Kisah Mentari

Kisah Mentari
cuti


__ADS_3

🥀🥀🥀


drt....drt...drtt...


Suara getaran ponsel Dafa terdengar bergesekan di atas meja nakas yang terbuat dari kayu itu.


Dia mengerjapkan tubuhnya menggapai di mana dia menyimpan ponselnya.


"Heummm..." Jawabnya


"Lu di mana? jangan bilang lu masih molo*r!" gertak Rijal di seberang sana.


Dafa langsung terlonjak kaget, melihat jam di depannya.


"Gue otw!" ujarnya sambil meloncat dari kasur ke arah kamar mandi.


"Sun... sayang..." teriaknya dari kamar mandi yang dia biarkan terbuka.


"Sunnnnnnn...." dia membangunkan seperti bersenandung namun hatinya kesal, karena sang istri, kebo nya kebangetan.


"Iya..." gumam Mentari sambil menggeliatkan tubuhnya, mengucek mata lalu terduduk.


"Sun... aku kesiangan!" teriak Dafa dari dalam kamar mandi yang pintunya terbuka lebar memperlihatkan kegiatannya yang sedang menyabuni tubuhnya.


"Hah..." Mentari melonjak kaget.


"Tenang... kalem, sayang. Ntar kamu pusing lagi. Kalau bangun kaget!" Dafa mengingatkan namun sebenarnya dia ingin ikut merecoki sang istri dengan meminta buatkan sarapan dan menyiapkan baju.


Tapi belum juga dia berkata, Sang istri langsung berlari ke arah lemari.


"Bajunya mau yang mana?" teriaknya.


"Bebas, tapi bawa kemeja juga ya!" pintanya


Mentari menarik kaos hitam polos dan kemeja flanel berwarna biru garis hitam.


Lalu dia berlari ke arah dapur, mengambil roti dan mendadar telur lalu dia timpa oleh lembaran roti, setelah matang dia beri sedikit saos dan mayonaise.


"Selesai?" dia menepukan tangannya bangga.


Tentu bangga ini masakan pertamanya sebagai seorang istri.


"Sun...


"Iya? sarapan dulu Mas!" dia memberikan setangkup sandwich ala-ala buatan dirinya.


"Makasih, sayang!" Dia menyeruput susu dingin dan menggigit setangkup roti buatan sang istri.


"Kamu?" tanyanya saat melihat sang istri hanya meminum susu saja.


"Nanti aku mau bikin mie goreng, yg semalem gagal di makan gara-gara kamu!" matanya menunjuk pada sepiring Mie di atas meja di ruang tv.


Dafa hanya tertawa lalu sesaat kemudian dia menatap sang istri.


"Kamu, punya hutang sama aku ya!" ujarnya.


"Hutang apa?" mentari menatapnya sok polos, padahal dia tau yang di maksud Dafa hutang apa.


"Ishhh... yg dini hari kamu janjiin sama aku, malah kesiangan." ujarnya kesal.


Mentari menutup mulutnya saat dia akan menyemburkan susu yang sedang dia minum.


"Awas, pulang aku tagih!" Dafa mengancam.


"Aku dari Sentul, mau ke kampus dulu, ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan!' kemudian dia bangkit saat menyelesaikan sarapannya.


Di kecup kening sang istri sesaat sebelum membuka pintu keluar.


"Aku ijin, mau ke kampus ya. Nanti agak siangan!" Ucapnya sambil mencium punggung tangan sang suami.


Dafa mengangguk.


"Hati-hati... ujarnya lalu bergegas pergi.


*


*


Setelah kepergian sang suami, dia merasa sepi di apartemen itu.


Tiba-tiba di teringat ayah dan kedua kakaknya.


Dia ambil ponsel miliknya, dia membuka aplikasi chat lalu melihat nomor Abang dan kakaknya, dia terduduk lemas dan menangis saat tau nomor ponselnya di blokir oleh kedua kakaknya.


