Kisah Mentari

Kisah Mentari
genjatan senjata


__ADS_3

💔💔💔


Di lain tempat...


"Jadi... ? " Rijal menghempaskan bokongnya di sofa bersebelahan dengan Dafa.


"Gue, udah ngajuin magang di firma hukum yang lu ceritain kemarin, siapa tau gue bisa kerja di situ. Mentari nolak mentah-mentah duit hasil gue nge dj. Malah dia milih kerja." Wajah Dafa terlihat gusar.


"Hah... serius lu? dia kan lagi hamil!" Rijal menganga tak percaya.


Dafa menyandarkan kepalanya di ujung sofa, pening kepalanya serasa mau pecah, menghadapi semua masalah ini.


"Nggak bisa larang gue, dalam keadaan gini bisa apa coba?"


"Ya sih, tapi Mentari lagi hamil muda. Takut aja dia. atau bayi kenapa-kenapa."


"Mulut lu anjir." Sungut Dafa.


"Cuma khawatir, bro." Rijal mengangkat tangan.


"Gue, kerja di sini lah? Jadi apa aja, buat biaya sehari-hari." Mohon Dafa memelas pada sahabatnya itu.


"Gaji lu? gue bingung! lagian lu mau kerja jadi apa si sini?" Tanya Rijal.


"Kerjaan yang nggak banyak jalan apaan?" Tanya Dafa.


"Nyuci piring." Rijal terbahak-bahak, meyakini temannya tidak akan mau.


"Ok, mau gue." ucapnya mantap


Rijal menatapnya tak percaya. Mulutnya kembali menganga.


"Serius lu?"


"Iya, apa aja lah. Yang penting ad ayang bisa gue kasih ke bini gue. Sebelum ada panggilan di firma hukum itu." Dafa masih memohon.


"Tapi mungkin sampai tengah malem, biarin?" Rijal meyakinkan.


"Ok."


"Besok aja lah lu mulai nya, sekarang balik aja lah. Nggak tega gue liat lu mijittin kaki terus.


" Masih ngilu tau, gue pengen cepet bisa kena motor, biar gue bisa jual mobil terus beli motor sisanya pake usaha." Ucapnya masih memijit kakinya yang terasa masih ngilu.


"Ya lah pasti masih ngilu, tuh betis lu dua retakan. Lu nggak bisa nganu dong?" Rijal menahan tawanya.


"Njir, ngeremehin gue. Bisa lah, kan bertumpu di lutut bukan di betis bego lu!" Dafa menonjol lengan Rijal yang tadi meledeknya.


Mereka berdua pun tertawa bersama.


"Lu, nganu dalam keadaan diem-dieman gitu?" Rijal menatapnya penuh tanya.


"Iya, kemarin pulang dari club gue mabok dikit, terus pas subuhnya gue main, dia diem aja. Gue Pura-pura masih mabok. kalo dia tau gue dah sadar dia pasti nolak." Dafa setengah berbisik.


"Anjir... dia punya malu juga." Rijal kembali menertawakan sahabatnya itu.


Dafa membekap mulut Rijal yang tertawa semakin kencang.


"Berisik anjir... " Dafa sedikit memiting leher Rijal.


"Ampun, gue batalin lu kerja di sini." Rijal meringis saat lehernya Dafa lepas.


"Maaf, Bos. Saya nggak lagi-lagi." Dafa terkekeh


Dafa bangkit dari duduknya dengan sedikit meringis, mengapit tongkatnya di ketiak.

__ADS_1


"Gue balik dah sore. Thanks ya sebelumnya." Ucapnya


Dua lelaki bersahabat lama itu saling berpelukan, lalu Dafa melangkahkan kakinya yang masih tertatih ke luar cafe milik Rijal itu.


"Sabar ya Daf... Ampe lu mau jadi tukang cuci piring demi nafkahin anak bini lu." Gumamnya , matanya menatap Dafa yang memasuki mobil dan langsung melesat jauh.


"Jiwa pembalap belum luntur ternyata." kekehnya melihat Dafa yang melajukan mobil masih dengan kecepatan tinggi.


🌸


🌸


Dafa tiba di depan rumahnya bebarengan dengan Mentari yang turun dari taksi online nya. Mata mereka saling menatap. Namun seketika Mentari memutus kontak mata itu dan membuka pagar agar mobil Dafa bisa masuk.


