Kisah Mentari

Kisah Mentari
Kepanikan


__ADS_3

...❤❤❤❤...


Seminggu berlalu


Dafa masih bulak balik Bandung Bogor dalam beberapa hari ini, rasanya tubuhnya semakin tidak kondusif. Malah siang ini dia merasakan badannya lemas tak bertulang, dan kepalanya sakit.


Jam tiga Dafa sudah mendorong pagar rumahnya dan memasukan mobil dengan asal.


Mentari yang menyadari kepulangan suaminya bergegas menyambut dengan Helen yang berlari kecil sambil berteriak memanggil Ayah nya.


Dafa hanya tersenyum tipis, rasanya dia sudah ingin menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


"Mas, udah pulang?" Mentari yang menggendong Shera menyapanya.


"Iya, badanku makin nggak enak." ucapnya sambil mendudukkan tubuhnya di kursi teras.


"Aku bikinin teh panas ya?" Mentari masuk ke dalam tanpa menunggu jawaban dari suaminya.


Helen masih berlarian di depan Ayah nya. Seperti biasa si anak Ayah itu selalu lengket jika berada dekat dengan Ayah nya.


Mentari memberikan Shera pada Intan, lalu segera membuat teh panas untuk suaminya yang terlihat pucat dan lemas.


Intan yang menggendong Shera di dekat ruang tamu, sedikit berlari ke arah Mentari.


"Teh, Ayah nya Helen muntah-muntah di depan." adunya.


Mentari bergegas ke depan dengan membawa satu mug teh manis panas.


Di lihatnya Dafa tengah menunduk di bawah keran air taman rumah mereka. Helen dengan setia nya mengusap punggung Ayah nya, sepertinya dia menyimak kelakuan Ayah nya waktu ibu nya sering muntah-muntah saat hamil dulu.


"Mas... "


Dafa menoleh sesaat, namun kembali menunduk memuntahkan isi perutnya nyang hanya berisikan air yang terasa pahit. Dia belum makan sedari siang. selera makannya buruk beberapa hari ini.


"Masuk angin kayaknya!" Ucap Mentari sembari menyodorkan mug teh panas pada suaminya itu.


Dafa langsung meminumnya dengan perlahan.


"Kerokin aku ya di kamar belakang?" katanya dengan wajah memelas.


Mentari mengangguk dan mereka pun masuk ke dalam rumah. Dafa langsung masuk ke dalam kamar tamu yang rencananya akan di buat untuk kamar anak-anak jika mereka sudah agak besar nanti.


Mentari ke kamar mengambil pakaian ganti dan botol minyak gosok tak lupa koin yang sudah dia bersihkan dengan alcohol.


Dilihatnya Dafa sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur yang baru mereka beli tak lama setelah Mentari melahirkan Shera. Karena Bunda sering mengunjunginya dan Ayah akan tiduran di kamar tamu itu selama sang istri menyibukkan diri dengan cucu-cucu nya.


"Ganti dulu baju, Mas!" titahnya.


Dafa beringsut bangun dengan memegangi kepalanya yang semakin berat.


"Aduh, panas banget badan kamu, Mas." Mentari cemas saat tangannya yang sedang membantu Dafa membuka kemeja kerja menyentuh kulit suaminya itu.


Dafa hanya mengangguk lemah.


Dia segera mengganti celana bahannya dengan celana jogger. Dan belum memakai kaos rumahannya karena akan di kerok sang istri.


Setelah selesai di kerok, Mentari membawakan bubur ayam yang dia pesan di aplikasi. Menyuapi nya dan memberikan obat penurun panas. Dan menyelimuti suaminya dengan selimut tebal dan membiarkan nya istirahat.


*


*

__ADS_1


Malam hari nya


Mentari tetap terlihat bulak balik antara kamarnya dengan kamar yang di tempati Dafa. Dafa masih dengan panas tinggi nya tapi tetap keras kepala tidak mau di ajak ke dokter.


"Mas, cuma capek aja. Besok pasti udah mendingan." Gumamnya dengan mata yang terpejam namun badan yang gemeteran karena menggigil.


"Aku panggil dokter lukman ya?"


"Nggak usah, udah tungguin anak-anak aja. nanti kalo butuh sesuatu, Mas panggil kamu." Timpalnya.


Mentari pun pasrah lalu kembali ke kamar nya, berusaha untuk memejamkan mata namun susah. Dia menghawatirkan suaminya.


Hampir jam tiga dia terlonjak bangun, saat Shera menangis. Biasanya Dafa langsung sigap menggendong bayi mereka.


Mentari masih memberikan asi pada Shera, lalu dia berjalan ke luar kamar hendak membuat susu karena merasa perutnya lapar.


Terdengar suara pintu kamar mandi tamu yang terbuka, mentari menoleh ke belakang karena kamar mandi tamu bersebelahan dengan kamar tamu.


Terlihat suami nya itu keluar dengan wajah semakin menghawatirkan , tangannya menggapai dinding sebagai penopang tubuhnya yang lemas.


"Mas... " Mentari berlari menghampiri suaminya, dengan Shera yang masih setia menyesap asi nya.


"Kenapa? pipis?" tanyanya sambil menggandeng suaminya kembali ke kamar.


"Aku buang air, dari semalem nggak enak perut. Kayaknya emang masuk angin." Gumamnya kembali merebahkan badannya di atas kasur.


