Kisah Mentari

Kisah Mentari
pencarian


__ADS_3

💔💔💔


flashback on..


"Mih... aku mau minta bantuan mamih... "


"Apa? kamu di mana? kenapa suara kamu kayak yang nangis?" tanya bos nya itu yang dia sebut Mamih.


"Aku di rumah sakit Mih, boleh aku pinjam uang?"


"Ngomong apa sih kamu? rumah sakit mana? Mamih ke sana sekarang!"


"Rumah sakit xxxx, Mih aku butuh baju ganti." ucapnya lagi.


"Iya, Mamih ke sana sekarang."


Panggilan pun berakhir, Mentari mengelus lembut perutnya ada pergerakan kecil di dalam sana.


"Sehat ya nak, kita berjuang bersama." Bisiknya.


Mentari membulat kan tekadnya untuk pergi dari hidup Dafa, untuk sementara waktu entah sampai kapan. Dia sendiri tidak tau. Memasrahkan segala takdir yang kita jalani pada sang pencipta mungkin adalah jalan terbaik, yang penting baginya sekarang adalah ketenangan batin demi kelangsungan kesehatan calon malaikat kecilnya yang sedang tumbuh.


Dia akan pergi entah kemana, yang jelas dia harus mempunyai bekal untuk memulai hidup barunya.


Ingin sekali dia menelpon keluarga nya, namun rasa malu begitu besar dia rasakan, lagian dia tidak mau kembali memberi beban pikiran untuk Ayah nya yang masih berjuang sembuh.


Mentari berniat akan pergi dari kota itu, kota yang menyimpan begitu banyak kenangan di hidupnya, kota di mana dia di lahirkan, di besarkan, dan juga menemukan cinta sekaligus rasa sakit.


...----...


Tak lama kemudian, suara ketukan terdengar dan dua orang muncul dari balik pintu.


Mamih yang tak lain pemilik tempat kerjanya, juga Mas Beni keponakan Mamih sekaligus bos nya di tempat kerja. Lelaki yang selalu di cemburui Dafa suaminya.


"Sayang?"


Wanita modis itu mendekat dan mereka pun saking bertukar cerita, pendapat.


Dan sebuah hasil dari pembicaraan itu adalah Mentari akan ikut ke Jakarta, di mana Mamih tinggal, dia juga akan menjadi designer di butik Sesuai tawaran waktu itu.


Seorang suster datang untuk mencabut jarum infus yang menancap di tangan kanannya, setelah sebelumnya Mas Beni menyelesaikan administrasi dan berkonsultasi pada dokter untuk membawa pulang Mentari.


Mamih menyodorkan sebuah paperback berlogo merk terkenal pada Mentari, Sebuah pakaian ganti yang di pesan Mentari di telpon tadi.


Dia membantu Mentari berdiri dan memapahnya ke pintu kamar mandi.


"Aku, bisa. Mih!" tolak nya saat Mamih akan ikut masuk ke dalam kamar mandi.


"Hati-hati, sayang." kemudian menjauh dari pintu kamar mandi.


Mentari keluar dari kamar mandi dengan baju yang sudah di ganti, wajah dan matanya memancarkan kesedihan dan kehancuran yang sangat mendominasi wajah cantik nya itu.


Duduk di pinggir ranjang, menatap kedua orang di depannya yang juga tengah menatapnya.


"Kamu serius? yakin ini keputusan terbaik?" tanya Wanita paruh baya itu sambil beringsut mendekati posisi Mentari dan mengusap punggung itu.


Hanya anggukan yang mewakili jawaban dari Mentari.


Beni pun berdiri setelah mengajak untuk segera pergi ke Jakarta agar Mentari bisa secepatnya istirahat.


Mereka pun beriringan keluar dari rumah sakit, saat langit sore sudah mulai menarik sinarnya berganti tugas dengan gelapnya malam.


Mobil itu pun melaju membelah jalan menuju Jakarta. Kota yang akan menjadi tempat Mentari memulai kehidupan barunya tanpa Dafa tentunya.


Flashback off..

