Kisah Mentari

Kisah Mentari
Cerita Papa


__ADS_3

...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Waktu menunjukkan pukul empat subuh, saat Mentari terisak menangis. Dia baru keluar dari kamar mandi setelah drama pusing dan mual yang akhirnya muntah-muntah. Dafa sama sekali tak berhenti semalam suntuk. Dia terus berpacu di atas tubuh istrinya itu. Ada jeda tapi dia merasakan siksaan itu sendiri. Mentari akhirnya menangis saat jam tiga, ketika Dafa hendak kembali memasuki inti nya.


Mentari meraung menyerah, tidak kuat, dan kepala nya merasa pusing dan mual, dan akhirnya ibu muda itu muntah-muntah di kamar mandi. Akibat terlalu banyak mengalami pelepasan tentunya, intinya bahkan sudah sangat kering karena terlalu lama di masuki.


Dafa yang sangat tersiksa itu, hanya bisa pasrah dan merutuki kebodohannya. Dia sebenarnya tidak tega, namun setelah mencoba bermain solo pun. Rasanya tidak puas, dan malah membuat nya semakin tersiksa.


"Maaf, sayang!" Dafa memeluk Mentari saat istrinya itu merebahkan tubuhnya yang di rasa remuk dan begitu lemas.


"Aku, nggak kuat. Sakit semua badan aku." Dia merajuk dan mengguncangkan pundaknya agar kepala Dafa yang tengah bersandar di pundak nya bisa terlepas.


"Iya, maaf ini semua kebodohan aku." Ucapnya lagi.


"Aku, mandi dulu ya." Bisiknya sambil mengecup kembali kening Mentari yang tengah memejamkan matanya. Dafa juga membetulkan letak selimut nya.


Mentari pun tertidur dengan rasa lelah nya yang tak tertahankan.


Dafa keluar dari kamar mandi, hampir setengah jam berendam air dingin namun efek jamu itu masih dapat dia rasakan. Hanya tidak sekuat tadi malam.


Dia melirik istrinya yang meringkuk di bawah selimut tebal. Lalu berjalan ke arah koper baju mereka, mengambil baju untuk bertemu dengan kliennya di Jakarta.


Setelah selesai dan di rasa rapi, dia melihat kebagian jamurnya yang masih terlihat menonjol, celana chinos berwarna abu-abu muda itu menampilkan dengan jelas jamur kuncup nya. Dafa mendengus kesal sambil mencari celana warna lain agar bisa menyamarkan bagian yang menonjol itu.


Dafa kemudian melihat Helen yang masih nyenyak tertidur, Lalu menciumi anak dan istrinya sebelum keluar dari kamar.


*


*


Dia menuruni tangga, saat dia melihat Papanya yang sudah duduk di kursi rodanya menyimak berita pagi di TV.


"Kapan, kamu dateng?"


"Semalem, Pa. Papa udah tidur jadinya aku langsung ke kamar." Dia mencium punggung tangan Papanya.


"Kamu, sakit?" Papa Harun bertanya melihat anaknya sedikit pucat dengan mata yang memerah.


"Nggak enak badan."


"Bi, tolong ya. Nanti bawa sarapan ke kamar saya, terus bantu jaga anak saya, Mama nya lagi nggak enak badan juga." Titahnya saat art nya membawa nampan berisi teh panas untuk Papa nya.


"Baik, Den." Jawabnya lalu kembali ke dapur.


"Anak?"Pak Harun mengernyit.


Dafa tersenyum menatap Papa nya yang memang belum mengetahui keberadaan Helen.


"Iya, pa. Ada princess cantik. Ternyata waktu aku kira Mentari keguguran, bayi kami kuat dan selamat."


"Ahh ... syukur lah, Papa nggak sabar pengen liat."


Dafa hanya mengangguk dan tersenyum.


"Istri kamu sakit, juga? kalo sakit, biar Papa yang jagain cucu!" ucapnya antusias.


"Iya, Pa. Subuh juga muntah-muntah,"


"Masuk angin mungkin," Papa menduga-duga.


Bukan pa, kebanyakan aku coblos, ampe pusing sendiri. Gumamnya dalam hati, tak mungkin dia menceritakan bahwa mereka bermain semalaman.


"Aku titip anak istri ya, Pa. Ada meeting di Jakarta jam 8." pamitnya.


"Sarapan dulu," titahnya.


Dafa berjalan ke arah meja makan, mengambil selembar roti dan mengoleskan pasta coklat, lalu meminum teh hangat yang sudah di siapkan.


"Aku, Pamit. Pa." Lalu Dafa berlalu keluar dari villa asri itu. Memasuki mobilnya dan berjalan perlahan menuju Jakarta.


*


*


Mentari mengerjapkan matanya, tubuhnya teramat sangat sakit dan ngilu, dengkul nya terasa lemas. Inti tubuhnya perih serasa sesuatu masih tertanam di sana. Puncak dadanya sakit bibirnya terasa bengkak. Pokoknya dia sakit paket komplit.


