Kisah Mentari

Kisah Mentari
Menuju Acara.


__ADS_3

...โคโคโค...


Subuh di rumah Ayah Gunawan.


Mentari sudah mulai terbangun dari tidurnya, dia merasa perutnya sudah terasa lebih enak.


Pergerakannya tertahan oleh tangan dan kaki Dafa yang memeluknya seperti sebuah guling.


"Mas ... " Rengeknya sambil mencoba melepas pelukan suaminya itu.


Dafa beringsut lalu menyipitkan matanya menatap Mentari. "Dah enakan perutnya?" tanyanya mengusap perut Mentari.


"Huum, nggak sesakit kemarin." Jawabnya.


Dafa tersenyum lalu kembali memeluk erat mengendus dan mengecupi leher istrinya.


"Jam berapa?" Dafa berbisik dengan suara yang sedikit parau.


Mentari sedikit menoleh ke arah nakas, di mana sebuah jam digital menyala di sana.


"Jam 4 lebih 5, udah aku mau mandi. Orang salon dateng jam 5 dan kita berangkat ke cafe jam 8. Ini hari minggu pasti jalan macet."


Dafa semakin memeluk erat. "Sun, aku kangen. Malem pengen kamu nya sakit, udah 4 hari kita nggak main tusuk menusuk." Dafa berkata berbisik suaranya teredam di ceruk leher istrinya.


"Kan, kamu sibuk. Pulang malem terus."


"Kan, biar minggu senin aku full waktu nya sama kalian. Besok kan mau ke Bogor. Papa dari kemarin udah nelponin terus Kangen katanya."


Mentari setengah mengelak karena geli akan pergerakan Dafa, bahkan si jamur kuncup yang sudah mengeras sudah suami nya itu tekan di balakang tubuhnya.


Perempuan yang kemarin sakit perut seharian itu, berbalik. Mereka saling pandang dan bagaikan magnet dan besi bibir keduanya sudah menempel dengan sempurna, Mentari mengalungkan tangannya memeluk punggung suaminya. Tangan Dafa sudah mulai meremat bagian bo*kong istrinya yang hanya terlapis celana tidur pendek.


Saat keduanya mulai menata jalan menuju puncak kenikmatan, sebuah tangisan terdengar dari kamar sebelah yang tak lain kamar Langit.


Mereka melepaskan pautan itu,


"Kenapa?"


"Ada apa?"


Tanya mereka bersamaan.


Mentari langsung terlonjak dari kasur, ingin segera mendatangi asal suara.


Dafa beringsut mengambil celana pendek karena dia hanya memakai boxer ketat. Saat sedang mengenakan celana Helen terbangun dan menangis. Dafa pun mengambil Helen dari box nya.


***


"Kenapa?" Mentari segera masuk ke kamar Abang nya itu yang memang terbuka lebar, "Ada apa? Bunda kenapa?" Berondongan pertanyaan keluar dari bibirnya yang terdengar cemas.


Ada beberapa orang di rumah itu, dua orang sepupu Ayah, Bunda dan Ayah yang berada di kamar mandi, sedang mengguyur Abangnya yang sedang terduduk di atas kursi di bawah shower.

__ADS_1


Bunda tengah mengguyur kepala anak lelakinya lalu menciumi nya, memanjatkan segala doa dan berbagai wejangan untuk bekalnya membina rumah tangga.


"Kenapa Om?" Tanyanya pada adalah satu sepupu Ayah.


"Siraman, seharusnya lebih ribet dari ini. Tapi Abang kamu nggak mau, mau yang simple aja, secara simbolis hanya Ayah dan Bunda kamu aja yang mandiin nya." terangnya.


"Pengantin laki-laki juga harus? aku kira pengantin perempuan aja." Tanyanya lagi sambil terus fokus menyaksikan Ayah dan Bunda memandikan Abangnya.


"Itu hanya sebagai simbolik aja, orang tua yang memandikan anaknya untuk terakhir kalinya sebelum mereka melepaskan anaknya untuk hidup mandiri membangun rumah tangga nya sendiri.


Mentari yang masih menyimak dan menjadi ikut terharu mendengar filosofi tentang siraman yang bermakna indah.


" Sun, " Dafa mendekat dengan Helen yang wajahnya memerah dan bibir yang bergetar juga bergelombang siap meluncurkan jerit tangisnya.


"Uh, Sayang Anak Ibu." Lalu tangan itu merentang untuk mengambil anaknya dari sang suami.


Helen langsung memeluk Ibu nya dengan keras.


"Susuin dulu, kasian. Sebelum mandi." Dafa berucap.


"Bentar, pengen liat Prosesi Abang di mandiin Ayah Bunda." Dia langsung mendekat kembali ke arah pintu kamar mandi.


Bintang yang baru tiba dengan wajah bangun tidurnya, ikut melongok ke arah kamar mandi.


"Berisik, gue baru tidur jam 3." Ucapnya dari belakang tubuh adiknya.


Mentari menoleh ke belakang di mana kakaknya berada, "Ngapain tidur jam 3?" jiwa intelnya seketika bergejolak.


"Ngapain aja lah, yang bikin enak." Bintang berkata sambil tertawa sombong.


Tukk ...


Bintang dengan sedikit keras menjitak kepala adiknya itu. "Tunggu gue ya, nggak akan lama lagi. Dah punya wadah, sombong banget lu bocil." Dia mengalungkan tangannya mengapit leher adik perempuan nya itu.


