Kisah Mentari

Kisah Mentari
Dafa merajuk


__ADS_3

...❤❤❤...


Mentari tengah menyuapi suaminya itu dengan menu makanan dari rumah sakit yang baru saja seorang suster antarkan.


"Udah, ah. Mulut Mas, pait." Dafa mengernyit tanda menyerah pada sendok bubur tanpa rasa yang sedang istrinya sodorkan.


Mentari mengangguk, lalu mengambil wadah kecil berisikan beberapa butir obat yang sudah di siapkan oleh suster tadi.


"Aduh..." Mentari meringis saat dia menyoimpan gelas minum Dafa.


"Kenapa?" Dafa yang sudah kembali merebahkan tubuhnya terlonjak kaget.


"Ini aku sakit, Shera haus banget kayaknya." Mentari menangkup dadanya.


Duduk kembali di pinggir tempat tidurtidur, dengan wajah meringis.


Dafa mengulurkan tangannya ikut menyentuh memastikan, "duh, iya. Keras banget ini. Kasian Shera." Katanya namun tangan itu belum lepas dari dada Mentari.


Plakkk...


"Modus, awas. Sakit ini, malah di remat." Ketusnya dengan menyentak tangan Dafa yang menempel di dadanya.


Dafa tertawa saat modusnya terbaca oleh sang istri, "kangen banget loh aku, sayang. Kamu nggak ada ngapa2in aku. Sekarang sibuk sama anak-anak." Keluhnya.


Mentari menatapnya kesal, "Ck. mau di apain emang? aku kan masih belum 40 hari bentar lagi kan? sabar dong." Cebiknya.


"Apa aja gitu, Sun. Aku kangen banget, berat ini." Rengeknya.


"Ishhh... sakit, kok Shera lama ya?" Mentari kembali mengecek ponselnya. Bertanya sudah sampai mana Bunda yang sedang membawa Shera.


*


*


Lewat setengah jam


Mentari keluar dari toilet dengan wajah berkeringat dan meringis menahan sakit.


"Aduh... makin sakit, aku nggak tahan. Nyoba di pencet juga di toilet nggak keluar!" dia mendudukkan tubuhnya di sofa yang tak jauh dari tempat tidur Dafa.


"Sini... " Dafa mengulurkan tangannya.


Mentari mendekat dengan malas-malasan.


"Aku bisa bantu apa?"


"Atau kamu pulang aja." Katanya lagi.

__ADS_1


"Tanggung, Bunda udah si jalan menuju ke sini. Cuma macet biasa hari Sabtu." Perempuan itu masih menyilangkan tangannya memegangi dada yang terasa penuh dan sakit itu.


Dafa menatapnya penuh rasa bersalah, "Maaf ya, aku ngerepotin. Jadinya kamu pisah sama Shera." Ucap Dafa dengan mengelus paha istrinya.


"Iya, nggak apa-apa. Namanya musibah, kamu sakit juga kan bukan kemauan kamu. Tapi karena terlalu cape dengan urusan yang begitu menyita waktu kamu, Mas." Mentari berbalik mengusap pipi suaminya itu.


Lalu Mentari menunduk untuk mengecup kening suaminya yang menanggung begitu banyak tanggungjawab di pundaknya.


Dafa yang sigap lalu menaikan kepalanya agak sedikit ke atas. Sehingga istrinya itu bukan mencium keningnya malah mencium bibirnya.


Mentari yang melotot kaget, hendak melepaskan bibirnya yang menempel sempurna dengan milik suaminya. Namun gerakannya kalah cepat dari Dafa yang langsung menahan tengkuknya sehingga bibir itu masih menempel dan Dafa memagut dengan lembut, rasanya sungguh nikmat. Hingga keduanya saling memejam meresapi kegiatan mereka yang setelah lahir Shera harus tertahan.


Dafa meremat pinggang istrinya yang masih menyisakan lemak sisa-sisa kejayaan ibu hamil itu.


Namun untuk nya itu malah terlihat semakin hot.


Tangannya menarik tangan Mentari yang sedang menopang tubuhnya sendiri. Mengarahkan pada sesuatu yang bangkit dan sangat merindukan kehangatan yang biasa Istrinya berikan.


Bibir yang masih saling mengecap itu semakin menuntut. Dafa masih menggerakan tangan istrinya di jamur kuncup nya itu.


Desa*han halus keluar dari mulut Dafa yang masih melu*mat bibir Mentari sedikit rakus.


