Kisah Mentari

Kisah Mentari
Galau nya Bintang


__ADS_3

...❤❤❤...


Sebulan berlalu...


Mentari benar-benar di sibukkan oleh kedua buah hati mereka, waktunya habis untuk mengurus Helen dan Shera.


Seperti sore hari ini, dia baru selesai memandikan Helen dan Shera bergantian. Intan ijin pulang ke rumahnya karena melihat adiknya sakit.


Mentari sudah kewalahan, Helen yang merengek manja mencari perhatian nya dan Shera yang menangis ingin segera minum asi.


Mentari menyusui Shera dan memangku Helen sekaligus.


"Mas... pulang cepet." Katanya saat panggilannya pada Dafa terhubung.


"Aku , malah mau ijin pulang larut. Papa masuk rumah sakit lagi. Kenapa?" tanyanya.


"Teh Intan kan ijin cuti, aku kewalahan sama anak-anak."


"Ya, udah aku telepon Bunda ya?"


"Nggak usah aku ke sana aja, nanti Mas pulang jemput aku di sana."


"Kamu pake apa? pake taksi aja. Jangan bawa mobil sendiri." Titahnya.


"Iya, siap Ayah. Ibu pergi sekarang ya!"


"Iya, Hati-hati." Dafa memutuskan panggilan nya.


*


*


Mentari tiba di gerbang rumah orang tuanya, saat terlihat Bunda dan Ayah berlari ke arah teras.


"Bun, kenapa?" tanyanya ikut panik saat keluar dari taksi yang di tumpanginya.


"Cindy pecah ketuban, lagi di market. Sekarang langsung di bawa ke rumah sakit sama Abang kamu. Bunda langsung ke sana sama Ayah." Bunda yang langsung menaiki mobil yang sudah berisikan Ayah.


"Di dalam ada Kakak kamu.' tambahnya lagi.


Mentari mendengus, di sana sendiri datang ke sini juga sendiri. Cicitnya.


*


*


" Kak... "


"Eh, Anak-anak Papi." Bintang yang sedang menonton TV menyambutnya.


Helen langsung berlari ke arah Bintang.


"Hah... di rumah sepi, di sini juga sepi." keluhnya.


"Kemana si lelet?"


Mentari menoleh ke arah kakaknya, "Nggak boleh gitu loh, kak. Kasian, lagian teh Intan baik banget tau!" belanya.


"Alah, males banget ama si lelet. Kemana emang?"


tanyanya lagi.

__ADS_1


"Adiknya sakit, jadi dia liat dulu ke rumahnya." Jawabnya.


Bintang pun mencelos sebal.


"Eh, apa kabar kak Naya? jarang ke sini sekarang?" tanyanya.


Bintang melamun.


"Putus?" Mentari menatap wajah muram kakaknya.


"Heh... omongan kamu, asemmm. Kakak mau kawin tau sama dia." gerutunya.


"Kawiiiinnn?" Mentari membeo.


"Eh, nikah maksudnya. Tapi dia ngulur2 aja. Padahal kakak kurang apa coba?" tanyanya sombong.


"Ya nggak tau, mungkin dia masih cinta sama suaminya."


"Heh, mantan. Masa iya udah berapa lama, pasti udah nggak ada itu." Bintang mendengus.


"Gegara dia mimpi suaminya bilang sabar. Sabar apa coba? sabar sampe kerangkanya di temuin?"


"Kak, ih. Aku merinding takut, mana mau Magrib aku bawa bayi nih. Ngomong suka seenaknya aja." Mentari beringsut mendekat ke arah Bintang.


Bintang hanya tersenyum kecut mendengar perkataan adiknya. Tapi pikirannya berhamburan entah kemana.


...🌸🌸🌸...


Dafa tiba di rumah mertuanya tepat pukul delapan malam, tubuh nya serasa remuk namun saat melihat Helen yang berjingkrak menyambutnya dan Mentari yang tersenyum sambil menggendong Shera rasanya lelah itu menguap begitu saja. Di ciumnya satu persatu anak dan istrinya itu.


"Pulang sekarang?" Dafa menggendong Helen.


"Iya, tapi aku pengen sate yang di jalan buah batu dulu. Waktu hamil aku pengen itu, cuma keburu keluar Shera. " Rengeknya.


"Nggak pamit dulu?" tanyanya saat Mentari langsung mengambil tas peralatan anak-anaknya di kursi ruang tamu.


"Nggak usah, kak bintang lagi galau, Ayah sama Bunda di rumah sakit Cindy lagi lahiran, tapi belum ada kabar, kayaknya besok aku ke sana deh." Katanya sambil memberikan tas ke tangan Dafa dan membuka pintu mobil.


