
โคโคโค
"Mas, jangan macam-macam." Mentari memelototkan matanya pada Dafa yang sudah mulai membuka kancing kemeja santainya.
"Cuma semacem, Sun. Please bentar doang, dosa loh kamu nolak suami." Ancam nya.
Mentari masih mencoba menepis dan menolak, namun saat tangan nakal Dafa semakin mengusap turun hingga menemukan titik sensitif nya dan bermain-main di sana. Mentari memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya menahan desa*han nya agar tak keluar dari mulut dan membuatnya malu.
Dafa sudah semakin gelisah, dia mengambil Helen dari gendongan Mentari, dia simpan di sofa single tepat berada di depan meja, menempelkan sofa itu pada meja agar bisa menahan tubuh anaknya itu.
Mentari seperti terhipnotis, dia malah diam memperhatikan Dafa yang tengah menata Helen. Bukannya mencoba kabur ataupun menghindar.
Lelaki itu kembali mendekati istrinya, duduk di sebelah nya, kembali memulai kecupan yang tergesa-gesa dan panas. Tangannya sudah merayapi apapun yang bisa dia pegang, mulai dari dua gundukan, perut istrinya yang datar dan selembut sutra.
"Sun, nggak kuat. Sebentar doang!" rayu nya.
Mentari yang juga mulai terpancing, belum menjawab Dafa sudah menariknya untuk duduk di pangkuan suaminya itu. "Ehmm .... " Suaranya tertahan saat Dafa sudah kembali melu*mat bibirnya itu.
Tangan tegap itu, kini sudah memegang pinggang nya dan menggerak-gerakkan pinggang ramping itu, sehingga membuat sebuah sensasi gesekan di atas kelelakian nya.
Matanya sudah memejam, menikmati gerakan dari gesekan area bawah istrinya yang menimpa area nya yang sudah mengeras sejak tadi.
"Aghhh ... goyang sendiri, Sun. Aku mau kerjain yang lain!" kata-kata gila keluar begitu saja memerintah sang istri.
"Ngerjain apa?" Mentari mendadak blank dan bertanya bak orang polos keterlaluan, tapi dia memang tidak tau, apa yang akan lelaki nya itu kerjaan.
Dafa tak menjawabnya, hanya tangannya langsung menangkup gunung kembar yang sedang di pinjam oleh anaknya.
Mentari menunduk melihat apa yang suaminya lakukan, "Mas," kepalanya mendongak ke langit-langit, saat Dafa mulai mengecupi ujung dadanya dengan lidahnya yang hangat mulai menyapu di area itu.
*
*
Dafa semakin berga*rah saat melihat Mentari sudah sama-sama hanyut dalam permainannya. Dafa Masih menghisap dan memberi sensasi gigitan kecil, tangannya bermain di bawah cekungan hangat milik istrinya yang sudah terasa lembab di balik kain pelapisnya. Memainkan ibu jarinya memutar di area itu.
" Mas ... "
"Iya, sayang ... " Dafa mendongak menatap wajah istrinya.
"Buruan, kalo ada gangguan lagi. Aku nggak tanggung jawab kalo lagi-lagi batal." Istrinya itu sudah mengancamnya yang masih terus bermain-main dengan tubuhnya.
Dafa menurunkan sedikit celana chinos nya, lalu dia mengeluarkan benda yang sudah tegak berdiri siap untuk menggali lubang.
Mentari mengangkat sedikit dress tunik nya dan meloloskan kain segitiga nya.
"Kamu, juga mau ya?" Dafa menggoda istrinya.
Mentari hanya menatapnya jengkel, "Terus kalo aku nggak gini, kamu mau masuk dari mana?" Gerutunya.
lelaki yang tengah membenarkan letak celananya itu hanya terkekeh, mendengar omelan istrinya yang memang benar adanya.
Dafa kembali merentangkan tangannya, celananya sudah tergulung di lututnya. Tidak sampai lepas semua dari kaki nya, maksudnya agar memudahkan bebenah jika sudah selesai.
