Kisah Mentari

Kisah Mentari
cinta dan dendam


__ADS_3

🌹🌹🌹


Mereka masih terdiam dengan sejuta kata yang ada di dalam hati dan pikiran masing-masing.


"Aduh..." Dafa memecah keheningan.


"Kenapa? ada yang sakit?" tanya Mentari cemas.


"Bukan, bulu kuduk Mas merinding!" Jawabnya.


"Hah... Maksudnya apa?" masih berpikir


"Auranya angker ini, sepi pada diem kayak di kuburan!" Ucapnya nyeleneh.


Mentari masih mengerutkan keningnya bingung.


"Nggak usah di pikirin ini jidat Ampe berkerut gini!" Dafa menyentuh kening mentari yang mengerut berpikir, mencerna apa yang di maksud oleh pacarnya itu.


"Aku kira angker ada setannya di apartemen Mas!" akhirnya gadis cantik itu berbicara.


Dafa tertawa mendengar celotehan pacarnya itu, "kamu polos banget sih, makin gemes tau!" ujarnya.


"Eh... tapi emang ada setannya tau di sini!" Dafa sedikit memelankan suaranya.


"Mas, ihh jangan nakutin aku, aku pulang nih!" Mentari merapatkan tubuhnya pada tubuh Dafa, tangan nya tanpa sadar meremat kaos Dafa bagian dada.


Dafa tersenyum senang, saat tau modusnya berhasil. Aroma wangi dari rambut panjang mentari menyeruak masuk ke penciumannya, langsung menyegarkan rongga dadanya.


"Ada setan mesum!" Dafa berbisik tepat di telinga mentari.


Mentari mendongak kan wajah nya, dia terkejut ternyata wajah mereka begitu dekat, bahkan sapuan hangat nafas saling menyapu antar keduanya.


"Aku kangen..."Lirih Dafa , tangan nya menyusup di leher Mentari menahan tengkuk itu, seketika bibir yang saling merindu itu menempel, menyesap dan saling berbagi saliva.


Mentari semakin menempelkan tubuhnya dan kembali dia meremat luka di pinggang Dafa.


"Awww... Sun, ishhhh sengaja ya?" Dafa merintih kesakitan.


"Nggak...aku nggak sengaja, refleks itu!" belanya.


"Keenakan ya?" goda Dafa, masih dengan mimik meringis menahan sakit pada luka jahitannya.


Mentari memutar wajahnya yang memanas menahan malu.


"Iya kan? kamu terlalu meresapi!" Lelaki itu terkekeh puas.


"Mas... aku pulang nih!" cibirnya kesal.


"Itu terus ancaman kamu, yang lain gitu. Contoh nya Mas aku cium nih." Usulnya sambil tertawa.


"Ihh masa aku gitu, kamu kali itu yang sering modus." Mentari mencibir.


Tapi mereka sama-sama tertawa bersama.


Mentari menatap beberapa luka lebam di wajah Dafa yang masih meninggalkan sedikit jejak, tak terbayangkan saat itu terjadi bagaimana bentuk dari wajah tampan di depannya ini. "Kak Bintang keterlaluan!" batinnya sakit jika memikirkan apa yang kakaknya itu lakukan pada sosok pria yang begitu ia cintai.


"Mas..."


"Iya?"


"Mau tanya boleh?"


Dafa tak menjawab hanya menatap Mentari penuh tanya, kecemasan melingkupi hatinya.


"Tanya apa?"


"Kamu sama Kak Bintang ada masa lalu apa sih? sampai kak Bintang begitu bencinya sama kamu, Mas!" selidik nya.

__ADS_1


"Nggak usah tanya sama aku, tanya langsung sama Bintang, kalo aku jawab sekarang sebelum kamu dapet jawaban dari Bintang. Aku takut kamu nyangkanya cerita aku sebagai pembelaan!" jelasnya.


"Itu bukan jawaban, terdengar ambigu di telinga aku!' Mentari menatap netra coklat itu.


Dafa tersenyum.


"Aku bingung jelasinnya, takut salah paham. Dan kamu bakal pergi ninggalin aku." Terangnya memberi pelukan pada gadis cantik itu.


"Kenapa aku harus ninggalin kamu Mas?" Mentari kembali bertanya.


"Panjang ceritanya, dan itu salah paham yang fatal. Aku nggak bisa ngungkapin kebenaran nya juga!" ucapnya sambil mengecup puncak kepala Mentari.


"Terus kalo aku tau cerita dari kak Bintang, pembelaan kamu apa?"


"Nggak ada, aku serahin semua sama kamu. Mau bertahan atau pergi. Cuma satu yang aku mau, kepercayaan kamu. Udah itu aja!"


Mentari mendekap tubuh Dafa, "Aku takut hubungan kita bakal semakin rumit." Mentari memejamkan matanya mendengar irama detak jantung Dafa.


"Mas... kamu deg-degan! kamu grogi?" kekehnya menyentuh dada Dafa.


"Grogi nahan si adik biar nggak bangun." kembali dia mengecup Kepala kekasihnya itu.


Mentari melihat jam di tangannya, waktu nya hampir habis.


"Mas, aku harus kembali ke kampus!" Ucapnya bangun dari posisi dekapan Dafa.


