Kisah Mentari

Kisah Mentari
Nasib Bintang


__ADS_3

🌸🌸🌸🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌻🌻🌻


"Tapi ada satu syarat buat kamu,"


"Apa, Yah?" Dafa mengerutkan alisnya.


"Kamu, harus mengijinkan Mentari dan Helen jika saya sewaktu-waktu kangen dan ingin mereka menginap di sini." Mengucapkan syarat yang sudah dia pikirkan sejak tadi.


Dafa terdiam mencerna apa yang ayah mertua nya katakan, otaknya berpikir ....


Ya pasti gue ijinin lah, itu mah cetek. Kirain syarat apaan. Malah bakal sering titipin Helen buat quality time sama mak nya. Dafa bergumam dalam hati.


"Gimana?" Suara Ayah memecah lamunannya.


"Pasti Ayah, pasti saya ijinkan. Kirain syarat nya apa gitu!" lelaki itu menggaruk tengkuknya merasa canggung sendiri.


Bintang yang sedang memakan peyek teri cap inces cetar kembali bibirnya yang sedang mengunyah itu gatal. "Lah lu, ngarep apaan emang?" tanyanya dengan wajah tengil.


"Ipar kurang ajar, gue harus bales nih." Dafa memutar otaknya melemparkan kata-kata yang sekiranya bisa menjungkirbalikkan mulut iparnya itu.


"Apa?" Bintang masih songong dengan mulut penuh peyek teri.


Anehnya semua malah seperti menanti jawaban apa yang akan Dafa lontarkan.


"Buat adik buat Helen, mungkin." Dafa menjawab dengan cengengesan bermaksud memanas-manasi Bintang.


Semua menegakan tubuhnya, sampai Bunda menyerong ke arah menantunya dan menggeplak paha Dafa, "Enak aja kalo ngomong! Helen masih Tiga bulan, terus kamu nggak tau perjuangan Chaca gimana kemarin ampir-ampiran dia nyerah. Kita semua nyaksiin perjuangan dia lahiran, kita semua yang ada di ruangan bersalin." Geram Bunda memukuli Dafa.


"Sampai ada yang pingsan segala!" Ayah menambahkan ucapan sang istri.


"Sun ... eh maksud saya Mentari sampai pingsan, Yah?" Dafa terhenyak kaget membayangkan perjuangan sang istri.


"Bukan, tapi Papi nya yang pingsan." Lalu semua tertawa.


Bintang yang sedang di ledek hanya mencebik kesal, dia minum air agar tenggorokan nya yang serat entah karena peyek atau rasa malu, kembali lega.


"Papi?" Dafa mengerutkan alisnya menjadi saling menempel.


"Papi, itu Bintang. Kalo gue Papa, panggilan Helen buat kita." Langit yang masih tertawa menjawab pertanyaan adik iparnya.


"Jadi ... Wah, jagoan bisa pingsan?" kemudian dia tertawa kencang, puas rasanya dia mendapati sebuah fakta memalukan dari orang yang bener-bener selalu bikin dia gedeg.


Bintang menatapnya sinis. Harga dirinya yang seorang jagoan bak preman kelas kakap jatuh menjadi kelas teri rebon. Kecil seperti rebon yang menempel di peyek yang tengah dia peluk toplesnya.


***


"Udah lah, Ayah masuk dulu ke kamar. Bun yuk dingin." Ayah mengulurkan tangannya ke arah sang istri.


Bunda mencebik sebal, juga malu di lihat anak juga menantunya.


"Inget Dafa, Suruh dulu Ibu nya Helen KB!" Bunda kembali menoleh pada sang menantu sebelum beranjak bangun dari duduknya.


"Udah kok Bun, udah minum pil KB." Jawabnya dengan spontanitas.


"Nah, loh ... bener kan ngaku sendiri, lu udah mulai garap sawah." Bintang seolah dapat senjata untuk menyerang balik Dafa.


"Sirik lu, kayak yang udah pernah garap sawah aja?" Langit seolah membela Dafa.


"Lagian, dia masih SAH suaminya adik kamu." Bunda ikut menimpali.


" Ya, Belum kalo buat garap. Tapi liat tata letak dan chek lokasi udah." Jawabnya bangga


Ayah yang sudah hampir masuk ke dalam kamar, langsung berbalik dan tatapannya menemukan botol minyak telon Helen di rak dekat pintu masuk kamarnya.


"Takk... " Dia langsung melemparkan ke arah Bintang.

__ADS_1


"Aww ... " Lagi-lagi Bintang meringis, sial dengan hasil dari bibirnya yang terlalu rajin bergerak.


"Yah ... "


"Budak semprul, awas kalo kamu macem-macem, Ayah pasung kamu. Mulut kamu Ayah tali pake karet nasi bungkus." Bentaknya sambil melambaikan tangannya dengan seringai mesum menatap sang istri.


"Ampun Yah ... becanda." Rengeknya sambil meringis memegangi pelipisnya yang terasa sakit.


"Dih, liat tatapannya ke Bunda, Lain banget kayak natap ke kita." Bisiknya ke langit.


"Kita, lu aja kali. Ke gue sih biasa aja." Lalu lelaki itu bangkit dan mengambil sebuah kunci mobil di guci berbentuk labu, tempat berkumpul nya semua kunci kendaraan di rumah itu.


"Mau kemana Bang?" tanyanya


"Mau, kencan lah ... " langit melengos ke arah pintu menuju garasi.


Dafa ikut bangkit dari duduknya.


"Lu juga mau kemana?"


Dafa berjalan sambil menyeringai, "Mau garap sawahhh ... " Lalu dia terbahak sambil menaiki tangga.


