Kisah Mentari

Kisah Mentari
semacem doang


__ADS_3

โคโคโค


Setelah agak lama menunggu istrinya keluar dari kamar, akhirnya dia masuk ke dalam kamar.


Pemandangan yang membuat hatinya bergetar hangat, dan haru bahagia, sekaligus membuat bawahnya kembali berkedut bangkit.


Melihat Mentari membelakangi pintu kamar, berbaring dengan hanya memakai celana renda hitam yang tadi sudah dalam genggaman nya.


"Asemmm, Nak. Kamu menghancurkan permainan Ayah sama Ibu." Ucapnya saat melihat Helen tengah menghisap asi sambil tangannya memegangi kakinya sendiri mengacung ke udara.


Mentari terlihat terlelap sambil berbantalkan sebelah tangannya.


"CK, mana ada yang nyusuin bayi gayanya ero*tis gini." Dia menunduk dan mengecup bahu polos sang istri.


Tak ada pergerakan istrinya bener-bener pulas, hanya Helen yang masih setia dengan makanannya sambil sesekali matanya menatap sinis pada Ayah nya.


"Apa? kamu Sentimen banget sama Ayah. Posesif banget sih, Nak. Sama ibu!" Dafa menundukan posisi kepalanya agar dapet melihat Helen.


Dafa menarik selimut dan menutupi sampai perut istrinya. Dia berencana akan menyelesaikan pekerjaannya yang dia tinggalkan tadi demi sebuah kenikmatan yang hancur karena beberapa iklan yang lewat dengan tak berprikeanuan.


Dia iseng memegang puncak dada istrinya yang nganggur, saat menyentuhnya tanpa di duga Helen mengacungkan kepalan tangannya ke atas, sambil matanya menatap tajam Ayahnya.


"Astaga, Nak. Kamu bener-bener posesif sama daerah teritorial. Itu punya Ayah dari dulu, kamu cuma pinjem. Selesai Ayah ambil lagi. Pffttt." Dafa menahan tawanya, merasa geli sendiri berdebat dengan seorang bayi memperebutkan kekuasaan daerah yang sama-sama membuat mereka mabuk dan candu.


"Ayah kerja lagi ya, Helen bobo lagi gih. Ibu udah tidur tuh. Nanti sore kita beli tempat tidur buat Helen ya!" Katanya sambil mengusap pipi bulat yang tengah kembang kempis menghisap asi dengan kuatnya.


Dafa pun segera keluar, dan menutup pintu kamar dengan perlahan.


*


*


Mereka sudah ada di dalam mobil menuju salah satu tempat furniture terbesar.


Dering ponsel milik Dafa terdengar nyaring, tangannya merogoh ponsel di saku celananya.


"Duh, Sun. Susah, tolong dong ambilin ponsel di sini." Titahnya pada sang istri sambil menunjuk saku celananya yang masih menghasilkan suara nyaring.


Mentari membenarkan letak Helen, sebelum merogoh saku celana suaminya itu.


"Aghhh ... " Dafa mende*sah manja saat merasakan tangan istrinya itu, masuk dan bergerak di sekitar paha atasnya.


Mentari menatapnya kesal, Matanya membola dengan bibir yang dia cebikkan. "Modus, kamu mah. Sebel, apa-apa pasti di tujuin ke situ." Gerutunya.


"Siapa yang bilang?" Dafa terkekeh menyangkal semua.


Mentari berhasil menarik ponselnya dan melihat nama si pemanggil.


"Loudspeaker." Pintar Dafa.


Wanita itu, menurut lalu mengarahkannya mendekati wajah Dafa.


"Halo, Pa!"


"Dimana kamu? Ke kantor sebentar. Ada yang harus di tanda tangani mewakilkan Papa. Kasian kalo mereka harus ngejar ke Bogor." Ucap pria tua di sebrang sana.


Dafa menoleh ke arah istrinya, dan mendapat anggukan kecil dari istrinya, tanda setuju.


"Iya, sebentar lagi. Aku ke kantor, lagi di jalan bawa istri." Jawabnya.