"Ya... aku masih kangen, kapan bisa ke sini lagi?" rengeknya menahan Tangan Mentari.


"Nanti, ada waktu nya!" Mentari menunduk mengecup kening Dafa.


"Yang ini dong Sun yang di cium!" jarinya menunjuk pada bibirnya.


Mentari kembali menunduk saat akan mengecup, Dafa menarik tangannya hingga dia terjatuh dengan posisi jongkok.


"Mas.." Mentari tersentak saat tubuhnya yang jongkok di apit kedua paha Dafa.


Pautan itu terlepas saat mereka merasakan paru-paru yang kehabisan oksigen.


Kening itu masih saling menempel, dengan netra yang memandang satu sama lain dengan tatapan yang di penuhi rasa cinta dan tentu saja gai*rah.


"Aku pulang, waktu udah mepet."


Dafa mengecup kembali bibir itu.


"Love you... my sunshine!" bisiknya lirih.


Mentari bangun meraih tas nya kemudian berjalan ke arah pintu.


"Nggak usah nganter ,Mas istirahat aja!" Mentari menahan tubuh Dafa yang akan mengantarnya.


"Pilih aku antar sampai lobby atau sampai rumah?" ancamnya.


Mentari menggerutu kesal sambil berjalan mendahului Dafa.


Dafa mengikuti, tentu dengan langkah yang lebih pelan, karena rasa sakit bekas jahitan masih terasa perih dan ngilu.


"Ck... tega nya punya pacar, padahal tau cowok nya lagi sakit, ditinggalin lagi. Dia nyelonong boy gitu aja!" Dafa berucap dengan nada memelas.


Mentari berbalik menatap Dafa.


"Lupa kamu lagi sakit Mas," Dia langsung kembali mensejajarkan langkahnya sambil menggandeng lengan Dafa.


"Gips dari kapan di lepas?" Mentari baru menyadari tangan kiri Dafa sudah tak berbalut gips lagi


"Seminggu yang lalu, nggak kuat gatel, pegel lagi. Aku nggak bisa cebok tau, kamu emang mau ngurusin aku?" kepalanya dia condongkan ke arah Mentari.


"Emang aku istri kamu?" Mentari memalingkan wajahnya malu.

__ADS_1


"Ya siapa tau kedepannya, kan nggak ada yang tau takdir kita gimana!" ucapnya asal.


Mereka pun berpisah di lobby apartemen itu, Dafa menatap Mentari hingga menaiki taksi menuju kampusnya.


🥀


🥀


"Jadi ...


"Gimana rencana buat jebak adiknya si Bintang? mau lu lanjut?" seorang pria menghampiri nya.


"Nggak tau... gue pusing, nggak yakin juga!" Dafa menjawab sambil berjalan ke arah lift.


"Jangan bilang lu jatuh cinta beneran sama gadis polos itu!" Dia menepuk punggung Dafa.


Dafa tak menjawab, memang niat awal dia mendekati Mentari hanya untuk membalas dendam perlakuan Bintang terhadap nya dulu.


Tapi seiring berjalannya waktu, sifat Mentari yang polos juga tulus, sedikit demi sedikit mengikis rasa dendamnya.


"Awal gue ketemu dia di cafe emang udah suka, tapi pas kenal dia adalah adik si Bintang, entah kenapa gue semakin terobsesi sama dia." ujarnya berbicara setelah sampai kamarnya.


"Terus sekarang, lu jadi suka gitu?" tanya Rijal sahabat juga saksi pertikaian antara Dafa dan Bintang enam tahun lalu.


"Ntah lah, dia polos banget. Nggak tega gue!"


Ucapnya membayangkan wajah cantik nan tulus itu, sikap polos dan manja nya tak bisa dia hilangkan.


"Ingat, liat keadaan lu sekarang . Si Bintang masih memendam dendam sama lu, ya Lu imbangin aja apa mau nya tuh anak!" Rijal kembali mengingatkan.


"Tau lah gue ngantuk, males mikir." Bintang masuk ke dalam kamarnya.


Dia berbaring namun hati dan pikirannya terus memikirkan Mentari sang kekasih


Dafa membuka foto-foto saat dirinya pergi ke Kebun teh.


"Cantik...


"Tulus...


"Polos...


"Manja...


Semua tipe yang dia sukai ada di Mentari.


"Gue terjebak perangkap yang gue buat sendiri!"


gumamnya.


"Apa ini cinta sesungguhnya, atau hanya cinta di dasari obsesi untuk sebuah balas dendam.


"Tapi jantung ini berdebar kencang saat dekat dengan dia, bibir itu semakin hari semakin membuat candu, bahkan adiknya itu sudah sangat menginginkan menerobos inti Mentari." hatinya menggumam.


"Apa ini Cinta, sekian lama gue nggak merasakan rasa se indah ini."


"Apa gue tega ngancurin masa depan gadis se polos itu, bagaimana dia kedepannya jika gue rusak?"


Dafa terus berguling-guling memikirkan Mentari, apalagi sekarang gadis itu terlihat sudah mulai mencintainya.


*


*


Bersambung ❤️❤️❤️


terimakasih yang sudah mau mampir 🙏, tolong tinggalkan jejak like dan komen kalian😘

__ADS_1


sehat dan bahagia selalu untuk kita❤️❤️


__ADS_2