
❤❤❤
"Bentar... " Saut nya dari dalam kamar yang kebetulan bersebelahan dengan ruang tamu, tempat pintu terdengar di ketuk tadi.
Dafa tertatih sedikit membungkuk, menahan rasa tidak enak di perut nya. Membuka kunci pintu yang sedari tadi berisik di telinganya.
"Lama... Banget, lu udah ganggu tidur gue. Ke sini lama banget buka pintu." Gerutunya.
"Ck... jam segini dah molor, obatin gue nih dari sore sakit banget." keluh nya.
Lukman mengikuti Dafa ke arah kamar, Sahabat nya itu kembali membaringkan tubuhnya. Dia lalu mengeluarkan alat-alat kedokteran nya untuk memeriksa Dafa.
"Semua ok, nggak ada apa-apa kayaknya."
"Tapi perut gue sakit banget, dari sore duh... " keluh nya seraya sedikit meringis.
"Mules?"
"Iya, tapi nggak ada yang keluar. Tapi melilit banget ampe keluar keringet dingin."
"Kayak yang mau midil?" Lukman kembali bertanya sambil tangan nya sudah siap dengan beberapa obat yang kira nya bisa meredakan rasa sakit perut sahabat bawel nya itu.
"Iya, kayak yang mau midil banyak gitu. Tapi ngga ada yang keluar dikit pun."
"Makan apa lu tadi pagi?" tanyanya sambil kembali merapikan stetoskop nya.
"Justru gue nggak makan pagi, cuma kopi doang. Makan di cafe si Rijal aja siangnya."
"Nah... itu kayak nya sumber penyakit lu, telat makan, minum kopi dalam keadaan perut kosong. Terus masuk angin kayaknya." Dokter itu menjelaskan.
"Halah, gue udah biasa nggak makan pagi. Semenjak... " dia tak meneruskan ucapannya.
"Di tinggal kabur... pfffttt." Lukman menahan tawa.
Dafa hanya mendelik sebal pada sahabat nya itu. Terasa sesak di dada namun itu, memang kenyataannya.
"Minum yang anget lah, biar enakkan perut lu. Terus minum nih obat pereda nyeri, kayaknya lu lambung."
"Bikinin lah, gue nggak kuat ke dapur." Rengeknya dengan wajah di buat sok memelas minta di kasihani.
Lukman yang sudah berdiri hendak menjinjing tas nya, hanya terperangah mendengar tugas yang di titah kan padanya.
"Woy... gue dokter ya, bukan OB." sungut nya kesal.
"Please, atas nama sahabat lah."
"Giliran gini aja lu ngaku gue sahabat, fee gue mahal ya!" gerutunya sambil berjalan ke arah dapur.
"Gilaaa... nih dapur." Ucapnya berteriak.
Dafa mendengar apa yang Dafa keluhkan. "Nggak usah di pikirin dapur orang, tapi kalo mau sekalian lu kerjain gue sebagai sahabat lu. Merasa sangat berterimakasih." jawabnya pelan, namun jarak kamar dan ruang makan dan dapur yang sejurus masih bisa di dengar Lukman.
"Lu ngerendahin gue, Mak bapak gue biayain sekolah dokter mahal-mahal. Seenaknya aja lu nyuruh nyuci piring." Katanya sambil bertolak pinggang seakan Dafa bisa melihat kemarahannya.
"Nggak gratisan kok gue, ntar tambahin ke tagihan gue."
"Si anjir, kurang ajar nih bocah." Lukman kembali mendengus kesal.
Di ambil nya sebuah gelas, di isi teh dan gula putih. lalu berjalan ke arah dispenser. "Dih, dispenser lu nggak nyalain?"
"Nggak!"
__ADS_1
Dokter muda itu kembali berjalan ke arah tempat cuci piring di mana di sana banyak terdapat gelas dan piring kotor yang sudah mengering. Mengambil panci kecil yang menggantung di atasnya, kembali ke arah dispenser dan menekan tombol air nya.
"Gustiii... nih air galon juga kosong?" Dia sudah mulai frustasi.