"Apa? kamu udah nemuin istri kamu?" Papa terdengar antusias di sana.


"Bawa ke sini, Papa mau ketemu." Titahnya.

__ADS_1


"Iya, nanti Dafa bawa ke sana."


Panggilan pun berakhir.


"Tega, kamu Mas. Belum kasih tau Papa?" Mentari bertanya pada suaminya yang sedang fokus mengemudi itu.


"Belum, biar kejutan. Papa juga nggak tau, kalo aku punya Helen. Pasti bakal kaget banget." Dafa tertawa membayangkan reaksi Papa nya.


"Kapan ya? kita ke Bogor!" Dafa menoleh sesaat pada Mentari yang tengah memangku Helen.


"Weekend gimana?" Usulnya.


Mentari menatapnya dengan antusias. "Boleh, asik aku udah lama nggak liburan." Dia senang bukan main.


Dafa mengusak puncak kepala istrinya yang histeris karena akan jalan-jalan ke luar kota.


"Se seneng itu?"


Mentari mengangguk kecil.


"Ke kantor dulu sebentar ya?"


"Siap, Yah." Jawabnya.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Sore hari itu, sesampainya di kantor bertuliskan 'Harun Grup' Mentari menatap gedung setinggi enam lantai milik mertuanya itu dengan tatapan menelisik. Bisnis apa saja yang di jalankan mertuanya itu yang sekarang di pindah alihkan kepada suaminya.


"Sun, Ayo!" Dafa merentangkan tangannya dan Mentari menyambutnya dengan senyuman.


Mereka memasuki pelataran lobby saat seorang resepsionis menyambut mereka.


"Sore, Pak."


Mentari menatap selintas ke arah resepsionis itu, yang masih terbengong lihat kehadiran Dafa bersama dengan dirinya dan juga Helen.


Di lift pun Dafa tak melepaskan rangkulan di pundak istrinya, tangannya sesekali menggoda Helen.


Keluar dari lift, berjalan menuju sebuah pintu dan berdinding kaca, melewati sebuah meja yang di duduki seorang wanita matang dengan kacamata tebal. Dia serius menatap layar monitor di depannya.


"Bu, Yanti." Dafa menyapa wanita itu.


"Eh, iya Pak." Jawabnya cepat sambil berdiri sedikit menunduk.


"Berkas nya mana? saya nggak bisa lama. Di tunggu anak istri." Katanya sambil senyum ke arah Mentari dan Helen yang sedang berceloteh khas bayi.


Dafa membuka pintu, dan menggiring Mentari masuk ke dalamnya.


"Duduk dulu di sofa ya, aku meriksa sedikit dokumen. Nggak akan lama!" Katanya menenangkan Mentari.


"Nyantai, baru jam tiga!" Mentari duduk dan langsung menidurkan Helen di atas sofa yang telah dia lapisi selimut yang sedari tadi melapisi tubuh Helen.


Tok ... tok ....


Sebuah ketukan pintu terdengar.


"Masuk," ucap Dafa.


Mentari melihat siapa yang masuk ke ruangan suaminya itu, ternyata wanita yang di meja depan tadi.


"Ini, berkas yang harus bapak periksa dan tandatangani." Dia memberikan dua buah map.


"Duduk, sebentar bu!" pinta Dafa.

__ADS_1


Wanita yang dia dengar bernama bu Yanti itu, Langsung mendudukan tubuhnya di kursi depan Dafa.


Dafa yang sudah mulai membulak balikan kertas dan sedikit serius membacanya, sesaat menatap sekertaris warisan Papanya itu.


"Ibu, serius dengan pesan yang tadi di kirim ke saya?" tanyanya.


"Iya, betul pak. Saya harus resign. Saya hamil anak ke tiga di usia hampir 38 thn, usia cukup rentan untuk wanita hamil kembali, dan suami saya meminta saya fokus pada kesehatan. Beliau juga sudah lebih mantap dalam usahanya. Jadi saya yakin meninggalkan pekerjaan ini." Jelasnya panjang lebar.


