung melepaskan kaos rumahanya.


Mentari menggeleng kan kepala, namun tak ayal dia langsung memposisikan tubuhnya siap untuk kembali di masuki oleh suaminya.


Dia tidak menolak keinginan suaminya itu, karena memang dia juga menyukainya dan sang bayi yang ada di dalam perut sehat dan tidak terganggu. Jadi ya... nikmati saja.


*


*

__ADS_1


Dafa keluar kamar sudah tampil rapi, kemeja biru calana bahan hitam dan dasi biru muda ber stripe putih.


"Ayah... " Helen dan Shera yang sedang di suapi berlarian menghampiri Ayah mereka.


Mentari hanya tersenyum sambil menyiapkan irisan mangga , jambu air, dan bengkuang. Suaminya minta di bekali rujak ke kantor nya.


Memang di sini yang lebih dominan menjalani semua masa kehamilan adalah Dafa.


Dari mulai mual muntah, menginginkan makanan pedas, dan rujak-rujakan. Semua di alami suaminya.


Sedangkan dia hanya suka tidur dengan waktu lebih lama itu saja.


"Ayah, sore Ibu ke dokter, sendiri aja atau Ayah bisa anter?" tanyanya sambil menutup rapat wadah berisikan potongan buah itu.


"Ayah, antar dong. Jam berapa?"


"Jam lima kayak biasa, dokter Mila kan praktek di rumahnya jam segitu." Jelasnya.


Dafa mengangguk sambil memakan roti bakar selai coklatnya sambil memangku Shera.


"Ayah nanti jemput, Ibu sama anak-anak udah siap jadi kita langsung pergi." katanya lagi.


*


*


Dafa pun pamit ke kantor, setelah menciumi anak istri nya.


Jadinya para klien akan datang ke rumah nya, untuk konsultasi desain, bahan, dan pengukuran. Nantinya Mentari akan mengirimkan semua hasilnya ke butik lalu para karyawan nya yang akan merealisasikannya.


"Bu?"


"Ya, Bi?"


"Soal pindah ke rumah kakeknya anak-anak gimana?" Tanyanya.


"Oh, nanti . Kalo mual muntah bapak udah agak reda, kasian jarak ke kantor nya cukup jauh kalo dari rumah Ayah saya."


"Pokoknya, kata suami saya. Proses pengerjaan rumahnya sudah di perkirakan sama arsitek dan kepala mandor nya bisa tiga bulanan lah. Jadi saya lahiran rumah udah selesai, udah cukup gede. Nggak kebayang di kamar kami nambah lagi Box bayi," ucapnya sambil tertawa malu.


"Ibu nggak di KB?" tanya pengasuh itu sambil menguncir rambut Helen yang baru selesai mandi.


"Di KB, Bi... waktu dari Mbak Helen ke Shera juga di KB. Nggak tau lah jebol terus." Perempuan cantik itu tertawa sambil tangannya memegang pen tablet itu.


"Bapak kuat banget kayaknya ya?" Si pengasuh itu malah menggodanya.


Mentari mengangguk, "udah mah kuat, doyan ketemu doyan ya udah... hasilnya hamil tiap tahun." Mentari terbahak dengan jawabannya sendiri.


Si pengasuh itu ikut tertawa sambil dirinya reflek buang gas.. "Aduh, Bu. maaf kelepasan, maklum udah turun mesin 4. Udah losdol," katanya meminta maaf dan tersipu malu.


Mentari malah semakin terbahak.

__ADS_1


"Nggak apa, Bi. Aduh kayaknya emang harus berhenti di. 3 anak, takut losdol kayak Bibi," katanya masih dengan tawa terbahak nya.


Mereka pun tertawa terbahak-bahak, di pagi hari itu. Dengan anak-anak yang berlarian dan mainan yang tumpah ruah di rumah itu.


"Aduh, Bi. Baru 2 anak ini mainan udah menuhin rumah apalagi nanti nambah adiknya. Untung Ayahnya nggak pernah masalahin keadaan rumah. Yang penting di bawa happy aja, selalu gitu kalo aku minta maaf rumah berantakan dulu waktu belum pake yang bebantu.


" Bapak baik banget ya Bu? sabar, baik, sayangnya sama anak istri keliatan banget," si pengasuh berusia kepala empat itu memuji majikan laki-laki nya.


Mentari yang sedang membenarkan tali dress Shera sedikit melirik ke arah pengasuh nya itu.


"Iya, Bi. Setelah perjalanan berliku dan saling menyakiti yang kami lewati, membuat semua berubah ke arah yang lebih baik, dan juga kita lebih saling menghargai arti pasangan hidup itu apa."


"Jadilah, karakter Ayah Helen yang sekarang, semua ada prosesnya Bi. Nggak mudah kami sampai di titik ini," tambahnya lagi.


Bi murti mengangguk paham.


"Makasih juga, Bapak sama Ibu nerima saya kerja di sini, walaupun tidak sesuai karena saya hanya sampai sore di sini."


"Nggak apa-apa, Bi. Anak-anak bibi juga harus di urus kan, lagian anak-anak kalo Ayah nya pulang langsung pada nurut, terus Ayahnya anak-anak sering bantuin saya, jadi nggak apa-apa. Saya butuh temen pagi sampe sore aja sebelum Ayah nya pulang." sambung Mentari.


Aktivis pun berlanjut, Anak-anak main dengan anteng nya, Bibi menyiapkan makan siang sesuai keinginan Mentari. Dan wanita hamil itu kembali bekerja di atas tablet nya.


*


*


Dafa memberhentikan mobil SUV hitamnya berhenti di depan pagar rumah mereka.


Saat dia turun dari mobil, pagar terbuka.


Istri dan anak-anak nya sudah keluar dan siap pergi.


"Ayah, pulang dari dokter ke rumah Ayah dulu, kayanya Ayah nggak enak badan," ucapnya saat menaiki mobil yang pintunya sudah Dafa buka.


"Hamil yang ini, baru mau empat bulan perut kamu udah lucu gitu!" Dafa tersenyum mengelus lalu mencium perut Mentari.


"Bilang aja, aku makin gemuk."


"Nggak, kamu bahenol... "


Mentari mencebik, memanyunkan mulutnya


"Nggak usah mancing-mancing bibirnya," Dafa menjawil bibir istrinya itu.


Lalu Dafa menutup pintu dan memutari mobilnya duduk di balik kemudi. Mobil pun melaju ke tempat praktek dokter kandungan langganan Mentari.


❤❤


Sedikit lagi ini end kok aku nggak mau ya🤭🤣🤣


tapi harus di akhiri udah kepanjangan, dan aku nggak bisa fokus ngerjain dua judul nama karakter nya suka belibet ketuker sana sini🤭🤣🤣, maafkan🙏🙏🤭🤭. Like komennya jangan lupa ya di detik-detik terakhir kisah mereka🤭🤭.

__ADS_1


Salam cium dari Bandung 💋💋💋💋


__ADS_2