Mentari menyambut tangan suaminya itu, kembali duduk di atas pangkuan Dafa, duduk dengan hati-hati, memposisikan belut nya agar siap memasuki lubang yang sedari malam gagal terus dia masuki.
"Argghhh ....
" Ehhmmmm...
Keduanya saling mele*guh dan mengerang nikmat, Mentari meremat bahu Dafa yang sejak tadi tangannya menggantung di sana. Sedangkan Dafa menenggelamkan bibirnya di puncak dada istrinya.
Ruangan ber AC itu, terasa panas karena kegiatan mereka itu, Mentari masih bergerak lincah di bantu Dafa yang terus menghisap dengan tangan yang bermain di titik kecil sensitif milik istrinya.
"Mas, ... Aku, mau ... " Belum selesai Dafa sudah membalikan posisi tubuh mereka, Istrinya sudah terlentang di atas sofa dan dia sudah berada di atas tanpa melepaskan jamur kuncup yang sedang dia tanamkan.
__ADS_1
"Tunggu, Aku. Sun ... Aghhh.... " Dafa terus memacu ritme semakin cepat dan menghujani dalam tubuh istrinya.
**
tiba-tiba Tok ... Tok ... Tok ...
Sebuah ketukan terdengar dari pintu,
Pasangan yang tengah sama-sama menuju puncak itu, membola kan mata mereka, kaget, kesal, bingung jadi satu di pikiran mereka.
"Mas, ... udah ... "
Dafa menatap kesal pada istrinya, "Udah gimana sih?" bentaknya dengan nada pelan namun dengan rahang yang mengeras.
"Permisi, Pak. Ada tamu yang ingin bertemu." Terdengar Bu Yanti dari balik pintu.
"Bawa ke ruang meeting saja bu, anak saya lagi minum asi." Dafa sedikit mengeraskan suaranya agar terdengar.
Mentari yang masih berada di bawah kungkungan nya, terkikik geli.
"Ayahnya padahal yang lagi mimi!" Ucapnya sambil menahan tawa.
"Shhtt ... fokus, biar cepet." Dafa kembali mengayunkan tubuhnya. Tak ada niatan dia akan menghentikan kegiatan nya.
"Itu, ada tamu." Mentari mencoba menahan gerak suaminya itu.
Dafa terlihat geram, "Terus aku cabut apa yang belum siap panen gitu? dah fokus aja." Dia semakin kencang bergerak.
Dafa menarik tubuh istrinya, agar bangkit. Dafa membalikan tubuh Mentari yang masih mengenakan dress tunik nya, yang hanya menyingkap menggulung di atas pinggangnya. Dengan kancing nya yang terbuka hingga batas perut.
Dafa kembali menghujaminya dari belakang, Mentari menunduk dan tangannya menahan ke sandaran sofa. Dafa dengan gerakan cepat terus saja bergerak, tangannya meremas dada bulat dan padat milik istrinya itu.
"Sun ....
Mereka sama-sama mencapai puncaknya, saling mengerang dan bergetar, jari-jemari kaki Dafa pun ikut menegang di dalam sepatu santai miliknya merasakan kenikmatan yang sangat spektakuler itu.
Mentari ambruk di atas sofa, saat Dafa sudah melepaskan diri dari tubuhnya. Nafasnya terengah dengan debaran jantung yang belum normal, masih berdetak dengan cepat dan kerasnya.
Dafa masih sedikit memijat miliknya yang masih mengeluarkan sisa-sisa yang masih menetes seakan tak habis-habis.
"Tisu ... " Mentari menunjuk Kotak tisu di meja belakang Dafa.
Dafa memberikan pada istrinya dan dia juga mengambil beberapa lembar untuk melap miliknya.
"Kayaknya aku butuh satu babak lagi, Sun."
Mentari yang juga tengah membersihkan tubuhnya, langsung melotot menatap suaminya.
"Sana, temuin dulu tamu. Aneh, otaknya anu mulu." Gerutunya.
"Siapa yang bilang? kamu juga sampai nggak karuan gitu, kenapa?"
"Kena, banjir lokal. Ada handuk nggak Mas?" tanyanya.