Lalu pandangan nya bertumbuk pada jam di atas nakas, Jam delapan dan suaminya pasti sudah berangkat, terlihat dari koper pakaian mereka yang terbuka, dan sedikit acak-acakan.


Mentari turun dari tempat tidur, melihat keadaan Helen yang masih tidur dengan nyenyak. Dan tatapannya tertuju pada atas meja yang terdapat sarapan berupa beberapa lembar roti bakar dan juga selai strawberry, kacang, dan pasta coklat di samping nya. Ada juga nasi goreng sosis yang dia pegang piringnya masih hangat. Tanpa membuang waktu dia langsung menyantap semua makanan yang telah tersedia.


Setelah selesai, dia berlalu hendak membersihkan tubuhnya sebelum Helen bangun.

__ADS_1


...~...


Mentari keluar dari kamar nya setelah selesai mandi, dan memandikan Helen tak lupa bayi cantik itu dia dandani selucu mungkin.


Ketika menuruni tangga, dia melihat seorang pria duduk di kursi roda yang sedang membaca buku.


Langkah kakinya ternyata di sadari oleh pria yang dia yakini sebagai Papa mertuanya. Dia terlihat berbeda dari perjumpaan nya dulu sewaktu nikah karena gerebek.


Lelaki itu lebih kurus dan rambutnya sudah banyak di tumbuhi uban.


"Pagi, Pa ... " Sapanya.


Papa Harun tersenyum menyambutnya.


"Pagi, sayang." Jawabnya.


Mentari semakin dekat dan langsung menyambar lengan lelaki itu dan mengecup punggung tangannya.


"Siapa, ini?" Sapa nya pada Helen yang tengah memandang nya.


"Aku, Helen kakek." Mentari menjawabnya dengan suara yang kecil mewakilkan Helen.


Helen awalnya hanya memandang wajah kakeknya itu, namun ternyata bayi cantik itu tersenyum lucu menyambut uluran tangan Pa Harun.


Helen sudah berpindah tangan sekarang, dan Mentari hanya bisa duduk memandang pasangan kakek dan cucu itu.


"Maaf ... Maafin atas segala tingkah bodoh Dafa sama kamu! sampai kamu pergi, sepertinya doa melakukan hal yang sangat menyakitkan." Ujarnya dengan mata yang memandang nya.


"Udah lewat, Pa. Aku udah maafin Mas, Dafa. Lagian bukan sepenuhnya salah dia, aku pun turut andil karena kabur dan menjauhinya." Terangnya.


Papa Harun tersenyum, sambil tangannya bergerak-gerak karena telunjuknya sedang di gengam Helen.


"Jadi inget, Bunda kamu." Ucapnya lagi.


"Kenapa, Pa?" Mentari bertanya penasaran.


"Iya, sama persis dengan kamu. Sifatnya dan cara kamu menatap orang." Kekehnya.


Mentari hanya tersenyum mendengar apa yang di ucapkan Papa mertuanya itu.


"Katanya lagi sakit? Istirahat aja. Biar Helen sama Papa."


"Nggak apa-apa, kalo boleh aku pengen keliling Villa ini. Pa!" ijinnya.


"Kamu, sudah sarapan kan?" Tanyanya saat Mentari berjalan mendekatinya.


"Sudah, Pa. Biar saya yang dorong." Mentari sudah memegang kursi roda itu.


"Nggak usah, sayang. Ini elektrik, Papa nggak mau banyak ngerepotin orang." Terangnya sambil memijit tombol dan kursi roda itu pun melaju keluar dari ruang keluarga menuju teras.


"Sebenarnya, Papa sudah bisa jalan kembali. Cuma suka ngedadak lemes dan akhirnya pasti jatuh." Lelaki itu seketika berwajah sedih.


Mentari hanya mengusap pundak Papa mertuanya itu, "Papa pasti sembuh, dan bisa main-main sama Helen." Dia mencoba menghibur mertuanya itu.


Pandangan nya menyapu halaman luas villa itu, begitu asri dan segar. "Wah indah banget ini, Pa." pujinya saat melihat halaman luas itu, "Malem nggak terlalu jelas, ternyata saat siang indah banget." Dia masih takjub melihat sekeliling nya.



"Ini, villa hasil rancangan Mama nya Dafa saat sedang hamil, rencananya setelah lahiran dia ingin setiap weekend kita menghabiskan waktu di sini. Tapi niatannya tidak terlaksana." Ucapnya dengan nada pilu.


"Pa, Jangan sedih."


"Udah berpuluh-puluh tahun, tapi rasanya masih suka sesak kalo papa tiba-tiba inget Mama Dafa."


"Cinta sejati, Semoga Mas Dafa bisa punya rasa cinta sebesar rasa cinta Papa buat mama." Mentari masih setia mengusap punggung Papa mertuanya.


"Bisa, dong. Cinta nya udah luber malah. Nggak ketampung." Suara milik suaminya terdengar.


Mentari dan Papa Harun menoleh ke arah suara.


