
❤❤❤
Suara rintihan masih terdengar di ruangan itu, mentari masih setia menautkan tangannya pada jari jemari orang tuanya.
"Bun... " Mentari menggeleng lemah pada sang Bunda, tanda dia menyerah akan rasa sakit.
Bunda kembali menitikan air mata, dia tau betul apa yang sedang putrinya rasakan kini.
"Kuat sayang, ayo anak bunda hebat." Terus kata-kata penyemangat dan lantunan doa dia bisikan pada telinga putrinya itu.
"Ayah... " Kini dia berbalik ke sebelah kiri di mana ayahnya sedang mengusap-usap pucuk kepalanya.
"Semangat ayo, bawa baby cantik bertemu dengan kita."
"Butik sudah Ayah siapkan buat hadiah baby cantik."Bisik nya merayu sang putri, memberi semangat dengan sesuatu yang sangat di inginkan.
Mentari yang sedang mengejan sesaat menatap wajah ayahnya tak percaya, " Serius, Yah?" tanyanya
"Nyata... " Ayah menyunggingkan senyumnya.
Mentari sedikit tersenyum senang.
"Dih... Si matre." Bintang berbisik di balik pundak Langit.
Langit hanya tertawa kecil melihat ke arah Mentari.
"Ikhlaskan semua nya, maafkan semua kesalahan orang yang menyakitimu, buat hati kamu lapang." Bisik sang Bunda.
"Udah, tapi masih sakit hati, masih kesel banget." Jawabnya sambil mengatur nafas yang semakin terasa menyesakkan.
"Ntar, gue bantu balas dendam dek." Bintang menimpali dari balik tubuh sang kakak.
Langit berbalik ke arah di mana adiknya itu sedang bersembunyi dari rasa takut melihat setiap proses yang sedang di lalui adik mereka.
"Brisik... " Matanya melotot sinis.
"Gue di luar lah, Bang!" Mohon nya.
"Shhtt... " Langit menempelkan telunjuknya di bibir menandakan agar Bintang tak bersuara.
*
*
Selang setengah jam dari proses negosiasi sang Ayah, Mentari masih setia dengan tubuh yang gelisah semakin sakit dan ngilu. Bahkan pinggangnya sudah terasa lepas dari tulang nya.
Berbagai minuman mulai dari teh manis, minuman pengganti ion, juga air madu sudah dia tenggak habis.
"Coba posisi jongkok!" Dokter menyarankan.
Menyibakkan selimut yang menutupi bagian inti tubuhnya.
__ADS_1
Ayah, Langit, dan Bintang langsung berbalik arah, Berdiri di dekat pintu, masih bisa mendengar namun sedikit tertutup oleh tirai yang kini Suster tarik sedikit menutupi tubuh Mentari.
"Coba, jika terasa akan pup. langsung mengejan." Dokter perempuan itu menyarankan dengan suara yang sangat ramah.
Mentari kembali merasakan desakan di perutnya lalu mengejan dan air turun dengan deras dari daerah intinya. "Dok, pipis." Ucapnya lemah tak merasa malu sama sekali, karena rasa malu hilang terkalahkan rasa sakit.
Dokter hanya tersenyum dan menyuruh dua suster itu untuk membereskan nya.
"Pfffttt... ngompol." Kekehnya, saat akan menertawakan adiknya. Kedua pasang mata menyoroti nya, tatapan Ayah dan langit yang menyiratkan tatapan mematikan seolah membungkam mulutnya, yang bersiap akan mengeluarkan ledekan dan tawa penghinaan.
Bintang pun langsung tertunduk, tangannya pura-pura sibuk megotak-ngatik ponselnya.
...~~~~...
"Mau cecar atau normal?" Bunda akhirnya menyerah menawarkan pilihan lain.
"Kalo ibu kuat, lebih baik normal. ini sudah pembukaan sempurna. Pembukaan sepuluh sedikit lagi pasti bisa. Biar saya gunting jalan lahirnya." Ucap sang dokter.
"Hah... apanya yang di gunting, Ya?" Bintang lagi-lagi berisik di belakang punggung Langit.
Langit yang tengah menyilangkan tangannya di kedua dada. Dan sesekali menggaruk dagu yang di tumbuhi jambang yang terlihat membayang, membingkai dagunya yang semakin terlihat tegas.
"Brisik mulu." Sentaknya kesal
"Aw... dok, sakit." Jerit nya saat sang dokter menggunting daerah intinya agar semakin memudahkan si bayi keluar.
Dokter itu hanya tersenyum lalu dia kembali menunggu gelombang cinta datang menghampiri pasien nya itu.
"Iya, ayo bu rambutnya udah keliatan, coba pegang." Dokter mengambil tangan mentari menyentuh kan nya ke bagian bawahnya di mana ujung kepala sang anak sudah menonjol keluar.
Mentari semakin histeris antara takut, takjub, dan haru menjadi satu.
Kemudian dia kembali berpegangan erat kini pada pinggiran ranjang mengeratkan pegangan nya meluapkan semua tenaga yang bisa dia keluarkan untuk mengejan, agar bagaimana secepatnya dia bisa bertemu dengan sang buah hati.
"Massss.... " Teriaknya di ikuti keluarnya sang bayi, yang seketika menangis kencang.