"Eh... iya, lupa. Tuh di ujung dapur deket pintu ke taman ada galon nya belum aku naikin ke atas dispenser, nggak kuat." Dafa berkata menyuruh dengan tak tau dirinya.
Lukman mendengus kesal, sudah waktu istirahat nya terganggu. Di sini bukan hanya memeriksa pasien sesuai tugasnya. Malah dia merasa di manfaatkan habis-habisan oleh orang yang mengatasnamakan kata sahabat.
Galon sudah naik ke atas dispenser, Lukman dengan wajah kesal menyimpan galon kosong sedikit bersuara.
"Gustiii... kaget." Dafa berkata menirukan kata-katanya tadi.
Lukman yang tadi kesal seketika menyeringai mendengar suara sahabatnya yang lemah tapi tetap membuat tensi darah mudah naik.
Saat sedang menunggu air yang di rebusnya matang, pandangan nya tertuju pada dua dus bekas susu hamil di kolong tempat cuci piring.
"Ini susu hamil Tari, Daf?" tanyanya.
"Iya." Dafa menjawab singkat.
"Udah berapa, lu nggak beresin rumah? ampe susu hamil bini lu masih ada?" Tanyanya.
"Itu, Baru-baru abisnya." Dafa kembali berkata.
"Hah... maksudnya?" Lukman sambil menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah berisikan teh dan gula itu.
"Iya, itu peninggalan bini gue. Kata pak ustadz nggak boleh menyia-nyiakan makanan dan minuman, 'mubazir'.
" Hahahahah... ya kagak lu minum juga dodol. kasihin ke siapa kek yang lagi hamil." Lukman bejalan menuju arah kamar Dafa yang pintunya terbuka lebar.
"Ke siapa? masa iya gue nanya ke setiap cewek, 'Bu lagi hamil? atau Mba lagi hamil? mau susu saya?' Kagak-kagak aja lu."
Lukman yang memang kesal sekaligus heran akan perkataan sahabatnya itu yang suka berkata ceplas-ceplos tanpa di saring. Hanya bisa tertawa menggeleng kan kepalanya.
"Nih minum teh nya, gue udah pesenin bubur ayam ya! makan terus minum obatnya. Gue mau pulang
Besok ada seminar." katanya.
"Tungguin seenggaknya sampe bubur nya datang, gue nggak kuat bangun." Dafa kembali melelahkan wajahnya.
"Gue abis, dines malem terus siangnya rapat, sore packing buat seminar besok. Mau molor lu nelpon, ngerepotin aja." Lukman kembali mendudukkan tubuhnya di sebelah Dafa yang kini terduduk di atas Tempat tidur dengan menyandar kan kepalanya.
*
*
Tak lama, bubur pesanan pun dateng. Lukman masuk membawa bungkusan yang baru dia terima dari ojek online yang di pesannya.
"Gue, pindahin dulu ya. Masih aja pake styrofoam, bahaya." Lalu melenggang ke arah dapur.
Terdengar suara gaduh di dapur itu, suara Lemari yang di buka tutup.
"Berisik banget sih?" ucap Dafa.
"Di mana lu nyimpen mangkok?" Lukman bertanya sambil terus membuka lemari mencari keberadaan si mangkuk.
"Coba ku itung mangkok yang ada di tempat cuci piring!" Titahnya.
Sebuah perintah yang di rasa janggal oleh Lukman, tapi tetap dia lakukan. "Satu, dua, tiga,... ada dua belas!" jawabnya setelah selesai menghitung mangkuk yang berserakan kotor di atas tempat cuci an piring.
"Oh, gue cuma punya selosin mangkok." Kata Dafa dari dalam kamar.
__ADS_1
Lukman menangkap kalimat yang dia dengar, sesaat kemudian rahang nya mengetat kesal, tangannya terulur ke arah keran air mengambil satu mangkuk dan menyambar spons dan membasahi nya dengan sabun.
"Kurang ajar, manusia langka. Gue dokter woy, masa iya suruh nyuci piring." Gerutunya kesal.