Dafa menghampiri mereka dengan senyum dan wajah yang terlihat pucat.


"Kok, cepet banget baru jam sebelas udah pulang lagi?" Mentari menatapnya heran.


Mentari menyentuh wajah yang sesaat lalu mengecupnya. "Masih, meriang?" tanyanya sedikit berbisik.


Dafa mengangguk lemah, "Ini juga masih berdiri. Sun. Kesiksa banget ini." Rengek nya.


"Ke dokter, mau?" Usul Mentari.


Dafa menggeleng dengan cepat, "Aku malu, nanti pas ditanya kenapa, aku jawab over dosis jamu kuat." wajahnya memelas merasa paling teraniaya.

__ADS_1


Kemudian dia menarik tangan Mentari memegang bagian bawahnya.


"Basah?"


"Iya, soalnya kalo nggak di keluarin, pegel banget. Ampe paha ku sakit ini." Terangnya.


"Ganti dulu, gih." Mentari sedikit mendorong tubuh suaminya.


"Kamu, masih sakit?" Papa yang mendekat melihat raut wajah anaknya yang terlihat pucat dengan mata semakin merah.


"Iya, Pa."


"Istirahat sana, biar Helen sama Papa dulu."


"Cantiknya kakek," Pria tua itu menciumi cucunya.


"Cantik ya, Pa?" Dafa bertanya.


"Iya, kayak Ibu nya. Tapi matanya kayak Mama kamu!" tambahnya lagi.


"Soalnya, aku mirip Mama. Dan Helen mirip aku."


"Lihat deh Pa, ampe tanda lahir kita aja sama-sama di perut." Dafa membuka sedikit baju anaknya.


"Bener-bener cinta kamu sama Ibu nya berarti, ampe anak kalian plek ketiplek sama kamu."


"Iya, udah jelas kalo itu." Dafa berucap bangga.


Papa hanya mengerlingkan matanya malas.


"Cinta, tapi bodoh."


"Pa, udah nggak usah bahas masa lalu." Potong nya.


Mentari hanya terkekeh melihat perdebatan Papa dan anak itu, Helen yang melihatnya malah ikut tersenyum seolah pemikiran mereka sama.


"Apa, nak? Helen suka di pangku sama kakek?" Mentari berjongkok di depan mertuanya.


Dafa yang tadi berdebat dengan Papa nya seketika menarik tubuh istrinya, "Pijitin, Aku. Sun." pintanya dengan memasang wajah meringis.


"Pa, titip Helen sebentar ya. Dafa butuh ibunya."


Papa Harun hanya mengangguk dan pasangan itu berlalu masuk ke dalam rumah menaiki tangga menuju kamar mereka.


"Itu, isi dada kamu ngintip. Pas kamu jongkok di depan papa." Dafa merangkul kan tangannya di sekitar leher istrinya itu.


"Mas sih?" Mentari menunduk melihat ke bagian yang tadi di sebutkan oleh suaminya itu.


...****...


Mereka masuk kamar, dan Dafa langsung mengunci kamar itu.


Mentari tak sadar, dia berjalan ke arah kamar mandi. Setelah memungut handuk Helen yang basah masih menyampir di dekat tempat tidur.


Saat dia keluar, matanya membola. Saat melihat suaminya sudah terlentang tanpa busana.


Pakaiannya sudah teronggok asal di lantai.


"Ngapain?" Dia memukul paha Dafa.


"Liat, masa kamu nggak ngerti sih Sun?" Dafa mengacungkan jamur kuncup nya yang sudah sedikit basah pada ujungnya.


Lalu tangannya menarik Mentari hingga istrinya itu terjungkal menimpa tubuhnya. Seketika bibir mereka sudah terpaut dan Dafa bermain begitu liar nya.


Waktu yang menjelang siang itu menjadi saksi, hanya desa"han dan erangan yang menggema di kamar itu. Mentari sesekali meringis saat Dafa menghentak nya terlalu kuat.


Dia merutuki Jamu kuat itu, sampai kapanpun dia tidak akan membiarkan suaminya meminum Jamu atau obat sejenis. Tanpa Jamu saja suaminya itu sudah candu terhadap kegiatan itu, di tambah efek dari Jamu membuat suaminya semakin gila.


"Abis, ini kamu aku hukum seminggu tanpa anu." Mentari yang sedang meremat lengan Dafa yang berada di sisi tubuhnya mengumpat kesal.


Dafa yang memejamkan matanya sambil bergerak heboh hanya mengangguk tanpa berniat menjawab


Siang itu mereka habiskan dengan aktifitas di kamar, dengan dalih meredamkan efek jamu.


Bersambung ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


Terimakasih yang sudah mampir๐Ÿ™๐Ÿ™, semoga suka๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ๐Ÿ™๐Ÿ™, cuma buat rame2 aja๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaโค


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ๐Ÿ™๐Ÿ™, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ

__ADS_1


semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn ๐Ÿคฒ๐Ÿคฒ.


__ADS_2