
❤❤❤
Helen terbangun saat Ibunya itu hampir terlelap dalam pelukan Ayahnya.
Rasa lelah dan ngantuk harus Mentari buang jauh-jauh. Karena kewajibannya sebagai seorang ibu.
Sudah hampir sejam, dia coba menidurkan kembali Helen tapi nyatanya bayi cantik itu semakin segar, sedangkan Dafa masih menelungkup di belakang tubuhnya dengan suara dengkuran halus. Suaminya itu benar-benar pulas tertidur.
Mentari menggendong Helen ke luar kamar, masih dengan pakaian penutup akhir saja di tubuhnya.
"Sebentar nak, Ibu bikin susu dulu buat adik bayi di perut Ibu ya!" di ajaknya Helen mengobrol, bayi itu hanya merespon dengan suara-suara bayi nya dan sesekali memandang Ibu nya dengan senyuman dan tatapan mirip dengan nya.
Tak lupa dia mengeluarkan hati ayam yang sudah dia rebus, sepotong tahu sutra dan sedikit wortel dari kulkas. Kebiasaan nya di pagi hari membuat bubur untuk anaknya. Entah kenapa putri nya itu enggan memakan bubur instan, semua merek dan rasa telah dia coba namun Helen masih tidak mau memakannya.
Jadi dia harus berkutat dengan panci kecil tiap pagi.
Saat akan memasukan semua bahan ke atas panci yang airnya sudah mendidih, tiba-tiba Helen menggerakkan tangannya yang hampir menyentuh pinggiran panci panas. Mentari langsung menjerit dan menjauhkan tubuhnya yang tengah menggendong Helen. "Nggak boleh sayang, panas. Nanti tangan Helen sakit." Dia menciumi Helen yang terlihat kaget dan hampir menangis.
Mentari berjalan mencoba menenangkan putrinya, saat dirinya hampir membuka pintu menuju teras dia tersadar dengan tubuh yang setengah telanjang.
"Aduh, hampir aja Ibu lupa." Kekehnya.
"Kita mandi dulu ya," Lalu Mentari masuk ke dalam kamar nya. Di lihatnya Suaminya masih tertidur.
Tak tega membangunkannya tapi Helen tidak mau di simpan dalam box, sedangkan dia akan menyiapkan keperluan mandi Helen.
"Mas ... "
"Hemm ... "
"Titip dulu Helen, aku mau bikin sarapan." Ucapnya pada sang suami yang belum sadar sepenuhnya.
"Nggak usah, kamu capek."
"Ya udah, aku mau nyiapin keperluan mandi nya Helen. Sambil mau bikin buburnya." Pinta nya lagi yang kini langsung menyimpan Helen di sebelah suaminya dan mengarahkan tangan suaminya melingkari tubuh Helen seolah memagari pergerakan bayi itu.
*
*
Mentari merebus semua bahan untuk bubur lalu sambil menunggu dia kembali ke kamar menyiapkan air hangat dan baju yang akan Helen pakai.
Di ambil nya tubuh bayi cantik itu dari kungkungan Ayah nya yang kembali tertidur.
Lalu dia mulai mengurus anaknya itu, mulai memandikan lalu memakainya baju lucu dan cantik, setelah sebelum nya mematikan kompor yang air rebusan berbagai macam bahan untuk bubur telah matang sempurna. Mentari memakai kaos longgar dengan celana pendeknya lalu menggendong Helen yang sudah merengek lapar.
"Bentar nak, kita blender dulu ya biar halus bubur Helen nya." Ucapnya sambil menyendokkan bahan yang sudah matang ke dalam blender kecil khusus untuk bubur Helen.
Tak lama bubur sudah dalam mangkuk kecil, dan dia membawanya sambil menggendong Helen ke teras rumah.
Selesai makan Helen meminum air putih yang Mentari isi dalam botol dot. Lalu Helen menelusup ke ketiak Ibu nya. Ciri khas bayi itu jika mengantuk akan mencari celah ketiak Ibu nya lalu tak lama tertidur.
Mentari masih di teras menimang Helen yang sudah mulai tertidur. Lalu dia membawanya masuk ke dalam kamar dan menidurkan Helen di box nya.
__ADS_1
Dia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sebelum Helen terbangun.
Tak membutuhkan waktu lama untuk seorang Ibu yang memiliki bayi, melakukan segala kegiatan nya, semua harus di kerjakan se efisien mungkin.
Mentari kembali menggunakan pakaian paling minimalis berwarna hitam, dia mengutak-atik ponselnya sebelum terdengar rengekan Helen.
"Iya, sayang." Panggil nya. Saat mendekati box dia menjerit lalu sedikit berlari ke arah suaminya yang masih tertidur
"Mas ... "
"Bangun, itu ada ulet di deket jendela. Buruan ambil takut ke box nya Helen." Mentari mengguncang keras tubuh suaminya.
"Apa sih? masih ngantuk!" Dafa sedikit membuka matanya yang terasa masih lengket.
"Itu, ada ulet di jendela. Buruan ambil, takut kena box nya Helen." Mentari bergidik mendorong tubuh suaminya.
Dengan lunglai Dafa mendekati jendela.
"Ambil dulu Helen nya, siniin nangis dia. Kasian." Pinta Mentari.
Dafa pun segera mengambil Helen yang sudah duduk dan menangis menatapnya.
"Ugh, anak Ayah Udah cantik." Dia menciumi Helen sambil berjalan ke arah istrinya.
Lalu dia kembali ke jendela, "mana?" dia celingukan di sekitar jendela.