__ADS_1


...----------...


Dafa tertatih-tatih menuju mobilnya di parkir, dia keluar dari kost an Cindy dengan kekecewaan dan rasa bingung yang mendera. Rasanya kepalanya mau pecah memikirkan Mentari istrinya yang entah di mana.


Dia menuju cafe tempat Mentari bekerja, terlihat cafe itu sedang berbenah akan segera tutup.


"Maaf, Mas. Cafe nya sudah tutup!" karyawannya mendekati Dafa.


Dafa masih tetap menerobos masuk, "Panggilin bos lu! si Beni... " Dafa berucap menekankan kata akhirnya.


"Maaf, Mas. Tapi... " Ucapannya terpotong saat sebuah tepukan terasa di pundaknya.


"Ada, apa?" Beni yang muncul dari belakang tubuh karyawan nya itu.


Dafa menatapnya nyalang, menghampiri Beni dan mencekram kerah bajunya. "Di mana bini gue?" suaranya rendah namun penuh tekanan.


Beni hanya tersenyum, "Dia ijin sakit, ya mungkin sedang berbaring di rumahnya!" Jawabnya santai, kerahnya masih di genggaman Dafa.


"Ta*, lu. Kalau bini gue di rumah ngapain gue nginjekkin kaki di sini." Dia menghempaskan cengkraman nya. Berjalan sedikit di sekitar bangku-bangku yang telah di naikan ke atas meja.


"Berarti, lu suami nggak becus. Bukannya istri lu lagi sakit? masa lu nggak tau dia pergi ke mana!" Cibir nya.


Dafa yang memang tengah kalut, dan penuh keresahan berbalik, dia langsung menabrakan tubuhnya ke arah Beni hingga terjungkal, "Brengsek... Lu nggak tau apa-apa anji**." Bentaknya yang masih berada di atas tubuh Beni.


Rijal langsung menarik tubuh Dafa agar tak semakin bertindak lebih jauh, Seorang karyawan membantu Beni bangun.


"Gue yakin lu, sembunyiin bini gue." Dafa mengatur nafasnya yang semakin sesak karena menahan amarah.


"Justru gue mau ikut nyari dia, gue bakal tawarin kehidupan yang lebih baik dari pada hidup sama lu!" tantangnya.


Dafa kembali menyerang tubuh Beni hingga mereka baku hantam adu jotos, ke dua lelaki itu tak tertahan lagi untuk saling meluapkan emosi, bahkan Rijal dan tiga karyawan yang ada di situ kesulitan melerai mereka.


Hingga Dafa menghentikan pergulatan nya, saat kaki nya terasa sakit luar biasa. Dia mengernyitkan keningnya, tangannya reflek memegang kaki bagian bawah nya. Lalu dia menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan mengaduh kencang.


Rijal membantunya dan segera membawa nya ke luar, memasuki mobilnya. Dia meninggalkan mobilnya sendiri di parkiran cafe tersebut.


Mobil itu melesat menuju sebuah rumah sakit, tempat Lukman praktek.


...~~~...


Keesokan harinya...


Lukman memutuskan kembali memasang gips di kaki Dafa, lelaki yang tengah kalut itu pasrah tidak memberontak atau marah-marah seperti biasanya.


Pikiran dan hati yang kacau telah menyedot habis semua tenaganya.


Saat Dafa, Rijal, dan Lukman sedang berbincang di ruang rawat Dafa. Sesuatu melintas di kepalanya.


Terbesit kemungkinan jika Mentari akan pulang ke rumah Ayah nya.


Dafa menuruni ranjang nya, berjalan tertatih dan memacukan mobilnya melesat ke rumah Ayah mertuanya.


Rijal hanya melongo saat lagi-lagi dirinya tak di anggap ada, malah di tinggal begitu saja.


Tak kalah cepat dia pun menyusul kemana Dafa melajukan mobilnya. untung dia sudah mengambil mobilnya yang di tinggal di pelataran parkir cafe Beni tadi malam.


Dafa turun dari mobilnya saat tiba di sebuah rumah besar berpagar hitam setinggi kepala nya.