"Lah, kan lu yang bilang. Styrofoam bahaya, lu juga yang niat mau mindahin ke mangkok." Ucapnya membela diri.
Lukman hanya terdiam kesal membereskan mangkuk yang dia pegang. Menuangkan bubur itu lalu masuk kembali ke dalam kamar Dafa.
"Nih, gue pulang. Minum obatnya cepet pulih."
"Gue, nggak mau lu peralat lagi. Besok gue pergi subuh mau molor nyenyak. Biasanya si Rijal yang lu repotin!"
Dafa yang tengah menyuapkan sendok demi sendok bubur dalam mangkuk nya, hanya mengibaskan tangannya. "Rijal lagi ada ortu nya dari kampung, kasian lagi family time dia." terangnya.
"Uhmm... gue pulang." Lukman berjalan menyambar tas dokternya.
"Makasih banyak ya, sobat."
"Preet," dengus nya sebal.
Dafa hanya tertawa dan melanjutkan makannya.
Selesai makan dan meminum obatnya, dia beranjak menyimpan mangkuk kotor, mengunci pintu dan kembali merebahkan tubuhnya yang dia rasa berangsur membaik.
...~~~~...
Tepat di jam dua dini hari Dafa kembali merasakan gejolak aneh dalam perutnya. Keringat dingin sudah membasahi tubuhnya. Dia berguling-guling di atas tempat tidur sesekali mengaduh dan meringis. Bahkan satu botol minyak kayu putih berukuran sedang sudah habis dia pakai untuk membalut perutnya.
Hingga pagi menjelang dia masih merasakan perutnya yang semakin terasa sakit.
"Lu kenapa?" tanya Rijal yang baru datang ke rumahnya untuk menjemput sahabatnya itu menyaksikan momen wisuda sahabatnya itu yang sudah di tunggu-tunggu.
"Masih sakit perut lu?" tanyanya lagi.
Dafa yang sudah tak bertenaga hanya mengangguk lemah seraya kembali masuk ke kamar.
"Terus acara wisuda lu gimana?"dia menatap heran Dafa yang kembali merebahkan tubuhnya.
" Lemes gue, semaleman nggak tidur." Jawabnya lemah.
"Uhm, kata si Lukman apa?"
"Lambung, sama masuk angin. Gue kira dia abal-abal deh, obat yang dia kasih nggak berpengaruh banget, nggak ada reaksinya sama sekali." Ucapnya sambil kembali menarik selimut nya, di sertai wajahnya yang kembali mengernyit menahan sakit.
"Aneh lu mah, dia udah berapa taun jadi dokter? lulusan terbaik pula. jangan ngada-ngada lu. Ngamuk ntar dia." Ucapnya sambil terkekeh.
"Tau lah, gue tidur bentar. Acara utamanya kan jam sebelas, gue mau dateng pas puncak acara aja. Terus anter gue ke rumah sakit ya." pintanya dan di angguki Rijal tanda menyetujui.
Rijal keluar dari kamar itu, berjalan ke arah dapur hendak membuat minuman. Tangannya lincah di atas layar ponsel memesan makanan di aplikasi online untuknya dan sang sahabat yang tengah sakit dengan diagnosa yang masih meragukan.
Tidak seperti Lukman, dia malah berinisiatif sendiri membereskan dapur karena dia terbiasa dengan hal itu. Dan juga tidak suka melihat sesuatu yang kotor dan berantakan.
"Duh, rumah kek kapal pecah. Kasian nih single bodong." Kemudian terkikik geli dengan ucapannya sendiri, tangannya lihai mengusapkan spon bersabun ke setiap wadah yang dia pegang.
Bersambung ❤❤❤
Terimakasih yang sudah mampir 🙏🙏, semoga suka🥰🥰, ini halu doang ya semoga terhibur, niat aku nyari pahala bikin orang tersenyum 🤭🤭. tapi sebagai bayarannya like komen nya dong 😘😘.
Semoga terhibur ya, walaupun nggak tau lucu nggak nya buat kalian🤭🥰🥰.
Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤❤❤
__ADS_1