"Aww... aww ... " Mentari mengaduh saat dia merasa tercekik oleh tangan kakaknya. Helen yang melihat malah menangis melihat Ibu nya yang merengek.


"Eh, lupa. Ada anak Papi." Bintang langsung merentangkan tangannya namun bukan sambutan yang dia Terima tapi Helen malah membuang muka dan memeluk Ibu nya semakin kencang.


Mentari tertawa dengan apa yang anaknya lakukan pada Bintang. "Sokkorr." Dia terbahak lalu berlalu saat melihat jam hampir jam 5 dan janjinya dengan perias semakin dekat.


Dia pun berlalu kembali menuju kamar.


*


*


"Mas, mandi dulu gih!" suruh nya pada Dafa yang sedang berkutat dengan laptopnya.


"Sebentar, bales dulu emai." Jawabnya tanpa melihat ke arah istrinya itu.


Mentari duduk di pinggir Dafa, dia membuka kaosnya menyisakan bra menyusui nya yang memiliki sebuah jendela untuk mengeluarkan bulatan kecil yang akan di sesap anaknya.

__ADS_1


Helen meronta-ronta sudah tidak tahan saat Ibu nya sudah membuka makanan favorit nya.


Dia tertawa melihat Helen yang bersemangat ingin segera menyesap, rengekan-rengekan kecil keluar dari mulut mungil Helen.


"Ini, mau ini?" Mentari memegangi dadanya membuat Helen semakin meronta menginginkan.


Lalu dia terkekeh sambil mengangkat Helen ke pangkuannya, dan bayi itu langsung berdecak dengan berisiknya sambil sesekali menatap wajah Ibu nya. Kontak mata ibu dan bayi saat kegiatan mengasihi adalah hal paling membahagiakan dan membuat hati hangat penuh kasih sayang.


Mentari berjalan ke sana kemari mempersiapkan segala perintilan penunjang penampilan keluarga kecilnya.


Helen masih setia menyesap asi nya, dan Dafa seperti para suami di luar sana, hanya diam dengan santainya di tengah keriweuhan istrinya.


"Sengaja banget mondar-mandir setengah bu*il," Dafa yang melirik nya sekilas mendengus kesal.


"Kan mau mandiin Helen, terus aku juga mau mandi. Kamu dulu gih, Mas. Yang Mandi, aku mandiin Helen dulu nih mulutnya masih nggak mau lepas," Gerutunya.


"Iya lah kalo belum kenyang mana mau lepas dia, sama kayak Ayah nya. Belum puas belum lepas." Katanya dengan tawa.


"Belum lepas apa belum lemes?" Mentari makin hari makin bisa mengimbangi obrolan mesum suaminya.


Dafa menutup laptopnya, tertawa mendekat ke arah istrinya yang tengah memilih bando dan sepatu Helen di dalam tas perlengkapan bayi cantik itu.


"Itu, kamu tau. Ya masa masih tegang udah di end in gitu? oh nggak bisa." Dia menciumi puncak Kepala Mentari yang tengah berjongkok di lantai mengaduk-aduk tas Helen.


"Maaf, ya dulu aku berpikir pendek buat pernikahan kita. Kamu jadi nggak ngalamin berbagai ritual dan pesta yang pasti di harapkan oleh sebagian perempuan di bumi ini." Dafa ikut duduk di samping istrinya, mengusap punggung istrinya yang hanya terbentang sebuah tali kacamata penutup itu.


"Nggak, udah aku bilang itu bukan masalah, dan bukan menjadi list kebahagiaan aku. Sekarang cuma ada kalian yang menjadi fokus aku." Jawabnya sambil mengelus rahang tegas yang di tumbuhi sedikit bulu halus berbayang , membuatnya semakin terlihat macho.


Lalu dafa tersenyum dan mengecup bibir itu dengan lembut, sebelah tangannya masih mengelus punggung istrinya, dan sebelah nya sudah mengusap pipi Mentari dan turun ke tengkuk itu. Menekannya agar mereka semakin tenggelam dalam kecupan yang semakin panas.


Seperti biasa Helen menatapnya dengan tatapan sinis, lalu rengekan-rengekan pun keluar dari mulut bayi itu, yang sedari tadi tak melepaskan sesapan asi nya, melihat ke intiman orang tuanya dia langsung melepaskan makanannya dan merengek seperti tak suka.


"Euuhhh ... seperti biasa, ada satpam yang posesif ama Ibu." Dafa menciumi anaknya dengan gemas, sebelum bangun dari posisi duduknya dia mengecup jahil dada istrinya.


"Malem, aku tagih."


"Idih, mau saingan ama Abang." Mentari mendengus memukul kaki suaminya itu.


Dafa hanya tertawa sambil berlalu masuk ke kamar mandi.


"Mau, mimi lagi nggak? kalo udah kita mandi?" tanyanya pada bayi cantik yang tengah menatapnya.


Helen kembali menyambar puncak dada Ibu nya kembali menghisap kuat, dengan tangan yang memegang kakinya dan menggerak-gerakkan ke atas dengan lucunya.


"Dih, Ibu nggak boleh pacaran sama Ayah?" Dia usap pipi yang tengah kembang kempis menghisap asi nya.


Bersambung ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


Terimakasih yang sudah mampir๐Ÿ™๐Ÿ™, semoga suka๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ๐Ÿ™๐Ÿ™, cuma buat rame2 aja๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaโค

__ADS_1


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ๐Ÿ™๐Ÿ™, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn ๐Ÿคฒ๐Ÿคฒ.


__ADS_2