Kisah Mentari

Kisah Mentari
Best husband


__ADS_3

...❤❤❤❤...


Semua orang yang berada di ruangan Cindy terlihat masih mengerubuni bayi tampan itu.


"Jadi namanya udah ketemu?" Bunda bertanya sambil memberikan bayi tampan itu yang menggeliat halus, pada Cindy ibunya.


"Alaric Putra Raladi."


"Alaric\= pemimpin yang mulia


Putra\=putra


Raladi\= Rejeki dari Allah untuk Langit dan Cindy. "


Langit menerangkan dengan wajah bangga nya, tersenyum pada sang istri.


"Keren... panggilannya baby Al atau Aric?" Mentari bertanya pada Cindy.


"Al dong biar kekinian." Ucapnya sambil terkikik mencium putra nya.


"Gimana enak lahiran?" Mentari yang tengah menggendong Shera bertanya dengan menggerakan alisnya menggoda.


"Nikmat banget, uhhhh... mules nya seakan rekaman dosa di puter di depan kita, karena takut mati." Cindy bergidik ngeri membayangkan proses melahirkan nya semalam.


Semua orang tertawa, hanya langit yang terdiam, dia menjadi saksi betapa tersiksa nya Cindy saat berjuang mengeluarkan bayi mereka.


"Kenapa bisa pecah ketuban di market?"


Mentari kembali bertanya. Saat Cindy akan memberikan asi nya pada Al. Dan Langit menutup sebagian tirai yang memisahkan sofa yang di duduki Ayah dan Dafa dengan ranjang yang di tiduri istrinya.


"Iya, aku udah mulai sakit pinggang dari pagi, tapi Papa nya Al masih terus di kantor, bilangnya sebentar lagi terus aja gitu, pas siang aku pipis ada flek coklat di celana, panik lah tapi aku coba sok kalem dengan anggunnya bawa tas bayi naik taksi ke market. Terus ngagetin Ayah nya Al, niat mau merajuk marah-marah malah pecah ketuban di sana." Cindy terkikik sambil meringis.


"Kenapa?" Langit terlihat khawatir.


"Perih... sedotannya kuat banget." Cindy kembali meringis.

__ADS_1


"Biasa, awal-awal suka gitu. Beda ya kalo di isep Papa nya." Mentari berbisik ke sahabat sekaligus iparnya itu.


"Beda, bukan main enaknya." Cindy menjawabnya dengan wajah konyol.


Keduanya tertawa, untung Bunda sudah keluar dengan mengambil alih Shera. Dan langit si kaku dan jutek hanya tersenyum kecut dan mengusak kepala istrinya.


***


"Cha... "


"Iya, Bun?" Mentari menoleh pada Bunda nya yang mengintip di balik tirai.


"Liat, suami kamu kayak yang capek banget. Pulang gih!" titahnya.


Mentari menolehkan kepalanya. Benar saja, Dafa menyandarkan kepalanya di sofa dengan wajah sayu memandang TV.


Mentari pun pamit pada orang tua baru itu, bertepatan dengan keluarga Cindy yang datang menjenguk.


Di koridor rumah sakit


"Mas capek?" tanyanya pada Dafa yang menggendong Helen.


Mentari terdiam, bagaimana tidak lemas. Suaminya itu menjadi suami siaga, tiap malam dia ikut terbangun selalu menemani dan membantu hal kecil untuknya.


"Kalo malem nggak usah ikut bangun, udah kamu seharian kerja. Malem nggak istirahat cukup ya pasti capek." Mentari merangkul lengan kekar suaminya.


"Aku nggak tega, kamu sendiri ngurus anak-anak kita." katanya dengan mengecup singkat puncak kepala Mentari.


"Udah kodratnya perempuan,"


"Harusnya itu tugas bersama, anak juga kan hasil berdua, masa yang ngurusnya cuma sendiri." Timpal nya.


"Kamu kan udah cari nafkah di siang hari, suami yang lain gitu kok, udah merasa nyari uang adalah tugasnya dan tugas istri adalah ngurus anak dan suami." Mentari mendongak menatap wajah lesu suaminya.


