Kisah Mentari

Kisah Mentari
501 ...


__ADS_3

❤❤❤


Tepat pukul Tujuh Malam mereka baru sampai di apartemen dengan kantong plastik berisikan nasi goreng yang tadi mereka beli.


"Mas, mau makan sekarang?" Mentari berdiri di atas meja makan mengeluarkan bungkusan nasi goreng.


"Mau makan kamu dulu boleh?" Dafa memeluknya dari belakang, tangannya sudah kembali berkelana.


"Ahhhh... Mas! " Mentari melenguh saat tangan suaminya sudah bermain di bagian gua nya.


"Yuk... " ajak Dafa sambil menciumi tengkuk leher sang istri.


"Nggak ada capek nya kamu, Mas!" Mentari menahan tangan Dafa yang semakin liat bergerak.


"Abis, kamu enak bikin nyandu." jawabnya dengan suara semakin parau.


Dafa membalikkan posisi Mentari agar menghadapnya kemudian menggendongnya berjalan ke arah kamar, Sambil menekankan tongkatnya ke bagian bawah mentari yang tengah dia gendong.


Mentari mengalungkan tangannya sambil tertawa dengan kelakuan suaminya itu.


"Mau 501 lagi?" Mentari terkikik geli.


"Tanggung, nanti kalo kamu PMI." Dafa mencium gemas istrinya yang setengah meledeknya.


"Kenapa kamu ketagihan?" Dafa merebahkan tubuh Mentari di atas tempat tidur.


"Kenapa harus di sebut 501?"


"Angkat tangan kamu sejumlah 5, terus bentuk 0, terus itu megang si tongkat kan? tongkat ibarat angka 1. jadi di satuin jadi 501.Bener nggak?"


Dafa menerangkan


Mentari yang memeragakan apa yang di katakan Dafa, terangguk-angguk sambil tertawa.


"Ishhhh... dasar, kamu dapet dari siapa sih?"


"Banyak sebenarnya, cuma kebanyakan bahasa Sunda, kalo di Indonesia in malah kurang enak bahasanya. ya itu yang Bahasa nya pas." ujarnya pasti.


"Dari mana tau nya?" Mentari kembali bertanya.


"Kalo yang 501, dari salah satu penulis novel juga. cuma lagi hiatus dia." Dafa menjelaskan.


Mentari hanya mengangguk paham.


"Udah? jelas?" Dafa menyeringai mesum sambil merangkak naik ke atas tempat tidur.


Malam itu di tengah hujan deras yang mengguyur kota Bandung. Suara derasnya hujan tak bisa meredam suara erangan dan decapan di kamar itu.


Pasangan yang sedang kecanduan rasa nikmat itu, lagi-lagi sedang berlomba-lomba menggapai satu tujuan yang membuat seolah jiwa terbang penuh rasa nikmat.


*


*


Mereka baru selesai membersihkan tubuh, lalu berjalan ke arah meja makan dimana dua bungkusan nasi goreng yang mereka bawa tadi tersimpan.


"Ya...


" Kenapa?" Dafa bertanya dari belakang tubuhnya.


Mereka pun duduk di kursi yang bersisian.


"Sosis nya...


" Kenapa?"

__ADS_1


"Sosisnya udh nggak mekar, udah peot!" Mentari mengerucutkan bibirnya.


"Sama, punya aku juga udah nggak kekar udah peot!" lalu dia terbahak.


Mentari baru menyadari ucapan suaminya itu.


"Astaga... Mas, bisa nggak sih nggak di sangkut pautin ke arah itu?" tanyanya sambil menepuk lengan Dafa.


"Hahahaha... kebeneran masuk Sun!" masih dengan tawa tengilnya.


Mentari menusuk garpu pada sosisnya, kemudian menggigitnya.


"Awww...


Dafa berteriak kecil sambil tertawa.


Mentari tak menghiraukan nya, dia kembali menyuapkan nasi goreng dan kembali menjadi menggigit sosis itu kembali.


" Ishhh... Linu Sun!" Dafa meringis sambil menahan tawa nya.


"Apa sih gaje banget!" Mentari mendelik sebal.


"Kamu, gigit sosis. Aku kok jadi ngilu?" Dafa berucap santai sambil memakan nasi goreng miliknya.


"Tau... ah!"


"Jangan ngambek sayang, becanda!" Dafa merangkul pundaknya.


"Aku capek, kamu nggak bosen-bosen, terus mau anu, Mas!" rengeknya.


"Ok... kamu maunya gimana?"


"Pake jadwal?"Mentari menoleh dengan tersenyum.


"Terus...


" Ya, terserah bebas lah. Mana bisa di atur yang gitu, kamu tau kan aku perkasa." ucapnya sombong.


"Masa... kok sakit pegel linu?" ledek Mentari.


"Ya udah, besok aku pergi." Dafa menengguk air minumnya setelah nasi goreng sosis peot nya habis.


"Mau kemana?" Mentari bertanya serius


"Mau nyari jamu pegel linu." Dafa terlihat serius.


"Dih... perkasa ngambek.. " Mentari terkikik lucu.