"Abang... kak..." dia meraung memegangi dadanya yang sakit.


Dia serasa di buang dan menjadi sebatang kara. Ayah nya benar-benar marah padanya.


Lalu dia beranjak membersihkan tubuhnya dan bergegas ke kampus.


*


*


Mentari mencari di mana keberadaan sang kakak, namun di cari ke beberapa temannya juga ke gedung kelasnya tidak ada. Kakaknya tidak masuk kuliah.


Dia termenung di bangku taman, Cindy datang.


"Hey... ngelamun!" ucapnya mengagetkan.


Mentari sampai lupa bahwa sahabat nya itu tidak tau kalau dia sudah menikah kemarin sore.


"Apaaaaa...." Cindy menjerit setelah mendengar curhatan Mentari sang sahabat.


"Gila lu! terus keluarga lu?" tanyanya.


Mentari kembali menitikan air mata, hatinya kembali sakit, rasa bersalah seolah tak henti mencabik-cabik hatinya.


"Ayah langsung drop, dan Abang sama kak Bintang nge blokir no ponsel aku!" ujarnya dalam isakkan.

__ADS_1


"Sabar ya... Semoga itu hanya emosi sesaat mereka!" Cindy mengusap lembut pundak sang sahabat.


"lu udah...


Tanya Cindy dengan menyatukan kedua telunjuknya membuat sebuah gerakan.


Mentari yang sedang melap air matanya, seketika tertawa.


"Belum, malem gagal beberapa kali!" ucapnya sambil terkekeh.


"Kok bisa?"Cindy mendekat semakin kepo mendengar cerita sang sahabat.


Lalu Mentari menceritakan semua penyebab kegagalan nya, tapi tidak untuk cerita yang lain. Dia meyakini adegan ranjang adalah masalah pribadi. Bukan untuk di publish (nggak kayak aku🙈).


Mereka memasuki kelas saat jam mata kuliah akan segera mulai.


*


*


Sore hari Mentari sudah berada di apartemen.


Dia duduk santai di balkon sambil menonton video tutorial masak dan juga tutorial menyenangkan suami.


Sepulangnya dari kampus, dia mampir untuk berbelanja, daging, sedikit sayuran dan buah-buahan. Juga beberapa potong baju dan tentu kain kaca mata dan kain segitiga. Mengingat semua bajunya masih di rumah ayahnya.


Mentari tercengang saat melihat adegan-adegan membahagiakan suami.


"Gila... aku nggak akan bisa kayak gitu, bikin malu!" gumamnya sambil cekikikan menonton tutorial itu.


Mentari bangun dari duduknya di balkon yang tak terasa hari semakin menggelap.


Setelah cukup puas menonton sekaligus menambah ilmu adegan-adegan hot, yang malah membuatnya geli sendiri. Dia masuk ke dalam menuju dapur.


"Masak apa ya?" dia kemudian mengetikan bahan masakan yang dia punya untuk mencari resep.


tak lama bunyi notifikasi pesan terdengar dari ponselnya. Dia pun semangat ketika melihat si pengirim pesan adalah suami mesumnya.


"Sun... aku pulang agak telat ya, baru sampai kampus." Isi pesan yang Dafa kirimkan.


"Iya, Mas. Hati-hati." balas Mentari.


*


*


Mentari selesai dengan menu masakannya yaitu ayam asam manis dan tumis pakcoy bawang putih.


Dia menatanya di atas meja makan dengan rapi, seringai puas dan bangga terbit dari bibirnya.


Dia pun berlalu hendak melakukan perawatan tubuh seperti semalam. Sambil hatinya dag-dig-dug membayangkan malam kesakitan untuknya.


Dia keluar dengan mengenakan bathrobe, lalu berjalan ke arah lemari yang kini ada sedikit baju miliknya.


Dia menatap lingerie warna merah terang, dia terkikik melihat baju yang kurang bahan itu.