Tidak menunggu Dafa keluar dari mobil Mentari sudah masuk ke dalam rumah mendahului suaminya itu.


Mentari bergegas masuk kamar mandi, membersihkan tubuhnya dengan kucuran air hangat yang membuat rasa lelah nya hilang.


Dafa masuk dengan tertatih ke dalam rumah, dia masuk ke dalam kamar namun tak mendapati istrinya itu. Terdengar suara kucuran air di kamar mandi. Fantasi liarnya bekerja cepat membayangkan istrinya itu tengah berada di bawah shower dan dia memposisikan tubuhnya di belakang Mentari, mengelus dan meremat semua bagian tubuh yang dia sukai.


Apalagi subuh tadi, saat dia selesai menyatukan tubuhnya dan memeluk tubuh Mentari dari belakang. Perut itu... perut istrinya sudah sedikit membulat, ada anaknya yang sedang tumbuh di sana. Tanpa Mentari ketahui seulas senyum di bibir Dafa saat dia mengelus perutnya yang mulai membuncit.


Betapa indahnya membayangkan tubuh Mentari dengan tonjolan kecil di perutnya sambil bergerak-gerak menyabuni tubuhnya dan dia ada di balakang nya ikut mengusap kan spons mandi di sekujur tubuh istrinya.


"Otak mesum, sialan... giliran yang gitu aja lu cepet banget kerjanya." Dafa merutuki pikirannya sambil memukul-mukul pelan kepalanya.


Dafa akan memberanikan diri untuk berdamai dengan Mentari, setitik harapan pekerjaan sudah di dia dapatkan. Jadi dia tidak akan terlalu merasa rendah diri dan martabatnya sebagai kepala keluarga masih bisa terselamatkan.


Bukan egois namun seorang suami harga dirinya berada di nafkah, kalo nafkah batin dia sudah pasti yakin dapat memenuhi, tulang betis retak aja dia masih sanggup bergoyang apalagi dalam keadaan sehat.


Dafa berpikir untuk saat ini dia masih bisa membiarkan Mentari bekerja, tapi saat dia sudah mulai bekerja di kantor firma hukum itu. Dia tidak akan membiarkan Istrinya itu bekerja.


Klekk...


"Sudah selesai?" Dafa berbasa-basi.


"Udah, Mas mau mandi?" Mentari juga sedikit kikuk menjawabnya, terakhir mereka bicara tadi pagi hanya ada perdebatan, dan sekarang mereka terlihat kaku.


"Iya... " Dafa bangun dan tertatih meraba dinding berjalan ke arah kamar mandi.


"Mau aku bantu, Mas?"


"Euh... Boleh." Jawabnya lembut.


Mentari seakan mendapatkan angin sejuk mendengar nada bicara suaminya yang sudah kembali seperti biasa. Namun masih terlihat kaku, tidak apa pikirnya mungkin suaminya masih merasa malu.


Tangan dafa langsung Mentari rangkul dan dia lingkarkan ke pundaknya.


Dafa menelan saliva nya dengan susah payah saat melihat benda kembar kesukaannya yang mengintip dari balik handuk. Si benda favoritnya itu kini semakin besar dan padat. Dia mengingat kembali adegan subuh tadi di mana bagian itu membuatnya semakin menggila, tak sanggup rasanya saling diam sementara si tongkat kasti tiap saat selalu blingsatan hanya dengan melihat istrinya itu.


"Sun...


" Ya?" Jawab Mentari tepat di pintu kamar mandi.


"Maafin aku, Aku nggak maksud apa-apa. Cuma merasa malu dan tidak berg... " Ucapan dafa terhenti saat telunjuk Mentari menempel di bibirnya.


"Aku tau, karena itu bukan sifat Mas, dan aku ngerti keadaan Mas, nggak usah malu. Kita harus berjuang demi dia." Mentari mengusap perutnya yang masih terbalut handuk.


Dafa pun menunduk dan ikut mengusap tonjolan keras di perut istrinya itu.


"Anak ku... " Bisiknya.


"Anak kita... " Mentari meralatnya.