Saat Mentari mulai pegal dengan tubuh buang membungkuk di atas Dafa. Dia mendorong pelan dada suaminya itu, Lagi-lagi Dafa menahan punggung istrinya agar tak melepaskan tautan itu.


"Ishh... dada aku makin sakit neken ke kamu." Bentaknya kesal.


"Aku, mau banget ini Yank... " Rengeknya.


"Dada aku sakit, ngga kuat." Mentari mengelus dadanya pelan.


Dafa beringsut bangun dari tidur nya. Dia menyentuh dan ikut memijat pelan.


Mentari masih dengan wajah meringis, ngilu dan sakit menjadi satu.


Dengan pakaian tidur tipis tanpa penghalang di dalamnya, Dafa dengan jelas menggenggam sempurna bagain kesukaannya itu yang kini di miliki anak ke duanya.


Tangan nya masuk dari bagian depan baju tidur istrinya, dia menyentuh bulatan yang mengeras sempurna.


"Aku bantu ya, biar kepancing dulu keluar air susu nya. Nanti kamu terusin keluarin di wadah asi yang kamu minta dari suster tadi." Bujuk Dafa.


Mentari pasrah karena rasa sakit semakin menyiksa nya.


Saat Dafa kembali menyentuh dan memijat lembut, dan dia tarik keluar dari bagain atas gaun tidur tipis istrinya.


Mentari semakin meringis menerima pijatan itu, Lalu Dafa dengan perlahan mulai mendekati puncak dada istrinya yang menantang dan terasa penuh.


Baru saja menempel kan bibirnya, sebuah tangisan bayi terdengar di luar kamar itu, dan keduanya mengenali itu adalah suara anak mereka, Shera.

__ADS_1


Mentari mencabut puncak itu sekaligus hingga Dafa yang kaget, masih dengan posisi mulutnya yang mengerucut monyong bekas tapak tilas puncak dada yang baru saja masuk mulutnya.


"Ibu... Shera haus... " Suara Bunda menggema di gawang pintu yang Ayah Gunawan buka.


Mentari yang dengan sigap langsung berjalan sedikit berlari ke arah orang tuanya yang membawa Shera.


"Ughh... sini sayangnya Ibu." Mentari langsung menggendong Shera berjalan ke arah sofa.


Ayah menyimpan tas berisi peralatan anak dan cucunya. Lalu orang tua itu pamit ke kafetaria karena belum sarapan.


*


*


Mentari memandang lucu suaminya yang sedati tadi cemberut.


"Kenapa?" Mentari berjalan dengan Shera yang menggantung anteng dengan makanannya.


Dafa hanya menghela nafasnya kasar.


"Lima hari lagi, sabar dong Mas." Mentari duduk di pinggir Tempat tidur suaminya.


"Tapi aku pengen, gimana aja lah asal keluar!" rengeknya.


"Bantuin aku, dong. Sun!"


Mentari hanya tersenyum, "Masih sakit loh itu,"


Dafa menggeleng kuat, "aku udah sehat. Kuat mau tiga ronde juga." Sombongnya menantang.


"Ini, Shera. Kenapa datengnya kecepetan. Ampir aja Ayah minjem dot nya Shera. " Kekehnya lucu.


Shera hanya diam, dengan tangan mungilnya memegangi baju Ibu nya. Dan mata yang mulai terpejam walaupun mulutnya masih kuat menghisap.


"Tuh, kan. Shera juga udah kena itu kamu, langsung ngantuk. Aku juga suka ngantuk kalo abis di manja kamu." Dafa menarik tubuh Istrinya agar bersandar di kasur.


Tangan Dafa dengan jahilnya, memegang dada yang menganggur.


"Aduh, masih keras punya ku. Sayang... gimana ini? aku mau banget."


"Sabar, aku kayaknya harus pulang deh. Kamu makin ngaco ah... " Mentari beringsut bangun dan kembali duduk di sofa. Dafa mendengus kesal lalu memejamkan matanya berharap bisa tidur dengan sesuatu yang terbangun.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih🙏🙏, jangan lupa komen, like, sama Favoritnya ya yang belum di klik.


Cuma mau mengingatkan yang udah nge favorit in cerita ini jangan di un fav lagi dong, Tiba-tiba naik ntar tiba-tiba berkurang lagi. Aku kayak yang di kasih jajan terus di pinta lagi 🤭🤭 Tapi bebas sih gimana kalian aja lah, susah nggak bisa maksa☺☺ Terimakasih yang masih setia mendukung, semoga berkah dan tidak mengecewakan🥰🥰🥰

__ADS_1


Sehat dan bahagia buat semua😘😘😘


__ADS_2