Dia lalu mencobanya dan sedikit bergaya di depan cermin. Memoles sedikit cream dan lipstik berwarna nude. Tak lupa parfum kesayangan bernuansa bunga dan buah yang beraroma manis segar.


*


*


Dia masih bergaya di depan cermin saat tombol pascode di tekan terdengar, dia langsung panik memakai kembali bathrobe nya.


Lalu keluar dari kamar menyambut sang suami yang baru pulang.


"Oh... Sun, aku kangen." Dafa merentangkan tangannya minta untuk sang istri segera memeluknya.


Mentari mencebikkan bibirnya namun tetap berhambur memeluknya.


"Kamu baru mandi?" tanya Dafa yang sedang menyesap wangi tubuh sang istri.


"Iya, sekarang kamu yang mandi. Aku masak loh!" ujarnya Bangga.


"Wah... kok repot-repot sih? kamu kan juga capek pulang kuliah!" Dafa sedikit khawatir.


Mentari hanya tersenyum dan mendorong sang suami agar segera masuk ke kamar mandi.


*


*


Dafa datang saat Mentari tengah menyiapkan dua piring makan. Dafa melihat menu di meja makan, masakan rumahan yang tiba-tiba membuat hatinya hangat.


Ruang kosong di hatinya seolah penuh terisi oleh kehadiran wanita cantik di depannya.


"Wawww... ini semua kamu yang masak, Sun?" tanyanya sumringah.


"Semua, jangan ngeledek deh orang cuma dua menu!" Mentari menyendokkan nasi pada piring suami nya itu.


Dafa menyuapkan satu sendok nasi yang sudah dia campur dengan ayam asam manis dan sayur pakcoy itu.


Matanya membola, merasa bangga dan takjub, istrinya benar-benar berusaha melayani dia.


"Enak, Sun." ucapnya bangga


Mentari ikut menyendokkan masakannya dan ikut mengangguk, "iya, lumayan ya buat masakan pertama aku, sebagai istri kamu, Mas?" ujarnya.


"Makasih, makasih sudah mau menemani hari-hariku, mengisi kekosongan hati aku." Dafa menyusut ujung matanya yang mendadak berair.


Mentari langsung memeluk lelaki yang berada di sebelah nya itu. Mengusap punggung suaminya.


Dia bukan lelaki ngeyel dan nyeleneh seperti biasanya, kini dia melihat sesosok lelaki rapuh yang hatinya haus kasih sayang. Dia sok kuat padahal dalam nya hancur dan hatinya di lingkupi kesepian.


"Mas. Sekarang udah ada aku, kan kamu bilang kita bakal saling melengkapi,"


Dafa berbalik dan seketika langsung memeluk tubuh istrinya itu.


"I love you, Sun!" bisiknya

__ADS_1


Mentari mengangguk dalam dekapan sang suami.


"Lanjut makan yuk," Ajak wanita itu yang telah melepaskan pelukannya.


Dafa tersenyum dan meneruskan makannya dengan lahap.


"Biar aku yang cuci piring, kamu kan udah capek masak!" Dafa bangun dan membawa piring bekas mereka makan ke arah tempat cuci piring.


"Mas, aku ke kamar duluan ya!" Mentari pamit.


"Iya, jangan tidur!" Teriaknya.


Dafa sudah tidak fokus, dia gelisah takut di tinggal tidur princess kebo nya, bisa gagal maning malam pertama mereka.


"Sun... "Panggilnya.


"Iya, Mas!"Jawabnya.


Dafa selesai mencuci piring dan Langsung berlari masuk ke dalam kamar.


...-------...


Kamar itu sudah temaram, sang istri sudah tiduran dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga leher.


"Sun... Dafa merangkak naik.


di singkapnya selimut itu, dia berbinar saat melihat sang istri begitu menawan hanya dengan balutan kain tipis berbahan satin.


"Sayang... kamu uhuy.. banget!" bisiknya gemas.


"Uhuy... bahasanya nggak enak banget,"


"kalo yang lain nanti di sensor jadi bintang kecil." Jawab Dafa.


