
❤❤❤
"Papa... "
Dafa termenung di balik jendela saat mengintip siapa orang yang mengetuk pintu pagar rumahnya.
Lalu Dafa bergegas keluar, membuka pagar sebatas dada orang dewasa itu.
"Pa... tau di mana rumah Dafa?" tanyanya saat membuka pagar.
"Jawab dulu apa masuk dulu?" Ucapnya dari atas kursi roda, supirnya terlihat baru sedang memegang kursi roda itu bersiap membawanya masuk ke dalam rumah minimalis itu.
"Oh... iya maaf, Masuk Pa."
Dafa membuka lebar pagar.
Kini mereka sudah ada di dalam rumah.
"Ayo, kita ke kantor."
"Mandi dulu sana." titahnya.
Dafa hanya mendengus sebal, sudah lama sekali dia tidak mendengar perintah dan aturan-aturan yang menyetiri hidupnya. Setelah dirinya keluar dari rumah dan tinggal di apartemen.
"Masih pagi, Pa." Dengus nya.
"Cepat, Papa sudah sangat lelah dengan semua. Semua tanggung jawab mau Pap limpahkan sama kamu. Papa mah tinggal di villa Bogor biar deket sama makam Mama mu." Jelasnya
"Aku nggak sanggup, Pa. Terus terang aja aku juga kerja di firma hukum. Aku pengen jadi sesuai apa yang Mama cita-cita kan buat aku." Tolak nya.
"Itu terserah kamu, Papa cuma mau ngasih alihin kekuasaan. Papa udah capek." Timpalnya.
Dafa mendengus kesal lalu pergi ke kamar nya bergegas mandi.
*
*
Pandangan Papa Harun mengelilingi rumah bermodel minimalis itu.
"Bawa saya ke taman itu!" tunjuknya pada taman kecil di samping dapur. Pria yang tak lain supirnya itu segera mengangguk dan mendorong kursi roda menuju taman yang ingin majikannya singgahi.
Dia menghirup aroma asri, terlihat jajaran rapi pot bunga mawar di pojokan. Ada kolam ikan kecil di dekat terasnya.
Dia tersenyum pasti ini bukan pilihan anaknya, pasti pilihan menantu nya mengingat bunga mawar adalah bunga kesukaan sahabatnya Rima yang tak lain ibu dari menantunya itu.
"Pa... " Suara Dafa membuyarkan lamunannya.
Dia menoleh pada asal suara, terlihat Dafa sudah rapi celana bahan hitam dengan kemeja biru langit yang dia masukan terlihat rapi, putranya itu
wajah perpaduan antara dirinya dan hidung dan bibir milik almarhumah istrinya itu.
Dia begitu merindukan sosok wanita yang ceria dan lemah lembut itu, saat masa-masa terpuruk nya kehilangan. Rima lah selalu menyemangati, yang malah berakibat rumah tangga nya sendiri hancur. Karena Gunawan cemburu dan tak Terima dengan kedekatan mereka
"Pa, ayok." Ajaknya.
Papa Harun menganggukan kepalanya pada sang asisten sekaligus supirnya itu.
*
*
Di mobil...
"Kamu belum ketemu sama istri kamu?"
__ADS_1
Tanyanya tanpa menoleh pada sang anak.
"Belum Pa... " sautnya
"Payah... "
"Udah, udah dapet alamatnya. Cuman...
" Malu? "
"Nggak, aku cuma mau ngasih dia waktu buat nenangin diri." Katanya membela diri.
"Halah... bilang aja kamu cemen, perempuan butuh kepastian butuh di bujuk dan di rayu." Papa memberi petuah pada anak tunggal nya itu.
Dafa terdiam dengan rasa yang berkecamuk, merasa tertampar oleh ucapan Papanya itu.
"Cari dia, bujuk, minta maaf."
"Tapi... aku mau, dia nyembuhin luka hatinya kehilangan calon anak kita. Pa." timpalnya lagi.
Papa yang sedang memegang koran seketika memukulkan koran itu pada kepala anaknya.
"Bodoh, harusnya kamu ada di samping nya, memberi kekuatan bukan malah biarin dia nyembuhin luka nya sendiri?" Papa bersungut-sungut.
Dafa kembali terdiam merenungi dan meresapi apa yang Papa nya ucapkan barusan.
"Cari dia, aneh masa nggak peka soal begituan."
Cibir lelaki yang belum pulih seratus persen dari penyakit struk nya itu.
"Papa, dateng-dateng nyuruh aku ambil alih perusahaan, terus marah-marah." Ucapnya lesu.
"Karena kamu terlalu lambat, giliran punya anak kamu nggak bisa jaga baik-baik. Sekarang kamu nggak mau ngobatin luka istri kamu, yang lagi dalam duka."
"Turun" Papa menepuk pundaknya saat tak terasa mobil berhenti di depan teras lobby gedung bertingkat tujuh itu.
Mereka memasuki gedung dan langsung menuju ke arah lift. Sapaan dan anggukan para karyawan mereka Terima, hanya membalas dengan anggukan dan senyum tipis.
Lift pun melesat membawa mereka ke arah ruang pertemuan, karena akan ada rapat pengalihan kekuasaaan dari Pak Harun pada putra satu-satunya.