Dafa mendengarkan dengan baik, curahan hati sekertaris senior di depannya. "Tapi, sebelum ibu resign saya minta di carikan sekertaris pengganti ibu." Ucapnya.


"Baik Pak, saya minta waktu secepatnya satu bulan untuk mencari dan menyeleksi pengganti saya." Jawabnya lega.


"Ada kriteria khusus, Pak?" tanyanya.


Mentari yang sedang bermain dengan Helen, seketika menajamkan pendengaran nya, ingin tahu apa ada kriteria khusus untuk calon sekertaris baru untuk mendampingi suaminya itu.


"Nggak ada bu, saya suka yang cekatan nggak lembek. Di usahain yang senior ya bu yang sudah ada pengalaman lama seperti ibu, jadi tidak usah beradaptasi lagi. Saya suka males kalo harus ngajarin lagi dari awal."


"Udah berumah tangga kalo bisa bu, takut ada yang cemburu nanti saya di kunciin di teras." Dafa menambahkan kalimat sindiran sambil tersenyum ke arah Mentari yang terlihat jelas menguping pembicaraan nya.


Mentari seketika membalikkan kepala menatap Dafa, dan ternyata suaminya itu tengah tertawa bersama sekertaris Papa mertuanya menatap ke arahnya.


"Apa sih?" Ucapnya tersipu malu.


Setelah Bu Yanti keluar kembali ke mejanya.


Dan Dafa kembali berkutat dengan berkas dan mulai membubuhkan tanda tangannya di kertas itu.


Mentari tengah memberikan asi pada Helen, lalu Dafa yang telah menyelesaikan pekerjaannya yang tak sampai tigapuluh menit. Bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah sofa di mana Mentari tengah duduk dengan menatap ke arah luar jendela. Tangannya mengusap-usap paha Helen yang lagi-lagi tertidur.


"Udah tidur lagi, mabok asi!" Dafa duduk di sebelah nya di kecupinya kening Helen.


Lalu, pandangan mereka saking bertemu. Ada debaran yang selalu merasa rasakan jika dalam keadaan saling menatap seperti ini.


Mentari memalingkan wajahnya namun dengan cepat Dafa menyentuh dagu istrinya itu, dan langsung menyambar bibir itu, menyesapnya dan menghisap dengan sedikit menggebu-gebu.


"Ehmm ... " Lenguhan terdengar saling berbalas dari keduanya. Mereka sama-sama larut dan menikmati kegiatan itu.


"Sun, di sini yuk? sebentar aja."


"Jangan gila?"


"Iya, aku emang tergila-gila sama kamu, yuk bentar doang. Nggak kuat yang tadi sakit anu aku di PHP sama kamu!" rengeknya mengusap-usap dadanya yang sudah Helen lepaskan.


"Nggak ah, di rumah aja!" Mentari beringsut menjauh.


Dafa bangkit dan berjalan ke arah pintu, namun malah mengunci pintu itu.


Mentari semakin berdebar, bagaimana jika ada orang yang ketuk pintu, atau ada tamu.


"Mas, jangan macam-macam." Mentari memelototkan matanya pada Dafa yang sudah mulai membuka kancing kemeja santainya.


"Cuma semacem, Sun. Please bentar doang, dosa loh kamu nolak suami." Ancam nya.


Bersambung ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


Terimakasih yang sudah mampir๐Ÿ™๐Ÿ™, semoga suka๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ๐Ÿ™๐Ÿ™, cuma buat rame2 aja๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


Lupa, cerita ini udah lulus kontrak hampir dua minggu, saking senengnya ampe lupa ngasih tau, jadi makin semangat ya buat like komen nya, terus yang mau promoin boleh banget. Aku balas dengan doa di sepertiga malam ku buat Orang-orang baik kayak kalian๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ๐Ÿ™๐Ÿ™.


Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaโค


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ๐Ÿ™๐Ÿ™, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ

__ADS_1


semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn ๐Ÿคฒ๐Ÿคฒ


__ADS_2