Mentari pun tertawa, Dia mengalungkan tangannya di leher Dafa yang tengah mengungkung nya.


persekian detik bibir itu menyatu seperti perangko dan amplop Saliva sebagai lem nya.


"Ehmmm..." Suara yang terdengar merdu di telinga Dafa.


Dafa bangkit dan langsung melepaskan semua yang menempel di tubuhnya, benar-benar polos seperti bayi, bayi yang abis mandi ya🤭.


Lalu menarik dress merah menyala yang di pakai sang istri menyisakan kain segitiga.


Saat Dafa akan melepaskan nya, Mentari menariknya dan menggeleng takut.


"Sakit..." Rengeknya.


"Cuma sebentar Sun, nantinya jadi enak!" Dafa membujuk.


"Janji ya, pelan-pelan." Ucapnya lemah.


"Iya, malem juga pelan kamu nya jerit-jerit, bikin nggak fokus aja, mau aku paksa ntar di sangkanya aku mer**sa kamu lagi." gerutunya kesal.


Kembali bibir itu menyatu saling hisap dan Melu*mat, juga saling bertukar saliva.


Suara decapan menggema di kamar itu, kalo ada tamu mungkin akan terdengar dan bikin malu. pikir mereka, tapi kan ini masih pengantin baru, wajar lah.


Dafa menundukkan kepalanya menghisap dan mengu*lum choco chips kesukaannya.


"Ahhh... Mas!" Lagi-lagi Mentari merasakan geli yang membuat merinding tapi bukan takut , ini malah merinding yang bikin nagih.


"Sun... udah basah!" Dafa mengusap bagian bawah di mana gua untuk traveling adiknya sudah siap di masuki.


Mentari mengangguk, yang kamu juga udah kayak tongkat kasti!" Mentari tertawa karena memang sedari tadi si adik terus menekan-nekan daerah bawahnya.


"Nama bagus tuh, tongkat kasti!" Dafa kembali memagut bibir itu.


"Iya lah dari pada belut listrik, aku kek geli ngebayangin nya, takut belutnya mati!" Ucap nya polos sambil tertawa.


"Astaga.." Dafa menggeleng kesal dengan apa yang di ucapkan sang istri.


Dafa kembali memainkan choco chips itu.


Dafa segera bangkit menyalakan lampu seperti biasa.


"Ishhh... selalu di nyalain!" mentari menutupi tubuhnya yang hanya menyisakan kain segitiga.


"Biar si adik bisa liat jalan gua kamu, Sun. nggak nyasar, itung-itung lampu adalah obor nya!" Dafa kembali merangkak naik ke atas tempat tidur


Saat dia menarik si kain segitiga dia tercengang melihat sesuatu di pintu gua.


"Sun... ucapnya lemah.


"Apa, mas?" tanyanya.


"Itu, kenapa?" bukannya bertanya malah kembali bertanya.


Mentari bangun dan memegang miliknya.


Lalu dia berlari ke arah kamar mandi.


Dafa masih mematung di tempatnya, tubuhnya lemas seketika.


"Mas... maaf ya,. nggak bisa sekarang . Aku datang bulan!" ucapnya setelah kembali dari kamar mandi.


Dafa langsung menjungkal si atas kasur, dia mengejatkan kakinya kesal.


"Aku nggak kuat , Sun. Mau kamu sekarang!" rengeknya.


"Maaf, makanya kalo ngomong jangan sembarang, pake bilang pengen pake saos segala, kan kejadian saos nya keluar!" Mentari tertawa terbahak-bahak.


"Gagal... maning, malah cuti!" Dafa menjerit frustasi.


Bersambung ❤️❤️❤️


Terimakasih banyak ya masih mengikuti, nggak dapet feel-nya ya, aku sakit kepala tapi tanggung udah ngetik😩, like komen jangan lupa ya🙏🙏😘😘


sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤️

__ADS_1


__ADS_2