"Kamu.. ngeraguin aku sih, aku kan gini karena abis tarung!" Dafa masih mode merajuk.


"Iya, Iya... Mas ku itu emang perkasa, suami mesum ku masa iya ... " Mentari tertawa tak menerus kan ucapannya.


Dafa menatapnya semakin dekat, mengintimidasi wajah tertawa sang istri.


"Ampun, Mas." Mentari memundurkan wajahnya yang takut akan tatapan suaminya.


"Awas, kamu ya! jadi gimana persyaratan enaknya? menguntungkan di kamu sama si adik?" Dafa kembali bertanya.


Mentari sedikit berpikir, kepalanya menerawang.


"Seminggu dua kali? "


"Nggak...


" Seminggu tiga kali?

__ADS_1


"Nggak, aku maunya tiap hari selagi kamu nggak PMI."


"Apa? aghh... itu mah sama aja!" dengusnya kesal.


Perdebatan itu belum mencapai kesepakatan, sepasang suami-istri itu masih dengan pendirian masing-masing, masih belum ada titik akhir.


Dafa hanya tertawa melihat raut wajah Mentari tak Terima.


"Ya udah tapi nggak nambah!" Mentari akhirnya menyerah.


"Kalo mau lagi?" Dafa bertanya dengan wajah yang serius di paksa serius, karena menyangkut nasib adik kebanggaan nya.


"Ya, nggak tau! Atau sama Tante bio aja?"


Dafa langsung menjentikkan telunjuk dan ibu jarinya di kening sang istri, "enak aja, kalo ngomong. Masa udah nikah mainnya solo karir? ya kamu bantuin dong 501!" Ujarnya lagi.


"Hadeuh... 501 lagi."


"karaoke kalo gitu? gua kw!"


"Males ah, debat sama kamu Mas! aku nggak akan menang. Kamu keras!" Mentari bangun berjalan kasar menuju kamar mereka.


"Kalo nggak keras nggak enak Sun!" teriak Dafa.


Dafa tertawa melihat istrinya merajuk, lalu membereskan piring bekas mereka makan dan membawanya ke bak cucian piring.


Dia membuka rak mengambil kotak susu, berniat membuatkannya untuk merayu Mentari.


"Sun... " Dafa masuk ke kamar yang lampu nya sudah redup menyisakan lampu tidur di atas meja nakas.


"Sun... aku bikin susu coklat hangat nih, buat kamu! bangun dong." Dafa menyentuh pundak sang istri yang hanya memakai tanktop.


Mentari menahan tawa nya di bawah guling yang menutupi wajahnya. Asli sebenarnya dia tidak marah sama sekali, hanya ingin tahu bagaimana cara Dafa membujuknya.


Dafa menyadari getaran di bawah guling itu, ada suara tawa tipis hampir tak terdengar tertutup guling itu. Dia menggelengkan kepala merasa di kerjai sang istri.


"Kamu... ngerjain aku, Sun?" tangannya menggelitik tubuh Mentari.


Mereka tertawa terbahak-bahak, candaan receh membuat mereka merasakan kebahagiaan, rasa sayang semakin kuat. Entah apa yang akan mereka lalui kedepan nanti. Mereka pastikan cinta akan mampu menguatkan hubungan pernikahan gerebek itu.


Tertidur setelah rasa capek mendera, dengan keadaan perut kenyang, di tambah guyuran hujan menambah syahdu ruangan itu. Adem walaupun AC di matikan. Mereka bergelung di bawah selimut tebal. Hanya tertidur nyenyak tanpa ada travelling ke gua.


walaupun si tongkat bangun berkali-kali namun tak mendapat respon dari si princess kebo, akhirnya tertidur kembali dengan rasa kecewa karena tak mendapat tiket masuk gua kenikmatan.


Mereka tertidur dengan nyenyak sampai pagi hari. Lagi-lagi kesiangan, Mentari yang terlambat ke kampus, Dafa yang terlambat mengikuti pelatihan boxing.


Kericuhan di pagi hari, dimana sepasang suami-istri itu sibuk dengan tubuh masing-masing. Dan berlalu pergi ke tujuan berbeda. Tapi ciuman sedikit panas tak lupa mereka lakukan, dengan alasan penyemangat hari.


"Aku, pergi


" Hati-hati... pulangnya aku jemput!" Dafa mengecup singkat Kening Mentari sebelum istrinya itu menaiki taksi.


Mereka saling berpisah di pelajaran parkir.


Mentari menaiki taksi online pesanannya, dan Dafa menaiki mobilnya. Karena arah mereka berlawanan dan sama-sama terlambat dengan jadwal kegiatan.


Seoarang pria menatap kegiatan mereka dari dalam mobil dan tersenyum sinis.


"Kangen kamu... " Gumamnya.


Bersambung ❤❤❤


makasih yang sudah mampir 🙏🙏, jangan lupa like komen nya ya🥰🥰. semoga suka😘😘, saran dan komen aku tunggu ya biar bisa di sukai💋💋


Sehat dan bahagia selalu 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2