Kisah Mentari

Kisah Mentari
Rumah kita


__ADS_3

❀❀❀


Pagi hari


Semua orang berkumpul di teras rumah, melepaskan penghuni paling kecil di rumah itu untuk kembali ke rumahnya, rumah sesungguhnya milik ayah dan ibu nya.


Dafa tengah mengangkut barang-barang milik istri dan anaknya ke dalam mobil di bantu suster dan Langit.


Mentari duduk manis di kursi teras, sedangkan Helen di gendong kakek nya di taman melihat kandang burung yang besar yang di huni sebuah burung nuri dengan warna indah yang mencolok, kesayangan Ayah Gunawan. Bunda tak mau kehilangan momen pagi bersama sang cucu sebelum pindah.


"Sun, udah semua." Dafa duduk di sebelah istrinya, Langit menerima telpon di ujung mobil, wajahnya berseri jarang sekali Abangnya itu tersenyum seperti itu. Pikir Mentari.


"Liat deh, yang lagi kasmaran. Auranya beda banget ya?" Ucapnya pada Dafa yang sedang meminum kopi yang sudah Mentari siapkan.


Dafa melihat ke arah yang di maksud istrinya itu, lalu tersenyum, "ya iyalah, apalagi kalo udah tau gua nya, pasti minta di nikahin sama Ayah." Kekehnya.


"Belum, ada jawaban dari Cindy. Abang udah ngungkapin pengen ngelamar langsung nikah. Tapi ... " Mentari menghentikan ucapannya saat Langit berjalan ke arah mereka sambil menggenggam ponselnya.


"Tapi, apa?" Dafa mencondongkan tubuhnya ke arah Mentari.


"Rahasia, perempuan." Bisiknya.


lelaki itu mendengus kesal mendengar jawaban yang dia dapet, "sekiranya rahasia, nggak usah mancing buat bikin penasaran orang." Dafa mengusak kepala wanita cantik miliknya itu.




"Udah semua?" Ayah dan Bunda bertanya sambil berjalan ke arah mereka.



Mentari mengangguk, lalu Helen merengek manja saat melihat Ibu nya.



"Nanti, nanti aja kalo mobil Ayah Helen mau pergi baru ke Bunda." Ucap Ayah mengalihkan rengekan Helen, "Yah ... egois, itu cucu nya haus pasti." Bunda mengambil paksa Helen yang terus menggeliat ingin Ibunya.



Ayah Gunawan pun mengalah, dengan sedikit berat dia mengulurkan bayi montok itu pada ibunya.



Helen langsung menggerakkan tangannya ingin menggapai ibunya, kepalanya sudah menyelusup mencari makanan nya.



"Sebentar nak, sekalian kita pamit dulu sama semua." ucapnya menenangkan Helen sambil sedikit menimang tubuh gemuk itu.



Dafa menatap Mentari lalu sedikit mengangguk, seakan mengajaknya untuk pamit sekarang.



Mereka pun pamit, bahkan Bunda tak henti menciumi cucunya.



"Minta alamat kamu, nanti Ayah sama Bunda ke sana!" Bunda berbicara saat Mentari sudah masuk ke dalam mobil, dan membuka kaca jendelanya.



"Nanti aku kirim alamat nya, Bun."



Bunda mengangguk kecil, "Iya, Hati-hati sayang. Bahagia selalu." Bunda mengusap pipi putri nya itu.



"Bunda, sedih. Besok juga Bunda ato aku bisa ke sini." Mentari sedikit merengek sambil mengusap ujung matanya yang mulai berair.



"Eh, Bunda mau chek up jantung Ayah. Paling lusa atau hari Kamis. Bunda ke sana ya."



Mentari hanya mengangguk kecil, mencium kembali tangan Bunda nya, tangan wanita yang melahirkan nya, Ayah terlihat jelas merasa sedih, mainan hidupnya (Helen) di bawa pergi pemilik sesungguhnya (Dafa).



