Kisah Mentari

Kisah Mentari
Akhirnya


__ADS_3

❤❤❤


Siang hari...


Mentari hampir keluar dari butiknya, dia mendapatkan telepon kalau putrinya menangis terus di rumah Bunda nya. Bintang membawanya ke rumah orang tuanya, tanpa membawa bekal asi.


"Teh ... "


"Itu ... besok pengantin yang bulan lalu pesen gaun, mau fiiting." Salah satu pegawainya menghentikan langkahnya dan memberitahu jadwalnya besok.


"Oh, ok. Udah 80% kan?jam berapa?" tanyanya


"Iya, katanya agak pagi an, sekitar jam 9 jam 10 mungkin, dia katanya mau nyobain sama jas buat calon pengantin pria nya juga."


"Pengacara terkenal katanya," karyawan itu tersenyum centil.


"Dih, kamu yang seneng. Itu calon laki orang." Mentari memukul pelan lengan karyawan nya itu.


Karyawan nya pun tertawa. "Dah, ya kalo ada apa-apa hubungi saya, ini Helen nangis terus." Ujarnya lalu keluar dari pintu kaca butiknya sedikit berlari menuju mobilnya.


"Teh, besok bawa Helen ya. Biar saya yang asuh," teriaknya.


Mentari hanya mengacungkan jempolnya sebelum masuk ke dalam mobilnya. Dan melajukannya dengan sedikit tergesa ke arah rumah Orang tuanya.


***


Tak sampai sepuluh menit, Mentari telah sampai di rumah orang tuanya.


Baru sampai pintu dia sudah mendengar jeritan sang putri, yang tengah di tenangkan oleh Ayah dan Bunda nya.


"Tuh, Ibu udah dateng." Bunda mencoba menenangkan cucunya itu.


"Sayang ... Sayangnya ibu ... " Mentari memanggil Helen sambil berlari ke arah kamar mandi mencuci tangannya, dan melap area dadanya dengan handuk hangat.


Tangisan itu berhenti, berganti dengan rengekan manja, seperti sudah hapal suara sang Ibu. Helen menggerak-gerakan kepalanya mencari sang ibu.


Mentari langsung meraih tubuh putrinya, dan langsung menciumi nya. "Haus? Helen nggak kuat pengen enen?" Dia langsung berceloteh pada anaknya yang sedang menatapnya dengan bibir yang masih mengeluarkan rengekan manja.


Mentari langsung membuka kemejanya, mengeluarkan makanan utama putrinya itu.


Helen melahapnya dengan rakus, dia kehausan setelah beberapa lama merengek. Matanya memandang mata ibunya, tangannya seperti biasa mengacung seperti ingin menggapai wajah sang ibu.


Mentari tersenyum bahagia, menyu*sui adalah momen paling indah dan membuat hatinya hangat, mau selelah atau sengantuk apapun Mentari selalu tersenyum, melihat mata bening putrinya yang semakin hari semakin tumbuh sehat dan gemuk.


"Yang bawa bayi gemoy ini mana, Bun?" tanyanya pada Bunda yang datang membawa jus alpukat untuk sang putri, sementara Ayah masuk kamar untuk tidur siang.


"Di kamar nya, agak pusing katanya." Bunda menciumi tangan Helen dengan gemas.


"Tadi pagi, bilang nya mau jagain Helen. Malah di bawa ke sini!" gerutunya kesal.


"Nangis terus katanya."


"Ck, alesan." Mentari mencibir.


"Tidur di sana malem?" bunda bertanya.


Mentari mengangguk, "dateng jam dua malem, duduk di depan pintu kayak apaan aja," ucapnya saat mengingat kejadian semalam, yang awalnya membuatnya merinding. "Pagi-pagi minta makan." Dia terkekeh.


"Biasa, kata Ayah juga kakak kamu yang itu special pake telor." Bunda ikut tertawa.


"Kayak mie rebus aja bun, tapi dia kebanyakan mecin sama cengek(rawit) jadi nyebelin."

__ADS_1


Mentari dan bunda tertawa, dan Helen pun ikut menyeringai.


Dan perempuan tiga generasi itu pun tertawa bersama.


*


*


*


Sore hari


Mentari sampai di apartemen nya. Dia langsung meletakan Helen di kasurnya, bayi cantik itu menggerakan semua tubuhnya dengan ceria, dia juga berceloteh khas bayi.


Mentari yang sedang berganti baju , ikut menanggapi celotehan putrinya. Dia bahagia sangat bahagia, bahkan dia hampir melupakan rasa rindunya pada Dafa.


