
❤❤❤
"Sebentar ... "
Cindy yang sedang memakai seragam kerjanya berteriak saat ada suara mengetuk pintu kamar kost nya.
Klekkk ...
"Eh, Abang. Pagi bener jemput nya?" sapa Cindy pada Langit yang sudah berdiri dengan senyuman ramah yang menyejukkan hati.
Beberapa hari ini Langit selalu mengantar jemput dirinya, entah ke market tempat kerja mereka, ataupun ke kampus.
"Sengaja ... " Jawabnya dengan seringai.
"Hemm ... sengaja!" Cindy membeo.
"Ada yang mau Abang obrolin sama kamu." Terangnya.
"Ohh, ya udah. Yuk masuk, Bang." Cindy membuka pintu kamar kost nya dengan lebar.
Langit masuk setelah membuka sepatunya.
"Sebentar ya, Bang. Aku belum selesai siap-siap." Gadis itu berjalan ke arah meja kecil dengan beberapa alat make-up yang di nilai standar oleh Langit yang melihat hanya terdapat beberapa macam alat tempur perempuan yang biasanya banyak. Namun lain hal dengan gadis di depannya yang terlihat selalu simple di matanya.
"Mau minum apa, Bang?" Cindy yang selesai memoles sedikit cream dan membubuhkan lipstik tipis di bibir nya, Duduk di karpet sebelah Langit.
Lelaki itu hanya termenung menatapnya.
"Bang ... Abang." Panggilnya
"Eh, Iya. Maaf ... " jawabnya kaget.
Cindy hanya tertawa melihat Langit yang terlonjak kaget.
Melihat senyum itu malah membuat jantung Langit berdegup kencang, dia takut sekaligus penasaran menjadi satu.
"Gini, Abang ... ngerasa udah cocok sama kamu, udah lama sejak kamu sering main ke rumah, Abang udah punya rasa sama kamu."
"Abang, bukan lelaki yang bisa ngerangkai kata manis ataupun berbasa-basi. Lagian umur Abang udah mateng, bukan waktu nya nyari pacar. Abang ingin ke jenjang lebih serius, nyari istri." Ujar lelaki 32 thn itu.
Cindy hanya diam mencerna apa yang dia dengar barusan. Senang, tentu saja. Dia juga punya rasa yang sama pada lelaki di depannya ini. Tapi masa lalu nya dengan sang mantan. Membuatnya minder dan juga kasta antara dirinya dan lelaki di depannya itu, serasa terlalu jauh untuk di jangkau.
"Cin ... Mau kan kalo, Abang Lamar kamu!" usul Langi dengan mantapnya.
Cindy makin termenung, pikirannya berlarian entah kemana, jantungnya berdebar tak karuan.
"Mau?" Tanya Langit lagi.
Cindy menunduk lalu meremat kedua tangannya hingga buku-buku tangannya memutih saking keras nya dia meremat.
"Aku, minta waktu boleh, Bang." Dia menatap lalu di depannya yang memasang wajah penuh harap.
"Jangan lama ya! Abang keburu tua." Candanya mencairkan ketegangan.
Cindy tersenyum namun pikirannya berputar-putar mencari jawaban apa yang akan dia berikan.
"Yuk, kita pergi. Kita makan dulu bubur ayam yang waktu itu." Ajaknya.
Langit menunggu di depan pintu, Cindy mengambil tas dan mengunci pintu kamarnya.
Saat akan menuruni anak tangga Langit mengulurkan tangannya, berharap Cindy akan menyambut tangannya.
Cindy dengan malu-malu menerima dan menautkan tangannya pada tangan Langit. Mereka berjalan dengan tangan saling bertautan.
\*
\*
Di mobil, Cindy masih terus diam. Bingung bagaimana menjelaskan ke lelaki baik ini, kalau pergaulan nya di masa pacaran kemarin tidak baik, dan di luar jalur. Apakah Langit yang merupakan bos sekaligus kakak dari sahabatnya akan tetap menerima keadaannya.
"Cin ... aku nggak mau kamu memikirkan terlalu gimana, tinggal jawab mau atau nggak. Bukan buat nambah beban pikiran kamu." Langit berbicara dengan mengelus pipi gadis yang dia incar sedari dulu itu.
Mereka telah sampai di depan tempat makan bubur ayam yang sudah mereka datangi beberapa kali. Ini jadi menu favorit Langit sebagai cara mengulur waktu jika bersama Cindy.