Mobil pun melaju, keluar dari pagar. Terlihat dari kaca spion Ayah dan Abang Langit merangkul Bunda yang berdiri di tengah dan sepertinya terisak menangis.



"Hei ... Bu, udah besok juga kita bisa kesana!" Dafa mengusap puncak kepala istrinya itu.



Mentari yang sedari tadi menahan agar air matanya tak jatuh, yang malah dia takuti Ayah Bunda nya akan menghawatirkannya.



"Iya, kalo nggak ada mereka pas aku lahiran. Nggak tau deh."



Dafa terdiam, ya memang dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi memang ini semua keadaan yang seharusnya mereka jalani.



"Sayang, memang sudah hukum alam, kita juga suatu saat akan di tinggalkan anak-anak kita berumah tangga dan hidup mandiri." Entah dari mana dia mendapatkan kata-kata bijak yang dengan begitu cantiknya keluar dari mulut nya yang sering kali hanya mengeluarkan kata-kata amarah dan rayuan maut saja.



Helen kembali merengek bahkan kedua tangannya sudah mengepal dan mengusak wajahnya sendiri.


__ADS_1


"Eh, iya. Anak ibu haus, sampai lupa karena sedih ninggalin rumah kakek." Mentari segera memposisikan bayi gemuk itu agar memudahkan nya mendapatkan makanan utamanya.



Lalu dia membuka tiga kancing tunik nya, dan membuka kancing bra khusus menyusui nya. Hingga terbuka seperti sebuah jendela yang hanya mengeluarkan si chocochips nya saja.



Helen dengan wajah tak sabar, kaki yang sudah bergerak-gerak dan tangannya ikut menggapai baju yang ibunya pakai, seolah ingin ikut membantu membukanya.



Dafa terkekeh melihat kelakuan anaknya, "Aduh, sampai segitunya. Nggak kuat haus iya?" godanya sambil menggelitik kaki Helen.



Helen menghisap dengan kuat, suara decakan hisapan nya bahkan sangat berisik.



Mentari sedikit menepuk-nepuk paha bulat itu.



"Yah, ambilin Selimut di jok belakang." Pintanya.



Dafa menoleh sedikit melihat selimut pink bergambar kupu-kupu cantik itu. Tangannya langsung meraba-raba dan akhirnya berhasil dia pegang. Matanya tetap fokus ke jalanan yang tengah dia lalui.



Selimut itu langsung Mentari tata menutupi tubuh Helen yang hanya menggunakan leging pink dan dress putih tanpa lengan.



Dafa tersenyum sesekali melihat pemandangan paling indah dan menenangkan jiwanya. Di mana dua wanita paling berharga miliknya sudah kembali dalam pelukannya.



"Eh, Bintang nggak ada ya?"



"Masih tidur kayaknya, jam delapan dia mah bagai jam 4 subuh. Tapi katanya mulai minggu depan udah kerja di market tapi cabang nya nggak tau di mana. Kalo di Bandung udah pasti Abang yang pegang." Mentari menerangkannya.



Dafa pun mengangguk paham.



...🏑🏑🏑...



Sesampainya di rumah ....




"Welcome ... di **Rumah kita** !"



"Kok nggak turun di depan, malah di dalem?" Tanyanya heran.



"Ada, lambe nyinyir di sebelah. Suka kesel aku, kalo denger yang terlalu kepo sama urusan kita." Dafa membuka kunci rumahnya.



"Tapi kemarin pagi nggak ada?"



"Iya, tapi tadi aku liat pintunya ngebuka."



"Ishh, kamu. Tapi waktu aku pendarahan, kalo nggak ada ibu itu, aku nggak tau siapa lagi yang bakal nolong."



"Kita, harus rukun sama tetangga. Karena yang menolong kita pertama kali adalah orang yang paling dekat." Mentari terus berceramah sambil melangkah masuk menuju kamar.