"Nggak, kalo nafkah memang kewajiban lagian ada rejeki kalian yang memang Tuhan turunkan melalui kerjaan aku, terus nggak usah nyama ratakan aku dengan suami orang. Aku ya Dafa suami kamu, nggak peduli orang lain memperlakukan istrinya gimana, yang aku pikirin bagaimana aku buat kamu bahagia." Jelasnya sambil memegang pinggang Mentari saat mereka menuruni tangga teras lobby rumah sakit menuju area parkir.

__ADS_1


"Suami ku best husband... " Mentari mencium lengan Dafa yang berada di sebelah wajahnya.


"Kamu istri dan ibu terbaik." Dafa menimpali.


Intan yang melihat kedatangan mereka karena suara Helen yang menjerit memanggilnya langsung menghampiri. Merekapun masuk ke dalam mobil Dafa.


Saat Dafa akan mengendarai mobilnya, ponselnya berbunyi.


Matanya memandang sesaat pada Mentari, lalu menjawab panggilan itu dengan mimik wajah berubah dari lesu menjadi tegang.


Panggilan pun terputus dia menghela nafasnya. Dan menyandarkan tubuh nya di jok mobil. Memijit tengkuknya yang terasa sangat berat dan lelah.


"Mas... "


Dafa menoleh, "Mas, ke Bogor dulu. Papa drop, barusan dokter nya yang nelpon." Katanya menjelaskan.


Mentari mau tak mau mengijinkan, walau terasa berat melepas suaminya yang terlihat tidak baik-baik saja. Bagaimana pun suaminya bukan hanya miliknya tapi dia milik orang tuanya juga, apalagi papa mertuanya sudah sakit-sakitan dan suaminya adalah anak satu-satunya. Begitu besar tanggung jawab yang suaminya pikul. Tanpa mengeluh dia menjalani semuanya dengan ikhlas.


Mencari lelaki seperti ini di mana lagi coba, walaupun awalnya sangat menyebalkan. seiring bertambahnya usia dan masalah yang bergulir menimpa rumah tangga nya membuat Dafa menjadi lelaki dewasa dan matang dalam berpikir.


"Mas, makan dulu. "


"Gampang, nanti aja drive thru. " Jawabnya singkat.


Mentari kembali terdiam, perjalan rumah sakit ke rumah mereka tak sampai sepuluh menit Dafa hanya mengantarkan anak istrinya di depan pagar setelah pamit dan menciumi anak istrinya dia pun kembali melajukan mobilnya menuju Bogor.


Mentari memasuki rumahnya dengan perasaan aneh, merasa sepi dan ada rasa cemas di hatinya. Melihat suaminya pergi dengan tubuh tidak fit dan beban pikiran yang terlihat jelas dari keningnya yang terus mengerut seakan memikirkan banyak hal.


Mentari masuk kamar yang terlihat mulai gelap karena hari hampir maghrib. Anak-anak dia mandikan sedangkan Intan menyiapkan makan malam.


"Do'ain Ayah ya, semoga Ayah sehat terus... kakek juga cepet sehat, kasian Ayah bulak balik terus capek." Gumamnya pada anak-anak nya yang pasti belum mereka pahami apa maksud dari ucapannya. Helen hanya tersenyum memandang Ibu nya.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih🙏🙏, jangan lupa komen, like, sama Favoritnya ya yang belum di klik.

__ADS_1


Cuma mau mengingatkan yang udah nge favorit in cerita ini jangan di un fav lagi dong, Tiba-tiba naik ntar tiba-tiba berkurang lagi. Aku kayak yang di kasih jajan terus di pinta lagi 🤭🤭 Tapi bebas sih gimana kalian aja lah, susah nggak bisa maksa☺☺ Terimakasih yang masih setia mendukung, semoga berkah dan tidak mengecewakan🥰🥰🥰


Sehat dan bahagia buat semua😘😘😘


__ADS_2