"Ada tuh, di kabinet bawah wastafel." Jawabnya sambil melenggang masuk ke kamar mandi.
Tanpa rasa malu, Dafa keluar dari ruangannya dengan wajah segar dan rambut basah. Bahkan Bu Yanti sedikit menunduk menahan senyum melihat atasannya keluar dengan rambut klimis
***
Dafa masuk setelah melakukan pertemuan dan konsultasi pada kliennya, hampir satu jam. Langit sudah mulai menggelap, bahkan Bu Yanti pun sudah tak ada di mejanya. Memang sudah waktunya pulang pikirnya.
Saat masuk ke dalam ruangan nya, Dia tak menemukan anak istrinya.
Lalu, dia melihat tas peralatan Helen masih ada di sofa. Dafa langsung mengeluarkan ponselnya lalu melakukan panggilan pada Mentari.
__ADS_1
"Dimana? Aku udah selesai meeting." Dafa berkata.
"Di bawah, di deket kantor satpam. Aku lagi beli siomay laper nggak kuat." Mentari menjawab dengan suara mulut yang penuh sambil mengunyah.
"Mau pergi sekarang?" Dafa bertanya.
"Iya, bawain. Tas Helen." Pintanya.
Dafa pun membereskan laporan yang tadi dia tandatangani, lalu dia berikan kepada bagian keuangan yang memang menunggu berkas itu. Lalu turun ke bawah di mana istrinya tengah makan.
*
*
Keluar dari lobby, pandangan nya teduh pada seorang wanita cantik tengah menggendong bayi gemuk dan lucu, di tangannya dia memegang sebuah garpu yang menancap sebuah siomay.
"Laper?"
"Pake, nanya." Gerutunya.
Dafa terkekeh, lalu mengusap-usap puncak kepala istrinya. "Sini, Helen sama Ayah dulu." Dafa mengambil Helen yang tengah menggigiti tangannya.
Mentari kembali melanjutkan makannya, "Mau?" Tawarnya pada sang suami.
"Aku juga laper, Sun." dafa membuka mulutnya, berharap satu suapan dari istrinya.
"Kirain, nggak!"
"Kan abis ngeluarin energi!" Dafa berbisik.
"Halah, aku dong dari tadi saripati ku di ambil Helen."
"Lah, saripati aku kan udah kamu ambil tadi. Sama dong satu sama, imbang kita." Terkekeh.
Mentari menggelengkan kepalanya, selalu kalah jika berdebat dengan suaminya.
Satpam yang tadi duduk di dekat pos, malah menjauhi majikannya yang tengah berbicara intim itu.
"Yuk, sebelum malem . Kasian Helen." Dafa bangun dan menimang Helen dan menyelimuti tubuh bayi gembul itu melindunginya dari terpaan angin sore.
Mentari menyelesaikan makannya, dan membayar siomay itu. "Mang, buatkan dua porsi buat pak satpam ya!" Ucapnya pada si penjual siomay.
Dia berjalan mengejar Dafa, yang sudah mendekati Mobil. "Aku di belakang dulu, mau ganti pampers sama bajunya yang panjang, dingin." Mentari membuka pintu belakang. Dan mulai menggantikan baju Helen dan melap tubuh bayi itu dengan tisu basah.
"Kamu, Mandi?" Dafa yang sudah masuk dan duduk di balik kemudi.
"Udah, masa nggak. Lengket dong." Jawabnya dengan sedikit ketus.
"Kok, rambutnya kering?"
"Aku, bawa hairdryer mini. Buat ngeringin baju Helen yang suka basah karena iler." Jawabnya serius.
"Kenapa ileran? Kamu ngidam apa? ada yang belum kesampaian?" Dafa memberondong pertanyaan.
Mentari diam .... bagaimana caranya dia memberi tahu apa yang dia inginkan saat hamil dulu.
Bersambung ๐๐๐
Terimakasih yang sudah mampir๐๐, semoga suka๐๐, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ๐๐, cuma buat rame2 aja๐ฅฐ๐ฅฐ
Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaโค
Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ๐๐, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain๐ฅฐ๐ฅฐ
semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn ๐คฒ๐คฒ
__ADS_1