Setelah Helen di mandikan, dan di beri asi hingga tertidur. Dia membereskan kekacauan apartemen yang kakaknya perbuat. Sambil memasak mie instan yang sudah jarang sekali dia buat semenjak ada Helen. Sebenarnya bukan mie Instan pake sayur tapi sayur pake mie instan. Karena lebih banyak sayurnya dari pada mie nya.


Lalu sebuah bell lagi-lagi terdengar


Dia mengintip dari kaca intip di pintu. Terlihat Bintang berdiri di depan pintu sambil memijit pelipisnya.


Pintu pun dia buka.


"Lama, gue pusing." Ujarnya sambil melangkahkan kakinya masuk, lalu langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang tadi sedang Tari duduki.


"Mau makan?" tanyanya pada sang kakak.


"Gue pusing," Bintang menjawab dengan masih memijat pelipisnya.


"Ngapain ke sini? bukannya di rumah!" Mentari kesal dengan sikap manja dan rengekan kakaknya.


"Ya udah, mau di bikinin apa?"


"Aduh, badan kakak panas banget. Minum obat mau?" tawarnya.


"Gue masuk angin kayaknya, kemarin kan ke Jakarta terus ke Anyer balik lagi ke Bandung." Terangnya.


"Lah, ngapain?"


"Pejuang cinta." Jawabnya bangga.


Mentari memutar matanya sebal.


"Giliran sakit aku yang kebagi, padahal abis indehoy pasti ... "


"Heh ... anak kecil tau apa?" Bintang menjentikkan jarinya di kepala Mentari.


"Anak kecil juga aku udah lebih pengalaman.'


Mereka pun tertawa di malam yang sedang di guyur hujan itu.


Setelah selesai memberi kakak nya obat, Mentari pun masuk ke kamar karena Helen merengek.


Dua adik kakak itu pun larut dalam mimpi mereka masing-masing.


*


*


Pagi hari

__ADS_1


Seperti biasanya ibu muda itu telah sibuk dengan urusan dapur dan bayi kecilnya.


Mentari telah selesai memandikan Helen, dan membuat nasi goreng untuknya dan sang kakak.


" Kak, sarapan dulu yuk! aku mau berangkat." Lelaki itu masih tidur dengan pulsanya.


"Kak ... "


"Duluan, Gue masih ngantuk." Jawabnya dengan suara serak.


Mentari pun langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi goreng dengan toping sosis goreng.


Lalu membawa nya ke sofa di mana Bintang tertidur.


Mentari makan dengan menghadap Helen yang berada di bouncernya yang sedang bergerak-gerak seolah sedang menimang-nimang bayi cantik itu.


"Cha ... obat yang malem masih ada?" lelaki itu bergerak bangun.


"Ada di laci meja TV itu." Tunjuknya pada laci meja TV tepat di depan sofa yang mereka duduki.


"Ya udah, gue pindah ke kamar ya. Pegel semua nih badan." Lalu berjalan lunglai ke arah kamar tamu sebelah kamar Adiknya.


"Dih, siapa suruh tidur di sofa." Mentari menggerutu.


*


*


Mentari tiba di butik tepat pukul sembilan, dengan Helen dalam gendongan nya.


"Udah dateng orang nya? aku kesiangan. Mau pergi Helen malah pup." Mentari menyengir.


"Udah ,Teh. Di dalem nunggu. Sini Helen sama saya." karyawannya itu langsung meraih bayi montok nan cantik itu.


"Belum aku kasih asi lagi, mana ketinggalan asi nya. Aku buru-buru banget, ajak di luar aja. Biar liat mobil yang lewat lalu lalang, biasanya dia suka. " Ucapnya sembari membenarkan bandana lucu yang melingkari kepala Helen.


Mentari bergegas menuju ruangannya, mengetuk pintu sebelum masuk.


"Maaf, saya terlambat." Ucapnya ramah sambil mengulurkan tangan pada seorang wanita manis dan mungil di depannya.


"Iya, nggak apa-apa Mba, saya juga baru dateng."


"Sendiri?" tanya Mentari, mengingat kemarin karyawannya berbicara calon pengantin pria nya yang seorang pengacara juga akan ikut mencoba jas nya.


"Masih di jalan, kena macet katanya," jawabnya.


"Iya, sekarang Bandung juga macet di mana-mana. Udah kayak Jakarta." Mentari menarik sebuah manekin yang terdapat dua buah gaun dan satu buah stelan jas.


Sebuah ketukan pintu terdengar.


Seorang pria tinggi berdiri di gawang pintu.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰


Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤


Terimakasih juga buat teman-teman, terutama Mak fit author hedon, yang udah promosi in cerita bubuk rengginang ini🙏🙏 semoga suka ya🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2