"Kakak di di belakang ya!" Ucapnya dan di angguki oleh Helen dengan memeluk boneka kuda poni miliknya.


Mereka pun keluar dari rumah besar itu, menuju tukang sate yang di idamkan mantan bumil itu.


*


*


Dafa masuk kembali ke dalam mobil setelah memesan sate dan berniat memakannya di dalam mobil mengingat kedua anaknya yang tertidur pulas.


"Udah pesennya?" tanya Mentari yang merapikan bajunya saat Shera selesai dengan asi nya.


"Udah," Jawab nya sambil memijat tengkuknya nyang terasa pegal.


"Capek ya? maaf, aku pengen banget sate ini." Mentari ikut memijat bahu suaminya.


"Nggak apa-apa, kamu pasti lebih capek ngurus anak-anak. Lagian sekalian makan aku juga laper." Dafa mengenggam tangan Mentari dan mengecup nya lembut.


"Aku kangen, ampun kesiksa banget. Nih apalagi ini!" Dafa menyentuhkan tangan Mentari lebih bagian bawah tubuhnya.


"Sabar bentar lagi." Mentari dengan jailnya menjawil sesuatu yang sedang anteng tertidur itu.


"Astaga, mancing2." Dafa menarik kepala istrinya dan mengecupnya gemas.

__ADS_1


Kaca jendela mobil pun di ketuk si abang sate yang membawa nampan berisi dua porsi sate dan es jeruk.


"Makasih, Bang." Dafa mengambil pesanannya satu persatu karena Mentari memegang Shera.


Mereka pun memakan sate dengan tenang.


"Ah... kenyang." Mentari merebahkan kepala nya di sandaran jok, sambil mengelus perutnya yang terhimpit Shera.


"Langsung pulang?" Tanya Dafa.


Mentari mengangguk tersenyum.


Dafa pun melajukan mobilnya ke arah rumah mereka.


***


Di lain tempat


Bintang termenung di balkon kamarnya, menghembuskan asap rokok yang di sesapnya.


Dia menerawang semua keadaan yang dia lalui selama ini, melihat lelaki brengsek seperti Dafa yang dulu sangat dia benci kini menjelma menjadi lelaki kepala keluarga yang sangat mencintai dan bertanggung jawab.


"Apakah dia bisa? pasti bisa!" pikirnya.


Lalu kenapa Naya selalu menghindar atau seperti mengulur waktu ketika dia mencoba mengajak ke jenjang serius jangankan menikah, dia ajak lamaran saja banyak sekali alasan yang Naya berikan.


Tapi saat melakukan hal-hal yang sedikit melenceng Naya tak pernah menolak, malah seperti pasrah. Atau dia hanya kasian, atau merasa kesepian juga.


Bintang menghela nafasnya yang terasa berat.


Dia lelah, merasa kesepian. Ingin sekali dia memiliki tempat bersandar, berkeluh kesah, dan menumpahkan segala kasih sayang.


Mengingat lagi masa kecilnya yang di paksa untuk mencontoh Abangnya yang sempurna, dan wajib menjaga dan melindungi adiknya. Sedangkan dirinya sendiri seolah di lupakan.


Bintang bergeming saat ponsel nya berbunyi. Betapa senangnya saat si pemanggil adalah Naya, wanita yang selalu ada dalam Kepala nya.


"Haii... sayang... aku kangen. " Bintang membuat suaranya se imut mungkin.


"... "


"Ok, besok aku pulang ngantor langsung ke Jakarta, nggak... nggak bisa bolos, Abang istrinya melahirkan jadi kayaknya mustahil aku buat bolos." Terangnya.


"... "


"Ok, tunggu aku ya."


"... "


"Eh, jangan dulu di tutup. VC yuk! Aku kangen." Katanya lagi.


"... "


"Bentar, aku rebahan dulu." Bintang segera masuk kamar dan merebahkan tubuhnya.


"... "


"Udah nih, buka dong... " Ucapnya...


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih🙏🙏, jangan lupa komen, like, sama Favoritnya ya yang belum di klik.

__ADS_1


Cuma mau mengingatkan yang udah nge favorit in cerita ini jangan di un fav lagi dong, Tiba-tiba naik ntar tiba-tiba berkurang lagi. Aku kayak yang di kasih jajan terus di pinta lagi 🤭🤭 Tapi bebas sih gimana kalian aja lah, susah nggak bisa maksa☺☺ Terimakasih yang masih setia mendukung, semoga berkah dan tidak mengecewakan🥰🥰🥰


Sehat dan bahagia buat semua😘😘😘


__ADS_2