"Iya, aku tau. Tapi nggak semua tetangga Baik. Tanyain itti yang banyak di nyinyirin tetangga nya!"



(πŸ™„πŸ™„ Aku mah kan artis, jadi banyak yang gibahin lah pasti, diem aja salah. Sekalian jahat aja😜)



"Huss ... tiap rumah tangga ada ujiannya masing-masing, contohnya kita di uji dengan seperti ini, ada yang di uji perselingkuhan, ada yang di uji dari keturunan, mungkin itti di uji dari tetangganya."


Ujar Mentari.



(Astojim, orang ghibahin karakter halu, manusia halu gibahin orang beneranπŸ™„πŸ™„πŸ˜©πŸƒβ€β™€πŸƒβ€β™€πŸƒβ€β™€)



"Udah lah, nggak usah urusin urusan orang." Dafa masuk ke kamar mandi setelah menyimpan tas kebutuhan Helen.


__ADS_1


"Yah, belum semua ya?" Tanyanya saat melihat kopernya belum masuk ke kamar.



"Bentar, aku kebelet." Dafa sedikit berteriak.



"Nanya doang," lalu dia merebahkan tubuh Helen di atas tempat tidur."



Dafa keluar dari kamar mandi. "Kenapa?" Melihat Mentari masih menatapi ke sekeliling.



"Belum ada box, udah mulai tengkurap. Takutnya aku lagi di kamar mandi atau di luar kamar dia nggak ada yang jaga."



Dafa mengangguk, "Kita beli online aja." Usulnya.



"Nggak ah, beli langsung biar bisa milih sama liat bahan dan kualitas nya." Mentari menolak usul sangat suami.



"Ya, mau kapan?" Dafa membuka kemejanya setelah mengambil satu kaos tak bertangan seperti biasa.



"Sore aja yuk, besok aku banyak kerjaan di butik ada 3 Gaun untuk minggu besok yang belum aku liat lagi hasil akhirnya. Terus dua gaun pengantin di bulan ini termasuk punya istrinya kak Rijal."



Dafa hanya mengangguk dan ikut duduk di sebelah istrinya.



"Eh, bulan besok. Evan, anak angkatnya Bunda yang di Australia nikah. Kita pasti harus ikut." Ujarnya.



Dafa mengerutkan keningnya, "Evan?"



"Iya, selama Bunda Pisah dari Ayah, Bunda ketemu seorang anak lelaki yang baru kehilangan orang tuanya karena sebuah kecelakaan, dan Bunda iba. terus di angkat jadi anaknya deh." katanya menjelaskan.



"Banyak kejutan ternyata ya!" Dafa terkekeh.



Mentari tersenyum, "Laper ... pengen Mie goreng Ah," lalu berlalu keluar dari kamar setelah membuat benteng bantal untuk melindungi Helen.



Dia sudah melihat gelagat dari suaminya itu.



Dafa mendengus dan mengekor.



"Sun, malem nggak jadi loh. Awas aja kalo sekarang nggak bisa lagi." Gerutunya.



"Nanti, abis beli box bayi Helen." Alasannya.



"Aku, pegang janji kamu." Dafa duduk di meja makan menatap Mentari yang membuka kulkas mengambil sosis dan telur.



"Mau juga?" tanyanya saat melihat suaminya itu menatapnya.



"Iya lah, masa kamu tega aku melongo liat kamu makan." Dafa terkekeh kecil mendengar pertanyaan polos istrinya.



Mentari pun ikut tertawa. Dan mulai memasak Mie instan untuk mereka makan sebagai makanan selingan sebelum makan siang.



**Bersambung πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹**



**Terimakasih yang sudah mampirπŸ™πŸ™, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi πŸ™πŸ™, cuma buat rame2 ajaπŸ₯°πŸ₯°**



**Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘**



**Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❀**



**Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir πŸ™πŸ™, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lainπŸ₯°πŸ₯°**


__ADS_1


**semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn 🀲🀲**


__ADS_2