"Mang... " Dafa memanggil seorang pria paruh baya yang tengah merokok di teras rumah tersebut.


Pria paruh baya yang tak lain mang Unang supir sekaligus penjaga rumah Ayah Gunawan itu.


"Eh... Aden? Ada apa malam-malam begini?" tanyanya sambil membuka pagar.


"Mentari apa ada di sini Mang?"tanya nya to the poin.

__ADS_1


" Hah... si aden ngga salah nanya? kan neng Mentari udah nikah sama Aden? terakhir saya lihat neng waktu di bandara nyusulin den Langit." terangnya.


Lagi-lagi rasa kecewa dia dapat kan. Kemana lagi dia harus mencari istrinya.


Dia teringat Rumah kakak sepupunya Mentari, Kak Iqbal. Dafa pun bergegas ke sana setelah dia berpamitan pada Mang Unang.


Rijal yang baru turun dari mobil mendengus kesal saat Dafa kembali meninggalkan nya.


"Gebleg... kalo bukan sahabat dah gue toyor pala lu Daf!" gerutunya kesal. Namun tetap mengikuti mobil Dafa berlalu


...-----...


Kembali kekecewaan yang di dapat Dafa, ternyata iqbal sedang di rawat di rumah sakit sudah hampir tiga minggu, itu yang dia dengar dari pembantu rumah iqbal.


Kedua sahabat itu terdiam di pinggir jalan , Rijal menyodorkan sebuah air mineral ke hadapan Dafa.


"Kemana lagi gue harus nyari dia?" Dengusnya putus asa.


"Bukannya mau larang lu, atau sok ngajarin lu. Gue rasa sebaiknya lu diemin dulu biarin Mentari menenangkan diri."


Dafa langsung menatapnya dengan mata melotot sempurna.


"Kalo gue nggak nyari, nanti dia kira gue nggak merjuangin dia." dia meneguk minumannya.


"Lagian pertanyaan gue, Mentari keguguran mungkin dia akan sangat benci sama gue, takut dia minta pisah. Siallll... " Teriaknya


Rijal terdiam, kembali menatapnya.


"kita cari terus, tapi nggak sambil menggebu gini! lu bentar lagi sidang, dan lu fokus ke masalah yang bisa lu selesai in dulu, baru nanti lu fokus ke Mentari."


"Lu harus segera selesai in sekolah lu, sambil cari deh gue bakal bantu sampai kapanpun." tambah nya lagi.


"Emang gue bisa fokus? bini gue aja nggak tau berada di mana!" tegasnya.


"Ya, lu harus buktiin lu bisa, hingga lu jadi orang yang lebih matang dan mantep menggenggam dunia." Ucapnya antusias memberi semangat


Dafa hanya terdiam, sambil memainkan botol air mineral yang di pegangnya. Sebuah dering ponsel menjeda percakapan mereka.


Di rogohnya saku celananya, sebuah nama tertera di layar


"Ya...


"...


" Apa... ? makasih infonya."


panggilan pun terputus, dan Dafa tertatih ke arah pintu mobil.


"Mau kemana?" Rijal mengikuti sambil sesekali wajahnya ikut meringis saat sahabatnya itu meringis menahan sakit di kakinya.


"Ke rumah sakit, Pala gue rasanya mau pecah." gerutunya saat sudah berhasil mendudukkan tubuhnya di balik kemudi.


Rijal mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Lu, mau di rawat lagi di sana?" tanyanya polos.


"Bukan, bokap gue serangan struk dan sekarang dia di rumah sakit. Barusan asisten nya yang nelpon."


mobil pun melaju melewati Rijal yang masih termangu di sana, " Lagi-lagi gue di tinggal, kek apaan aja! kagak di anggap." dia terkekeh miris, sambil berjalan ke arah mobilnya yang masih terparkir di depan rumah iqbal.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih yang sudah mampir baca🙏, semoga suka🥰🥰like dan komennya aku tunggu 😘😘


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤❤

__ADS_1


__ADS_2