"Iya, Anak kita... " Dafa menunduk kan wajahnya dan memagut bibir yang selama lebih sebulan tak dia jelajahi karena rasa malu nya yang mendominasi.

__ADS_1


Mereka pun saling sesap, dengan lidah yang saling membelit di dalam sana. Dafa menghisap kuat dan mendudukkan tubuhnya di atas kloset yang tertutup.


Di tariiknya tubuh Mentari ke pangkuannya. Mentari pun duduk dengan mengangkangi Dafa.


"Kaki kamu, Mas?" Mentari khawatir.


"Bisa... Ayo, aku nggak kuat." Suara Dafa parau setengah berbisik dengan mata yang sudah mendamba.


Dafa yang hanya berbalut celana boxer ketat dan kaos, dengan mudahnya menarik si tongkat keluar.


Mentari tertawa geli saat si tongkat kasti yang sudah siap memasukinya Dafa keluarkan.


"Hai... sayang, aku kangen travelling ke gua kamu." Ucapnya sambil menggerakkan si tongkat itu.


"Apa sih, Mas?" wanita hamil itu terkekeh geli.


"Ini ucapan dia kalo bisa ngomong." Dafa juga ikut tertawa.


Pandangan mereka kembali saling mengunci, Mentari mengalungkan tangannya di leher Dafa kemudian Bibir yang saling merindu itu kembali menyatu hanya terlepas beberapa saat untuk mengambil nafas sebanyak-banyaknya, kemudian kembali menyelam ke lautan gai*ah yang memabukkan.


Seolah bibir mereka di tempeli magnet, tidak bisa terlepas menyatu lagi menyatu lagi.


Handuk yang tadi melilit di tubuh Mentari sudah terlepas menjuntai ke lantai. Dafa sibuk memilin dan melintir si chococips yang dia rindukan itu.


"Ehmm... agghhh... " Suara-suara aneh bikin merinding menggema di kamar mandi itu.


Dafa melepaskan tautan bibir mereka bibirnya berkeliaran menuruni dan meng absen mulai dari pipi, leher dan berhenti di si kembar sinyal yang semakin membuatnya gila.


Lalu mengulum dan menghisap nya kuat, Mentari menjambak rambut dafa yang menyandarkan di dadanya.


"Aghh... Mas... " Racaunya


Dafa yang sudah tidak tahan langsung mengarahkan si tongkat yang siap menjelajah.


Mentari melenguh dan Dafa menggeram nikmat saat mereka berhasil menyatu.


Dan kegiatan saling melepas rindu pun berlangsung hampir setengah jam dalam posisi duduk di atas kloset.


Mentari yang memegang kendali karena dia yang berada di atas dan lebih leluasa bergerak. Dafa menambahi dengan bumbu2 penyemangat istrinya, yang tak lain mulut dan tangan nya lah yang bekerja menghisap bak vacum dan tangan yang mengelus dan memijat seperti seorang tukang pijat profesional.


Saling memeluk, dan berbalas kecupan. Mereka sudah mencapai puncak tujuannya bersama.


"Turun Sun, paha aku pegel." Dafa meringis


"Ck tadi aja kamu yang narik aku, sekarang udah dapet enaknya kamu nyuruh aku turun." Mentari memberengut kesal.


"Emang kamu nggak enak? aku aja gitu yang enak?" Ledek Dafa.


Mentari Pura-pura budeg dan berlalu ke arah shower dengan wajah yang memerah malu.


"Sun... jawab? emang kamu nggak ikut enak?" Dafa seakan tak puas menggoda istrinya itu.


Dafa pun terkekeh keras dan bangun dengan terpincang-pincang setelah berhasil melepaskan celana boxer nya yang sedari tadi menggantung di betis nya.


Mereka pun mandi bersama saling menggosok dan terakhir Dafa mengecup si jabang bayi yang masih berada di dalam perut istrinya itu.


"Sehat-sehat ya anak Ayah." Bisiknya.


Mentari tersenyum dan ikut mengelus Punggung Dafa yang tengah menunduk mengecup perutnya.


Bersambung ❤❤❤


terimakasih. yang sudah mampir 🙏🙏, semoga suka🥰🥰, like komen nya ya apa aja ya😘😘


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua ❤❤

__ADS_1


__ADS_2