Semua orang di sana bernafas lega, saat Bintang, Langit dan Ayah mengintip dari balik celah tirai, dokter sedang mengancungkan bayi merah itu di depan sang ibu. "Selamat, Bu. Bayi perempuan, cantik, lengkap." Ucap dokter itu ceria, menimang bayi perempuan gemuk sebelum di berikan pada suster untuk di bersihkan.
Brukkk...
Semua orang panik saat Bintang jatuh pingsan.
Bukannya sibuk oleh ibu dan bayi di sana orang-orang malah sibuk membopong tubuh Bintang, keluar dari ruang bersalin. Biasanya seorang Ayah yang shock melihat perjuangan istrinya, namun ini momen langka di mana seorang om terjengkang saat melihat keponakannya yang baru di lahirkan di acungkan ke hadapan sang ibu yang tak lain adiknya.
*
*
"Kenapa?" Tanya Lukman melihat Langit membopong Bintang susah payah ke luar.
Teryata dokter muda itu masih setia duduk di bangku besi di luar ruangan.
__ADS_1
"Bukan saat bertanya, bantuin ini berat." Langit meminta tolong dengan tubuhnya yang tengah membopong Bintang ke luar dari ruang bersalin.
Di bantu sang ayah, dan di ikuti seorang suster yang terus menahan senyum.
"Tari, Gimana keadaannya?" tanyanya dia merasa berhak tau untuk mewakilkan Dafa Ayah si bayi. Sebagai seorang teman yang juga terkadang di momen tertentu mengaku sebagai sahabatnya itu.
Dia harus meyakinkan keadaan istri dan anak temannya itu sehat dan selamat.
"Udah lahiran barusan, bayi perempuan."
"Ini pingsan kan gegara liat bayi merah dengan tali pusat menjuntai." Tambahnya lagi terkekeh geli.
Membayangkan adiknya yang playboy dan si pembuat onar, lemah hanya melihat sesosok manusia baru, kecil mungil, dan berwarna merah.
Langit lagi-lagi tertawa sambil kepala nya menggeleng geli sendiri dengan pemikirannya.
*
*
Dafa baru turun dari atas panggung besar setelah dia secara resmi menyandang gelar sesuai jurusan yang yang dia selesaikan. Kini sudah bertambah gelar di belakang namanya.
'Dafa Putra Harun S.H., M.H.'
Sesuai janjinya pada sosok ibu yang sudah tidak ada. Itu sesuai cita-cita sang ibu saat sedang mengandungnya. Berharap putra nya akan menjadi sosok pengacara yang dapat membela kebenaran dan menegakan keadilan agar dapat berguna bagi banyak orang yang membutuhkan. Itulah sepenggal cerita cita-cita wanita yang telah membawanya ke dunia ini bahkan mengorbankan dirinya sendiri.
Itulah kisah yang dia dengar dari si mbok dan Papa nya, yang menjadi saksi cita-cita mulia seorang ibu yang di harapkan dapat putranya capai.
"Kamu sakit?" Papa bertanya saat putra lelakinya berjalan lemas ke arahnya.
"Sakit perut, Pa!"
"Hah... Sakit perut gimana? pria paruh baya itu mengernyit.
Rijal yang mengikutinya dari belakang hanya menahan tawanya.
" Foto bareng dulu, dong Om, momen langka nih." Ajaknya sambil mendorong kursi roda Papa dari sahabatnya itu ke arah tempat yang sudah terjajar rapi para fotografer musiman beserta Backgroundnya yang sudah tertata rapi.
Satu foto, dua foto telah selesai dan foto dirinya yang gagah dengan baju Toga dan topi nya yang membingkai wajah tegas namun sedikit pucat dan berkantung mata. Dafa semakin lemas dengan rasa perut semakin melilit sakit.
Dafa berjalan ke arah di mana Papa dan sahabatnya itu berdiri menunggu nya selesai sesi foto2.
Dan tiba-tiba Dafa mematung dengan rasa sakit luar biasa di area perutnya, dia meremat perutnya sesaat sebelum dia ambruk jatuh terkulai lemas.
"Daf... " Rijal berlari menghampiri Dafa yang tergeletak tak berdaya. Orang-orang pun ikut mengerubunginya dan seseorang menelpon ambulance.
"Perut gue sakit... " Ucapnya lemah sebelum matanya benar-benar menutup tak sadarkan diri.
Bersambung ❤❤❤
terimakasih yang sudah mampir 🙏🙏, aku seneng deh kalo kalian suka, statistik yang baca pun membludak (buat ku ya, kalo buat otorr famous mah se ujung kuku doang, aku mah kan otorr kotor 🤭🤣) tapi aku seneng luar biasa dan makasih banyak 🙏😘, yang utama semoga kalian suka sama cerita bubuk gorengan ini. Like komen nya selalu aku harapan 🤭, aku suka bales komen kalian menandakan aku pengen meluk kalian satu2 kalo deket, karena nggak bisa aku bales komen kalian aja🤭🤣🤣.
__ADS_1
Semoga yang baca, yang share, dan promo ini cerita ini dapet balesan sehat, rejeki yang mengalir, dan otot perut makin tebel biar bisa kuat ketawa2 sama mas Dafa 🙏🙏😘😘😘😘