
...❤❤❤...
Ditunggu ya di sana Sama Bintang yang belum mampir, cuzzzz kita liat lika liku percintaan dan karma apa saja yang akan Bintang alami
Seorang dokter pria berkacamata keluar dari ruangan yang di tempati Dafa.
Mentari yang sedari tadi duduk bersama Bintang seketika bangkit dan berlari ke arah dokter itu yang masih berdiri di ambang pintu.
"Bagaimana suami saya, dok?" Tanyanya cemas.
"Suami ibu, terkena typus dan dehidrasi ada asam lambung juga. Sepertinya kelelahan atau mungkin sedang ada yang mengganggu pikirannya?" katanya sambil menyimpan stetoskop nya ke dalam jas putih yang di kenakannya.
Mentari menghela nafasnya, kelelahan sudah pasti. Jadwal suaminya begitu padat dalam sehari dia hanya tertidur beberapa jam saja.
"Iya, dok. Suami saya sedang banyak pekerjaan dan akhir-akhir ini bulak balik ke Bogor karena Papa mertua saya sedang sakit." Jawabnya.
"Uhmm... pantas, di harap kan bapak di rawat di sini untuk beberapa hari ke depan ya, Bu. Agar istirahat nya maksimal." Lalu dokter itu pun pamit setelah berbicara dengan Mentari.
Mentari dan Bintang masuk ke dalam ruangan Dafa.
Terlihat Dafa masih berbaring lemas dengan selang infus yang tertancap di punggung tangan kanannya.
Mentari mendekat ke arah ranjang di mana suaminya itu terlihat lelap tertidur. Di usap wajah pucat dengan titik-titik keringat, kulitnya masih merasakan rasa panas yang menguar dari tubuh suaminya. Namun syukur nya tak sepanas dini hari tadi.
"Cha, gue pulang ke rumah Ayah atau rumah lu? Bunda juga udah gue tlp barusan katanya otw rumah lu. Shera ngamuk katanya!" Bintang yang duduk di sofa berkata menjelaskan keadaan anak-anak nya.
"Lu, mau di bawain baju nggak?" tambah nya lagi.
Mentari yang baru tersadar sontak langsung menunduk menatap baju tidur tipisnya berwarna hitam tanpa kain pembungkus dada nya. Pantas tadi sewaktu di mobil kakaknya itu memberikan jaket yang di pakainya.
"Aduh, iya. Kak... masa aku pake baju tidur tipis ini." Mentari mengeratkan jaket milik kakaknya yang dia pakai.
"Di maklum, kan panik." Bintang beringsut bangun dari duduknya.
Lalu kembali merogoh ponselnya yang berbunyi.
__ADS_1
"Nih, Bunda nelpon." Tangannya menyodorkan ponsel itu pada sang adik.
Mentari yang duduk di pinggiran ranjang langsung menerima ponsel itu dan menjawab panggilan Bunda nya. Sementara ponselnya di pake adiknya, Bintang berinisiatif memberi beberapa makanan di kantin rumah sakit untuk adiknya, yang dia yakini pasti belum sarapan.
*
*
Dafa sedikit demi sedikit membuka matanya, kepala nya yang masih berat memaksanya mengernyitkan matanya saat terbuka dengan pemandangan serba putih.
Istrinya yang sedang melakukan panggilan telepon dengan posisi membelakangi nya. Belum menyadari jika dirinya telah sadar.
Dafa yang selalu merasakan rindu dengan istrinya seketika melingkari pinggang istrinya itu dengan tangan kiri nya lalu mencium pinggang itu yang di tariknya mendekat.
Sontak saja Mentari menoleh ke arahnya, rasa kaget seketika berubah jadi kelegaan. Sorot mata indah itu menatap sayu pada suaminya. Terlihat jelas raut kecemasan.
Mentari mengusap kepala Dafa yang tengah mengecupi pinggang nya. Sesaat kemudian dia terdengar mengucapkan salam tanda panggilan akan berakhir.
"Mas, udah enakkan?" Mentari kini berbalik menghadap suaminya.
"Udah, kenapa di bawa ke sini? Mas, cuma lemes aja." Gerutunya.