*
*
"Wehhhh... Ayah, Bunda udah sampe sini aja."
Sapa nya sambil menyimpan cemilan, kue, dan minuman di atas meja.
Ayah hanya mendelik tak menanggapi celotehan anak ke duanya, yang kata sang istri mirip dengan dirinya itu.
"Yah.. gimana?" bisiknya sambil terkikik pelan.
Ayah mendelik dan mengacungkan kepalan tangannya.
"Ada temen aku yg jual obat lama Yah... barangkali Ayah mau pesen, buat aku beliin." Tawarnya masih dengan berbisik dia menoleh ke arah Abangnya yang sibuk dengan laptopnya.
"Ngawur... " Ayah melengos.
"Kali aja, ayah mau durasi laammaaaa. Biar di puji Bunda." Bintang mengatupkan mulutnya menahan tawa yang siap meluncur.
Ayah menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, lalu kepalanya sedikit menyender pada bahu sang putra.
"Apa? jamu atau obat-obatan?" Bisiknya meladeni ucapan anak semprul nya.
"Lima juta Yah.. " Jawabnya singkat.
__ADS_1
"Hah... " Ayah menjerit kaget.
Bunda yang tengah mengobrol dengan Mentari yang tengah menggendong Helen melirik nya, juga Langit yang berada di sebelah nya.
"Ayah, apaan sih?" Bunda menatapnya kesal.
Bintang hanya menutup mulutnya yang menahan tawa dengan kepalan tangannya.
"Eh, maaf. Ini si Bintang semprul kalo ngomong." Ucapnya malu salah tingkah.
Mereka pun kembali dengan aktivitas sebelum nya.
"Ikut, keluar."Ayah bangkit mengambil satu kaleng kopi siap minum dan melenggang ke luar kamar.
Bintang terkikik geli melihat wajah Ayah nya yang memerah.
Setelah di luar Mereka sudah duduk di sebuah bangku besi panjang yang terdapat di lorong tak jauh dari kamar Mentari.
" Serius kamu, masa iya obat lima juta." Papa bertanya penasaran.
"Cuma dua ratus ribu Yah,"
"Nah, terus kenapa jadi lima juta?" Dengus nya heran menatap serius wajah putranya.
"Gini, Ayah tau kan kalo aku masih muda, kebayang nggak kalo temen ku ngeledek aku beli obat kuat. Dan itu menyebar ke temen-temen perempuan aku. Duh harga diri senjata aku gimana Ayah? Pasti mereka meragukan kejantanan Aku."
"Jadi kalo aku jual lima juta, seenggaknya aku bisa beli knalpot baru. Jadi ada kenang-kenangan kalo lagi negeber kenalpot itu hasil ngejual harga diri senjata air aku, Yah. Gimana deal?" rayunya seperti seorang sales penjualan.
"Nego lah! Buat Bunda kamu juga." Ayah balik merayu.
"Ck, yakin cuma buat Bundaa, tapi kan Ayah yang bakal di puji bunda lah nama baik senjata air aku taruhannya, Ah... Ayah nggak ngerti."
"Ada yang lebih murah lagi deh yah, Kalo mau." Tawarnya.
"Berapa? Ramuan?" Ayah antusias.
"Lima ratus aja, Yah... Iya sejenis kayu-kayuan."
"Oh, Ok... deal jadi. Ayah pesen itu. Make nya gimana? di rebus apa gimana?"
"Ok, Ayah cukup pegang kayunya terus satuin sama punya Ayah pake lakban. Aku yakin walaupun yang Ayah udah lemes kayunya masih kuat, Bunda pasti deh... pasti pingsan ke sodok batang sesungguhnya." Dia terbahak sambil berlari masuk ke dalam kamar berniat berlindung pada Bunda nya.
"Anak semprul, kurang ajar kamuuuu." Saat Ayah akan melempar kaleng kosong bekas kopi nya Dafa yang berlari hampir meraih pintu kamar rawat Mentari malah terpleset jatuh tepat di depan kamar adiknya dan di depan seorang suster cantik.
"Sukuuurr, budak semprul. Kualat ngerjain Ayahnya." Lelaki paruh baya itu terbahak sambil melenggang masuk kamar putrinya.
Bintang meringis memegang keningnya.
"Mas, mau saya obatin? itu benjol memar." Suster cantik itu berjongkok di depannya. Bintang yang masih menelungkup di lantai melihat pemandangan indah yang mengintip di belahan paha Suster cantik itu.
"Ada hikmah di balik gedebuk." Gumamnya.
"Apa Mas?" Suster itu mengernyit tak mendengar jelas apa yang Bintang ucapkan.
"Oh... Saya mau di obatin. Sama suster." Seringai playboy nya pun dia berikan.
"Mari, Mas ikut saya!" Tawarnya membantu Bintang bangun dari posisi masih menelungkup di lantai.
"Waww, tadi lembah sekarang gunung nya. Buset berkah di balik benjol." Dia tertawa mesum.
Bersambung ❤❤❤
terimakasih yang sudah mampir 🙏🙏, semoga suka🥰🥰, masih mode Bintang yang receh ya. Semoga nggak bosen. Like komen jangan lupa😘😘.
Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤❤
__ADS_1