"Aku, nggak mikirin. Nggak mungkin, Bang. Ini adalah keputusan untuk hidup aku." Jawabnya.
"Ya, udah. Kita makan dulu, biar ada tenaga buat kamu memikirkan semua." Godanya.
Mereka pun turun dari mobil, dan langsung memesan bubur ayam dengan toping sate-sate yang sangat Langit sukai.
Hingga mereka tiba di tempat kerja, Cindy masih tak banyak bicara. Dia bingung cara menjelaskan semua pada Langit, padahal hatinya sangat berharap hubungan yang sama dengan yang Langit tawarkan yakni *Pernikahan*.
"Makan siang, aku ajak ke rumah ya! kita makan siang bareng, sama Bunda." Ujarnya saat mereka akan berpisah ruangan.
Cindy hanya mengangguk lemah, menolak pun rasanya tak mungkin, lagian dia tidak punya alasan kuat.
\*
\*
Tepat di jam makan siang.
Mobil yang membawa keluarga kecil Dafa, berhenti di depan rumah Ayah Gunawan.
__ADS_1
Dafa menoleh ke arah Mentari yang juga tengah menatap nya. "Kenapa?" tanyanya mengerutkan alisnya.
"Aku takut, kamu nggak tegang Mas?" Mentari balik bertanya.
Dafa hanya tertawa mendengar kekhawatiran istrinya itu, "kalau takut sekarang, percuma. Udah sejauh ini perjuangan aku. Masa mau berhenti di sini." Dafa meyakinkan istrinya.
Mereka pun turun dari mobil, berjalan membuka pagar dan masuk menuju teras rumah. Tangan yang saling menggenggam seolah saling menguatkan.
Helen dengan wajah cerianya, berceloteh dalam gendongan Ibu nya.
Ayah dan Bunda yang Tengah duduk santai di bangku taman kecil yang berada di bawah pohon mangga, melihat siapa yang datang menghampiri mereka.
"Oh, di jemput suaminya." Bunda berucap pelan, "Ayah, udah tau ya?" tanyanya menoleh ke suaminya yang tenang meminum teh nya.
Ayah menggeleng, "Ayah, nggak tau. Dari kemarin sore kan. Memang nggak ada keluar kamar lagi." Sautnya.
\*
\*
"Ayah, Bunda ... " Mentari menyapa lalu mengecup punggung tangan ke dua orang tuanya. Diikuti Dafa sebagai seorang menantu.
"Siang, Yah.. Bun ... " Dafa mengeluarkan suaranya.
Ayah bangun dari duduknya, "Masuk ... " Lalu berlalu melewati Anak dan menantunya, hanya tersenyum pada Helen.
"Bun ...
" Nggak apa-apa, udah ayo ikut Ayah. Sini Helen sama Bunda." Lalu dia mengambil Helen dari gendongan Mentari.
Pasangan itu mengikuti langkah Bunda masuk ke dalam rumah.
Tak lama suara mobil memasuki pekarangan rumah.
Mentari yang sudah duduk tegang di ruang keluarga, menoleh ke arah suara riuh.
Ada Bintang dengan seorang wanita yang menggendong seorang bayi laki-laki.
Lalu yang juga membuatnya semakin heran, Langit dengan sahabatnya Cindy mengekor masuk ke rumah dengan tangan saling bertautan.
Bintang mendekat, "Astagaaa ... nih mulut pengen di masukin lalat atau pisang? Lebar amat buka nya." Bintang mengatupkan mulut adiknya, dengan telapak tangannya.
"Ishhh ... Apa sih kak?" kesalnya.
"Kamu yang kenapa? aneh liat kita bawa pasangan? Emangnya kamu doang yang pengen uhuyyy, lah lu nyuri start dari kita." Bintang menjitak kepala adiknya.
Bunda yang datang bersama Ayah langsung melerai pertengkaran anak-anaknya.
"Udah, ishhh pada ada pasangan nya apa nggak malu." Sindirnya.
Lalu mereka pun serentak menoleh, Mentari pada Dafa. Dan Bintang pada Naya yang masih berdiri di dekatnya.
"Bunda udah masak banyak, ayo ke ruang makan." Ajaknya.
"Sus, titip Helen."
"Eh, sama siapa ini yang ganteng?" tanyanya pada Altaf yang berada di gendongan Naya.
"Nama nya, Altaf. Bu." Jawab Naya sedikit kaku.
Bunda tersenyum ramah. "Sama Altaf sekalian, ya. Sus." Ucapnya memeberi perintah.
"Baik, Bu." Lalu suster itu mendekat.