"Di situ, warna ijo."
"Ada, dih pasti udah jalan itu. Pokoknya harus dapet, kamu kan tau aku takut banget sama ulet." Mentari menjerit-jerit di atas kasurnya.
"Oh, ini." Dafa mengacungkan tangannya yang sedang menjepit ulat cukup besar berwarna hijau tua.
"Agggrrrrr... nggak usah di gituin, buang langsung. Tapi harus mati, biar puas." Mentari berjingkrak ketakutan masuk ke kamar mandi.
Dafa yang masih memakai boxer tipis tanpa baju itu berjalan ke luar rumah, tepatnya ke halaman rumah mereka.
Mentari yang takut tapi penasaran mengikutinya, setelah sebelumnya menyambar sebuah handuk kimono yang menggantung di pintu kamarnya. "Matiin." ucapnya lagi.
"Udah, nih dah aku timpa batu, dah di ulek juga. Dah gepeng tuh dia. Sini liat!" Tangannya melambai-lambai pada sang istri.
Mentari yang sedang di gawang pintu ruang tamu langsung menggelengkan kepalanya, "ogah."
Dafa terkekeh lalu berjalan ke halaman rumahnya.
"Oh, dari pohon jeruk." Ucapnya mendongak ke sebuah pohon jeruk yang memang terlihat beberapa ulat yang serupa dengan yang dia buang tadi.
"Tebang ah, aku nggak mau."
"Iya, ntar aku suruh hansip depan buat nebang. Sekalinya pohon mangga nya nggak?"
"Jangan, sayang udah banyak buah kecilnya." Mentari langsung menyambar ucapan suaminya yang tengah menunduk di sebuah keran pinggir pagar mencuci tangannya.
"Dih, belum tau dia ulet pohon mangga."
__ADS_1
"Hah, emang ada uletnya?" tanyanya penasaran.
"Ada, ulet bulu malah."
"Ih, udah deh sekalian aja tenang semua. Ganti sama pohon yang nggak ada uletnya." pintanya.
Dafa mendekat dan menciumi Helen yang tertidur kembali di pelukan Ibu nya.
"Iya, ntar aku tebang semua. Ganti sama pohon kurma." Dia merangkul istrinya kembali memasuki rumah.
Mentari kembali menidurkan Helen di box nya, setelah memastikan tidak ada lagi binatang yang sangat dia takutkan. Lalu dia menutup jendela, dan membuka kembali handuk kimono nya.
Dafa baru keluar kamar mandi dengan wajah segar, setelah dia mencuci mukanya.
Pandangan mereka bertemu, "Aduh lemes, gara-gara ulet." Mentari merebahkan tubuhnya di. atas kasur.
Dafa yang sedang minum sedikit tersenyum dengan tingkah istrinya, teringat dulu di awal-awal pernikahan mereka Mentari menangis gegara ulet di brokoli yang bahkan terlihat sangat kecil menempel di jarinya.
Dia ikut kembali berbaring, "Tapi ulet kasur kamu nggak takut." Dafa tertawa.
"Ulet kasur?"
"Iya, ulet bulu yang suka ada di kasur." Dafa kembali tertawa.
"Nggak usah nakutin Mas, ish mana ada di kasur ada ulet bulu." Dia memukul perut Dafa.
"Lah, ini kan ulet bulu kasur." Dafa menarik turun boxer nya dan mengeluarkan sedikit miliknya yang kembali menggeliat hendak bangun.
Mentari melihat dengan tatapan heran lalu dia terbahak-bahak, "iya, ya. Itu lebih parah bukan cuma gatel tapi bikin bengkak sembilan bulan." Dan mereka pun tertawa terbahak-bahak, dan Dafa memeluk dan menciumi istrinya dengan gemas.
"Dasar, kata-kata kamu dari dulu banyak banget perumpamaan nya, jadi sekarang bukan jamur kuncup lagi dong?" Mentari bertanya sambil mendongak menatap suaminya.
"Hiburan lah, Sun. Biar ada bahan yang bikin konyol dan kamu ketawa kayak gitu, aku suka. Jangan cemberut aja, aku suka nggak fokus lagi kerja juga, pengen cepet pulang ke rumah." Lelaki itu akhirnya mengutarakan perasaannya.
"Nggak tau, di hamil yang sekarang aku sering sebel aja sama kamu. Maaf ya, kalo bikin kamu nggak nyaman atau kepikiran. Serius aku juga nggak ngerti." Sesalnya.
Dafa mengangguk kembali memeluk tubuh Mentari. "Baby nggak apa-apa? perut kamu nggak keram aku minta nambah?" Tanyanya sambil mengelus pelan perut Mentari.
"Nggak, semua baik-baik aja." Bisiknya di telinga Dafa.
"Aduh, Sun. Ulet bulu aku bangun, harus di tenggelamkan ini." Dafa membuat mimik wajah menyedihkan tapi membuat Mentari menggelengkan kepalanya geli dengan ucapan suaminya itu.
"Tenggelamin ke tanah? kayak ulet tadi?" Mentari terkikik-kikik.
"Ya, di tenggelamkan nya di gua kamu lah. Ini ulet jumbo kan limited." Dafa ikut tertawa dengan ucapannya sendiri.
"Dasar." kekehnya.
Bersambung ❤❤❤
Terimakasih🙏🙏, jangan lupa komen, like, sama Favoritnya ya yang belum di klik.
Sehat dan bahagia buat semua😘😘😘
__ADS_1