...💋💋💋...


Klekk...


Pintu kamar terbuka, Dafa masuk ke kamar milik istrinya itu.


"Gimana? udah? Ayah nggak marah? kapan kamu ijin bawa kita pulang ke rumah?" Mentari yang tengah berjalan mondar-mandir sambil menyusui Helen. Langsung memberondong suaminya itu yang baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, bahkan tangannya belum menutup pintu dengan sempurna.


Dafa hanya tersenyum dan jari telunjuk dan jempol nya bertaut menandakan semua ok.


Mentari merasa ada beban di hatinya seolah tercabut begitu saja. Lega, ringan, bahagia, haru semua bercampur aduk menjadi sebuah kebahagiaan yang utuh. Hatinya merasa bahagia lebih bahagia dari awal dia menikah dulu dengan suaminya.


Dafa yang langsung merangkul tubuh Mentari yang masih setia menggendong Helen. Langsung mengecupi dan sesekali mengecup puncak kepalanya.


Mentari mengangguk keras, "Iya, sama. Rasanya ini lebih bahagia dari pada awal kita nikah dulu."


Dafa lalu menarik dagu Mentari agar menatapnya lalu sebuah kecupan dia daratkan di bibir yang selalu menggoda untuk dia singgahi.


"Mas... " Mentari melepaskan diri, saat merasa kan kecupan itu semakin kuat dan menuntut.


Dafa melepaskan pautan itu, menunduk menatap Helen yang sudah melepaskan diri dari puncak dada Ibunya. Dengan wajah yang cantik juga menggemaskan, mulut yang sedikit terbuka meneteskan sisa-sisa Asi yang dia hisap tadi.


"Tidurin dulu, kita harus merayakan ini. Udah minum pil KB nya?" Dafa mengelus lembut bibir Mentari yang sedikit basah karena ulahnya.


Mentari tersenyum menatapnya, "Perayaan apa?"


Dafa menjawil hidungnya, "Pura-pura nggak tau lagi." Ledeknya.


Perempuan cantik itu berjalan ke arah box tidur Helen di ujung ruangan.


Dafa bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama dia ke luar dengan tubuh segar menguatkan wangi bunga, karena memakai peralatan mandi istrinya.


"Sun, baju yang kamu bawa ... " Belum selesai dia sudah melihat sebuah kaos tanpa lengan dan boxer ketat , sebagai pakaian wajib tidurnya sudah berada di atas tempat tidur.


Mentari senyum dari balik kaca meja rias, tempatnya dia duduk melakukan rutinitas sebelum tidur nya.


Dafa langsung memakai bajunya, sambil dadanya sudah berdebar dan sesuatu sudah mulai berdesir di tempat nya.


*


*


Di lantai bawah, tepatnya di ruang keluarga.

__ADS_1


"Cess ... kita ngamar yuk?" Dua berbicara pada gambar perempuan cantik yang menjadi logo di toples peyek itu." Lalu menaiki tangga menuju kamarnya paling ujung.


Saat di undakan tangga teratas dia memutar tubuhnya ke arah kamar adiknya.


"Helen, Anak papi sayangggg ... bangun nakkk, Ayo kita main!" Teriaknya di balik pintu kamar sang adik.




Mentari yang sedang membubuhkan cream malam di wajahnya, langsung menatap ke arah suaminya yang sudah duduk di ujung tempat tidur, lalu dia melambaikan tangan agar Dafa mendekat ke arahnya.



Dia membisikan sebuah rencana agar membungkam mulut kakaknya yang melebihi ratu nyinyir.



"Ah ... ah... Mas, ah pelan-pelan. Mas kamu panjang banget..." Mentari berucap seolah dia sedang melakukan hubungan anu dengan sang suami.



"Yaaa ... Argghhh ... Sayang, kamu enak banget, Ah Sun, eummm... kamu jangan jepit aku.. " Dafa pun mengikuti sandiwara yang tengah istrinya mainkan.



Padahal mereka berdua berbicara sambil menahan tawa di balik pintu, dengan Dafa memegang ponselnya dan Mentari memegang wadah cream malamnya.



"Si anj\*ng, pamerrrr ... pamer. Manas-manasin, awas lu, ntar gue rapel. Anak gue setaun satu." Dia melengos membalikan tubuhnya ke arah kamarnya, sambil memeluk wanita cantik dalam toples peyek.



"Apaan yang panjang? gagang sapu paling. Jepit2 emangnya dia main ama kepiting." gerutunya sambil berjalan menuju kamar, dia yang belum memiliki pengalaman travelling ke gua. Merasa semakin tersiksa , " nyesel gue mancing-mancing mereka!"w wajah nya terlihat sedih, sambil mengintip ke karet celananya.



"Boy? lu dah standar kan? Apa max? apa minimalis? Masa iya gue harus searching dan ngukur lu pake penggaris? jangan sampe lu bikin malu gue di depan Naya. Eh tapi kemarin dia nggak ngomong apa2 ya!" Celotehan nya yang dia tuju untuk dirinya sendiri terus berlanjut hingga masuk ke dalam kamarnya.



**Bersambung ❤❤❤**



Aku udah sembuh🥳🥳 makasih doa kalian semua, Alhamdulillah terkabul dengan cepat ya🥰, Semoga cuan iti juga deras Amin 🤲🤲🤲 pengen nraktir kalian makan di Pluto🤭🤭, soalnya nama jalan di daerah ku nama planet. Aku aja diem di jalan Saturnus 🤣🤣🤣



**Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰**



**Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘**



**Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤**



**Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir 🙏🙏, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain🥰🥰**


__ADS_1


**semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn 🤲🤲**


__ADS_2