"Di karpet, aja. Biar Sus nggak pegel."
Naya terpaku dengan perlakuan Bunda dari lelaki yang memacari nya. Begitu lembut dan baik, tidak memandang angkuh dan nge bossy.
Bintang membuyarkan lamunannya, "Ayo ... " Ajaknya sambil mengelus pundak Naya.
Bunda masih memegang Altaf, menata dua bayi itu di karpet tebal dan di lapisi sebuah matras bayi tilam yang biasa Helen pakai.
"Bunda kamu baik banget, Mas." Bisik Naya saat berjalan bersisian ke arah ruang makan.
"Kayak, anaknya ya?" Bintang terkikik sendiri melihat Naya mencebik kan bibirnya.
__ADS_1
"Nggak usah gitu, nanti aku isep di sini. Bibir kamu sok nantang." Bintang menyentil bibir Naya.
Naya mendaratkan cubitan di pinggang lelaki yang semalam melakukan pelepasan sebanyak dua kali itu.
\*
\*
Acara makan siang yang hangat, namun tatapan Ketiga lelaki pelindung Mentari malah membuat Dafa semakin tak karuan.
"Ayah ... " Bintang memanggil.
Ayah yang sedang menunggu piringnya yang tengah di isi berbagai lauk oleh istrinya, menatap putra ke dua nya.
"Apa?" Jawabnya singkat.
"Eh ... Bintang, mau ...
"Ini, ruang makan. Bisa nggak nanti bicaranya?" Bunda menyimpan piring berisi ayam serundeng sambil menatap wajah Putra nya.
"Hehehe ... siap, Bu suri ... " Bintang menggaruk tengkuknya dan tersenyum kikuk dengan pernyataan Bunda nya itu.
Langit yang berada di sebelah nya merespon, dan sedikit memiringkan kepalanya, "kagak sabaran gue juga mau ada yang di omongin," bisiknya.
"Jangan bilang, niatan lu sama kayak gue Bang." Dia sama berbisik.
Langit hanya mengedikkan bahu nya ke arah sang adik.
"Mampus, gue." Bintang menepuk keningnya sendiri.
Kegiatan mereka berdua ternyata menjadi perhatian semua orang yang ada di meja makan.
"Udah? siapa yang mampus?" Ayah bertanya dengan tangan yang terpaut di dekat piring.
Bunda juga menatap ke dua anak lelakinya itu.
Kedua orang yang sama-sama bersama pasangan nya itu terlihat salah tingkah dan malu.
Lalu semuanya mulai makan dengan tenang, tentu saja hanya luarnya saja yang tenang, dalam nya mereka berkelana dengan pikirannya masing-masing.
\*
\*
Acara makan siang telah selesai, Dafa langsung menghampiri Helen di karpet, karena bayi nya itu terus menerus merengek saat melihatnya.
Menta mendekati Cindy, "ehem ... lu kagak ngasih tau, kalo pacaran sama Abang." Bisiknya.
Cindy langsung menggerakan tangannya, seolah menyangkal.
"Terus?" Mentari mengerutkan alis nya.
Cindy menarik tangan Mentari agak menjauh dari ruang keluarga, di mana semua orang berkumpul.
"Abang, nggak mau pacaran."
"Abang, pengen ngelamar langsung." Terangnya dengan suara berbisik.
Mentari menutup mulutnya, tak menyangka Abang nya akan *to the poin*. Pada sahabatnya itu.
"Ya udah, bagus. Lu emang suka sama Abang kan?" Mentari merangkul pundak sahabatnya itu.
Cindy menundukkan wajahnya, "Abang terlalu baik buat aku, aku udah nggak perawan. Apa yang harus aku katakan sama Abang. Pasti dia pengen gadis baik-baik yang jadi istrinya. Lah bukan perempuan kayak aku, yang pacarannya suka aneh-aneh." Jelasnya lesu.
"Abang, bukan laki-laki kayak gitu. keluarga aku tipe orang kalo udah suka ya udah suka aja. Liat suami aku, terus aja dapet rintangan tapi dia tetep maju. Sekarang aja nggak tau nih kalian pulang. Mas Dafa, bakal di apain sama Ayah dan kakak2 posesif aku.
Tanpa mereka tau, seseorang tengah berdiri menyimak apa yang mereka bicarakan.
**Bersambung ❤❤❤**
**Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰**
**Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘**
**Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤**
**Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir 🙏🙏, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain🥰🥰**
__ADS_1
**semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn 🤲🤲**