"Tadi aku abis buang air, tapi tetiba pusing muter aku duduk sandaran terus nggak inget." Dafa menggenggam lembut tangan istri nya yang pasti tadi dilanda panik.
"Pulang gih, kasian anak-anak terutama Shera pasti nyari kamu kehausan." Titahnya.
Mentari masih terisak di samping Dafa. Perempuan yang biasa cuek itu tetiba terlihat rapuh, ketika melahirkan anak mereka saja istrinya itu hanya meringis dan merengek melawan sakitnya. Tapi sekarang hanya karena dia sakit istrinya itu menangis.
"Udah, jangan nangis. Aku nggak apa-apa!" Dafa mengusap lembut paha Mentari.
"Iya, aku takut aja. Anak kamu dua masih kecil-kecil. Aku nggak mau ada apa-apa," Keluhnya.
Dafa seketika bersyukur atas sakitnya, dia tau kalo istrinya itu ternyata memiliki perasaan cinta sama besar sepertinya. Mentari yang jarang mengungkapkan perasaannya, sekarang dia ungkapkan dengan gamblang nya.
"Aku takut jadi janda, biaya anak-anak kamu gede banget. Malem aja nggak ada yg bantuin jaga mereka. Aku capek... " Katanya dengan wajah memelas.
Dafa yang tadi merasa terbang ke awan merasakan kasih cinta dari istrinya, seketika seakan di jatuhkan kembali ke atas tanah.
__ADS_1
"Ku kira kamu, takut kehilangan aku. Nyatanya takut jadi janda nggak ada yang bantuin lagi." Dafa mendengus kesal.
Mentari terbahak karena merasa puas berhasil menggoda suaminya.
Lalu dia menunduk memagut sekilas bibir pucat itu, "Iya, aku cinta kamu... Mas, aku cinta banget." Bisiknya saat pautan itu terlepas.
Dafa yang kaget akan kecupan tiba-tiba itu, hanya memandang istrinya dengan wajah takjub namun memelas berharap lebih.
"Ulang... mau lama." Rengeknya kembali menarik lengan istrinya agar mendekat.
"Idih, yang sakit..." Mentari mencebik.
"Aku kangen, sebulan lebih nganggur nih." Lagi-lagi Dafa memelas.
Saat Mentari hendak menundukkan wajahnya, terdengar suara langkah dan pintu yang di buka.
"Cha... nih makanan... " Suara Bintang terhenti saat melihat gelagat mencurigakan dari pasangan itu.
"Halah, lu mah sakit karena butuh menyuntik bukan butuh di suntik." Bintang menyimpan bungkusan di atas meja dekat ranjang rawat iparnya.
Mentari menahan tawanya mendengar ucapan kakaknya yang di rasa memang benar.
"Gue pulang, jemput Shera. Barusan Bunda bilang dia ngamuk nggak mau nyusu dari botol. Jadi Bunda bawa Helen ke rumah, nah Shera gue bawa ke sini." Ujarnya lalu menyambar kunci mobilnya yang berada di atas meja.
Bintang pun pamit berjalan ke arah pintu
"Eh, iya Lupa. Mau di bawain baju apa? kayaknya butuh lingerie yang bolong-bolong kek jaring lu mah Cha!" Kekehnya sambil membuka pintu dan berlalu pergi.
"Dasar, mesum." Gerutu Dafa.
Mentari mencebik ke arah suaminya, "Kayak yang nggak aja." Katanya meledek.
Mereka tertawa bersama.
Bersambung ❤❤❤
Terimakasih🙏🙏, jangan lupa komen, like, sama Favoritnya ya yang belum di klik.
__ADS_1
Cuma mau mengingatkan yang udah nge favorit in cerita ini jangan di un fav lagi dong, Tiba-tiba naik ntar tiba-tiba berkurang lagi. Aku kayak yang di kasih jajan terus di pinta lagi 🤭🤭 Tapi bebas sih gimana kalian aja lah, susah nggak bisa maksa☺☺ Terimakasih yang masih setia mendukung, semoga berkah dan tidak mengecewakan🥰🥰🥰
Sehat dan bahagia buat semua😘😘😘