Mentari menyelimuti tubuh Dafa, badannya panas tapi kaki dan tangannya terasa dingin seperti es.


"Mas... aku panggil dokter lukman ya?" Mentari kini semakin cemas, suaminya benar-benar lemas dan pucat.


Dafa hanya menggelengkan kepalanya, sambil meringkuk memeluk pinggang istrinya yang duduk di pinggir kasur, dengan putri mereka yang menempel.


"Mas.. "


"Hemm... "


"Ya, kita ke dokter aja sekarang!"


"Aku cuma mau tidur,"


"Tapi besok, kalo masih gini kita ke dokter ya?"


"Hemm... " Jawabnya hanya dengan menggumam.


Mentari pun kembali ke kamarnya, saat suara Helen menangis memanggilnya.


*


*


Pagi hari nya mentari keluar dari kamar, dia melihat Intan tengah membereskan rumah.


"Tan, udah liat Ayahnya anak-anak keluar kamar?"


"Kamar mana teh?"


"Kamar tamu?"


"Nggak ada, saya pikir pindah ke kamar teteh. Soalnya pintu nya kebuka. Barusan saya habis membereskan gelas-gelas bekas Ayah nya Helen." jelasnya.


Mentari panik, melihat ke kamar yang dini hari tadi masih di tempati suaminya.

__ADS_1


Berlari ke luar melihat kendaraan suaminya, mulai dari motor dan mobilnya ada, pikir nya suaminya ke dokter dan tidak mau merepotkan nya.


"Kemana ya?" Mentari terlihat panik.


Kamar mandi, dia teringat semalam suaminya bilang bulak balik ke kamar mandi sakit perut.


Mentari memberikan Helen yang tengah dia gendong pada Intan, lalu sedikit berlari ke arah kamar mandi tamu.


"Mas... Mas... " panggilnya sambil mengedor-gedor pintu kamar mandi. Saat memutar gagang pintu tidak terkunci namun tidak bisa terbuka seperti ada yang mengganjal. Pikirannya langsung buruk, lintasan bayangan mengerikan melintas di kepala nya.


"Mas... ya Tuhan, kamu kenapa mas?" Teriaknya terus dengan berusaha membuka pintu yang terganjal sesuatu. Dia meyakini suaminya itu jatuh atau pingsan karena lemas.


Mentari meraung panik, Helen ikut menangis melihat ibunya.


Intan berlari ke luar saat mendengar suara bel di bunyikan.


*


*


Bintang yang di suruh Bunda mengirimkan soto ayam untuk Dafa yang sakit, seketika panik saat masuk ke ruang tamu mendengar adiknya menangis.


"Kenapa?"


Mentari langsung menoleh ke arah suara, hatinya serasa dapat penolong. Dan segera menarik kakaknya ke arah pintu kamar mandi.


"Ayahnya Helen, kayaknya pingsan di dalem. Pintu nya susah di buka ke ganjel."


Dengan sekali dorongan kuat, pintu bisa terbuka sedikit lebar, Bintang langsung melongokkan kepalanya melihat ke dalam. Benar saja adik iparnya itu tergolek lemas menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi.


"Daf... " Panggil nya, lalu berusaha masuk ke dalam dengan susah payah.


Lalu menggeser kan kaki Dafa yang memanjang ke arah pintu.


Pintu pun bisa di buka lebar, dan mentari menangis melihat keadaan suaminya.


"Mas... " Mentari mengguncang tubuh suaminya namun tidak ada reaksi.


Bintang mencoba mengangkat tubuh itu namun terasa berat. Tubuh orang yang tak sadarkan diri memang terasa lebih berat sesuai dengan bobot sebenarnya.


"Bisa Helen lu simpen dulu nggak? bantuin kita gotong Dafa ke mobil!" Bentak nya pada Intan yang membuatnya gemas karena si perempuan lelet itu hanya mematung di gawang pintu. Tak menghiraukan dirinya dan Mentari yang kesusahan mengangkat badan Dafa.


Intan mengerjap mengangguk, dan menurunkan Helen di karpet depan TV.


Lalu mereka bertiga menggotong Dafa yang tubuhnya tak memberikan respon sedikit pun.


Mobil pun di lajukan Bintang dengan sangat kencang, menuju rumah sakit terdekat.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih🙏🙏, jangan lupa komen, like, sama Favoritnya ya yang belum di klik.


Cuma mau mengingatkan yang udah nge favorit in cerita ini jangan di un fav lagi dong, Tiba-tiba naik ntar tiba-tiba berkurang lagi. Aku kayak yang di kasih jajan terus di pinta lagi 🤭🤭 Tapi bebas sih gimana kalian aja lah, susah nggak bisa maksa☺☺ Terimakasih yang masih setia mendukung, semoga berkah dan tidak mengecewakan🥰🥰🥰


Sehat dan bahagia buat semua😘😘😘



Bintang udah mulai up ya, tapi part awal masih mengulang, mengingat kan slengean dia gimana. Monggo yang mau mampir di tunggu, yang mau ngumpulin bab monggo. Yang penting Favoritnya dulu ya, sukur2 mau ngelike dulu🤭🤭🤭.


Semoga itti yang baik dan sholeh ini bisa menghibur kalian ya🙏🙏😘😘🥰🥰🥰.

__ADS_1


__ADS_2